Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 37 S2


__ADS_3

Nayla masih diam menunduk, dia tidak berani berkata ataupun sekedar mengangkat wajahnya untuk saling bersitatap dengan mata sang suami. Nayla tidak berani menatap sorot mata tajam dalam kemarahan itu.


“Maaf, Kak. Aku nggak bakal ngulangin lagi. Aku janji,” kata Yumna sungguh-sungguh. Nayla mengangkat wajahnya, memandang adik iparnya. Nayla tersenyum pada Yumna, ia pun berjalan keluar kamar setelah sebelumnya membelai lembut rambut Yumna.


Nayla keluar, meninggalkan Fahad dan Yumna di kamar. Dia membuka pintu kamar bermain Shazia. Hannah yang melihat Nayla datang itu pun berdiri dan menghampirinya. “Nona sudah tidur, Nyonya.” Nayla tersenyum pada Hannah.


“Iya, terima kasih, Hannah. Biar aku saja yang menunggunya,” kata Nayla. Hannah mengangguk.


Hannah keluar, menutup pintu kamar tanpa menimbulkan suara. Nayla mendekat pada Shazia yang tidur di box bayi yang berukuran cukup besar, dengan satu sisi box yang di copot. Box bayi itu tidak terlalu tinggi, sehingga mudah untuk menidurkan putrinya. Shazia juga bisa turun sendiri dari box bayinya ketika dia sudah bangun.


Nayla duduk di lantai, mengusap lembut ujung kepala sang putri. “Cepat banget kamu tidurnya. Maafin mama, Jaanu. Mama sibuk banget di sini, kamu jadi sering diurus sama Bibi hannah.”


Nayla mengambil ponselnya, mengirim pesan pada Andi. Dia sangat merindukan adiknya yang paling tampan itu.


“Hai, apa kabar? maaf, Mbak, sibuk banget hari ini.” ~ Nayla


Tak lama, Andi membalas pesan kakaknya.


“Iya. Nggak apa, Mbak. Gimana acara pertunangan Yasmin? lancar, kan?” ~ Andi


“Alhamdulillah, lancar. Kamu lagi dimana?” ~ Nayla


“Masih di studio, Mbak. Hari ini lembur sama Reza.” ~ Andi


“Jangan lupa s*a***lat, makannya juga jangan telat.” ~ Nayla


“Pasti, Mbak.” ~ Andi


***


Fahad masih berada di kamar Yumna, dia duduk di samping adik bungsunya itu.


“Yumna, kakak tidak bermaksud mengekang hidup kamu. Kakak cuma nggak mau, kamu nggak bisa jaga diri. Kakak nggak setiap hari bisa ada di Kashmir, Yumna. Kakak lebih banyak berada di Delhi. Kasihan ammi. Sebentar lagi Yasmin akan menikah, dia juga akan ikut suaminya. Kamu yang masih berada di sini bersama ammi. Jadi tolong, jaga diri kamu. Kakak merasa bersalah sama almarhum Abba kalau kamu kayak gitu,” tutur Fahad lembut dan panjang lebar. Sudah tidak ada suara bentakan darinya yang menggelegar.


“Maaf. Kakak tadi menamparmu. Kakak sangat kesal melihatmu bersama pria di dalam sebuah mobil,” imbuhnya.


Yumna menoleh sedikit, ia mendongakkan wajahnya agar pandangannya bisa menjangkau Fahad. “Kakak,” Yumna kembali menangis, Fahad meraih tubuh Yumna, memeluknya dengan erat. “Maaf, Kak. Aku salah. Aku janji nggak bakal ngulangi itu lagi.”


“Kakak juga minta maaf. Kakak sayang sama kamu, kakak nggak mau kamu salah ambil jalan. Kamu perempuan, Yumna, kamu harus bisa jaga diri dan kehormatan kamu. Kamu tahu itu, kan?”


Yumna mengangguk.


“Kamu boleh berteman sama siapapun. Asal, kamu tahu batasan dan tau mana yang baik dan mana yang buruk buat diri kamu sendiri,” lanjut Fahad.


