
Malam semakin dingin, Nayla mengambil sweater agar tubuhnya terasa lebih hangat. Nayla memang sangat lelah, namun ia tidak bisa tidur jika suaminya belum pulang. Sambungan telpon dan pesannya sama sekali tidak dijawab dan dibalas.
Nayla kembali keluar kamar, berniat melakukan apa saja sampai menunggu suaminya pulang. Yang ditunggu tak kunjung pulang, Nayla tertidur di sofa dengan posisi duduk, memeluk tubuhnya sendiri.
Tepat pukul 12, Fahad pulang. Guratan di wajahnya terlihat sangat lelah. Membuka pintu, ia dapati Nayla yang tengah tertidur. Tidak seperti sebelumnya, dimana ia akan berlama-lama memandang wajah istrinya. Kali ini, Fahad langsung mengangkat tubuh Nayla dan membawanya ke kamar setelah sebelumnya ia menaruh jasnya di sembarang tempat. Iaa menidurkan tubuh Nayla dengan perlahan, ia tarik selimut agar menutupi tubuh istrinya.
Hal sama terjadi lagi ketika pagi menyapa. Nayla tidak mendapati suaminya. “Fahad?” bendungan air mata semakin meluap, pipinya pun basah karena air mata yang terus mengalir. “Kamu kenapa? Aku salah apa?” Nayla bertanya pada diri sendiri.
Nayla tidak lagi menelpon ataupun mengirim pesan. Ia memilih diam, tidak ingin menganggu suaminya bekerja. Namun, hatinya merasa tidak tahan. Ia ingin menyelesaikan permasalah dengan segera, agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang sebenarnya ia sendiri tidak tau apa yang membuat suaminya berubah.
Panggilan video dan suara dari Andi Nayla tolak lalu menggantinya dengan pesan teks. Ia tau, Andi pasti melontarkan berbagai pertanyaan jika melihat wajahnya yang kurang bersemangat. Andi tidak mudah dibohongi, ia akan tau hanya dengan menatap kedua mata Nayla dan mendengar nada bicaranya yang berubah. Tidak ingin membuat adiknya khawatir, Nayla selalu mengatakan bahwa ia sedang ada di luar jika Andi akan menelpon.
***
Sama seperti kemarin, Fahad berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum matahari terbit, ia sudah keluar apartemen. Satu yang berbeda, Yasmin tidak datang ke ruangannya seperti kemarin pagi. Ya, memang. Karena Nayla tidak mengatakan apapun kepada adiknya tersebut.
Meski begitu, Yasmin tau ... ada yang salah dengan Fahad dan juga Nayla. Sebagai adik, tentu tidak baik jika terlalu dalam mencampuri rumah tangga kakaknya, sementara ia sendiri belum pernah merasakan dan mengerti apa arti rumah tangga yang sebenarnya. Tetapi, melihat kakak dan kakak iparnya yang sedang tidak baik-baik saja, tentu membuat bersedih.
Yasmin hendak pulang, ia memutar langkah kakinya untuk masuk ke ruangan Fahad. Sebelumya, ia bertanya kepada Alina, apakah kakaknya belum pulang.
“Belum, Nona, sepertinya Pak Fahad akan pulang seperti kemarin lagi.” Alina menjawab.
Kedua mata Yasmin memicing sempurna, “seperti kemarin? Kamu tau?” selidiknya.
Alina mengangguk, “kemarin sebelum saya pulang, Pak Fahad meminta di pesankan makam malam. Katanya mau lembur. Tapi, seingat saya ... tidak ada pekerjaan apapun yang mengharuskan lembur. Kalaupun ada, Pak Fahad pasti minta saya untuk mengerjakannya.”
Mendengar penuturan Alina, kini Yasmin benar-benar yakin. Kakaknya sedang mengindar dari sang istri. “Iya, kamu benar. Nggak ada pekerjaan yang mengharuskan lembur. Semua berkas kontrak kerja dan pengembangan usaha sudah selesai.”
Tidak menunggu lama lagi, Yasmin segera masuk, ia melihat kakaknya yang tengah berbaring di sofa. Ia menyapa, lali duduk di sofa tunggal. “Kakak lembut lagi?” tanyanya.
__ADS_1
“Iya. Kamu bisa pulang sendiri, kan?” Fahad membuka mata, mendudukkan tubuhnya dengan sempurna.
Yasmin diam, menatap lekat-lejat wajah kakaknya. Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Akan tetapi, ia mengurungkan bertanya. Ia tetap mengajak kakaknya untuk pulang bersama. “Harusnya aku nggak ngajak, Kakak, pulang bareng.” Yasmin beranjak berdiri setelah mendapat penolakan dari Fahad. “Kak, kakak ipar di sini cuma punya, Kakak, jangan buat dia merasa sendirian.” Yasmin berpesan, berharap kakaknya segera pulang dan menyelesaikan masalahnya bersama Nayla.
Berdiri di lobby, sembari memesan taksi online lewat aplikasi di ponselnya. Sedari tadi, ia tidak berhenti berharap dan berdoa agar kakaknya pulang dan menemui istrinya.
Sahil baru saja keluar dari lift, ia melihat Yasmin seorang diri lalu menghampirinya. “Yasmin, belum pulang? Di mana Fahad?” ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Fahad.
