Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 40


__ADS_3

Waktu semakin cepat berlalu dan sudah waktunya Nayla untuk pulang. Di parkiran, Fahad sudah menunggu, sebuah senyuman ia sematkan untuk menyambut istrinya.


Nayla berjalan dengan cepat menghampiri suami yang ia rindukan. Ya, tidak sampai sehari tapi keduanya saling sangat merindukan satu lain.


“Hai, Istriku,” mencium kening Nayla lama, merapikan hijab segiempat yang istrinya itu kenakan agar menutupi dadanya.


“Wa'alaiakusalam, Suamiku.”


Fahad terkekeh, “maaf, lupa.”


Fahad dan Nayla hendak pulang, tapi suara seseorang yang memanggil membuat mereka kompak menoleh ke sumber suara tersebut.


“Sebentar, Nay, aku mau ngasih ini.” Nita menyodorkan sebuah kartu undangan pernikahannya kepada Nayla.


Nayla berseru bahagia mengetahui temannya yang akan menikah. Ia berjanji akan datang. “Besok kan ini?”


Nita mengangguk, “iya, aku tunggu kalian.”


Nita berlalu pergi setelah sebelumnya Nayla mengenalkan ia kepada Fahad. Menyalakan mesin motor lalu melaju dengan kecepatan sedang, Fahad ingin menikmati waktunya bersama Nayla setelah resmi menjadi sepasang suami istri.


Nayla yang dulu akan menjaga jarak darinya, kini istrinya itu sudah mau duduk lebih rapat saat dibonceng. Seperti sekarang ini, Nayla tak segan sedikit memeluk ketika Fahad menambah kecepatan laju motornya.


Sesampainya di rumah, Nayla lebih dulu memesan makanan melalui sebuah aplikasi. Sesudah itu ia pergi membersihkan diri.


“Fahad, aku tidur, ya? Sebentar lagi mungkin Andi pulang.” Nayla melihat jam dinding, “aku udah pesan makanan juga, nanti kamu makan duluan aja sama Andi.”


Fahad mengangguk, ia membiarkan Nayla untuk berisitirahat. Sementara ia kembali melanjutkan pekerjaannya melalui layar komputer lipat. Ia tahu, Nayla pasti lelah dengan rutinitasnya setiap hari. Bekerja, mengurus rumah, dan kini bukan hanya Andi—bayi besar yang harus istrinya itu urus, melainkan juga dirinya yang pasti lebih banyak menyita waktu istirahat Nayla.


Bekerja dari jauh membuat Fahad sedikit kelimpungan, laptop serta ponsel tak pernah jauh dari dirinya. Panggilan, pesan, email, tak pernah berhenti mengusik waktunya.


“Sepertinya dalam waktu dekat aku harus balik ke India.” Fahad menyentuh pelipisnya, mengatur jadwal penerbangan—juga mengharuskan ia berjauhan lagi dari Nayla, yang kini sudah menjadi istrinya. Berat. Itu sudah pasti.


***


Pukul empat sore, Nayla belum bangun. Fahad berinisiatif menganggu istrinya itu agar cepat bangun—entah berapa kali ia mencoba membangunkannya, tapi Nayla hanya menggeliat tanpa membuka matanya sedikitpun.


“Oke, ngajak tidur lagi. Sini aku buat lebih nyenyak.” Fahad mulai menindih separuh tubuh Nayla, tangannya menelusup masuk ke dalam kaos lengan pendek sang istri.


“Fahad!” Nayla membuka mata. “Kamu ngapain?” tanyanya.


Tak menjawab, Fahad tersenyum penuh mendamba. Ia mendekap tubuh Nayla lebih erat, membenamkan ciuman di pipi sang istri dengan sangat lembut.

__ADS_1


“Sayang! Kenapa pundakku digigit?!” keluh Fahad setelah mengakhiri ciumannya.


“Ya, kamu, masih jam segini udah mau—”


“Mau apa?” tukas Fahad. “Orang aku mau cium doang, nggak lebih.”


Nayla melengos, “nggak percaya.”


Kembali memeluk Nayla, mencium puncak kepalanya, “aku cinta sama kamu.” Ucapnya dengan tulus. “Nanti malam kita pacaran, yuk?”


Fahad mengajak Nayla untuk pergi keluar, Nayla mengangguk ... menerima ajakan Fahad. Pun ia juga ingin membeli gaun untuk menghadiri pernikahan Nita.


Keluar kamar dengan kondisi rambut yang acak-acakan, Andi yang duduk di kursi ruang makan, menikmati gorengan itu sontak melontarkan olokan kepada kakaknya.


“Mbak, sebelum keluar kamar bisa dirapihin dulu kali rambutnya. Kan, otak aku yang masih perjaka ini jadi traveling ke mana-mana.”


Jitakan Andi dapat dari Nayla, “yakin? Otak kamu masih perjaka?” selorohnya. Karena tidak mungkin, seorang pria seusia Andi tidak pernah menonton adegan dewasa, sekalipun itu hanya ciuman.


Meskipun kepalanya terasa sakit, Andi justru tertawa mendengar ucapan Nayla. “Ya, nggak perjaka banget, sih.” Kelakarnya yang berhasil membuat Nayla kembali melayangkan jitakan.


“Kan. Nonton apa aja kamu? Asal kamu tahu, nonton film porno itu bisa mengambil cahaya dari wajah kamu, nggak baik juga buat kesehatan.” Nayla berujar.


