
“Setelah saya menikah, saya masih boleh kerja di sini kan, Pak?” tanya Nayla.
“Tentu, Nay, malah saya kira kamu mau berhenti kerja dan ikut suami kamu.”
Nayla menggeleng,m seraya menepiskan senyumnya, “belum waktunya, Pak.”
Sesudah mengutarakan keinginannya yang ingin tetap bekerja setelah menikah, Nayla berpamitan pulang. Kali ini ia dijemput oleh Fahad, mengunakan motor sport yang pria itu beli dua bulan yang lalu.
Fahad melajukan motornya menuju ke hotel, tempat ia menginap seperti biasa tatkala ia berkunjung ke Indonesia. Ada sesuatu yang Nayla ingin bicarakan dengan Fahad, dan mereka sepakat berbicara di hotel agar lebih leluasa dan tak ada siapapun yang akan mendengarnya.
Ijab qobul di masjid agung dan hanya dihadiri keluarga, menjadi impian Nayla sejak dulu. Ia sama sekali tidak memimpikan menikah dengan gelaran acara yang mewah. Menikah dengan Fahad yang sudah tak perlu ditanyakan lagi apakah mampu atau tidak untuk menyelenggarakan pesta pernikahan secara mewah, sudah pasti pria itu mampu.
Kembali kepada sang mempelai wanita, Nayla. Ia tidak ingin pesta mewah, yang dapat mengundang decak kagum para tamu undangan. Tidak. Sekali lagi Nayla tidak menginginkan itu. Ia hanya ingin melangsungkan ijab qobul di masjid agung kota.
“Aku nggak keberatan sama rencana kamu soal pernikahan, apapun yang kamu mau. Tapi aku mau tanya sekali lagi sama kamu,” kata Fahad.
“Kamu tahu sendiri, ini pernikahan kedua buat aku dan pernikahan pertama buat kamu. Apa kamu nggak mau punya kenangan di hari pernikahan kamu? Semua orang mau yang terbaik di hari pernikahan mereka, apalagi seorang wanita. Kamu yakin? Kita ijab qobul aja?”
Pertanyaan Fahad dijawab anggukan kepala oleh Nayla. Sama sekali tak ada keraguan, Fahad dapat melihat itu.
“Dari kecil, aku emang nggak mau ada pesta pernikahan. Cukup ijab qobul. Iya, aku tahu kalau semua orang pasti pengin yang terbaik buat pernikahan mereka, yang nggak bisa terlupakan. Tapi itu bukan aku, itu mereka. Aku nggak mau itu, Fahad.” Nayla memberi penjelasan.
“Gimana sama keluarga kamu?” tanya Fahad.
Diam sejenak. Memang, Nayla belum mengutarakan keinginannya itu kepada keluarganya. Hari yang ditentukan untuk ijab qobul kurang satu Minggu lagi, Nayla pikir ... itu akan cukup untuk ia menjelaskan keinginannya kepada semua keluarga.
“Nanti aku bilang sama Mbak Indah, dia pasti ngerti.”
“Oke, sesuai keinginan kamu dan senyaman kamu.”
__ADS_1
Ada satu lagi keinginan Nayla, dan ia juga harus menyampaikannya kepada Fahad sekarang juga. Setelah menikah, ia ingin tetap berada di Indonesia untuk sementara waktu dan tetap bekerja sebagai pelayan restaurant seperti biasanya.
Bukan ia bermaksud menghina Fahad atau tidak menghargai pria yang nantinya akan menjadi suaminya itu, jujur ... Nayla belum siap datang ke India dengan menyandang status baru, sebagai Nyonya Fahad Malik Khan.
Ketakutan, menyergap hatinya setiap hari. Perbedaan sosial yang membuat Nayla tak bisa berjalan seraya menggandeng tangan Fahad dihadapan semua orang, terutama dihadapan rekan bisnis suaminya nanti.
Fahad tidak menjawab, sorot matanya tak bisa diartikan oleh Nayla. Entah jawaban iya atau tidak, Nayla masih mencoba menelaahnya. Nayla ingat cerita Yasmin tentang istri pertama Fahad yang lebih mementingkan karirnya, yang membuat pernikahan Fahad harus berada dititik kelam sebuah perceraian.
“Fahad, aku bukan mau ngejar karir aku, aku ini cuma seorang pelayan restaurant. Apa yang mau aku kejar? Nggak ada, Fahad, nggak ada,” tutur Nayla dengan lembut, mencoba menjelaskan agar Fahad tidak tersinggung ataupun marah.
“Bukan soal itu, Sayang, aku tahu kamu bukan gadis seperti itu. Kamu berbeda, cuma aku belum tahu alasan kuat yang buat kamu nunda ikut aku pulang ke India.”
Andi, itu juga alasan Nayla. Tapi ia tidak mungkin mengatakannya kepada Fahad—yang sebenarnya Fahad sudah mengerti bahwa Andi yang juga menjadi alasan Nayla, selain perbedaan status sosial.
“Fahad, aku belum siap, aku mohon jangan tanya alasan lain lagi karena memang nggak ada.” Nayla hampir menjatuhkan bulir bening air mata yang sudah siap meluncur dari sudut matanya.
“Sayang, jangan nangis,” kedua telapak tangan Fahad mengapit wajah Nayla. “Aku nggak tanya lagi. Asal kamu janji, kalau kamu perlu sesuatu, kamu harus ngomong sama aku. Jangan nunggu sampai aku marah.”
Malam hari saat Nayla sudah berada di rumah, ia menjelaskan kepada Mas Arif dan Mbak Indah tentang keinginannya menikah tanpa adanya pesta, hanya ijab qobul.
