
“Maaf, aku—”
“Nayla.” Sahil tersenyum sembari menerima beberapa kertas dari tangan wanita itu.
“Anand, maaf, aku nggak sengaja.”
“Iya, nggak apa. Lain kali berhati-hatilah.” Anand permisi pulang. Ia masuk ke lift lalu menekan tombol menuju lobby.
Setelah kepergian Anand, Nayla melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Fahad. Ia terkejut melihat suaminya yang berdiri di depan pintu dengan sorot mata menakutkan. Ia berjalan mendekat dengan perlahan, sungguh ... Nayla sangat ketakutan. Tapi ia tetap harus berbicara dengan suaminya, menyelesaikan masalah yang ada. “Fahad, aku—”
“Ayo, pulang!” Fahad mencengkeram pergelangan Nayla dengan kasar, hingga istrinya itu meringis kesakitan.
Di dalam lift, Fahad tetap tidak berbicara sepatah katapun. Ia tetap mencengkeram pergelangan tangan istrinya. Keluar dari lift dan menuju ke mobil, Fahad tetap tidak melepas cengkeramannya. Security hanya melihat dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Baru kali ini ia melihat atasannya itu dengan sorot mata dan wajah yang menakutkan. Fahad memang seorang atasan yang tegas, namun apa yang baru saja security lihat malam ini sungguh diluar dugaannya.
Sampai di parkiran apartemen, Fahad mengajak istrinya turun dengan langkah cepat. Nayla kesulitan mengikuti langkah kaki suaminya yang panjang dan cepat. Nayla tidak berani berkata, ia hanya menunduk diam. Ia pasrah, apa yang suaminya itu akan terhadapnya. Apa Fahad mau nyiksa aku? Kenapa, Fahad? Kenapa kamu seperti ini? Nayla bertanya kepada dirinya sendiri.
“Kakak?” Yasmin yang tadinya duduk di sofa ruang tamu tersebut dibuat terkejut dengan kedatangan kakak dan kakak iparnya. Terlebih, melihat Nayla yang meringis kesakitan membuat ia mendekat dan mencoba menghentikan langkah kaki Fahad. “Kak Fahad, ada apa? Kenapa—”
“Yasmin!” bentak Fahad. Suaranya menggelegar, menusuk gendang telinga adik dan juga istrinya. Fahad melanjutkan langkahnya, ia berjalan masuk ke kamar. Menutup pintu dengan keras lalu menguncinya. Ia hempaskan tubuh istrinya di atas ranjang.
“Kakak ipar?” Yasmin ketakutan. Ia kebingungan, apa yang harus ia lakukan. “Kak Fahad, aku mohon jangan lakuin apapun sama kakak ipar. Dia kakak iparku, kakak iparku.”
Air mata Nayla mulai menganak sungai, ia berusaha keras agar air matanya tidak jatuh. “Fahad,” bibirnya tak henti memanggil nama suaminya. Ia turun dari tempat tidur, mendekat lalu meraih pergelangan tangan suaminya. “Fahad—”
“Nayla!” Fahad menghempaskan tangan istrinya dengan kasar. Melepas jas lalu melemparnya ke sembarang arah. Kedua tangannya kini mencengkeram lengan Nayla. “Kamu ada apa sama Anand? Kamu ngapain sama dia?!” bentaknya tanpa mempedulikan air mata yang sudah mulai menetes dari mata sendu sang istri.
__ADS_1
“Fahad, sakit.” Nayla merintih, ia berusaha melepas cengkeraman tangan suaminya. Namun, semua itu sia-sia, kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan dan juga emosi Fahad.
“Aku kasih ijin keluar apartemen sendirian, tapi kamu malah seenaknya sendiri!”
“Maksud kamu apa, Fahad?” Nayla meronta, masih berusaha menurunkan tangan Fahad dari lengannya.
Fahad kini melepas jaket dan hijab Nayla dengan kasar, ia mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh di tempat tidur. “Kamu kenal Anand bukan cuma sekedar ketemu di lift dan ketemu di supermarket, kan?” Fahad bertanya, ia naik ke tempat tidur dan kembali mencengkeram pergelangan tangan Nayla. “Jawab!” semakin keras ia mencengkeram.
“Fahad, sakit ... sakit.” Nayla kehabisan tenaga, ia tidak bisa lagi meronta—berusaha melepaskan tangan suaminya.
“Jawab!” lagi, Fahad kembali membentak.
Yasmin ketakutan, ia menggigit ujung jarinya. Mencari ide untuk menyelamatkan kakak iparnya dari kemarahan Fahad. “Enggak! Kak Fahad nggak bakal main tangan. Dia nggak pernah mukul adik apalagi istrinya.” Yasmin berusaha menyingkirkan pikiran buruk itu. Akan tetapi, suara bentakan Fahad membuat ia tidak bisa berpikir jernih. Ia ketakutan, takut jika kakaknya akan bertindak diluar kendali.
Nayla masih menangis, ia tidak lagi meminta Fahad untuk melepaskan cengkeraman tangannya. Ia diam, menatap kedua bola mata suaminya bergantian. Mencoba mencari jawaban akan pertanyaannya sendiri. Apa ini kamu, Fahad? Kamu bukan Fahad yang kukenal. Kamu bukan Fahad!