Andi memprotes, atau lebih tepatnya membela diri. Ia mengatakan; bahwa ia tidak pernah menonton film porno, sama sekali tidak pernah! Andi memberi penekanan pada kata tidak pernah. Sekalipun jika situs porno tidak diblokir, Andi sama sekali tidak berkeinginan untuk menontonnya. Ia tahu, hal itu dilarang oleh agama ... karena banyak kerugian di dalamnya, merugikan dalam hal kesehatan salah satunya.


“Kamu—”


“Sayang.” Fahad datang. Nayla yang hendak menjitak kepala Andi itupun berhenti seraya menoleh ke arah suaminya. “Ngapain tangannya kayak gitu?” tanyanya.


“Enggak, cuma capek.” Nayla berkilah. Ia memutuskan untuk segera membersihkan diri, sebelumnya ... ia membuatkan kopi untuk dua bayi besarnya terlebih dahulu.


***


Pukul tujuh malam, Nayla dan Fahad bersiap untuk pergi. Keduanya kompak memakai baju berwarna putih. Fahad dengan jeans hitam serta kaos putih polos. Nayla pun sama, ia memakai celana jeans hitam dan tunik bercorak bunga kecil-kecil, lengkap dengan pasmina hitam bercorak garis putih.


Siapapun yang melihat, sudah pasti akan berkata bahwa keduanya adalah pasangan yang sangat serasi. Tapi tidak bagi Nayla, ia tetap merasa kurang percaya diri jika bersanding dengan Fahad.


Status sosial. Tetap menjadi momok yang menakutkan meskipun ia sudah menjadi istri sah. Bayangan bahwa akan banyak orang yang mengolok dirinya, mengolok pendidikannya, membuat Nayla serasa ingin mundur. Akan tetapi langkahnya terhenti, ia tak bisa berkutik karena rasa cinta yang sudah terlanjur memenuhi ruang hatinya.


Sesampainya di mall, Fahad dan Nayla langsung menuju ke salah satu butik yang khusus menjual batik. Keduanya memilih batik sarimbit[¹].


“Kamu benaran mau pakai batik? Nggak pakai jas aja?” Nayla memastikan.

__ADS_1


“Yes, Sayang, aku juga belum pernah pakai batik. Kali aja di sana nanti ada cewek yang nyantol kalau lihat aku pakai batik.”


“Oh, gitu.” Nayla mengangguk-angguk. “Ya, udah, aku besok juga mau dandan yang cantik, cantik, dan cantik. Biar banyak yang suka, terus minta nomor telepon aku, terus janjian, terus jadian!”


“Aduh, duh!” Nayla meringis kesakitan ketika Fahad mencubit pipinya dengan keras.


“Ngomong kemana-mana! Terus aku mau kamu apain?” Fahad melepas cubitannya.


“Lagian, kamu duluan yang mulai. Sakit.” Nayla mengelus-elus pipinya yang memerah.


Kedua tangan Fahad menangkup wajah Nayla, “sini aku cium, biar nggak sakit.”


Ck!


Nayla menghindar, “banyak orang, jangan aneh-aneh!” ia memperingatkan.


Corak batik yang tidak terlalu penuh, warna merah muda yang terdapat pada gaun semi brukat menjadi pilihan keduanya setelah cukup lama memilih dan memilah. Tak ada lagi yang Nayla ingin beli, sekalipun Fahad memaksa untuk berbelanja baju atau apapun yang istrinya itu inginkan ... tapi nyatanya Nayla memang sedang tidak membutuhkan apapun. Semua bajunya masih layak pakai, juga tak ada barang yang ingin ia beli.


“Bawa kado apa, ya?” Nayla bertanya pada dirinya sendiri saat berkeliling.


“Gimana kalau jam tangan couple?”


Nayla setuju akan pilihan Fahad, keduanya masuk ke sebuah toko jam tangan. Cukup lama, akhirnya mereka menjatuhkan pilihan pada jam berwarna hitam elegan untuk Nita dan juga suaminya.


Sebelum pulang, keduanya mampir terlebih dahulu ke sebuah restaurant seafood. Nayla sangat ingin memakan cumi saos tiram, dan Fahad pun mengiyani keinginan istrinya tersebut. Sangat jarang istrinya meminta sesuatu, dan yang diminta sekarang ini hanyalah makanan. Tak sulit.


Bahkan, kartu kredit yang Fahad berikan kepada Nayla sejak sebelum menikah itu masih utuh. Tak pernah ada laporan bahwa istrinya itu mengambil satu rupiah dari kartu kredit itu.


Selesai makan malam, keduanya kini berjalan menuju area parkir. Fahad mengelus kedua lengannya, memberi kehangatan akan tubuhnya yang merasa kedinginan.


“Kamu kedinginan? Tadi sebelum pergi nggak mau pakai jaket.” Nayla ikut memberikan usapan pada kedua lengan suaminya. “Kenapa tiba-tiba hujan, sih?!” keluhnya.


“Udah nggak terlalu deras, jadi mau pulang apa nunggu hujannya benar-benar reda?” tanya Fahad.


Nayla menatap kedua manik mata Fahad, “kamu kedinginan. Beli jaket dulu, yuk? Balik ke dalam.”


Fahad menggeleng, “nggak perlu, Sayang, aku udah punya jaket sendiri.”


Nayla tahu apa yang dimaksud oleh Fahad, dirinya ... ya, dirinyalah jaket yang dimiliki suaminya. “Serius, Fahad, kita beli jaket aja dulu baru pulang.”


Tetap menolak, Fahad mengajak Nayla untuk segera pulang sebab hujan sudah mulai reda—menyisakan rintik-rintik. “Nanti aku pakai jaket di rumah aja.” Fahad tersenyum penuh maksud.

__ADS_1


“Iya, iya, udah ayo buruan pulang.”


***


__ADS_2