Ada kemarahan dari Mbak Indah, pasalnya ia sudah merencanakan semuanya dengan sangat baik dengan kakak Nayla yang lain. Bahwa pernikahan akan dilangsungkan disebuah Ballroom hotel. Tidak mewah memang, namun cukup mampu meninggalkan kesan untuk Nayla selaku calon pengantin.
“Tadi sore kita udah cek lokasi, Nay, kita semua udah sepakat kalau pesta pernikahan kamu itu di gedung,” ujar Mbak Indah.
“Mbak, aku mohon, aku nggak suka kalau pernikahan aku ada pesta di gedung atau di manapun. Aku cuma mau ijab qobul di masjid aja, Mbak, itu impian aku sejak dulu.”
Mbak Indah merasa kesal, “Nay, kamu nggak usah mikirin soal biaya, semua kakak kamu ini udah nyiapin semuanya dengan sangat baik. Kamu jangan khawatir.”
Nayla kembali meyakinkan, bahwa bukan biaya yang ia permasalahkan. Karena ia memang benar-benar tidak menginginkan adanya sebuah pesta di pernikahannya. Mas Arif sebagai saudara Nayla yang tertua pun memutuskan bahwa pernikahan hanya akan diadakan di masjid agung, hanya ijab qobul sesuai keinginan Nayla.
__ADS_1
Tidak ada lagi bantahan, walaupun saudara yang lain masih merasa kesal akan pilihan Nayla—mereka hanya ingin Nayla tidak merasakan kesedihan karena tidak ada kehadiran orang tua di pernikahannya nanti—karena mereka memang sangat menyayangi Nayla.
Tetapi, semua itu kembali kepada Nayla. Dia yang akan menjalani pernikahan, dia yang berhak memutuskan. Semua mengalah, karena kemewahan bukan sumber kebahagiaan Nayla.
***
Tiga hari lagi Nayla dan Fahad akan melangsungkan ijab qobul di masjid agung kota. Mengurus syarat yang sudah pasti menyita waktu dan tenaga, kini akan segera terbayar lunas dengan kebahagiaan setelah nanti tangan Fahad dan Mas Arif saling berjabat tangan didepan penghulu juga para saksi.
Menatap dua batu nisan yang terdapat nama kedua orang tua Nayla, Fahad meminta restu keduanya untuk mempersunting putri mereka.
Tante, Om, saya Fahad, yang mencintai putri Anda dan harus berjuang untuk mendapatkan hatinya sampai ia bersedia menikah dengan saya. Om, tahu? Putri, Om, ini sangat baik. Dia menjaga hatinya dengan baik. Dia menyingkirkan kebahagiaan dan juga masa mudanya dengan bekerja. Dia menjaga Andi dengan sangat baik, juga sebaliknya ... Andi menjaga Nayla dengan sangat baik.
Menyentuh nama yang tertera di batu nisan, serta satu tangannya memberi sentuhan lembut pada punggung Nayla yang tengah menangis, Fahad berjanji di depan makam kedua orang tua Nayla bahwa ia akan membahagiakannya serta menjaganya sepenuh hati.
Om, Tante, terima kasih, kalian sudah menjaga dan mendidik tulang rusukku dengan sangat sangat baik. Aku beruntung bisa mendapatkannya, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan selalu bersamanya, menggandeng tangannya, menjaga kehormatannya, mencintai dan membahagiakannya seumur hidupku. Aku berjanji.
Fahad menghapus air mata Nayla yang tak henti mengalir dengan satu ibu jarinya. “Bapak sama Ibu pasti sedih kalau lihat kamu nangis kayak gini. Senyum, Sayang, mereka berhak lihat senyuman kamu,” ucap Fahad menenangkan Nayla.
Nayla menatap Fahad, “aku nggak nyangka, aku nikah tanpa ada Ibu sama Bapak. Mereka udah pergi ninggalin aku, aku nggak bisa minta restu sama mereka, aku nggak bisa peluk mereka.”
Air mata yang masih menetes dengan derasnya itu membuat hati Fahad merasa pilu. Ia dapat merasakan sakit yang kekasihnya itu rasakan. Menikah tanpa adanya orang tua, tanpa ada wejangan dan pelukan hangat ... sangat menghancurkan hati setiap anak menjelang hari pernikahan mereka. Tak ada seorang pun yang menginginkan itu. Tapi itu bukan pilihan, itu garis takdir yang memang harus di jalani.
“Aku kangen sama Bapak, sama Ibu. Mereka nggak ada disisi aku, aku nggak bisa peluk mereka, Fahad. Aku kangen Bapak marah kalau aku nakal, kalau aku berbuat salah. Aku kangen Ibu yang pasti marah kalau aku pulang telat, kalau aku nggak salat tepat waktu. Aku kangen semuanya.” Nayla semakin tersedu, Fahad tak kuasa melihat kekasihnya semakin hanyut dalam kesedihan.
Sekali lagi, Fahad tak bisa memberikan bahunya untuk Nayla. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin mendekapnya, menyalurkan ketenangan kepada Nayla disaat kekasihnya itu menangis.
“Sayang, mereka nggak pergi kemanapun, Bapak sama Ibu ada di hati kamu. Selamanya ada di hati kamu, beri hadiah sebuah doa untuk mereka, karena itu sangat berharga. Nggak ada yang paling penting yang mereka butuhkan selain doa. Bapak sama Ibu juga berdoa untuk kamu, untuk kebahagiaan putri mereka yang kuat ini.”
Satu jam sudah Nayla dan Fahad berada di tempat pemakaman umum. Masih dengan kesedihan yang amat sangat, Nayla menuruti ajakan Fahad untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
__ADS_1
***