Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 10 S2


__ADS_3

Seusai mengantar Nayla, Andi melajukan mobilnya menuju studio. Hari ini ada sesi pemotretan untuk salah satu merk make up. Reza datang lebih awal untuk membantu persiapan yang diperlukan.


“Sorry, Za, aku nganter Mbak Nayla dulu tadi.” Andi menaruh kunci mobil di meja kerjanya.


Reza menoleh dan tersenyum. “Kenapa nggak diajak kesini sekalian?”


“Tadinya sih mau diajak kesini, tapi takut ada yang dilabrak Alfi nanti,” sahut Andi yang membuat Reza terkekeh. “Belum datang modelnya?”


Reza menggeleng. “Di jadwal, pemotretannya jam 12. Tapi, ini sudah jam sebelas, mana cukup waktu persiapannya? Mana pemotretannya promosi make up. Pasti lama.”


Pintu terbuka dengan kerasnya, seorang model cantik bersama MUAnya masuk dengan tergesa-gesa. Manager model tersebut yang bernama Devi meminta maaf atas keterlambatan mereka yang dikarenakan asisten mereka yang tengah sakit.


Rossa, nama model tersebut. Andi menunjukkan ruang ganti kepada dua perempuan itu. Devi dan Rossa berjalan ke ruang make up, sejak tadi Rossa selalu menggerutu dengan kesal. Sejak pagi moodnya sudah buruk sebab tidak ada yang membantu menyiapkan semua kebutuhannya. Sang manager pun sedang tidak ada bersamanya. Sungguh hari yang melelahkan untuk Rossa.


“Makanya, punya asisten tuh jangan cuma satu. Lima gitu, kalau salah satu sakit kan masih ada yang lain,” cetus Devi.


Pemotretan segera dimulai. Karena tidak adanya sang asisten, akhirnya Devi yang membantu Rossa memakai gaun dengan tema glamour and sexy. Rossa memakai baju yang sedikit terbuka di bagian punggung. Total ada tiga baju untuk pemotretan kali ini.


“Karena ini, nih. Aku mau kerja sama kamu,” celetuk Reza sembari melihat Rossa yang tengah bersiap dan dibantu oleh Devi.


“Dasar! Menang banyak kamu hari ini.”


“Ya, kan sama. Kamu juga menang banyak.” Reza berbisik agar tak didengar oleh Devi dan Rossa.


Rambut terurai serta hembusan angin yang diarahkan oleh Reza membuat hasil foto terlihat sangat memuaskan. Rossa tersenyum melihat hasil bidikan fotografer disebelahnya ini. Rossa tak percaya, jika Andi masih berada dalam urutan fotografer junior. Melihat hasilnya saja, seolah Andi memang sudah lama bergelut di dunia fotografi.


“Oke. Next, ya. Biar cepat selesai.” Andi meminta Rossa untuk segera mengganti dengan gaun kedua yang berwarna biru muda.


Sementara menunggu Rossa mengganti baju, suara dering ponsel Andi membuat ia segera meraihnya dari saku celana. “Dewi?” gumamnya.


Dewi meminta Andi untuk datang ke rumahnya atas undangan dari kedua orangtuanya. Jam tangan yang melingkar di tangan kirinya menunjukkan pukul setengah tiga sore. Dan belum ada pesan ataupun telpon dari Nayla untuk menjemputnya. Andi mengiyani. Ia lebih dulu menghampiri Rossa dan mengatakan perihal duitnya yang harus pergi dan Reza yang akan menggantikannya untuk pemotretan.


Pemotretan sesi kedua ini tidak terlalu detail. Hanya cukup duduk di sofa double dan tetap dengan tema seksi. Rossa mengiyani, ia sudah cukup puas dengan hasil didikan Andi. Reza pun sudah berpengalaman mengenai fotografi. Tidak ada keraguan di hati Rossa mengenai dua lelaki yang bekerjasama dengan brand make up dimana ia yang menjadi brand ambasadornya.


“Za, pinjam motor dong, nanti kamu pulang bawa mobil aja.”


“Iya. Tapi, kenapa jemput Mbak Nayla bawa motor?” tanyanya sembari menyerahkan kunci motor kepada Andi.


“Mau ke rumah Dewi dulu. Mbak Nayla belum suruh jemput, kok.”


Reza mengangguk. Memakai itu sudah tau peran apa yang sedang dilakukan oleh Andi. Jika Dewi bertanya perihal mobil yang sering Andi kendarai, Reza akan menjawab bahwa itu mobilnya. Reza tidak berhak ikut campur, akan tetapi ... ia merasa apa yang dilakukan Andi memanglah yang terbaik. Selama ini, hanya Reza yang tau seperti apa kehidupan asmara Andi. Saat duduk di bangku sekolah SMK, sahabatnya itu selalu dipandang sebelah mata oleh beberapa teman sekelas. Mereka selalu menghina Andi dengan sebutan ‘pelayan”’.

