Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 17


__ADS_3

Fahad mengajak Nayla untuk segera pulang. Keduanya kini berada di atas eskalator—turun ke lantai paling dasar mall.


Fahad tidak pernah melepas genggaman tangannya terhadap Nayla. Hatinya kini tengah berbunga-bunga. Bagaimana tidak, ia akan membawa Nayla ke India untuk bertemu ibu dan kedua adiknya. Sejujurnya, Fahad ingin segera menikah saja dan membawa Nayla ke India dengan status nyonya Fahad Malik Khan.


Tetapi, Fahad sadar, itu semua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meraih hati serta cinta Nayla saja membutuhkan perjuangan, apalagi jika ia ingin memperistri wanita itu ... butuh lebih untuk meyakinkan Nayla. Fahad sadar akan hal itu.


“Fahad, kenapa kamu senyum terus dari tadi?” tanya Nayla.


Fahad menoleh, tersenyum serta sedikit menundukkan kepalanya agar kedua matanya bisa menatap Nayla. “Kamu membuatku tersenyum,” jawabnya.


“Aku?” kedua alis Nayla saling bertaut.


“Iya.” Fahad menyentuh ujung kepala Nayla.


“Kenapa aku? Aku nggak ngerasa lagi ngelucu.”


Fahad berdecak kesal. “Sayang, aku akan menciummu kalau kamu masih saja bertanya.”


“Oke, oke, aku nggak nanya lagi.” Nayla menutup mulut dengan satu tangannya.


***


Sebelum mengantar Nayla pulang, Fahad terlebih dulu mengajak Nayla ke hotel. Ia ingin membersihkan diri agar kembali segar.


Sementara Nayla, ia duduk di sofa kamar hotel Fahad sembari memainkan ponsel miliknya. Ia merasa bosan, sebab Fahad tak kunjung keluar kamar mandi. Berkali-kali ia mendesah kesal setiap melihat pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.


“Dia mandi apa tidur, sih?! Ngalah-ngalahin waktu mandiku.” Dengus Nayla.


Pintu kamar mandi terbuka. Fahad keluar dengan kemeja navy lengan panjang—ia menaikkan sedikit kain kemeja bagian tangan itu—lengkap dengan celana jeans berwarna hitam. Rambutnya yang basah itu membuat kadar ketampanannya bertambah. Senyum manis ia lemparkan untuk Nayla.


“Jangan lama-lama kalau lihat, aku takut kamu khilaf.” Fahad berucap sembari melangkah, mendekat ke arah Nayla.


Nayla membuang pandangannya ke arah jendela, ia tersenyum malu sebab ketahuan memandangi Fahad.


“Nanti kamu juga bosan lihat aku terus, tiap mau tidur dan bangun tidur ... yang dilihat aku terus.” Fahad menarik hidung mungil Nayla, membuat wanita itu meringis lalu menepis lembut tangan Fahad.


“Kamu juga gitu?” tanya Nayla sebagai bentuk protesnya.


Fahad mengambil sisir yang berada di meja sofa tersebut, lalu duduk di samping Nayla. “Aku kenapa?” tanyanya balik.


“Kamu juga bosan? Lihat mukaku tiap hari.”


“Ya, enggak, Sayang. Kenapa aku bosan? Setiap waktu aja aku pengen lihat muka kamu terus.”


Nayla berdecak kesal, kedua alisnya saling bertaut. “Maaf, aku nggak mempan kamu gombalin.”


Fahad tertawa kecil, diletakkannya sisir itu kembali ke tempat semula. Ia sedikit memiringkan posisi duduknya untuk menghadap Nayla. “Cuma satu yang aku takutin. Kamu tahu nggak?” tanya Fahad yang dijawab gelengan kepala oleh Nayla. “Kalau setiap hari aku lihat kamu, aku takut diabetes, Sayang.” Kata Fahad yang di sambut tawa oleh Nayla.


“Makanya, pakai gula jagung, jangan gula tebu.” Kata Nayla disela tawanya.


Setelah selesai dengan tawa dan gombalan, mereka memutuskan untuk segera pergi keluar hotel. Menuju rumah Nayla sebelum nanti malam mereka akan pergi ke rumah Mas Irfan dan Mbak Dewi.

__ADS_1


Lift yang membawa mereka ke lantai satu sudah terbuka. Fahad masih menggenggam tangan Nayla menuju ke tempat parkir.


“Malam ini kita pergi ke rumah Mas Irfan, kan?” tanya Fahad.


“Iya.”


“Sayang?” panggil Fahad.


“Iya?”


“Aku mencintaimu.” Ucap Fahad sebelum ia menaiki motor.


Nayla hanya membalas dengan senyuman. Sejauh ini, ia belum mengungkapkan perasaan cintanya lagi kepada Fahad. Nayla menyatakan cintanya hanya sekali, saat Fahad akan kembali ke India ... di bawah guyuran hujan deras sekaligus dalam keadaan marah. Fahad tidak pernah mempermasalahkan hal itu, yang terpenting ia sudah tahu bahwa Nayla juga mencintainya.


Fahad menjalankan motornya dengan perlahan, ia ingin menikmati momen itu. Nayla tidak pernah memeluknya saat naik motor. Iya, Nayla hanya memegang ujung jaket atau baju yang dipakainya. Itu tak menjadi masalah untuk Fahad. Ia tahu, Nayla bukan tipe wanita seperti itu. Cukup dengan menggandeng tangan, keduanya bisa saling memberi rasa nyaman.


