
“Fahad.” Nayla mendekat, duduk di samping suaminya yang sibuk dengan komputer lipat.
“Iya?”
Sepulang dari supermarket tadi, Nayla sudah ingin sekali mengatakan kepada Fahad perihal pertemuannya dengan Ryan. Namun, ada rasa takut di dalam hatinya. Takut jika Fahad akan marah, takut jika suaminya tidak bisa mengontrol emosi dan justru menuduhnya macam-macam. “Aku ...,”
Fahad menaruh laptop di tempat tidur, membetulkan posisi duduk agar bisa menatap sang istri lebih leluasa. “Ada yang mau dibicarakan?” tanyanya kemudian.
Nayla mengangguk. Sejenak, Nayla memandang Shazia yang tertidur lelap. Memastikan putrinya tersebut tidak mendengar percakapan orangtuanya—agar tidurnya tidak terganggu. “Aku minta maaf, tadi di supermarket aku ketemu sama ...,”
“Sama siapa?” Fahad bertanya. Jelas sekali ada keraguan di mata Nayla. “Ketemu Ryan?” imbuhnya karena sang istri masih saja diam.
“Aku sama dia nggak ngapa-ngapain, kok. Dia cuma minta maaf, habis itu dia pergi.” Nayla berujar dengan cepat.
Bukan tatapan marah ataupun mengintimidasi, Nayla justru mendapat sebuah senyuman serta pelukan dari suaminya. “Fahad, aku—”
Kalimat tersebut tidak dapat Nayla lanjutkan sebab bibirnya sudah ditutup rapat oleh suaminya, dengan bibir. Nayla tak dapat berkutik. Melihat apa yang dilakukan sang suami, dia merasa lega karena Fahad tidak tersinggung ataupun marah.
“Sudah.” Fahad menyelipkan anak rambut Nayla ke belakang telinga. “Aku lihat dan dengar semuanya. Awalnya, aku memang kesal, tapi emosiku mereda begitu mengingat kalau Shazia lagi sama aku.” Senyuman tulus dia tepiskan untuk mengurangi rasa takut dari sang istri. Fahad menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya. “Dia sudah memutuskan untuk cinta sama kamu, sekarang dia juga sudah memutuskan untuk mengubur rasa cinta itu. Jangan takut, aku pasti selalu di samping kamu.”
“Terima kasih, Fahad.” Nayla membalas pelukan sang suami.
***
Hari minggu, hari bermalas-masalan. Niat hati ingin seperti itu. Tidur seharian, bangun hanya untuk mengecek ponselnya sebentar lalu tidur lagi. Kenyataan tak sesuai harapan. Andi sedikit menggerutu tatkala Nayla menyuruhnya untuk membeli pisang. Namun, bibir yang tadinya menggerutu itu digantikan dengan senyuman begitu mendengar kakaknya akan membuat pisang kipas, camilan kesukaannya.
“Pisang kipas? Pisangnya dijadikan kipas? Terus nanti buat kipasan?” cerca Fahad.
Nayla dan Andi tertawa mendengar setiap pertanyaan dari lelaki yang sedang memangku putrinya tersebut.
“Pisangnya dipotong berbentuk kipas, Fahad. Nanti kamu juga tau.” Nayla sedikit memberi penjelasan.
Andi kembali dari warung sayur dengan membawa dua sisir pisang kepok yang sudah matang sempurna. Andi membantu mengupas pisang, menaruhnya di nampan lalu mencuci tangan dan pergi ke teras—duduk bersama kakak ipar dan juga keponakannya.
Arima pisang goreng menyeruak tatkala Nayla memasukkan pisang yang sudah dilumuri tepung itu ke dalam wajan yang berisikan minyak panas. Sayup-sayup dia mendengar suara gitar dan Andi yang sedang bernyanyi.
***
Tak bisa kulupa~
Saat-saat indah bersamamu~
Semua cerita~
Mungkin kini hanya tinggal kenangan~
'Ku harus pergi~
__ADS_1
Meninggalkanmu di dalam sepiku~
Bukan inginku~
'Tuk menyakiti perasaanmu~
Maafkan aku~
Maafkan aku~
Yang tak bisa menunggu hatimu~
Lupakan saja~
Diriku untuk selama-lamanya~
'Ku harus pergi~
Meninggalkanmu di dalam sepiku~
Bukan inginku~
'Tuk menyakiti perasaanmu~
Maafkan aku~
Tidurlah sayangku~
Mentari telah menunggu~
Sambutlah pagi nanti~
Bermimpilah cinta~
Dengan segenap rasa~
Kini tibalah saatnya~
Kita harus berpisah~
Tidurlah sayangku~
Mentari telah menunggu~
Sambutlah pagi nanti~
Bermimpilah cinta~
__ADS_1
Dengan segenap rasa~
Kini tibalah saatnya~
Kita harus berpisah~
Maafkanlah aku~
Yang tak bisa menunggu~
Lupakan saja diriku~
Untuk selama-lamanya~
***
“Ku kira lagu, ternyata kisahku.” Nayla berucap sembari menaruh sepiring pisang kipas panas di meja.
