
Ini adalah malam kedua Nayla berada di Srinagar, Kashmir. Ia sudah selesai membantu Hannah membereskan meja makan, juga mencuci semua peralatan makan. Nayla berjalan menaiki anak tangga, hendak kembali ke kamar. Sementara Fahad, ia tengah berada di rumah kerjanya. Memeriksa email—pekerjaan yang dikirim sekretarisnya dari New Delhi.
“Kakak ipar?” panggil Yumna saat Nayla baru menaiki dua anak tangga.
Nayla menghentikan langkahnya, ia berbalik. “Iya, Yumna?”
Yumna mendekat, tersenyum simpul kepada Nayla. “Apa aku boleh ikut ke kamar?”
“Tentu, Yumna. Ayo.” Nayla mengulurkan tangan dan di sambut oleh Yumna.
Yumna dan Nayla kini duduk di atas tempat tidur. Keduanya membicarakan tentang adat dan tempat wisata yang terdapat di India dan juga Indonesia. Yumna sangat bersemangat ketika membahas tempat wisata. Ia mengatakan kepada Nayla, bahwa ia sangat ingin ikut pergi ke Indonesia, namun Fahad dengan tegas melarangnya.
“Kamu nggak maksa, buat ikut ke Indonesia?” tanya Nayla.
Yumna menggeleng, “baru nanya aja, Kak Fahad udah marah. Apalagi kalau aku maksa,” katanya dengan nada memelas.
“Fahad marah?” tanya Nayla.
“Iya, Kak. Kak Fahad itu pemarah. Aku dan Kak Yasmin jarang sekali bercanda dengannya. Baru diajak bicara bentar aja udah marah.” Yumna berucap penuh keyakinan.
Nayla mengingat dimana saat Fahad memarahinya tentang cincin yang ia tolak waktu itu. Selebihnya, ia tidak pernah melihat seorang Fahad yang pemarah. Atau mungkin, belum saatnya ia melihat sifat Fahad yang satu itu. Tapi, Nayla sangat sulit mempercayai jika Fahad adalah seorang pemarah.
Selama ini, Fahad selalu memperlakukannya dengan baik dan pria itu juga sangat menghormatinya. Memang, terkadang ada perdebatan kecil diantara mereka. Namun semua itu tidaklah berpengaruh besar terhadap kemarahan Fahad. Nayla dan Fahad bisa menyelesaikannya dengan baik.
“Apa Kak Fahad juga sering memarahimu, Kak?” tanya Yumna.
Nayla menggeleng, “enggak, Yumna.”
“Kak Fahad sudah kembali. Seperti yang dulu. Yang bersikap lembut sama kami, adik-adiknya. Kak Fahad yang nggak pernah marah-marah kecuali kalau kami memang berbuat kesalahan yang fatal. Tapi setelah perceraiannya—” Yumna menghentikan ucapannya. Raut wajahnya terlihat ada sebuah kesedihan yang mendalam.
“Maksud kamu?” tanya Nayla yang sudah terlanjur dibuat penasaran.
Yumna menatap Nayla, “sejak perceraiannya dua tahun lalu, Kak Fahad berubah jadi pemarah. Semuanya salah, nggak ada yang benar di matanya. Semua ini karena—”
“Yumna!” suara Fahad menggelegar memenuhi kamar tersebut. Sontak Nayla dan Yumna berdiri, terkejut akan kedatangan pria yang sedang mereka bicarakan itu.
“Kakak.” Wajah sedih itu kini berubah takut. Yumna menunduk, tak berani menatap wajah kakaknya.
Ya, kini Nayla bisa melihat Fahad yang pemarah. Seperti yang di katakan Yumna. Suasana kamar tersebut berubah mencekam tatkala mata Fahad menatap dengan tajam.
“Kembali ke kamarmu!” perintah Fahad kepada Yumna.
__ADS_1
Yumna memberanikan diri mengangkat kepalanya. Matanya bersitatap dengan sorot mata tajam kakaknya. “Kak, aku tadi—”
“Kembali ke kamarmu!” bentak Fahad lagi.
Tanpa menunggu lagi, Yumna segera berlari keluar kamar. Amarah kakaknya kembali meledak. Sungguh, tak pernah terpikirkan jika Fahad masih menyimpan amarah ketika ada yang membicarakan tentang perceraian. Yumna pikir, kehadiran Nayla akan membuat pembicaraan tentang perceraian di masa lalu itu akan sedikit mereda—atau bahkan sudah dilupakan oleh Fahad, kakaknya. Namun, nyatanya tidak. Yumna tahu letak kesalahannya. Ia menyesal, sudah membuka luka perceraian itu lagi.
“Ngapain kamu masih berdiri di situ?” suara tegas Fahad kepada Nayla.
“Fahad.” Nayla melihat Fahad yang berjalan mendekatinya. “Yumna tadi cuma—”
“Cuma apa, hah?” tukas Fahad.
“I-itu, cuma ngobrol biasa sama aku.” Nayla merasa ketakutan, sorot mata tajam itu seperti singa yang kelaparan. Yang sudah bersiap menerkam mangsanya.
“Pergi tidur!” perintah Fahad.
“Iya, tapi jangan marah sama Yumna. Dia nggak salah.”
“Terserah aku, mau marah apa enggak.” Fahad tetap menatap tajam. Tak ada kelembutan seperti biasanya saat mata pria itu menatap Najla.
“Iya. Tapi, kan—”
“Tidur! Aku bilang tidur sekarang!”