“Fahad, stop please.” Nayla menepuk perlahan bahu Fahad.


“Ada apa?” tanya Fahad yang menghentikan motornya serta meminggirkannya.


“Aku mau beli itu.” Nayla menunjuk penjual batagor.


Tanpa pikir panjang dan bertanya, Fahad pun memutar motornya menuju penjual batagor. Nayla bergegas turun begitu Fahad sudah menghentikan motornya tepat di depan—gerobak tersebut.


“Pak, batagor satu, ya? Di makan di sini aja.” Nayla memesan.


“Iya, Mbak, silahkan duduk dulu.” penjual tersebut mempersilakan Nayla untuk duduk di kursi plastik yang ia sediakan.


“Sayang, ini kamu beli makanan?” tanya Fahad.


Nayla mengangguk, “iya, batagor.”


“Kamu masih lapar?” tanyanya lagi.


“Iyalah, kamu mandinya aja lama banget. Ya, aku lapar!” ketus Nayla.


Lagi-lagi Fahad menarik hidung Nayla, entah kenapa ia selalu merasa gemas ketika Nayla menunjukkan rasa kesalnya.


Tak lama, batagor pesanan Nayla pun sudah datang. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih kepada si penjual.


Nayla menyuapi Fahad. Pria itu menelan ludah, merasa aneh serta bingung. Haruskah ia menolak? Sebab ia takut lidahnya tidak bisa menerima makanan itu. Namun, ia juga tidak ingin membuat hati Nayla merasa kecewa.


Perlahan, Fahad membuka mulutnya, menerima suapan batagor itu. Ia masih mengunyah perlahan batagor tersebut, sedangkan Nayla sudah memasukkan dua kali batagor ke mulutnya.


Dengan cepat, Fahad merebut piring batagor Nayla. “Enak,” kata Fahad sembari memakan satu persatu batagor tersebut.


“Fahad!” seru Nayla. “Kalau mau, aku pesan lagi buat ka—”


Belum sempat Nayla melanjutkan kalimatnya, Fahad menutup mulut Nayla dengan suapan batagor.


Mereka berdua tersenyum satu sama lain sambil menghabiskan batagor tersebut. Satu piring berdua.

__ADS_1


Penjual batagor sedari tadi sibuk memperhatikan mereka, “pasangan yang serasi.” Gumamnya.


Nayla beranjak berdiri, ia mengembalikan piring batagor. Ia juga memesan dua porsi untuk ia bawa pulang.


“Maaf, Mbak, itu suaminya?” tanya penjual batagor dengan tangannya yang sibuk membungkus.


“Bukan, Pak,” sanggah Nayla cepat. “Eh, bukan, maksud saya belum jadi suami, Pak.” Nayla tersenyum kikuk.


“Oh, semoga di segerakan, ya, Mbak. Cocok sekali, Mbaknya ini sama dia.” Kata pak penjual yang sekaligus menyerahkan batagor pesanan Nayla.


“Iya, aamiin, Pak.” Nayla tersenyum menerima batagor tersebut.


“Berapa, Pak?” tanya Afsal dengan bahasa Indonesia yang masih terdengar kaku. Ia mengeluarkan dompet, mengambil uang pecahan seratus ribu lalu ia sodorkan kepada penjual tersebut.


“Enggak, Fahad, aku aja yang ba—”


“Nayla!” Fahad menatap tajam pada Nayla.


“Iya, udah, sih. Bayar aja.” Nayla menunjukan wajahnya ke sembarang arah.


Fahad tersenyum melihat Nayla. Ia memberikan uang tersebut, untuk membayar batagor. “Sebentar, Mbak, kembaliannya.” Pak penjual mengeluarkan beberapa lembar uang sebagai kembalian.


“Nggak usah kembali, buat penjualnya saja,” kata Fahad pada Nayla.


Nayla mengangguk, “nggak usah, Pak, kata dia.”


“Kebanyakan ini, Mbak,” kata si penjual yang tetap menyodorkan uang kembalian kepada Nayla.


“Nggak apa, Pak, ambil aja. Saya terima kasih.”


Si penjual tersenyum simpul, ”iya, saya juga terima kasih, Mbak.”


***


Nayla dan Fahad sudah sampai di depan rumah, keduanya mengucap salam bersamaan.


“Assalamu'alaikum ....”


“Wa'alaikumsalam,” jawab Andi yang membuka pintu rumah. “Awas kering giginya, senyum mulu dari tadi.” Ledek Andi.


“Belum makan, ya, kamu?” Nayla melangkah masuk, di ikuti Fahad.


“Iya. Kok, tahu, Mbak?” tanya balik Andi.


“Pantes, nyinyir kayak netizen.” Nayla tertawa. “Nih, Mbak bawa batagor. Tadi di beliin fahad.” Nayla menyerahkan bungkusan batagor tersebut kepada Andi.


“Nggak apa dikatain nyinyir, yang penting dibeliin makanan.” Andi ikut tertawa.


Andi mempersilakan Fahad untuk duduk. Pun ia juga ikut duduk dikursi, di depan Fahad duduk. Sementara Nayla, ia ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Fahad. Setelah itu ia pun pergi ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang sudah lelah agar kembali segar.


***

__ADS_1


__ADS_2