__ADS_1


Ya, semua orang tau bahwa kakak dari seorang Andi bekerja sebagai pelayan restauran. Tetapi, tidak ada yang tau siapa nama kakak cowok yang saat itu mereka hina. Termasuk Reza. Andi sangat rapi menutupi identitas keluarganya. Bukan malu, Andi hanya tidak ingin ada yang mengusik Nayla. Biarlah, dia dihina dan menerima semua cibiran serta sorot mata penuh dengki dari semua orang. Asalkan semua itu tidak terjadi kepada keluarganya.


***


Andi sudah duduk di kursi ruang tamu, berhadapan dengan kedua orang tua Dewi. Meskipun sudah tau apa yang akan disampaikan orangtua Dewi, rasa gugup tetap saja menyerang Andi.


“Kamu OB di mana?” ayah Dewi bertanya.


“Di salah satu perusahaan advertising, Om.”


“Saya dengar kamu juga kuliah, kenapa harus melamar jadi OB? Kenapa nggak kerja di kantor itu sebagai karyawan di dalamnya, bukan sebagai OB.” Ayah Dewi kembali bertanya.


“Saya tidak kuliah di bidang advertising, saya kuliah di bidang multimedia.”


“Multimedia ... harusnya kan bukan jadi OB,” nada suara ayah Dewi terdengar meledek. Namun Andi berusaha setenang mungkin, ia tidak mau terlihat terpancing dan mengatakan bahwa ia adalah seorang fotografer.


“Karena saya belum dapat kesempatan di bidang itu. Jadi untuk sekarang, saya hanya bisa bekerja sebagai OB.”


Baiklah. Sudah cukup basa-basinya, bagi ayah Dewi. Bagi Andi, itu bukan lagi basa-basi, ia sudah diserang sejak awal. Ayah Dewi mengutarakan apa yang memang ingin dia katakan kepada Andi mengenai permintaan mas kawin itu.


Dewi dan Andi saling bersitatap, sorot mata Dewi terlihat sangat memohon agar Andi mengiyakan perintah kedua orang tuanya untuk memenuhi mas kawin sesuai keinginan mereka.


“Maaf, Om.” Andi diam sejenak, mengambil napas panjang. Dia sudah memantapkan hatinya setelah mendengar nasihat dari Nayla. Memang benar, sebuah hubungan jika diawal sudah ada paksaan, terlebih itu menyangkut masalah mas kawin yang bersifat sensitif, pernikahan itu tidak akan mendapat berkah. Didalamnya tidak akan ada keikhlasan dan rasa saling menghormati.


“Saya tidak akan pernah bisa memberikan mas kawin yang seperti kalian minta. Saya cuma OB dengan gaji kecil yang hanya cukup untuk makan. Untuk mas kawin sebuah mobil, itu sangat jauh dari saya. Saya tidak ingin menikah dengan keterpaksaan, dengan alasan cinta bisa saja saya memberikan itu semua dengan cara yang tidak baik. Mencuri misalnya. Tapi saya tidak mau melakukannya,” tutur Andi.


Andi kembali melanjutkan ucapannya. “Saya memilih mundur, ada banyak pria lain yang bisa memberikan mas kawin seperti yang kalian minta. Dewi, aku minta maaf. Permisi.” Andi tidak menatap Dewi, ia tidak ingin melihat air mata wanita yang ia cintai itu. Hatinya akan lemah jika meminta Dewi menangis.


Andi pergi, ia mengendarai motor untuk menjauh dari rumah Dewi. Hati Andi juga sakit, ia terpaksa memutus hubungannya dengan Dewi karena masalah mas kawin. Andi ingin menikah dengan keikhlasan masing-masing. Ia ingin mempunyai istri seperti Nayla yang tidak memikirkan harta, bahkan kakaknya itu takut untuk menikah dengan Fahad—dengan alasan pria yang sudah menjadi suaminya itu adalah orang kaya.


Andi kembali ke studio, Devi dan Rossa sudah tidak ada. “sudah balik?” tanya Reza sembari membereskan peralatan memotretnya. Andi mengangguk.


Ponsel Andi berdering, ia mengambil benda pipih itu dari saku celananya. Nama Dewi tertera disana. Andi mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia yakin, Dewi pasti akan menangis di seberang sana.


“Halo,” ucap Andi setelah mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


Benar, terdengar suara isakan dari Dewi.


"“Kenapa kamu nyerah, Andi? Aku nggak mau kayak gini.”


