
Andi tetap pada pendiriannya. Sudah tak terhitung berapa kali Fahad mencoba membujuk serta meyakinkannya, Andi tetap mengatakan bahwa ia tidak ingin ikut dan kuliah di India. Andi ingin lebih mandiri. Tidak ingin didikan Nayla dan kakaknya yang lain terbuang sia-sia jika ia tidak bisa hidup mandiri.
Selama ini, semua saudaranya memberikan contoh yang baik. Hidup mandiri, tidak bergantung pada orang lain—selalu berusaha sendiri selama ia mampu. Kini, Andi harus bisa hidup jauh dari Nayla. Biarlah kakaknya pergi bersama suami yang bertanggung jawab dan sudah pasti akan membahagiakan Nayla.
“India nggak jauh-jauh banget, Mbak, aku masih bisa ke sana. Jangan buat ini jadi beban. Sudah lebih dari cukup, apa yang, Mbak, kasih buat aku.” Andi berujar agar Nayla merasa tenang. Ia juga meyakinkan kakak iparnya, Fahad ... bahwa ia baik-baik saja.
Nayla mengangguk. Andi sudah dewasa, dan hanya Andi yang bisa memutuskan apa yang terbaik untuk hidupnya.
***
Seusai makan malam tadi, Andi sudah mengatakan kepada Nayla, bahwa ia ingin tidur bersama di ruang tv. Dua hari lagi kakaknya akan berangkat ke India, ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Nayla.
“Pasang kasur buat aku juga, Sayang, aku juga mau ikut tidur di luar,” ujar Fahad sembari mematukan layar komputer lipatnya.
Nayla yang berunsur di depan kemari, mengganti baju tidurnya itupun menoleh, “yakin?” tanyanya memastikan.
“Iya.” Fahad berdiri, berjalan menghampiri istrinya.
“Kamu bisa tidur di lantai? Nanti badan kamu sakit semua.”
“Bisa, kok. Kan, pakai alas kasur lipat.”
Nayla menuruti ucapan Fahad, ia menata satu kasur lagi untuk suaminya itu. Mereka bertiga tidur bersama dengan posisi Nayla di tengah-tengah Fahad dan Andi.
***
Membangunkan suami serta adiknya untuk menunaikan kewajiban. Selesai salat, Fahad dan Andi meminum kopi yang sudah disiapkan Nayla di meja makan. Mereka bertiga berbincang ringan dengan Nayla yang sibuk memasak sarapan di dapur yang menyatu dengan meja makan.
Seusai sarapan, mereka bertiga berencana akan berziarah ke makam kedua orang tua. Berpamitan dengan cara berziarah. Tentu hanya itu yang bisa Nayla lakukan. Menikah tanpa adanya orang tua, dan kini ia harus pergi tanpa bisa memeluk keduanya sebagai tanda perpisahan.
Satu jam berlalu, Nayla sudah selesai memasak, ia menyuguhkan hidangan sarapan di meja makan. Andi menatap heran, “kok, tumben nggak ada masakan India? Bahannya habis, Mbak?” celetuk Andi.
__ADS_1
Nayla mengambil cah kangkung lalu menaruhnya di piring miliknya, “sengaja, kan, besok mau berangkat. Takut kangen sama kangkung.”
Andi melirik kakak iparnya yang tengah menyantap ayam dan kentang goreng. “Tumben juga dia nggak protes.” Andi tersenyum. Ia pun mulai menyantap sarapannya, sama seperti Nayla.
Mengendarai mobil, ketiganya sudah sampai di area pemakaman. Andi berjalan lebih dulu, disusul Nayla dan Fahad di belakangnya. Nayla tersenyum, ia duduk di samping pusara orang tuanya.
Ibu, Bapak Nayla datang lagi. Kali ini Nayla datang sama suami Nayla dan Andi. Maaf, Pak, Bu, Nayla nggak datang sama cucu kalian. Maaf.
Nayla berbicara dalam hati.
Nayla kangen, Bapak sama Ibu, kangen. Air mata tak mampu Nayla tahan, perlahan ... bulir bening itu membasahi pipi.
Fahad duduk di samping Nayla seraya memeluk tubuh istrinya. Ia mencoba menenangkan hati istrinya. Ia sungguh tak tahan jika melihat Nayla menangis, sudut hatinya terasa pilu. Aku janji, Nayla. Aku janji nggak akan kasih kesempatan air mata kamu jatuh lagi. Ibu sama Bapak, pasti bangga sama kamu. Pasti.
Pak, Bu, Andi sekarang harus jauh dari Mbak Nayla. Kalau Andi boleh egois, Andi nggak mau Mbak Nayla pergi. Andi nggak mau.