“Kak Fahad belum mau pulang, Kak, katanya lembut. Tapi,”
“Tapi, apa?” tanya Sahil.
Yasmin mengatakan apa yang terjadi diantara Fahad dan Nayla. Ia meminta tolong kepada Sahil agar ikut menasihati kakaknya. “Kasihan kakak ipar, Kak, dari kemarin dia nggak ketemu sama Kak Fahad.”
Sahil mendesah kesal, bagaimana mungkin Fahad yang dulu kembali lagi. Fahad yang gila kerja dan tidak peduli dengan orang sekitarnya. “Kakak coba bicara sama Fahad. Kamu nggak apa, pulang sendiri?”
Yasmin mengangguk, ia meyakinkan Sahil bahwa ia akan baik-baik saja. “Aku pulang dulu, Kak.” Yasmin berpamitan sebelum ia masuk ke taksi.
Ia menyuruh Alina untuk pulang, karena memang sudah waktunya semua karyawan pulang. Masuk tanpa mengetuk pintu, ia mendapati Fahad yang berbaring di sofa dengan satu tangan menutupi wajahnya.
“Fahad, kenapa kamu belum pulang?” Sahil bertanya.
Fahad menurunkan tangannya, menatap Sahil yang duduk di sofa tunggal. “Aku masih ada pekerjaan, sebentar lagi aku juga pulang,” jawabnya dengan malas.
“Ada apa? Kamu bertengkar dengan Nayla?” selidik Sahil.
Fahad merauo wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia beranjak duduk. “Enggak, aku nggak berantem. Hanya saja,” ada jeda sesaat sebelum Fahad melanjutkan kalimatnya. “Ah, sudahlah, nggak usah dibahas. Pulanglah.” Fahad mengalihkan pembicaraan.
Sahil menyerah, tidak mungkin untuk dirinya bertanya lebih jauh. “Pulanglah, Fahad, selesaikan masalahmu dengan baik. Aku nggak tau, masalah apa diantara kalian. Tapi, jangan menghindar dari Nayla dengan seperti ini. Dia ke sini cuma buat kamu, dia pergi ninggalin keluarga dan negaranya demi ikut sama kamu, suaminya. Suaminya.” Sahil memberi penekanan pada kata ‘suami’.
__ADS_1
Tidak ada jawaban apapun dari Fahad, Sahil pun memutuskan untuk pulang. Meninggalkan sahabatnya itu agar bisa berpikir tentang apa yang sudah ia ucapkan.
***
Pukul tujuh malam, Yasmin baru sampai di apartemen. Ia mampir ke cafe untuk membeli minuman dan kue favoritnya terlebih dahulu. Sama halnya seperti kemarin, ia mendapat pertanyaan dari kakak iparnya yang menanyakan keberadaan suaminya.
“Kak Fahad lembur lagi, Kak, katanya nggak sampai tengah malam dia pulang.” Yasmin tidak bisa mengatakan hal lain. Hanya itu yang ada di pikirannya begitu mendapat pertanyaan dari Nayla.
“Oh. Ya, udah, kakak ke kamar dulu.” Nayla masuk ke kamar, ia mengganti baju lalu memakai hijab, tak lupa ia juga memakai jaket tebal karena udara terasa sangat dingin.
“Kakak ipar!” panggil Yasmin yang berada di dapur.Ia menghampiri Nayla yang sudah hampir membuka pintu. “Kakak ipar, mau ke mana?” tanyanya dengan panik.
“Kakak harus ke kantor, Yasmin, kakak nggak bisa nunggu lagi.” Nayla memberi pengertian, ia tau bahwa Yasmin mengkhawatirkannya yang pergi seorang diri.
“Tapi, Kak, Kakak ipar?!”
Teriakan Yasmin tidak digubris oleh Nayla. Ia tetap berangkat ke kantor, menyusul suaminya. Takut, Nayla memang merasa takut. Ini kali pertama ia pergi menggunakan jasa taksi seorang diri. Tapi tidak ada pilihan lain, ia harus segera bertemu dengan suaminya.
Taksi berhenti tepat di depan lobby kantor. Nayla segera keluar setelah memberikan beberapa lembar uang kepada sopir tersebut.
“Ibu, ada di sini?” security yang bertugas malam itu mengenali Nayla.
“Iya, Pak.” Nayla mengingatnya, security tersebut juga bertugas beberapa hari yang lalu saat ia dan Sanju datang ke kantor. “Pak, maaf, apa suami saya masih ada di sini?”
“Iya, Bu, Pak Fahad masih di atas.”
Nayla segera masuk setelah mengucapkan terima kasih, ia sedikit berlari. Sungguh tidak tahan lagi, ia ingin bertanya kepada suaminya ... sebab apa yang membuat Fahad menghindarinya dua hari ini.
Lift terbuka, Nayla melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa memperhatikan sekitarnya. Ia menabrak seseorang yang berjalan dan juga akan masuk ke lift. “I'm sorry, sorry,” ucapnya sembari membantu mengambil beberapa berkas yang berjatuhan.
__ADS_1
Fahad mendengar suara, ia beranjak berdiri dari sofa dan melihat apa yang terjadi. Membuka pintu, seketika matanya menyorot tajam, tangannya mengepal seakan hendak memukul apa saja yang ada dihadapannya. “Nayla!”
***