Fahad mencium puncak kepala Yumna, mengelus lembut punggung adik bungsunya itu. “Maaf,” ucap Yumna.


“Kakak juga minta maaf.”


“Istirahatlah, kakak akan menemui ammi. Ammi pasti khawatir.” Fahad melepas pelukannya, beranjak untuk keluar kamar.


“Kak,” panggil Yumna. Fahad yang menyentuh gagang pintu itupun menoleh. “Tadi, kakak ipar,” kata Yumna.


Fahad mengangguk. “Iya, kakak akan menemuinya.”


Lelaki itu turun, menemui ammi yang masih ditemani Yasmin di kamarnya. Memberikan penjelasan pada sang ibu bahwa tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan tentang Yumna. Semua hanya kesalahpahaman. Fahad meyakinkan Ammi.


Setelah cukup lama berada di kamar ammi untuk memberi pengertian, Fahad pun naik ke lantai atas menuju kamarnya. Dia harus menemui istrinya.

__ADS_1


“Sayang?” Fahad membuka pintu kamar. Dia berjalan ke arah kamar mandi. Namun istrinya itu tetap tidak ada di kamar. Fahad keluar dan menuju ke kamar bermain sang putri.


Fahad menghela napasnya dengan kasar begitu ia mendapati sang istri yang tertidur di samping box bayi. Istrinya itu menyandarkan kepalanya di samping tubuh sang putri. Ya, Nayla tertidur dengan posisi duduk di lantai. Fahad enutup pintu kamar, dia ikut duduk di lantai, di samping istrinya.


Wanita yang tidak pernah melepas hijabnya ketika di Kashmir itu tidur dengan nyenyaknya. Dengan satu tangan yang menjadi bantalan, Nayla masih mengenakan hijabnya dengan rapi. Nayla memang tidak pernah melepas hijabnya selama di Kashmir. Dia hanya akan melepas hijabnya jika sudah masuk ke kamar. Fahad sangat bangga pada Nayla, istrinya itu selalu menjaga kehormatan di manapun ia berada.


Fahad memperhatikan anak dan istrinya bergantian, keduanya sangat berharga dan selalu bisa membuatbya tersenyum bahagia ketika pulang bekerja. Rasa lelahnya seketika hilang begitu mendapati senyuman dari istri dan anaknya. Fahad mencium pipi Nayla.


Nayla merasa pipinya tertusuk sesuatu, tangannya mengusap kasar pipinya dengan mata yang masih tertutup. Fahad tersenyum, dia kembali mencium singkat pipi sang istri. Nayla kembali mengusapnya, membuka matanya dan terkejut melihat Fahad yang berada di depan wajahnya.


“Fa—”


“Jangan teriak!” satu tangan Fahad membungkam mulut Nayla.


“Lepas!” suara Nayla tercekat, dia memukul-mukul tangan suaminya.


Fahad menurunkan tangannya. “Jangan teriak,” kata Fahad.


“Kamu yang bikin aku kaget,” ucap Nayla.


Fahad lebih mendekatkan duduknya. Tersenyum sembari menyentuh lembut pipi Nayla. “Lihat, tuh!”


“Apa?” tanya Nayla.


Fahad menunjuk wajah Nayla. “Itu, hijab kamu basah semua.”


“Hah?” Nayla melihat serta meraba hijabnya yang tidak basah sama sekali. “Mana? Nggak basah, kok. Lagian kan aku lagi tidur, nggak lagi ujan-uajanan.”


“Kamu ngiler, tuh. Nggak sadar?”


Fahad menahan tawanya melihat wajah Nayla yang kebingungan. Dia semakin menggoda sang istri. “Itu, sudah kering iler kamu,” katanya.


“Nggak ada, Fahad!” Nayla beranjak ke kamar mandi yang terdapat di kamar tersebut. Melihat wajahnya dari pantulan kaca kamar mandi, Nayla melepas hijabnya. Membasuh wajahnya lalu mengeringkannya dengan handuk yang terdapat di gantungan.