Andi menunduk, ia menangis. Ingin berteriak dan mengatakan bahwa Nayla tidak boleh pergi, ingin mencegahnya, hatinya sakit mengingat besok Nayla harus berangkat ke India. Pergi jauh darinya.
Nayla besok berangkat ke India, ikut suami Nayla. Tapi Nayla nggak akan lupa sama Andi. Dia adik Nayla yang paling baik. Nayla pamit, Pak, Bu.
Menyentuh batu nisan kedua orang tuanya sesaat sebelum pergi. Senyuman Nayla sematkan sebelum meninggalkan makam bapak dan ibu. Fahad membiarkan Nayla menggandeng tangan Andi. “Mereka sangat manis.” Fahad bergumam.
***
Di bandara.
Nayla tidak bosan berpesan kepada Andi agar menjaga kesehatannya, ia juga mengingatkan adiknya untuk menelponnya setiap hari. “Tidur tepat waktu, jangan telat makan.”
“Iya. Mbak, udah seratus kali ngomong itu ke Andi. Kupingku panas dengarnya.” Andi berujar.
Nayla tertawa, disusul tawa kakak dan kakak iparnya yang lain. “Baru juga seratus, belum seribu.”
__ADS_1
Semua keluarga memeluk Nayla bergantian. Sellau berpesan agar menjaga kesehatan dan menjadi istri yang selalu setia di samping suami. “Jangan merasa sendiri di sana, kami selalu ada di manapun kamu berada, Nayla.” Mbak Indah berpesan. “Sering-serung telpon, ya,” imbuhnya.
Nayla mengangguk. Kini ia menghampiri Mas Arif yang duduk seorang diri, jauh dari mereka. “Mas.” Nayla duduk, tersenyum dengan bahagia. “Mas, nggak mau peluk aku? Aku mau pergi ke jauh, loh.” Guraunya.
“Nayla, Nayla.” Mas Arif menggelengkan kepalanya, “kamu ini masih kayak anak kecil, kenapa udah nikah, sih?!”
Nayla tertawa. “Mas, aku pasti bakal kangen kalian. Aku pasti juga kangen dimarahin sama, Mas dan Mbak Indah.”
Tak membalas ucapan Nayla, Mas Arif menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya. Ia sentuh kepala Nayla, “kenapa kamu menikah secepatnya ini, Nay? Rasanya baru kemarin Mas antar kamu beli jajan di warung, tapi sekarang kamu harus ikut suami kamu. Jauh.”
“Aku nggak pergi jauh, Mas, aku selalu dekat sama, Mas. Maaf, selama ini Nayla belum bisa jadi adik yang baik, yang bisa buat, Mas, bangga.” Nayla pun tak bisa menahan rasa haru, ia menitihkan air matanya.
Entah sebuah pesan atau ancaman, Andi mengatakan pada Fahad bahwa jika pria itu menyakiti Nayla ... membuat air matanya jatuh, ia pasti akan membunuhnya. Tak peduli apapun, yang Andi tahu, tak boleh ada setetes pun air mata Nayla yang jatuh.
Fahad tidak berjanji, tapi ia mengatakan akan berusaha tidak membuat istrinya itu menangis. “Lakukan apapun sesuka hati kamu, Andi, aku terima itu kalau air mata Nayla sampai jatuh. Aku nggak akan ngelawan, aku dengan senang hati menerimanya.”
“Kamu ngancam Fahad?” Nayla datang, ia mengacak-acak rambut Andi.
“Iya.” Andi menjawab tanpa ragu, mendatangkan tawa dari semua saudaranya.
Jam penerbangan sudah tiba, Fahad dan Nayla harus segera masuk ke ruang tunggu maskapai yang akan mereka tumpangi, terminal keberangkatan internasional.
“Mbak, jangan lupa telpon Andi kalau sudah sampai. Andi sayang sama, Mbak Nayla.” Pelukan terakhir Andi dan Nayla.
Cukup lama mereka berpelukan. “Jaga kesehatan, ya, jangan telat makan.” Nayla kembali berpesan.
Saling melambaikan tangan, bahagia dan sedih mengaduk hati masing-masing. Nayla ... gadis cantik yang dulu selalu meminta rambut panjangnya untuk di kepang, yang selalu menangis meminta untuk berjalan mengelilingi kawasan rumah bersama Mas Arif, kini sudah menjadi seorang istri. Pergi jauh untuk berbakti kepada suaminya.
Andi sayang, Mbak Nayla, sayang banget. Semoga, Mbak, selalu bahagia.
***
__ADS_1