Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 90


__ADS_3

Membuka pintu dengan perlahan, Fahad mengintip ... ia melihat Nayla yang sedang duduk di tepi tempat tidur, menghadap ke arah jendela. Fahad melangkah masuk lalu menutup pintu. “Sayang,” panggilnya dengan lembut.


Nayla menoleh, ia berlari menuju suaminya, ambruk di pelukannya. “Fahad ..,” air mata sudah tak mampu ia bendung, rasa rindu dan rasa takut melebur menjadi satu. “Kenapa baru datang? Kenapa kamu lama?”


“Sayang, heyy!” Fahad hendak mengurai pelukannya, namun Nayla memeluknya dengan sangat erat. “Aku udah di sini, aku datang.”


Nayla hanya bisa menangis, bibirnya tak mampu mengatakan sesuatu. Ia hanya ingin menangis, menangis di dalam dekapan hangat suaminya. Ia sangat rindu, Nayla menghirup dalam-dalam aroma tubuh Fahad. Cukup lama, hanya ada suara isakan tangis Nayla dan pelukan diantara mereka.


Setelah istrinya sedikit tenang, Fahad menuntun Nayla untuk duduk di tepi tempat tidur. Ia merapikan sebagian anak rambut Nayla ke belakang telinga. Tangannya menghapus air mata sang istri, Fahad mendaratkan ciuman disetiap inci wajah Nayla. “Maaf, aku baru datang. Kamu baik-baik aja, kan?” Fahad melepas tas dan mantel yang masih melekat di tubuhnya lalu menaruhnya di lantai.


Nayla menatap manik mata suaminya, ingin sekali ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, rasanya tidak mungkin. “Iya.” Nayla mengangguk. Tetapi, air matanya tak kunjung habis, masih saja meluncur membasahi pipinya.


“Sayang, jangan nangis gini. Aku nggak bisa lihat kamu nangis.” Fahad kembali menyeka air mata Nayla, ia memasukkan tubuh istrinya ke dalam pelukan.


“Jangan ngomong lagi, diam! Aku cuma mau peluk kamu.” Nayla berseru.


Lama. Cukup lama Nayla berada di pelukannya. Hingga istrinya itu tertidur karena lelah menangis. Fahad mengangkat tubuh Nayla dengan perlahan, membaringkannya lalu menutupi semua tubuh istrinya dengan selimut. Fahad hendak beranjak pergi, namun tangannya ditahan oleh Nayla. Istrinya terbangun, matanya menatap sendu ke arahnya. “Kamu mau ke mana?” Nayla bertanya.


Fahad menggeleng, ia kembali duduk. “Mau mandi, Sayang. Kamu mau ikut?”


Nayla tertawa kecil, ia merindukan celetukan-celetukan nakal dari suaminya. Nayla mendudukkan tubuhnya, tangannya meraba wajah tampan Fahad dengan lembut. Meskipun bibirnya tersenyum, namun air mata terlihat sudah siap untuk meluncur.


Fahad dengan sigap membenamkan ciuman di bibir Nayla dengan lembut. Setelah beberapa saat, Fahad mengakhiri ciumannya ... ia menyatukan keningnya dengan kening Nayla. “Jangan nangis, aku udah ada di sini. Kita nggak bakal jauhan lagi.” Bibir tipis Nayla bagaikan candu, Fahad kembali menciumnya. Tangannya pun sudah mulai tak terkendali, tubuhnya meremang. Ciuman keduanya saling menuntut untuk meminta lebih dan lebih lagi.


***


Menjelang sore, Yumna yang baru saja turun dari kamarnya itu menuju dapur dan mencari kakak iparnya. Ia begitu yakin bahwa Nayla ada di dapur. Namun, bukan Hannah ataupun Ibu Fatimah yang menjawabnya, melainkan Bibi Farida yang menyahuti pertanyaan. “Dari tadi siang, kakak iparnya itu udah menguasai suaminya di kamar. Dia nggak izinin Fahad buat keluar.”


“Kak Fahad datang? Kapan?” terkejut Yumna. Tidak menunggu jawaban, ia segera berlari menuju kamar kakaknya. Ia mengetuk pintu dan berteriak, memanggil Fahad dan juga Nayla.


“Yumna!” Fahad mengeratkan giginya, ia merasa kesal tidurnya terganggu dengan suara adiknya tersebut. Memakai kaus yang berada tidak jauh darinya, Fahad beranjak turun dari tempat tidur untuk membuka pintu sebelum adiknya itu semakin berteriak tidak karuan.

__ADS_1


“Ada apa, Yum—”


“Kakak!” Yumna menubruk tubuh Fahad, ia memeluknya dengan erat ... melepaskan rasa rindunya.


Nayla keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sedikit basah, ia tersenyum melihat suami dan adik iparnya yang sedang berpelukan.


Awalnya, Fahad ingin memarahi Yumna. Tetapi, begitu adiknya itu memeluknya, rasa marahnya hilang begitu saja. Ia membalas pelukan Yumna, membelai lembut rambut adiknya lalu mencium bagian kepala Yumna yang bisa ia jangkau. “Kamu kangen sama kakak?” tanyanya.


Yumna mengangguk, masih dalam pelukan kakaknya. “Kakak, mau jemput kakak ipar, ya?” tanyanya.


“Enggak, Yumna.” Nayla menyahut. Ia melihat suami dan adik iparnya dari kaca besar meja riasnya. “Kakakmu di sini untuk waktu yang lama, tapi kakak mungkin sebentar lagi balik ke Delhi.”


Fahad dan Yumna saling melepas pelukan, mereka berdua menghampiri Nayla yang sibuk memakai skincare dan body lotion. “Maksud kamu apa?” Fahad bertanya.


