
Satu bulan kemudian ....
Fahad masih sibuk dengan pekerjaannya. Di tengah kesibukannya, ia selalu menyempatkan waktu untuk Nayla. Fahad selalu mengirim pesan dan melakukan panggilan video untuk mengobati rasa rindu mereka.
Fahad tak pernah mengabaikan Nayla, sesibuk apapun ... ia akan membalas pesan. Fahad tidak ingin Nayla berpikir bahwa ia tidak serius dengan cinta dan juga rencana untuk meminang Nayla sebagai istri. Fahad sangat serius tentang hal itu. Namun, kesibukan membuat rencananya itu tertunda untuk sementara waktu. Juga Fahad ingin memberi Nayla waktu untuk memantapkan hati—untuk bersedia menikah dengannya.
Fahad tidak ingin Nayla merasa menyesal di kemudian hari, jika ia sudah menyandang status sebagai seorang istri dari Fahad Malik Khan. Sementara Fahad, hatinya sudah sangat siap dan sudah dapat di pastikan bahwa ia tidak akan menyesal di kemudian hari. Kisah rumahtangga pertamanya sudah cukup memberi pelajaran. Rasa sakit dan kecewa, ia sudah memastikan bahwa Nayla tidak akan memberikan semua itu. Yang ada hanya kebahagiaan.
Fahad juga menceritakan adat dan budaya negara India. Di mana sudah sangat pasti berbeda dengan Indonesia. Meskipun sama-sama muslim, tentu sudah pasti ada perbedaan. Karena—umunya—india muslim ialah bermahzab Hanafi. (Di daerah India Utara)
Dan di daerah India selatan, mereka kebanyakan bermahzab Syafi'i, sama seperti Indonesia. Dan pasti juga ada perbedaan mengenai ajaran dan kebiasaan muslim India dan Indonesia. Biarpun berbeda, Fahad dan Nayla saling menghormati satu sama lain.
***
Pukul 08.00 WIB
Waktu terus berlalu, Nayla dan Fahad melakukan aktifitas mereka masing-masing seperti biasa.
Hari ini adalah hari Sabtu, hari libur Nayla tentunya. Pagi-pagi sekali, terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam. Andi menjawab salam seraya berjalan ke arah pintu dan membukanya.
“Hai, Andi. Nayla ada?” tanya Sari.
“Ada di dapur, masuk aja, Mbak.” Andi mempersilahkan Sari untuk masuk. Dan Sari segera menuju ke dapur—menghampiri Nayla, di susul Andi yang mengekor di belakangnya.
“Hai, Nayla, lagi ngapain kamu?” tanya Sari.
“Lagi berenang, nih. Mau ikut?”
Sari terkekeh mendengar ucapan Nayla. “Lucu kamu, Nay.”
“Lagian, udah tahu lagi masak, masih aja di tanya.”
“Ya, udah, sih, jangan nyolot. Jalan ke mall, yuk?” ajak Sari.
“Nggak, ah. Males aku,” tolak Nayla yang tetap fokus dengan masakannya.
“Ayolah, Nay, susah amat sih ngajak kamu pergi,” gerutu Sari. “Kalau yang ngajak bule India itu, pasti langsung mau,” imbuh Sari.
“Ini kenapa jadi bahas dia, sih?”
“Ya, kamu. Susah banget di ajak jalan. Kan, cuma ke mall, nggak diskotik.”
“Awas kalau, Mbak Sari, berani ajak Mbak Nayla ke diskotik. Aku samperin terus aku bikin malu di sana!” tukas Andi. (Mengancam Sari)
“Serius banget kamu. Lagi pms, ya?” cetus Sari.
__ADS_1
“Iya. Udah untung ini nggak pengen makan orang,” sahut Andi.
Sari berdecak kesal, ia kembali menoleh ke arah Nayla dan mengajaknya. Dengan sedikit terpaksa, akhirnya Nayla mengiyani ajakan Sari. Toh, Fahad tidak mengirim pesan padanya sejak kemarin. (Hitung-hitung Nayla mencari hiburan)
“Iya, ayo. Aku selesain masakan dulu. Lagian mall-nya juga belum buka,” ucap Nayla.
“Nah, gitu dong. Andi ikut sekalian, yuk? Biar tambah rame,” ajak Sari.
“Ogah! Kalau orang lihat, nanti Andi di kira lagi jalan sama dua istri. Kan, ribet, bisa turun pasaran Andi. Mending nongkrong sama teman Andi sendiri,” sahut Andi seraya mengedikkan bahunya.
Nayla dan Sari di buat tertawa oleh ucapan Andi.
***
Selesai berkeliling mall untuk membeli barang yang di perlukan Sari, mereka berdua kini sudah duduk—beristirahat di salah satu foodcourt. Mereka memesan dua minuman dan cemilan untuk menemani waktu bersantai. Di saat mereka berdua tengah mengobrol santai, Nayla di kejutkan ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang.