“Kamu bohong, kan? Mana pernah aku ngiler,” ucap Nayla yang baru keluar kamar mandi seraya memakai kembali hijab segi empat miliknya. Fahad tersenyum simpul, istrinya ini memang belum sadar seratus persen dari tidurnya. Buktinya, dia masih bisa menggodanya dan Nayla mempercayainya begitu saja.


“Sini.” Fahad berdiri, mengajak Nayla untuk duduk di lantai, di bawah jendela kamar bermain Shazia. “Kamu marah sama aku?” tanyanya.


Nayla menunduk, ia menggelengkan kepalanya pelan. Fahad meraih dagu Nayla, membuat pandangan mereka berada pada satu garis lurus. “Maaf,” satu kata yang terlontar dari bibir Fahad. Nayla masih diam, dia tidak marah. Dia hanya merasa sesak di dada saat Fahad membentaknya dan menyalahkannya bahwa dia terlalu memanjakan kedua adik iparnya.


Tidak. Nayla tidak seperti itu. Ia sama sekali tidak bermaksud memanjakan Yasmin dan Yumna. Apalagi menurut Fahad, kesalahan Yumna hari ini adalah karena sikap Nayla yang selalu membela Yasmin dan Yumna.


Sungguh, Nayla tidak marah. Dia hanya merasa sesak atas tuduhan Fahad.


“Maaf," ucap Fahad lagi.


“Nggak ada yang perlu di maafin dan kamu juga nggak perlu minta maaf,” kata Nayla.


“Sayang, aku tahu kamu marah sama aku. Aku minta maaf, aku janji nggak bakal kayak gitu lagi.”


Nayla memandang Fahad, dia tersenyum getir kepada sang suami. Begitu mudahnya meminta maaf setelah menggoreskan luka di dalam hati. Ibarat kayu, biarpun paku yang menancap itu di cabut, apakah kayu itu bisa kembali sempurna? Kembali utuh tanpa ada bekas luka sedikitpun?


Mustahil bukan?


“Aku nggak marah, Fahad,” ucap Nayla. “Aku sadar, aku ini cuma kakak ipar. Aku nggak ada hak buat ngatur hidup Yasmin dan Yumna. Maaf kalau aku terlalu ikut campur urusan mereka.”


Nayla beranjak tanpa mendengar sepatah kata lagi dari Fahad. Dia mengambil Shazia yang terbangun itu untuk turun ke lantai satu. Sudah saatnya Zia untuk makan karena siang tadi putrinya itu tidak makan dengan benar. Fahad memandang punggung Nayla yang menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


Fahad terdiam, dia hanya tahu bahwa istrinya itu sedang marah padanya, maka dari itu Nayla mengatakan hal itu.


Nayla berada di dapur, dia mengambilkan makanan untuk putrinya. “Mama, Zia mau bakso!” kata gadis mungil berpipi gembul itu. Nayla mengangguk, dia membuatkan kuah bakso seperti biasanya untuk Shazia. Hannah menghampiri, ia berniat untuk membantu Nayla. Namun dengan halus dan sopan, Nayla menolak bantuan Hannah.


“Aku haurs belajar, Hannah. Aku harus bisa melakukan apapun sendiri,” ucap Nayla.


Hannah terdiam, dia merasa bingung akan ucapan Nayla. Wajah Nayla yang biasanya akan tersenyum tulus itu kini terlihat terpaksa. Ya, garis melengkung di bibirnya itu terlihat sangat di paksa. Hannah pun memilih pergi dan melanjutkan pekerjaannya yang lain.


“Zia, mau telur?” tanya Nayla. Putrinya mengangguk sembari menepiskan senyumnya. Nayla mengupas telur rebus untuk Shazia, dua sudah selesai membuat kuah bakso. Nayla mengambil nasi lalu ikut duduk di kursi samping Shazia. Putri kecil bermata bulat bening itu tertawa bahagia begitu melihat Nayla menata makanan untuknya.


