Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 93


__ADS_3

Menyiapkan semua bahan yang ia butuhkan, Nayla mulai memasak dengan bawang putih yang ia geprek dengan pisau lalu ia cacah lembut. Selanjutnya, ia menyiapkan nasi di sebuah wadah kecil lalu membumbuinya dengan garam dan gula. Tak lupa, ia juga menambahkan saus tomat dan sambal botol yang ia bawa dari New Delhi. Lebih tepatnya yang dikirim Andi dari Indonesia. Nayla tidak bisa hidup tanpa sambal, oleh sebab itu ia meminta adiknya untuk mengirimkan beberapa sambal.


“Fahad, kamu ke depan aja,” kata Nayla dengan tangan yang sibuk memotong sayur kol dan ayam.


Fahad menggeleng, ia mengatakan akan tetap bersamanya. Ia ingin berlama-lama memandang istrinya. Disisi lain, Fahad takut jika bibi datang dan merusak suasana pagi Nayla dan bahkan seisi rumah. Tanpa Nayla ataupun yang lain menjelaskan, Fahad sudah tau jika Bibi Farida pasti mengatakan sesuatu dan bersikap tak ramah kepada Nayla. Semua ia simpulkan dari pembicaraan kemarin di kamar Ammi, bahwa Bibi Farida yang paling bersemangat ingin ia menikah lagi.


“Semoga nasi gorengnya enak.” Nayla menyemangati dirinya sendiri. Ia mulai menumis bawang putih, daging ayam, serta sayur. Fahad dengan setia berdiri di sampingnya, mengambilkan apa yang ia butuhkan. Tak peduli dengan kehadiran Hannah dan Ibu Fatimah, Fahad sedikit menggoda istrinya dengan mencubit pipi dan menarik hidung mungilnya. “Ini nanti lama-lama aku gigit jari kamu, ya!” ancam Nayla.


Fahad terkekeh mendengarnya. “Jangan sekarang, nanti malam aja main gigit-gigitan,” ia berbisik di telinga Nayla. Membuat istrinya itu bergidik geli.


***


Hari sudah berganti, namun tidak dengan apa yang Ammi inginkan. Wanita paruh baya itu tetap pada pendiriannya. Selama seminggu di Kashmir, Fahad terus saja diajak membahas tentang pernikahan. Di depan ataupun di belakang Nayla. Ya, terkadang Bibi Farida sengaja mengajaknya berbicara ketika istrinya itu lewat atau bahkan saat ia berdua saja dengan Nayla. Rasanya, Fahad ingin sekali memarahi bibinya tersebut, namun Nayla selalu mencegahnya dengan menggenggam jari jemarinya.


Berulang kali Nayla menolak permintaan Fahad untuk kembali ke New Delhi. Jauh di dalam lubuk hatinya, Nayla juga ingin sekali kembali ke New Delhi lalu ke Indonesia. Tetapi, ia tidak bisa egois dikarenakan rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan. Biarlah ia kecewa, asalkan Ammi bisa melihat putranya lebih lama. Bagi Nayla, itulah yang terpenting untuk saat ini. Biarpun harus menerima semua ucapan dan sikap tak menyenangkan bibi, Nayla akan bersabar demi ibu mertua dan juga suaminya.


Ammi. Ibu mertuanya itu tetap bersikap baik padanya, lembut dan penuh kasih sayang. Meski begitu, tidak ada sedikitpun niat Ammi untuk membatalkan keinginannya agar Fahad menikah lagi.


Hari ini Fahad berpamitan kepada Nayla bahwa ia akan pergi ke kebun. Tak lupa ia juga berpamitan kepada Ammi. Nayla mengantar Fahad sampai ke pintu depan, ia tersenyum melepas kepergian suaminya. “Nanti makan siang di rumah, kan?” tanyanya.


“Iya, aku nggak lama, kok. Nanti kalau masih sempat, aku sekalian ke tempat produksi.” Fahad menjelaskan. Ia daratkan ciuman di kening Nayla, ada rasa tidak tega meninggalkan istrinya di rumah seorang diri. Fahad tau ... Nayla merasa sendirian di dalam rumahnya. Apa yang dirasakan istrinya itu sudah pasti sangat membuatnya kesepian dan ketakutan berada ditengah-tengah keluarganya. “Sayang, ikut aja, yuk? Nanti sekalian jalan-jalan,” ajak Fahad.

__ADS_1


Nayla menolak, ia merasa tidak sehat, kepalanya sedikit pusing. “Kapan-kapan aja. Udah, sana berangkat.” Nayla berujar sembari merapikan mantel hangat suaminya.


Mobil yang dikendarai Fahad semakin jauh dari pandangannya. Ia kembali masuk lalu menutup pintu, berjalan ke arah dapur untuk mencuci piring bekas sarapan tadi. Nayla tersenyum simpul, ia mengingat betapa lahapnya Fahad memakan nasi goreng buatannya. Nasi yang ia gunakan memang berbeda dari nasi Indonesia, tapi rasa dari nasi goreng masakannya tidak mengecewakan. Ia pun merasakannya. Entah karena memang lezat, atau karena ia terlalu bahagia bisa menikmati nasi goreng setelah sekian lama.


