
Aroma khas kopi yang diseduh memenuhi dapur. Nayla yang tengah sibuk menyiapkan sarapan itu tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi.
Fahad berdiri, sedikit menyembunyikan tubuhnya di balik tembok pembatas antara dapur dan kamarnya. Ucapan maaf dari Nayla masih terngiang di telinganya, penyataan bahwa ada perbedaan yang mencolok itu sungguh menganggu tidurnya.
Pukul dua malam Fahad baru bisa memejamkan matanya. Ketakutan menyergap hatinya, takut bahwa kekasihnya itu benar-benar akan membatalkan rencana pernikahan yang ia impikan sejak dulu—sejak mencintai seorang Nayla Anjani.
Melihat kekasihnya itu sibuk menyiapkan sarapan, Fahad memutuskan kembali ke kamar ... bersiap untuk berangkat ke kantor.
Fahad memakai kemeja berwarna biru muda, lengkap dengan celana kantor hitam yang membuat ia terlihat segar dipandang mata. Suara ketukan pintu dan panggilan dari Nayla mengajaknya beranjak, membuka pintu kamarnya dengan segera.
“Selamat pagi,” sapa Nayla tanpa seulas senyuman yang menyambut Fahad.
“Pagi.” Fahad mengikuti Nayla menuju meja makan. Dimana sarapan dan kopinya sudah tertata dengan sempurna di sana.
“Aku masak ikan kuah kuning sama nasi. Kalau kamu nggak suka, aku udah bikinin kamu sandwich.” Nayla duduk di kursi yang berhadapan dengan Fahad.
Meja makan berbentuk bulat itu mempunyai empat kursi. Melihat Nayla yang duduk di kursi yang lumayan jauh darinya, Fahad pun beranjak lalu duduk di kursi yang terdapat di samping wanita yang memakai hijab segi empat itu.
Nayla tetap pada posisinya, ia sibuk menuang ikan beserta kuah ke dalam piringnya. Lalu ia mengambilkan sandwich untuk Fahad. “Aku nggak mau sandwich, aku ikan aja,” kata Fahad, tangannya menolak sandwich yang hampir mendarat di piringnya.
“Yakin? Kamu mau ikan.” Nayla bertanya.
Fahad mengangguk, “iya, ikan aja. Tapi nggak usah pakai nasi.”
Sepiring berdua. Ya, Fahad menginginkan makan di piring yang sama dengan Nayla. Wanita itu hanya diam, membiarkan Fahad menyendok ikan dari piringnya.
“Buka mulut kamu.” Fahad menyuapi Nayla. Tak ada percakapan, keduanya sibuk menikmati sarapan.
Nayla tahu betul, Fahad sangat tidak menyukai ikan. Tetapi sejak melihatnya yang sering memakan ikan, kekasihnya itu juga tertarik untuk mencobanya. Fahad pun menyukainya, mulai dari ikan bakar, ikan goreng, dan ... ternyata Fahad juga menyukai ikan kuah kuning.
***
Selesai sarapan, Fahad tak langsung pergi ke kantor. Ia masih duduk di kursi meja makan, menikmati kopi hitam buatan Nayla. “Sayang,” panggil Fahad. Nayla yang hendak mencuci piring itupun menghampiri Fahad lalu duduk di sampingnya.
“Kamu berangkat jam berapa?” tanya Nayla.
Fahad melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, “sebentar lagi. Ada yang mau aku omongin sama kamu, soal semalam.”
“Nanti aja kalau kamu udah pulang kerja, sekarang berangkat dulu, nanti kamu telat.” Nayla hendak berdiri, namun Fahad dengan cepat menarik pergelangan tangan kekasihnya itu.
“Kenapa? Kamu mau kabur dari aku?” selidik Fahad.
Nayla merengut kesal, kedua alisnya saling bertaut. “Siapa yang mau kabur? Aku mana tahu jalan ke bandara.”
Fahad menarik gemas hidung mungil Nayla, “kalau tahu kamu mau kabur, kan?”
Nayla diam, ia menatap kedua manik mata Fahad. Entahlah, Nayla merasa hatinya sulit lepas dari pria itu. Semalaman, ia berpikir apa yang harus ia lakukan, pergi ... atau tetap di sisi Fahad.