Nayla berbalik, ia menggeleng sembari menepiskan senyumnya. “Bukan apa-apa. Kalian tunggu di sini, aku ambilin teh dulu.” Nayla mengikat rambutnya, ia memakai hijab lalu keluar kamar.


Menuruni anak tangga, Nayla dikejutkan dengan kedatangan Bibi Farida yang tiba-tiba melonggarkan kalimat yang tidak dimengerti oleh Nayla. “Maksud, Bibi, apa?” bingung Nayla.


“Jangan pura-pura polos. Kamu udah rebut Fahad dari ibunya, dari keluarganya, dan sekarang kamu bisa dengan santainya tinggal di rumah ini tanpa merasa bersalah sama ibu mertuamu. Fahad baru datang, dulu dia selalu menghabiskan waktu sama Amminya. Sekarang, dia lebih condong ke kamu, Fahad lupa Amminya!”


“Kak, Kakak, dengar Bibi Farida teriak?” tanya Yumna.


“Iya, tapi kenapa bibi teriak-teriak?” Fahad juga bertanya. Mereka mendengar teriakannya, tapi tidak begitu jelas apa yang diucapkan Bibi Farida. Fahad dan Yumna memutuskan untuk keluar, melihat apa yang sedang terjadi.


“Ada apa ini?” tanya Fahad, ia berdiri di samping Nayla. “Ada apa, Bi?” ia bertanya kepada Bibi Farida.


“Nggak ada apa-apa.” Nayla berbicara kepada Fahad dengan bahasa Indonesia. “Kamu udah ketemu sama Ammi?” ia bertanya.


“Udah, tadi aku ketemu sama Ammi. Kenapa?” Fahad semakin dibuat bingung.


“Lebih baik sekarang kamu temuin Ammi di kamarnya, aku buatin teh dulu buat kamu.” Nayla menuntun Fahad menuju kamar Ammi, Yumna mengekor dibelakang mereka.

__ADS_1


Nayla pergi ke dapur. Hannah yang sedari tadi memperhatikan semuanya ... kini ia melontarkan pertanyaan kepada nona barunya itu. “Kenapa, Nona, nggak kasih tau semuanya ke Tuan Fahad, kenapa harus menyembunyikan apa yang Bibi Farida katakan?”


Nayla tersenyum tipis, ia menggeleng. “Aku nggak mau ada keributan di rumah ini, Hannah. Aku harap, kamu juga jangan kasih tau Fahad soal sikap dan ucapan Bibi Farida sama aku.”


Hannah tidak habis pikir, kenapa nonanya itu selalu bisa tersenyum ... seakan-akan tidak terjadi apapun selama ia berada di Srinagar. Rasanya, Hannah sendiri yang ingin mengatakan semuanya kepada Fahad. Tapi, tidak. Nayla sudah memintanya untuk tidak mengatakan apapun.


***


Fahad mengetuk lalu membuka pintu kamar Ammi. Ia melihat ibunya itu sedang menangis, dengan langkah cepat Fahad dan Yumna menghampiri Ammi. “Ammi, kenapa nangis? Ammi, sakit?” panik Fahad.


Bukan Ammi yang menjawab, melainkan Bibi Farida. “Ini semua gara-gara istrimu itu,” ujarnya penuh penekanan dan emosi. Fahad dan Yumna kompak menoleh ke arah bibi. “Kamu lupa sama Ammimu, Fahad, kamu baru pulang ... tapi kamu lebih mementingkan istri daripada ibumu.”


“Bibi, kenapa bicara seperti itu?! Wajar, kan, Kak Fahad nyari istrinya, ketemu sama istrinya.” Yumna menyahut.


“Kamu semakin berani, Yumna, pengaruh kakak iparmu itu memang luar biasa. Dia bisa memecah keharmonisan keluarga ini.”


“Bibi—”


Yumna hendak menyahuti ucapan bibinya lagi, tapi tangannya sudah lebih dulu disentuh oleh Fahad. Yumna mengerti, kakaknya menyuruhnya untuk diam.


Fahad merapatkan duduknya kepada Ammi, ia meraih kedua tangannya. “Ammi, aku minta maaf. Aku nggak ada niat buat lupain Ammi, tapi aku—”


“Semua sudah jelas, Fahad, kamu memang lebih mementingkan istrimu dan melupakan Ammi. Kamu pergi ke Indonesia tanpa meminta izin, kamu di sana untuk waktu yang lama. Lalu di New Delhi, dan sekarang ... sejak kakimu melangkah masuk ke rumah ini, kamu langsung nyari Nayla dan nggak peduli sama Ammi.”


Fahad menatap kedua manik mata Ammi dalam-dalam, ia dapat melihat rasa sakit Ammi. Tapi, apa yang dikatakan Ammi tidaklah benar. Ia tidak pernah melupakan Ammi sedikitpun, mana mungkin seorang putra bisa melupakan ibunya.


“Ammi, salah paham, aku nggak ada niat menjauh ataupun lupa sama, Ammi. Oke, aku memang salah nggak punya waktu banyak sama, Ammi. Tapi, ini bukan salah Nayla, dia nggak tau apa-apa.” Fahad mencoba memberi pengertian. Ia yakin, Ammi pasti bisa mengerti.


“Sudahlah, Kak, lebih baik kita katakan semuanya. Biar Fahad bisa menyiapkannya dengan cepat.”


Fahad dan Yumna kembali menoleh, menatap Bibi Farida penuh tanda tanya. “Maksud, Bibi?” tanya Yumna.

__ADS_1


“Fahad, kamu harus menikah lagi.”


***


__ADS_2