Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 13


__ADS_3

Setelah Fahad semakin jauh dari pandangannya, Nayla melangkah keluar area bandara untuk segera pulang. Kali ini Nayla memilih taksi untuk mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan, hanya Fahad yang ada di pikiran Nayla.


Cepatlah kembali, aku menunggumu.


Di rumah, Andi sudah menunggu Nayla. Ia segera membuka pintu saat melihat dari balik jendela kakaknya turun dari mobil.


“Wa'alaikumsalam,” sahut Andi melihat Nayla berjalan melewatinya tanpa berkata apapun.


“Eh, iya. Lupa. Assalamu'alaikum, Andi.” Nayla duduk di sofa.


“Ya ampun, Mbak ... Andi segede gini masa nggak lihat? Sedih sih sedih, Mbak, tapi jangan lupain Andi dong,” ketus Andi.


“Enggak sedih, kok, Mbak cuma lagi ngelamun dikit tadi,” kata Nayla.


“Baru di tinggal satu jam aja udah kangen. Kenapa nggak.kut aja tadi?”


“Belum waktunya, Andi, lagian juga nggak ada duit buat beli tiket.”


“Mbak pakai uang tabungan kuliah Andi aja yang dari apak sama ibu, dari pada nunggu ambak ngumpulin duit kan lama. Mending pakai itu aja, Mbak.”


“Eh, jangan.” Nayla memiringkan duduknya, menghadap Andi. “Itu kan buat biaya kamu kuliah. Mbak nggak mau pakai uang itu buat keperluan Mbak sendiri. Mbak udah ngumpulin kok, tapi kalo buat beli tiket masih kurang setengah.”


“Cepet banget ngumpulinnya, padahal baru kenal dua Minggu, loh,” ledek Andi.


“Ngumpulinnya udah lama, Andi, cuma nggak tahu ngumpulinnya buat apa. Nah, sekarang jadi ada tujuannya.” Nayla tersenyum.


“Buat modal ketemu mertua, ya?”


“Ya, kira-kira seperti itulah.”


***


Jatuh cinta memang tak kenal waktu dan tempat. Ia menyerang, mengambil alih ruang hati siapapun itu. Tak peduli satu atau dua hari, jika cinta itu sudah menembus dinding hati, maka tak ada lagi yang berhak membatasi dan mencegah rasa itu bersemayam jauh di lubuk hati.


Setelah mengganti bajunya dengan baju tidur, Nayla merogoh tas selempangnya, ia mengambil benda pipih miliknya di dalam sana.


“Apa ini?” gumam Nayla saat tangannya menyentuh sesuatu yang kecil nan pipih di dalamnya. “Ini kan kartu kredit Fahad? Ngapain ada di dalam tasku?” heran Nayla sembari membolak-balikkan kartu kredit tersebut.


“Fahad, aku kan udah bilang nggak mau, kapan dia masukin ke tasku, sih?!” gerutu Nayla. Sejenak ia terdiam, tersenyum sendiri dan berkata, “dasar keras kepala!”


Fahad memang keras kepala, saat Nayla meletakkan tasnya di atas meja, tanpa di sadarinya, Fahad dengan cepat memasukkan kartu itu. Tanpa niat merendahkan Nayla, Fahad hanya ingin memberi kartu itu saja.

__ADS_1


(Agar Nayla sedikit menaruh kepercayaan padanya, bahwa ia memang serius.)


Fahad tahu, meskipun ia sudah memberikannya kartu itu, sudah dapat di pastikan bahwa Nayla tidak akan memakai kartu itu untuk keperluan pribadinya—bukan karakter Nayla suka membeli barang yang tidak ia perlukan. Apalagi jika itu memakai uang orang lain. (Nayla sangat tidak menyukainya.)


Nayla berbaring, menatap langit-langit kamarnya seraya tersenyum mengingat semua perlakuan Fahad terhadapnya. Segala candaan yang ditunjukkan dan di lontarkan Fahad, sudah meninggalkan kesan yang sangat manis di hatinya— walaupun terkadang menimbulkan kekesalan.


Nayla juga berdoa, semoga Fahad segera sampai di India dengan selamat, dan bisa kembali ke Indonesia, tentunya.


***


Pagi sudah menyapa, matahari kali ini tidak malu untuk keluar, memancarkan sinar hangatnya.


Nayla bersiap untuk berangkat bekerja.


“Kamu udah bener-bener sehat, Ndi? Kalau belum Mbak naik ojek aja.” Nayla mengunci pintu rumahnya.


“Udah kok, Mbak,” jawab Andi.


“Yang bener?”


“Iya, Mbak!” seru Andi. “Buru naik, udah siang, nih.”