“Jangan pergi.” Fahad menggenggam tangan Nayla, mencoba memantapkan hati kekasihnya itu lagi. Perjuangannya belum berakhir, ia masih harus meyakinkan hati Nayla—untuk tetap berada di sisinya, tak peduli apapun perbedaan yang mencoba menghalangi cinta mereka.
__ADS_1
“Aku udah bilang, nggak ada yang berbeda, kita sama dan selamanya kita sama. Jangan mundur dengan alasan aku ini seorang Fahad Malik Khan, seorang pemilik Fahad Industries.”
“Aku mohon, Sayang, jangan pergi. Aku nggak bakal biarin kamu sendirian, nggak akan ada yang hina kamu. Percaya sama aku,” tutur Fahad.
Hening sesaat, tatapan mata mereka saling terkunci satu sama lain. Sangat jelas sekali, ketulusan terpancar dari sorot mata Fahad. Ia benar-benar mencintai Nayla, tak peduli perbedaan sosial yang membentang, semuanya akan ia lalui demi Nayla.
Nayla menghela napas dalam-dalam, “aku nggak bisa—”
“Jangan pergi, aku mohon. Aku nggak bisa tanpa kamu,” tukas Fahad.
Nayla memukul perlahan punggung tangan Fahad, “aku belum selesai ngomong, dengerin dulu!” serunya.
Fahad terkekeh, “ya, udah, dilanjut.”
Nayla sudah memikirkannya semalaman, banyak sekali yang ia pertimbangkan; perbedaan sosial yang sangat terlihat jelas diantara mereka, hati, cinta, masa depan, dan juga adiknya ... Andi.
Sulit. Nayla merasa sulit meyakinkan hati bahwa ia ingin mundur. Pergi menjauh dari Fahad, tidak ingin cintanya tertanam lebih dalam lagi. Namun kenyataannya, hatinya memang sudah terpatri akan sosok Fahad. Ia merasa tidak bisa, tidak bisa untuk mundur dan pergi menjauh.
Dengan mengucap bismillah, ia memutuskan untuk tetap mencintai dan tetap berada di sini Fahad. Berjuang bersama, beribadah bersama dalam mahligai cinta yang bernama pernikahan.
Kebahagiaan memenuhi hati Fahad setelah mendengar penuturan Nayla bahwa kekasihnya itu tidak akan pergi dan akan tetapi bersamanya.
Kedua tangannya terbuka lebar, ia beranjak memeluk Nayla. Namun sebuah pukulan mendarat di dadanya. “Berani peluk, aku tato dada kamu pakai pisau, ya!" ancam Nayla yang seketika membuat Fahad tertawa dan kembali duduk.
“Nggak apa, asal tatonya nama kamu.”
“Iya, iya.” Jawab Fahad.
Mengantar Fahad yang akan berangkat ke kantor hingga ke depan pintu, seulas senyuman Nayla sematkan untuk kekasihnya.
Fahad juga berpesan, agar tidak membuka pintu untuk siapapun. “Kalau butuh sesuatu nanti kabarin aku aja, jangan keluar sendiri.”
Nayla mengangguk, ia kembali menutup pintu setelah Fahad masuk ke dalam lift. Ia kembali melanjutkan niatnya membersihkan dapur serta beberapa sudut apartemen Fahad.
***
Nayla berada di kamar, sesudah membersihkan apartemen ia memutuskan untuk tidur. Semalaman ia tidak tidur, memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil untuk hubungannya bersama Fahad—dan ia memutuskan untuk tetap bersama. Mencintai, berjuang, serta beribadah bersama.
Nayla menggeliat, merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku setelah setengah hari menghabiskan waktu untuk tidur. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja nakas, tak ada satupun pesan dari Fahad.
Tangannya menggeser layar ponsel, mencari kontak nama Andi di sana. Nayla mencoba menghubungi nomor ponsel Andi melalui telepon suara, ia sangat rindu dengan adiknya tersebut.
Tak lama, panggilannya pun terhubung dan suara Andi menyambutnya dengan hangat.
“Kirain lupa sama Andi.”
“Ya, udah, tutup aja telponnya!” seru Nayla yang membuat Andi tertawa.
“Gitu aja marah, Mbak. Bercanda doang.”