“Kamu lapar banget, ya?” Fahad datang, duduk di kursi yang berada tepat di depan Nayla. Nayla bertanya pada Fahad, namun matanya sama sekali tidak melihat ke arah suaminya tersebut. “Kamu mau makan?”


“Enggak. Aku masih kenyang.”


“Mau kopi?” tanya Nayla lagi. Dan, lagi-lagi Nayla tetap tidak melihat wajah suaminya. Dia sibuk dengan mangkok makan Shazia. Menyuapi putri kecilnya itu dengan lahap.


“Boleh,” jawab Fahad.


Nayla menaruh mangkok makanan Shazia lalu beranjak untuk membuat kopi untuk suaminya.


Fahad menggantikan Nayla menyuapi Shazia. Sesekali ia menatap ke arah Nayla yang sibuk menuang bubuk kopi hitam untuknya.


“Biar aku yang lanjutin.”


Nayla menaruh secangkir kopi untuk Fahad, dia mengambil kembali mangkok makan sang putri dari tangan suaminya itu.


“Terima kasih.” Fahad berucap.


Nayla mengangguk, dia mengangkat Shazia lalu membawanya keluar rumah. Menyuapi putrinya itu di teras rumah. Kashmir kali ini mulai memasuki musim semi.


Musim semi datang di antara bulan Maret hingga Juni. Tumbuhan akan memunculkan tunas-tunas daunnya yang sebelumnya rontok ketika musim gugur. Suhu musim semi sekitar 40% terasa dingin dan 60% terasa panas. Bunga-bunga pun mulai bermekaran.


Nayla menyuapi Shazia. Putrinya itu duduk di lantai sembari menatap ke arah halaman. “Mama, Zia mau main di sana!” tangan mungil itu menunjuk kursi yang berada di taman rumah.


“Iya, nanti. Sekarang makan dulu, kalau sudah habis nanti mama ajak main di sana,” tutur Nayla.


“Mama!” Shazia mulai merengek. Dia berdiri, kaki mungilnya mulai melangkah.


Nayla menaruh mangkoknya, mengangkat tubuh Shazia dan kembali membawanya ke teras. “Nanti dulu, Jaanu. Makannya tinggal sedikit. Habisin dulu nanti kita main di sana,” kata Nayla.


“Nanti main?” Shazia bertanya. Nayla mengangguk. Si pipi gembul itu mengunyah makanan dengan mata yang selalu tertuju pada kursi taman. Sorot matanya sungguh memancarkan keinginannya.


Fahad memperhatikan istri dan anaknya dari balik jendela. Tersenyum jika ia melihat Shazia, namun dia akan berubah sedih melihat sang istri yang masih marah kepadanya.


“Sudah habis, sekarang kita minum dulu, yuk.” Nayla masuk ke dalam rumah. Ia mengajak serta sang putri. “Zia, ayo,” ajak Nayla lagi yang melihat Shazia tetap berdiri dan melihat ke arah kursi taman.


Nayla berjongkok, mensejajarkan tubuhnya pada putrinya. “Jaanu. Kamu tunggu di sini, ya? Mama ambil minum dulu buat kamu.” Shazia mengangguk,mengerti ucapan sang mama.


Nayla masuk kedalam rumah, mencuci mangkok bekas makan Shazia sebentar lalu mengambilkan air minum dari gelas yang juga terdapat sedotan di dalamnya.


“Zia?” Nayla tak mendapati putrinya di teras. Dia mengedarkan pandangannya mencari sang putri. Nayla melangkah begitu melihat Shazia sedang bersama Fahad di kursi taman.


“Minum dulu, Zia.” Nayla mendekatkan segelas air putih pada Shazia. Putrinya itu meminum air putih dari sedotan panjang yang sudah Nayla taruh di dalamnya.


“Aku mau gosok baju dulu. Nanti kalau Zia nangis, kamu bawa saja ke dalam.” Nayla kembali masuk ke rumah. Meninggalkan Fahad dan Shazia yang bermain di kursi taman. Fahad tak sempat mengatakan apapun pada Nayla sebab istrinya itu sudah lebih dulu pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2