Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 25


__ADS_3

Selesai merapikan diri, Nayla turun ke lantai satu. Di meja makan, hanya terlihat Yasmin dan Fahad di sana. Setelah membalas sapaan dari Yasmin, Nayla pun membantu Ibu Fatimah dan Hannah.


Mata Nayla mencari sosok Yumna dan Ammi. Masih teringat jelas kemarahan Fahad semalam kepada Yumna. Nayla pikir, mungkin Yumna merasa takut untuk bertemu Fahad, kakaknya.


Tak lama, terlihat Ammi datang bersama Yumna. Keduanya duduk di kursi masing-maisng. Nayla datang, membawakan cangkir teh untuk Fahad dan Ammi. Juga susu hangat untuk Yasmin dan Yumna.


“Terima kasih, Nak,” ucap Ammi pada Nayla setelah cangkir tehnya disuguhkan oleh calon menantunya tersebut. Nayla mengangguk dan tersenyum.


“Selamat pagi, Yumna,” sapa Nayla sembari mendudukkan tubuhnya di samping kursi Yumna.


“Selamat pagi, Kakak ipar.” Yumna tersenyum simpul. Gadis itu menunduk ketika matanya tak sengaja bertemu dengan sorot mata Fahad. Tentu, Yumna masih merasa takut. Pun ia juga menyadari bahwa apa yang sudah dikatakannya semalam memanglah salah.


Hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring makan. Yumna menyelesaikan sarapannya lebih awal, ia ingin segera pergi ke kampus. Juga menghindari Fahad, tentunya.


“Kamu nggak berangkat sama Kak Fahad?” tanya Yasmin saat Yumna mengambil tas kuliahnya.


“Enggak. Aku sama Paman Abdul aja.” Yumna mencium pipi Amminya. Ia pergi setelah sebelumnya mengucap salam kepada semua orang.


Tak lama, Fahad juga berpamitan kepada Amminya dan juga Nayla. Mereka mengantar Fahad sampai ke teras. Sama seperti Yumna, Fahad juga mencium pipi Ammi.


Sangat manis. Batin Nayla.


Fahad menyentuh pipi Nayla, “aku berangkat, aku pasti cepat pulang.”


Nayla mengangguk, tersenyum simpul melepas Fahad pergi bekerja. Setelah dirasa mobil Fahad semakin jauh dari pandangan, Ammi dan Nayla kembali masuk ke rumah.


***


Yasmin melihat Nayla sudah selesai membantu Hannah di dapur. Ia memanggil Nayla untuk duduk bersamanya di kursi meja makan.

__ADS_1


Nayla menghampiri Yasmin setelah sebelumnya ia mengeringkan tangannya. Ia duduk di samping calon adik iparnya itu.


“Yasmin, Fahad menyuruhmu nggak masuk kerja, kan? Buat nemenin aku di rumah.” Nayla membuka pembicaraan.


Yasmin mengangguk, “selain itu, aku emang lagi mau di rumah, Kak. Aku mau ngobrol banyak sama, Kakak ipar.”


“Pekerjaan kamu jadi korbannya.”


Yasmin tertawa kecil, “nggak apa, Kak. Cuma pekerjaan. Kalau aku nggak di rumah, bisa-bisa aku yang jadi korban amarah Kak Fahad.”


Kening Nayla berkerut, kedua alisnya saling bertaut. “Maksudnya?”


“Nona Yasmin ini karyawannya Tuan Fahad, Nyonya,” sahut Hannah.


“Oh.” Nayla mengangguk, tanda ia mengerti bahwa Yasmin juga membantu Fahad mengurusi bisnis saffron keluarga mereka.


Nayla sudah tak mampu menahan rasa penasarannya. Iapun mengajak Yasmin naik ke lantai dua, menuju kamar Fahad. Ia berniat menanyakan tentang siapa sosok anak kecil di foto tersebut.


“Foto ini?” tanya Yasmin yang di jawab anggukan kepala oleh Nayla.


“Dia siapa, Yasmin? Aku nggak berani nanya sama Fahad. Aku takut dia tersinggung,” ujar Nayla.


Yasmin merasa terkejut jika Nayla tidak mengetahui siapa sosok anak kecil itu. “Kak Fahad nggak pernah cerita soal masa lalunya?” tanya Yasmin.


“Enggak. Dan aku juga nggak pernah nanya lebih jauh. Aku takut Fahad tersinggung, Yasmin.”


Yasmin menghela napas panjang. Ia memandang foto tersebut. Raut wajah sedih Yasmin dapat terlihat oleh Nayla. Yasmin pikir, mungkin Fahad sudah tak ingin mengingat masa lalunya lagi. Oleh sebab itu, kakaknya tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya kepada Nayla.