Nayla terus saja memanggil-manggil nama suaminya. Bibirnya bergetar ketakutan, satu tangannya menyentuh dada Fahad, berharap emosi suaminya bisa mereda. Bukan, bukan itu yang Nayla dapat. Suaminya justru membungkam bibirnya dengan ciuman yang kasar. Ia tak dapat berkutik dari cengkeraman kedua tangan Fahad.
Malam itu, entah bagaimana Nayla menyebutnya. Ia tidak mengerti dengan sikap Fahad. Emosi yang memuncak itu membuatnya kesakitan di atas tempat tidur. Fahad tidak peduli dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
Kamu istriku. Milikku! batin Fahad.
***
Pagi menyapa dengan udara dinginnya. Sama halnya dengan Fahad, setelah apa yang semalam ia lakukan terhadap istrinya ... hatinya tidak berubah sedikitpun. Ia tetap bersikap dingin. Beranjak bangun, Fahad menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
“Fahad.” Nayla tidak bisa tidur. Semalaman ia dibuat takut sekaligus bingung dengan suaminya. “Kamu kenapa?” pertanyaan yang sama. Ia kembali menutup mata, berpura-pura tidur begitu ia melihat Fahad keluar dari arah kamar mandi. Ia tidak ingin mendapat sorotan mata tajam dari suaminya lagi. Sudah cukup. Ia masih merasa takut.
Nayla memperhatikan Fahad yang tengah bersiap pergi ke kantor dengan diam. Ia akan menutup mata jika suaminya menoleh kepadanya, Nayla tidak ingin matanya bertemu dengan sorot mata menakutkan itu lagi. Perlahan, Nayla berusaha bangun setelah kepergian suaminya, susah payah ia mendudukkan tubuhnya. Selimut masih membalut tubuhnya, Nayla berjalan perlahan menuju kamar mandi.
Fahad yang sudah berdiri di depan lift itupun menyadari jam tangannya tertinggal, ia kembali ke apartemen. Pintu kamar tidak tertutup dengan sempurna, matanya mendapati Nayla berusaha berjalan dengan selimut yang istrinya cengkeram kuat dengan satu tangan. Sementara tangan satunya, Nayla gunakan untuk berpegang pada dinding kamar. Hatinya bergetar hebat, pemandangan itu bisa meruntuhkan dinding emosi yang sudah ia bangun sendiri. Tangannya membuka pintu kamar itu lebih lebar lagi, mata mereka pun saling bertemu.
Nayla mengakhirinya lebih dulu, ia mematung ... menunduk ketakutan, tangannya mencengkeram selimut lebih kuat.
Fahad melangkah, mendekati istrinya. Tangannya mencoba meraih pergelangan tangan Nayla.
“Jangan, Fahad, jangan.” Nayla terduduk lemas. Ia memeluk lututnya, menunduk dengan air mata yang bersiap meluncur membasahi pipi. “Maaf, aku minta maaf.”
Hancur. Hati Fahad hancur melihat istrinya ketakutan. Menyesal sudah. “Sayang,” panggilnya dengan lembut, mencoba meraih tangan Nayla.
“Jangan ... sakit.” Nayla semakin merapatkan tangannya yang memeluk lutut. Tubuhnya berangsur menjauh, bibirnya tak henti mengatakan ‘jangan’.
“Sayang, lihat aku.” Fahad dengan cepat menahan tubuh Nayla lalu memeluknya. “Maaf, aku salah ... aku salah.” Tubuh Nayla bergetar ketakutan, Fahad dapat merasakannya. Istrinya tidak mau bertatap muka dengannya.
Nayla berusaha meronta dengan tubuh yang masih terasa sakit, “jangan, Fahad ... jangan, sakit.” Ucapan itu yang terus keluar dari bibirnya.
Untuk beberapa saat, hanya pelukan dari Fahad dan juga isakan tangis Nayla yang memenuhi kamar tersebut. Fahad melepas sepatu, mengangkat tubuh Nayla ke dalam gendongannya lalu membawanya ke kamar mandi. Menyalakan shower, Fahad membantu istrinya membersihkan diri. Hatinya merutuk kebodohan yang semalam ia lakukan kepada istrinya di atas ranjang.
Ada apa lagi, Fahad? Kenapa kamu seperti ini?
Nayla berperang dengan pikirannya sendiri begitu ia mendapat perlakuan lembut dari Fahad. Semalam, suaminya itu bagai singa yang kelaparan. Memangsa apa saja dengan rakus. Tetapi, pagi ini ... ia mendapat kelembutan dari suaminya.
__ADS_1
Membalut tubuh Nayla dengan handuk baju, Fahad menggendongnya keluar kamar mandi lalu membantunya memakai pakaian. “Kamu wudhu dulu, habis itu salat, bisa jalan sendiri?” tanyanya setelah selesai memakaikan baju. Nayla menjawab dengan anggukan kepala. Fahad memandang Nayla dengan tatapan penyesalan yang teramat sangat. Meraup wajahnya dengan kasar, memaki diri sendiri atas apa yang ia lakukan semalam.
***