Sepanjang perjalanan, Nayla kembali teringat Fahad ketika mengantarnya pergi bekerja. Ia menjaga jarak duduknya jika pria itu mengantarnya menggunakan motor. Ya, terkadang Fahad dengan sengaja mengerem mendadak sehingga tubuh Nayla maju dan menabrak tubuhnya. Fahad merasa gemas dengan sikap Nayla yang terkejut saat ia mengerem mendadak dan dengan refleksnya, Nayla mencubit lengan dengan keras.


“Mbak udah sampai.” Andi berucap. Namun Nayla tetap tidak menyahutinya. Andi menoleh ke belakang. “Mbak Nayla!” seruan Andi membuyarkan lamunan Nayla.


“Hah?” terkejut Nayla. “Kamu kenapa teriak-teriak gitu, sih?! Mbak nggak budek.” Nayla turun dari menepuk bahu Andi.


“Siapa yang ngagetin? Mbak aja yang ngelamun mikirin Fahad terus.


“Enggak. Siapa yang mikirin Fahad?”


“Ngeles terus kayak bajaj. Udah, Andi berangkat kuliah.” Andi kembali menyalakan motornya.


“Iya. Nanti jemput, ya?” tanya Nayla.


“InsyaAllah.”


Andi segera melajukan motornya, setelah sebelumnya ia mengucap salam dan di jawab oleh Nayla.


***

__ADS_1


India


Negara yang terkenal lewat film-filmnya yang mendunia, menyambut hangat kedatangan Fahad. Cuaca hari itu cukup panas, membuat Fahad berkali-kali mengeluh di buatnya. Ia belum kembali ke Srinagar, Kashmir. Ia masih berada di New Delhi, mengurus perkembangan perusahaanya. Ia juga berencana pindah kependudukan, dari Srinagar ke New Delhi. Agar lebih mudah mengurus perusahaan yang baru ia rintis.


Sekitar dua hari Fahad berada di New Delhi, dan selama itu pula ia hanya bisa mengirim pesan kepada Nayla. Kesibukannya benar-benar menyita waktu, dan ia sangat bersyukur bahwa Nayla sangat mengerti dengan keadaanya.


Marah. Nayla sempat memarahi Fahad, (lewat pesan tentunya) tentang kartu kredit yang di tinggalkan oleh pria itu.


“Aku nggak perlu kartu itu, Fahad. Aku udah bilang, kan? Kenapa kamu masukkin kartu itu di tasku?” ~ Nayla.


“Ya, aku mau kasih itu ke kamu. Mau kamu pakai atau enggak, yang penting aku udah kasih ke kamu. Aku mau kamu percaya sama aku, Sayang, kalau aku itu serius sama kamu.” ~ Fahad.


“Tapi nggak perlu kasih kartu kredit kayak gini! Bisa aja, kan? Kamu cuma kasih kartu kosong ini ke aku. Kamu mau ngetes aku, kan?!” ~ Nayla.


“Ya Allah, Sayang ... kartu itu ada isinya, dan aku nggak ngetes kamu. Aku bersumpah, Sayang, kartu itu ada isinya. Cek aja kalau kamu ragu. Dan, aku nggak ngetes kamu, aku nggak ngetes kamu, Sayang!” ~ Fahad.


Fahad kembali mengirim pesan.


“Aku tahu, kamu bukan wanita yang suka menghambur-hamburkan uang. Aku kenal kamu. Terserah kamu pakai uang itu atau enggak, yang jelas aku cuma pengen kasih itu ke kamu.”


“Ya, udah, iya. Aku simpan kartu ini.” ~ Nayla.


“Aku pasti segera kembali, mein tumse pyaar karta hoon. [¹]”


“Iya.” ~ Nayla.


***


Saatnya Fahad kembali ke Srinagar, Kashmir. Ia di sambut ibu dan kedua adiknya. Mereka bertiga secara bersamaan memberi pertanyaan yang beruntun kepada Fahad, tentang Nayla. Kapan Nayla akan kesini, kapan mereka akan menikah. Itulah pertanyaan dari mereka. Fahad yang merasa lelah itu pun memilih kabur ke kamar dan segera membersihkan diri lalu menelpon Nayla. Ya, Fahad sangat merindukannya.


Ammi hanya tersenyum melihat putranya itu berjalan masuk ke kamar, ia sangat bahagia. Putranya itu kini bisa tersenyum dan merasakan cinta. Setelah dua tahun ke belakang, putranya itu menjadi pribadi yang tertutup dan hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan. (Gila kerja)


Kedua adik Fahad, yaitu Yasmin dan Yumna, mereka berdua menghentakkan kakinya ke lantai—kesal, kakaknya kabur tanpa mengatakan sesuatu tentang calon kakak ipar mereka.


***


[¹] Mein tumse pyaar karta hoon : aku mencintaimu.


Kalimat itu digunakan seorang pria ketika menyatakan cinta. Sedangkan wanita, ia mengatakan, “mein tumse pyaar karti hoon.”


Ya, hanya berbeda di Karta dan Karti.

__ADS_1


__ADS_2