“Aku akan menceritakan semuanya, Kak, tapi aku mohon jangan beritahu Kak Fahad kalau aku yang menceritakan semuanya.”

__ADS_1


Nayla mengiyakan permintaan Yasmin. Ia mendengarkan dengan seksama cerita Yasmin tentang masa lalu Fahad.


“Jadi namanya Aadil? Dia anaknya Fahad?” terkejut Nayla. “Terus, sekarang dia di mana? Sama ibunya?” cerca Nayla.


Yasmin menggeleng dengan keras. Air mata yang ia tahan sedari tadi, kini mengalir begitu saja. Dadanya terasa sesak tatkala mengingat nasib rumah tangga kakaknya, Fahad.


“Aadil, dia meninggal saat berumur satu tahun, Kak.”


“Meninggal?” ulang Nayla. Ia begitu terkesiap mendengar penuturan Yasmin. Di foto tersebut, Aadil terlihat sangat sehat dan bahagia. Entah, Nayla tidak tahu apa yang terjadi dengan putra dari kekasihnya itu. Meninggal. Hati Nayla merasa perih begitu mengetahui nasib Aadil. Terlalu cepat ia pergi.


“Kak Fahad nggak kasih ijin kita masang foto Fahad di ruang keluarga ataupun di kamar lain. Cuma foto ini yang Kak Fahad pajang. Di kamar ini, Kak Fahad menangis kalau dia merindukan Aadil. Kak Fahad nggak pernah nunjukin kesedihannya di depan keluarga. Foto ini pasti menjadi tujuan Kak Fahad pulang ke rumah.” Air mata masih mengiringi setiap penjelasan Yasmin.


Rindu. Yasmin juga sangat merindukan keponakannya itu. “Setelah Kak Fahad bercerai, semuanya berubah,” lanjut Yasmin. “Kak Fahad berubah menjadi pria yang pemarah, pria dingin, pria yang gila kerja. Dan Ammi, dia nggak berhenti menyalahkan dirinya sendiri, Kak.”


Yasmin menyeka air matanya. Ia melanjutkan ceritanya ... bahwa Ammi sungguh merasa bersalah terhadap Fahad. Saat itu ... saat Fahad masih berusia 23 tahun, Ammi memaksa Fahad untuk menikah dengan wanita yang di kenalkan oleh kerabat mereka.


Fahad tak bisa menolak, walaupun sebenarnya ia belum ingin menikah. Fahad masih ingin melanjutkan pendidikannya sembari mengurus bisnis saffron keluarga mereka. Namun, Fahad tak bisa berkata apapun selain mengiyakan perintah Ammi. Ya, Fahad masih bisa membagi waktu antara kuliah, mengurus bisnis, juga rumah tangganya.


“Selang satu tahun pernikahan, di tahun kedua, istrinya hamil, Kak. Dan lahirlah Aadil di tahun ketiga pernikahan. Beberapa hari setelah Aadil berulang tahun yang ke satu, dia meninggal. Saat itulah, semuanya berubah. Hidup Kak Fahad berubah.” Yasmin berusaha mengontrol emosinya ketika menceritakan kisah masa lalu rumah tangga kakaknya, Fahad.


Satu tangan Nayla mengusap-usap lengan Yasmin, menyalurkan ketenangan kepada calon adik iparnya itu.


Yasmin kembali menceritakan bagaimana Fahad bisa bercerai dengan istri pertamanya dulu. Yasmin mengatakan, bahwa Aadil meninggal karena ia tercebur ke dalam kolam renang. Dan semua itu terjadi karena kurangnya pengawasan dari ibu Aadil itu sendiri.


Saat itu, ibu Aadil tengah menerima sambungan telepon di pinggir kolam renang. Aadil yang baru bisa berjalan itu, menghampiri sang ibu. Namun sayangnya, ibu Aadil tidak mengetahui kedatangannya. Ia kembali ke dalam rumah. Tak berselang lama, terdengar teriakan Hannah yang meminta tolong. Tanpa pikir panjang, Hannah melompat ke kolam renang, menyelamatkan putra dari majikannya tersebut.


Aadil tak tertolong meskipun ia sudah di bawa ke rumah sakit. Tangis itu pecah. Ammi, istri Fahad yang tak lain ialah; ibu dari Aadil, Yasmin dan juga Yumna.


Fahad ... ia tidak menangis. Fahad diam, ia tak berbicara kepada siapapun. Ia mengurung diri di ruang kerjanya selama berhari-hari.

__ADS_1


“Dan sampailah pada puncaknya. Kak Fahad marah. Dia bertengkar sama istrinya. Di depan istrinya, semua barang di pecahkan sama Kak Fahad. Saat itu, Kak Fahad menjatuhkan talak untuk istrinya.” Ucap Yasmin.


***


__ADS_2