“Terus aku harus gimana, De? Aku nggak punya apa-apa buat ngasih mas kawin sebuah mobil. Kalaupun kita nikah, itu juga percuma kalau diawal saja kita sudah seperti ini.” Nada suara Andi terdengar berbeda, ada kemarahan dan juga rasa kecewa di sana.

__ADS_1


“Orang tua kamu nekan aku, De. Dan aku tau, mereka minta syarat itu supaya kita nggak barengan lagi. Aku tau dari awal orang tua kamu itu nggak suka sama aku, jadi untuk apa aku berjuang kalau ujungnya aku nggak dihormati di keluarga kamu,” imbuhnya.


“Tapi aku nggak mau pisah, Andi. Aku ikut kamu aja. Kita bisa kawin lari."


“Jangan bodoh, De! sudah, hubungan kita cukup sampai disini aja. Anggap saja kita nggak pernah saling kenal.”


Reza semakin mengerti apa yang sedang terjadi. Kedua temannya ini sedang tidak baik-baik saja.


“Andi, aku mohon,” pinta Dewi.


“Enggak, De! Kita memang nggak jodoh. Nurut saja sama orang tua kamu. Dan cari calon suami yang kaya, bukan OB kayak aku gini.” Andi mematikan panggilannya. Ia beranjak mengambil kunci mobil.


Reza tidak tinggal diam saat Andi menyambar kunci mobil di meja. Melihat kondisi Andi yang berantakan, ia memilih ikut ke manapun temannya itu pergi.


***


 


Shazia sudah tidur. Nayla berkali-kali mencoba menghubungi nomor ponsel adiknya, namun tetap saja tidak tersambung. Reza ... dia tidak tau nomor ponselnya. Nayla gelisah. Lelaki akan lemah jika sudah berhadapan dengan cinta, dan itulah yang sedang dialami oleh Andi. Nayla tau itu.


Duduk di sofa ruang tamu, Nayla memandangi ponselnya yang tergeletak di meja. Dering itu bukan dari Andi, namun dari suaminya. Segera Nayla menggeser ikon panggil hijau itu lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.


“Andi sudah dewasa, Sayang, mungkin untuk sekarang dia lagi butuh waktu sendiri. Kamu jangan khawatir, ya.” Fahad mencoba menenangkan sang istri. Dari nada suara saja dia sudah tau seperti apa gelisah dan khawatirnya Nayla kepada Andi. “Boleh aku ganti ke panggilan video?” Fahad bertanya.


Nayla tidak menjawab, dia mengubah panggilan suara itu ke video. Senyuman sang suami menyambutnya. Ah, dia sangat rindu. Rindu bahu lelaki yang selalu ada di sampingnya. Nayla rindu sorot mata yang penuh cinta itu—ya ... terkadang sorotmata itu bisa saja berubah menjadi kemarahan. Sangat menakutkan.


Nayla mengatakan dengan jujur perihal dirinya yang diantar pulang oleh Ryan. “Nggak apa, kan?”


Fahad diam. Menatap wajah sang istri dalam-dalam. Ya, ya, dia sudah berjanji untuk tidak cemburu. Menghela napas panjang, Fahad menepiskan senyumnya.


“Aku mau bilang nggak boleh, juga sudah terlambat. Kamunya saja sudah diantar pulang.”


“Kamu marah? Maaf ... aku tadi sudah coba telpon Andi berkali-kali, tapi nggak bisa. Aku mau pesan taksi tapi keburu sore, jadi Ryan yang antar aku dan Arish pulang. Maaf,” ucap Nayla takut-takut.


“Sayang, yang penting kamu sama Arish sudah pulang dengan selamat. Aku nggak marah, cuma cemburu sedikit.” Fahad menyatukan ibu jari dan telunjuknya, dia menunjukkan itu kepada Nayla.


Nayla meminta maaf. Meksipun suaminya itu mengatakan ‘tidak apa-apa’ sembari menepiskan senyumnya, Nayla tetap saja merasa bersalah. Tapi, keadaan yang mengharuskan ia pulang dengan diantar oleh Ryan.


“Masya allah, istriku ini kalau lagi takut kenapa menggemaskan sekali, sih.” Fahad tidak tahan. Rasanya ia ingin sekali menggigit pipi Nayla.


Panggilan dari Yasmin membuat Fahad terpaksa mengakhiri panggilannya. Sudah waktunya makan malam, adiknya itu pasti mengajak keluar untuk membeli makanan. Yasmin malas memasak, itulah sebabnya. Fahad mengambil kunci mobil dan segera menarik adiknya—mengiyani kemanapun Yasmin ingin pergi.

__ADS_1


***


__ADS_2