__ADS_1
Saling bertukar kabar, mengatakan keadaan keluarga dan bertukar cerita. Nayla juga mengatakan bahwa ia dibuat terkejut tentang siapa sosok Fahad yang sebenarnya. Nayla tidak menjabarkan semuanya, ia hanya mengatakan bahwa Fahad bukan hanya mempunyai bisnis saffron saja. ia berjanji akan mengatakan semuanya sesudah ia sampai di Indonesia.
“Tapi, Mbak, nggak kenapa-kenapa kan di sana? Fahad nggak ngapa-ngapain, kan?" selidik Andi yang memang mengkhawatirkan keadaan kakaknya tersebut, mengingat mereka berdua sedang terpisahkan oleh jarak. Ya, walaupun hanya seminggu, Andi tetap merasa sangat kehilangan sosok Nayla yang selalu ada bersama dirinya.
“Mbak nggak apa-apa, Fahad juga nggak ngapa-ngapain. Dia jaga Mbak dengan baik. Kamu nggak kuliah?” tanya Nayla.
“Kuliah tadi pagi, tapi bolos jam siang.”
“Kok, bolos?!” seru Nayla. “Kerjaan apa? Sampai bikin kamu bolos kuliah.”
“Andi mau lihat studio, Mbak, yang mau Andi kontrak, dan cuma hari ini aja yang punya bisa nganter buaht lihat. Besok orangnya mau keluar kota. Bolos kuliah siang aja kan nggak masalah,” tutur Andi.
“Studio apa?”
“Ya, studio. Nanti kalau, Mbak, udah pulang aku kasih tahu dan aku ajak ke sana.”
Satu jam sudah Andi dan Nayla saling bertukar suara, keduanya memutuskan mengakhiri panggilan karena ada aktifitas lain yang harus Andi kerjakan.
***
Pukul empat sore ....
Perut Nayla kram di bagian bawah, pun dengan pinggangnya yang terasa sakit. Nayla hapal betul, sebab apa yang membuatnya merasakan kram dan sakit pinggang. Datang bulan! Nayla datang bulan.
Ia membongkar koper yang sudah ia tata rapi, mencoba mencari pembalut di sana. Namun tak ada satupun pembalut. Nayla kebingungan, merutuki kebodohannya yang lupa membawa barang terpenting bagi seorang wanita tersebut.
“Padahal udah aku siapin di meja kamar, kenapa bisa kelupaan, sih?!” gerutu Nayla yang sudah pasti tidak membantunya menemukan jalan keluar—bagaimana ia bisa mendapatkan pembalut untuk saat ini.
Terpaksa, ia harus menelpon Fahad. Menahan malu yang amat sangat, ia mengatakan membutuhkan pembalut, sekarang. Fahad mengiyakan, ia mengatakan akan segera pulang dengan membawa pembalut.
“Makasih,” ucap Nayla sembari menerima kantung kresek yang di berikan Fahad. Tak berani menatap Fahad, Nayla masuk ke kamar dengan cepat. Berharap prianya itu tidak melihat wajahnya yang malu.
“Keluar, keluar aja. Ngapain ngintip kayak gitu?” kata Fahad yang melihat pintu kamar Nayla terbuka sedikit, namun tak ada tanda-tanda kekasihnya itu keluar.
“Kok, kamu tahu, sih?!” Nayla berseru, ia keluar kamar lalu mendudukkan tubuhnya di samping Fahad—yang duduk di sofa ruang tv.
“Ya, tahulah. Nggak usah malu, aku aja nggak malu beliin kamu pembalut.”
Nayla berdecak kesal, tangannya mendarat mencubit lengan telanjang Fahad yang hanya memakai kaos tanpa lengan itu. “Jangan di ulang kata pembalutnya!”
Fahad yang awalnya meringis kesakitan akibat cubitan itupun seketika dibuat tertawa oleh ucapan Nayla. “Kamu juga ngulang, bukan aku aja.”
Mata Nayla menelusuri tubuh Fahad, “kamu kenapa ganti baju?”
“Ini udah jam empat, Sayang, pekerjaan di kantor juga udah selesai. Ya, aku nggak balik. Nanti kalau aku balik, bisa pulang malam. Biar Sahil yang urus kantor.”
Nayla mengangguk, ia tak lagi bertanya—padahal sebenarnya ia ingin bertanya tentang siapa sosok Sahil yang Fahad katakan.
***
__ADS_1