“Nona, handphonenya bunyi, ada telpon,” ucap Hannah.


Nayla mengeringkan tangannya, ia mengambil ponselnya di sisi lain meja dapur. Bibirnya membentuk sebuah senyuman tatkala melihat nama Andi tertera di layar sentuh ponselnya. Nayla berpamaitan kepada Hannah, ia akan ke kamar untuk menerima panggilan dari adiknya.


Menutup pintu dengan perlahan, Nayla menggeser icon panggil berwarna hijau itu lalu mendekatkan ponselnya ke telinga. Suara Andi mengejutkannya. Adiknya itu marah, seharian kemarin ia tidak memberinya kabar apapun. “Maaf, kemarin mbak sibuk banget. Ini udah diterima kan telponnya?” kata Nayla.


Iya, udah. Fahad juga, dia nggak ada ngabarin aku. Andi berseru kesal.


“Maaf, Andi, mbak nggak sempat pegang hp. Fahad juga lupa. Lain kali mbak nggak tinggalin hp di kamar, deh. Biar tau kalau kamu ngirim pesan atau telpon.” Nayla berbohong. Tidak mungkin ia menceritakan apa yang terjadi kepada Andi. Biarlah ia sendiri yang menanggung beban rasa kecewa itu sendirian, jangan adiknya.


Nayla tersenyum simpul, ia beralih mengganti panggilan suara ke panggilan video. Senyum Andi menyambutnya dengan hangat. “Bisa kirimin tiket, nggak?” tanyanya.


Kedua alis Andi terangkat, tiket pesawat? Kok, minta ke Andi? Kan, Fahad bisa beliin.” Andi berujar. Maksud Andi tuh, sesuatu apa gitu yang nggak ada di sana.


Nayla menggeleng pelan, ia mengatakan tidak membutuhkan apapun. Nayla hanya meminta doa saja, semoga ia tetap sabar, kuat, dan ikhlas. “Nanti kalau mbak udah di Delhi, kamu bisa kirimin apapun.” Nayla menambahkan.


Andi mengangguk. Rasa khawatir karena seharian kemarin ia tidak bisa melihat kakaknya, kini semua rasa itu lenyap seiring senyuman yang terukir manis di wajah wanita yang selalu bisa menempatkan diri sebagai kakak, ibu, teman, dan bahkan seorang adik—karena ia suka sekali mengerjainya. Andi bersyukur, meskipun jauh ... Nayla sama sekali tidak pernah berubah. Selalu memberi perhatian penuh kepadanya.

__ADS_1


“Andi?” panggil Nayla.


Ya?


Nayla diam sesaat, ia pandangi kedua manik mata Andi yang juga memandangnya. “Kamu kapan bisa ke India?” tanyanya dengan suara lirih.


Kening Andi berkerut dalam, tidak biasanya Nayla akan bertanya seperti itu. Kenapa, Mbak? Kok, tiba-tiba—


“Enggak,” tukas Nayla. “Mbak cuma kangen kamu aja.” Nayla paham, adiknya pasti menangkap sesuatu darinya. Dengan cepat ia mengalihkan pembicaraannya. Hingga tak terasa 30 menit sudah mereka saling berbagi cerita. Andi mengakhiri panggilan karena ia harus berangkat kuliah—sebab dosen mata kuliah pertamanya tadi sedang absen.


Nayla melihat angka jam yang tertera di ponselnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia beranjak keluar kamar, menuruni anak tangga lalu menuju ke taman samping rumah. Nayla memeluk tubuhnya sendiri, meskipun ia sudah memakai sweater tebal, tetap saja ... udara dingin menusuknya hingga ke tulang. Ia duduk di saung ... memejamkan mata, ia biarkan angin menerpa wajahnya.


“Nona,” panggil Hannah.


Nayla membuka mata, Hannah berjalan mendekat. “Iya, Hannah?”


Hannah menyampaikan apa yang diperintahkan Ammi. Bahwa ia dipanggil ke kamar ibu mertuanya. Nayla mengangguk, ia mengatakan akan segera ke sana. Setelah kepergian Hannah, Nayla larut dalam pikirannya sendiri. Ada rasa takut yang tiba-tiba datang menyergapnya. Mau tidak mau, ia tetap harus menemui Ammi. Melangkah dengan perlahan, Nayla mengembuskan napasnya dalam-dalam demi untuk menetralkan rasa takut serta gugup yang menjadi satu di dadanya.


“Bismillah ...” Nayla mengetuk pintu kamar Ammi lalu mengucapkan salam.


“Masuklah, Nak.” Ammi menyahut.

__ADS_1


***


__ADS_2