Nayla beranjak naik ke tempat tidur, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia merasa kesal karena Fahad sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan darinya.
Nayla menyingkap sedikit selimutnya, memeriksa keberadaan Fahad yang mungkin sudah keluar dari kamar.
“Ngapain dibuka lagi?” terkejut Nayla melihat Fahad yang masih berdiri di posisi semula. Ia seperti tertangkap basah tengah berbuat curang. “Buruan tidur!” perintah Fahad dengan tegas.
“Iya, ini tidur.” Pasrah Nayla.
***
Pagi yang dingin itu menyambut Nayla dari tidur nyenyaknya. Ia menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Setelah merapikan tempat tidur, Nayla bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan diri.
Sudah berkali-kali Fahad mengetuk pintu kamar. Namun, tak kunjung ada sahutan dari Nayla. Ia pun memutuskan untuk membuka pintu yang ternyata tidak di kunci itu lalu melangkah masuk. Tempat tidur yang kosong serta sudah rapi itu sudah bisa memberi jawaban pada Fahad bahwa Nayla kini sedang berada di kamar mandi.
Fahad berjalan ke ruang ganti yang terdapat di sebelah kamar mandi—lebih tepatnya, ruang tersebut berada satu arah menuju kamar mandi.
Fahad memilih mengganti baju dan bersiap diri di kamarnya—yang kini menjadi kamar tidur Nayla. Hari ini ia harus pergi ke kebun saffron, juga ke tempat produksi.
__ADS_1
Nayla membuka pintu kamar mandi, ia dibuat terkejut akan keberadaan Fahad yang tengah mengambil jam tangan di lemari aksesorisnya. Dengan cepat Nayla menutup pintu tersebut. Tidak memungkinkan untuk dirinya keluar kamar mandi tanpa hijab yang menutupi kepalanya.
“Fahad?” panggil Nayla.
“Iya, Sayang,” sahut Fahad. “Kamu udah selesai?” tanyanya.
“Iya. Fahad, tolong ambilkan hijab segi empat di koperku? Yang warna navy. Juga hijab clip di meja nakas.”
Fahad mengambilkan hijab yang di inginkan Nayla setelah mengiyakan permintaan tolongnya. Setelah memberikannya kepada Nayla, Fahad kini mengambil sepasang sepatu. Ia duduk di sofa lalu memakainya di sana.
Nayla yang sudah selesai memakai hijab itu pun mendekat ke arah Fahad, ia duduk di samping kekasihnya itu. “Kamu kenapa pakai sepatu? Mau kemana?” cerca Nayla.
“Aku harus ke kebun saffron, Sayang. Juga ke tempat produksi,” jawab Fahad yang masih sibuk memakai sepatu. “Aku harus mengecek saffron yang akan dikirim ke Malaysia dan Singapura.”
“Aku sendiri di sini,” ucap Nayla lesu. Wajahnya seketika murung begitu ia mengetahu Fahad akan berada jauh darinya. Ya, hanya untuk hari ini. Tapi, rasanya ia sungguh tidak bisa jauh dari pria itu. Nayla masih berusaha menyesuaikan diri berada di tengah-tengah keluarga Fahad.
Fahad selesai memakai sepatu. Ia memiringkan posisi duduknya, menghadap Nayla. “Aku nggak lama, kok. Begitu selesai, aku pasti pulang. Cuma hari ini aja, besok aku di rumah.” Fahad mencoba memberi pengertian.
Nayla mengangguk. Sekali lagi, ia tidak bisa bersikap egois. Ia belum menjadi istri dari seorang Fahad Malik Khan. Di sisi lain, sungguh tidak baik jika ia melarang Fahad pergi ke kebun dan tempat produksi bunga saffron. Itu adalah usaha keluarga dan juga itu adalah pekerjaan Fahad. Nayla sadar, ia harus bisa mendukung apapun yang di lakukan Fahad. Selama itu masih berada dalam lingkaran positif—suatu hal yang baik.
“Kamu nggak sendiri. Yasmin nanti nggak pergi kerja, dia bakal nemenin kamu di rumah.” Fahad meraih jari jemari Nayla, menggenggamnya dengan erat. Fahad mengerti, Nayla merasa takut berada jauh darinya. Ialah yang membawa Nayla, sudah pasti dapat di pastikan juga, bahwa hanya ialah seorang yang menjadi sandaran dan kekuatannya.
“Apa kamu mau ikut aja?” Fahad memberi tawaran.
“Nggak mau. Malu dilihat orang,” kata Nayla.
“Ya, biarin aja. Aku ngajak istriku sendiri, bukan istri orang lain.”
Sebuah cubitan mendarat di perut Fahad. “Kalau ngomong, suka ngaco!” geram Nayla.
“Kok, ngaco, sih?” Fahad meringis kesakitan, tangannya masih menyentuh bagian perut yang di cubit oleh Nayla tadi.
“Aku bukan istri kamu.”
“Sebentar lagi, kan, jadi istri. Nggak masalah kalau aku ngomong sama orang-orang dari sekarang, kalau kamu itu istri aku.” Fahad berujar.
“Iya, iya. Terserah.” Nayla merengut kesal.
Fahad terkekeh melihat Nayla, tangannya mengarah mencubit hidung mungil kekasihnya itu. Fahad mengajak Nayla turun, untuk sarapan bersama.
“Aku mau benerin kunciran rambut dulu, kamu turun duluan aja.” Kata Nayla.
__ADS_1
***