“Nggak usah ngeledek, Mbak. Namanya juga lagu, pasti ada yang pas sama kisah hidup seseorang.”
“Iya, dan lagu ini pas banget sama kisah hidup kamu.”
Andi mengangguk pasrah, “iya, sih.”
Menyembunyikan segala luka dibalik sebuah senyuman. Hanya itu yang bisa Andi lakukan. Sakit sekali memang, merelakan seseorang yang dia cintai. Jodoh atau tidak, ikuti saja alur yang sudah disiapkan sang pencipta.
“Beneran seperti kipas, ya?” Fahad mengambil sepotong pisang kipas lalu membolak-balikkannya. Memandang seni yang terdapat pada bentuknya yang sangat menarik. “Kamu kenapa nggak pernah bikinin aku pisang goreng seperti ini?” tanyanya setelah menggigit pisang tersebut.
“Enak?” Nayla bertanya.
Fahad menggeleng, namun tangannya sudah mengambil sepotong pisang kipas lagi. Suara tawa terdengar dari Nayla dan juga adiknya. Besok, Andi meminta kepada sang kakak untuk membuatkan pisang kipas lagi. Dia merasa bosan jika di studio hanya ada camilan kacang dan juga pilus.
Hangat sekali. Menikmati pisang goreng, secangkir kopi, serta suara merdu dari Andi yang menemani kebersamaan keluarga tersebut. Obrolan ringan juga tak lupa mereka sematkan. Dari Nayla, Andi belajar bagaimana sebuah rumahtangga. Biarpun sudah bersama saudara, namun keberadaan seorang suami juga sangat penting bagi kakaknya tersebut. Ada yang kurang. Peran suami tidak bisa digantikan meskipun ada 10 saudara. Senyuman Nayla terlihat sangat hangat begitu melihat Fahad. Pria yang menjadi sandarannya, pria yang mengerti Nayla bagaimanapun keadaannya.
***
Dua hari lagi, Nayla, Shazia dan Fahad harus segera kembali ke India. Tiket dan segala keperluan selama di perjalanan sudah mereka siapkan. Tak lupa, sebelum pergi, mereka berziarah ke makam kedua orang tua dan berkunjung ke rumah semua kakak-kakak Nayla.
Sebulan Nayla berada di Indonesia. Kali ini, Nayla harus melewati sedikit hal yang tidak menyenangkan. Ya, tentang Ryan. Kenapa Nayla mengatakan sedikit? Karena dia bersyukur, Ryan hanya menyatakan perasaannya saja, tidak berbuat lebih. Kini, semuanya sudah membaik. Lelaki itu mengatakan kepadanya bahwa dia akan melupakan perasaan yang Nayla sendiri tidak tau sedalam rasa itu.
Fahad mulai kesal saat Nayla masih saja meminta maaf atas apa yang sudah Ryan lakukan. “Kamu nggak salah, Ryan juga nggak salah. Ya, meskipun hatiku masih belum bisa terima apa yang sudah Ryan lakukan, setidaknya aku tau kalau kamu itu milikku. Aku yakin, hati kamu cuma buat aku.” Fahad mendekati tubuh Nayla, mencium puncak kepala sang istri dengan lembut. “Sudah malam, jangan bahas hal ini lagi. Kita lupakan, dia juga sudah bilang mau melupakan, kan?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla. “Makanya, jangan minta maaf terus. Berapa kali aku harus bilang kalau nggak ada yang salah dalam hal ini.”
Saling mencintai, saling menghormati, saling memberi pengertian, kepercayaan, kejujuran, dan saling menjaga satu sama lain adalah tiang rumah tangga. Tanpa itu semua, sebuah pernikahan akan hampa dan kosong tak bernyawa.
Nayla dan Fahad aelalu berusaha menerapkan itu semua dalam rumah tangga mereka. Meskipun sesekali masih ada kesalahanpahaman, mereka sudah memutuskan untuk menyelesaikannya dengan baik-baik.
__ADS_1
***