“Hai, Sayang.” Fahad tersenyum lalu duduk di sebelah Nayla.
Nayla mengedipkan matanya berkali-kali. Tangannya mengarah, menyentuh lembut pipi Fahad dengan sendirinya. “Kamu dateng?” tanya Nayla yang di jawab anggukan kepala oleh Fahad.
Sari tak kalah terkejut, ia menjatuhkan kentang goreng yang akan ia masukkan ke mulutnya dengan mata yang membulat sempurna. Ini kali pertama ia melihat Fahad dari jarak yang sangat dekat.
MashaAllah cakep banget Ya Allah. Batin Sari.
“Tahan, Mbak, belum sah!” celetuk Andi yang duduk di samping Sari.
Seketika Nayla mengakhiri pandanganya, menurunkan tangannya seraya menundukkan kepala. Menghindari mata Fahad sebab malu yang teramat sangat.
“Andi, nggak ada dialog lain apa? Kan, malu,” lirih Nayla.
Andi dan Sari tertawa kecil melihat tingkah Nayla. Sementara Fahad, ia tetap memandang Nayla dengan senyum yang tak pernah pudar di wajahnya.
“Kamu kenapa?” tanya Fahad yang di jawab gelengan kepala oleh Nayla.
“Lihat aku,” perintah Fahad.
Perlahan Nayla mengangkat wajahnya, menatap Fahad. “Kamu dateng nggak kasih kabar dulu. Kan, aku bisa jemput.” Nayla berucap dengan suara terendahnya.
“Kan, biar surprise.”
“Hemm.”
Andi dan Sari masih memandang sepasang kekasih di hadapan mereka. Sikap malu Nayla. Fahad yang tetap memandang wajah kekasih yang ia rindukan, sungguh Fahad tidak merasa jemu memandang wajah itu.
“Mbak Sari, kita pulang, yuk? Nggak enak jadi obat nyamuk.” Andi berucap, membuat Nayla dan Fahad kompak menoleh ke arahnya.
__ADS_1
“Tunggu dulu,” cegah Nayla. “Kamu kenapa bisa antar Fahad ke sini? Kamu tahu dari mana kalau Mbak ada di sini?” tanyanya kepada Andi.
“Aku udah hapal, Mbak. Kalau Mbak itu pasti ke mall ini, nggak mungkin pergi jauh. Kan, mall ini doang yang deket,” jawab Andi. “Fahad dateng. Ya, udah, Andi antar ke sini aja. Kopernya masih ada di rumah.”
“Ya, udah, Nay, aku pulang dulu. Biar di antar sama Andi. Ayo, Andi.” Sari beranjak berdiri, di susul Andi.
“Pulang dulu, Mbak, Fahad,” ucap Andi yang di jawab anggukan kepala oleh keduanya.
“Bye, Nayla.” Sari melambaikan tangannya.
“Hati-hati,” kata Nayla.
***
Selepas kepergian Andi dan Sari, Fahad kembali memandangi wajah Nayla. Ingin sekali ia mendekap tubuh wanita itu, mencurahkan segala rasa rindunya. Namun, ia urungkan niatnya itu. Ia takut jika Nayla akan marah, dan memang belum saatnya ia mendekapnya.
Nayla kembali menunduk begitu matanya tak sengaja bersitatap dengan mata Fahad. Rindu, Nayla juga merindukannya. Namun begitu ia mengingat saat di mana tangannya menyentuh wajah Fahad, ia pun merasa malu di buatnya.
“Sayang?” panggil Fahad.
“Iya,” sahut Nayla yang tetap menunduk.
“Sini, lihat aku.”
Nayla menggeleng, “nggak mau, aku mau pulang aja.”
“Kamu lihat aku atau minta aku peluk aja?” kata Fahad.
Terpaksa Nayla mengangkat wajahnya, menatap kedua manik mata Fahad. “Jangan gitu lihatnya,” lirih Nayla.
“Terus aku harus lihat yang kayak gimana, Sayang? Harus lebih dekat lagi?” tanya Fahad.
Nayla menggelengkan kepalanya dengan keras dan berkata, “kamu gitu, ih.”
“Iya, maaf. Sekarang ke rumah Mas Arif, yuk?”
“Hah? Ngapain ke rumah Mas Arif?” tanya Nayla yang terkejut oleh ajakan Fahad.
“Ya, minta ijin sama dia. Masa mau ngelamar istrinya Mas Arif.”
Nayla mencebik, mengerucutkan bibirnya. (Tanda ia kesal) “Di tanya serius juga.”
“Aku serius. Aku mau minta ijin ke Mas Arif, mau ajak kamu ke India,” kata Fahad.
***
__ADS_1