
“Ya ampun, Fahad!” jengah Nayla. “Aku tahu batasan, sebelum ataupun sesudah menikah. Aku tahu batasan berteman itu seperti apa. Gini, kalau ada apa-apa kamu bisa tanya dulu, kan? Tanya ke aku, jangan menyimpulkan sesuatu itu sendiri. Baru setelah itu kamu bisa memutuskan, aku itu kelewat batas atau enggak.”
Fahad mengangguk, ia meminta maaf karena sudah terlalu cemburu. Memang benar apa yang dikatakan istrinya, lebih baik bertanya ... semuanya akan jelas.
“Ya, namanya juga suami. Wajar, kan? Kalau aku cemburu sama istri sendiri.” Fahad mencubit gemas pipi Nayla.
“Iya, tahu. Tapi Doni cuma nanya kenapa aku nggak masuk kerja, bukan ngajak pacaran!” seru Nayla.
Fahad terkekeh, ia mendekap tubuh Nayla sembari mencium puncak kepalanya. “Kalau dia ngajak kamu pacaran, aku pastiin hidup dia hancur!” ujarnya.
“Belagu, ih! Emangnya kamu mafia?” Nayla tertawa. Fahad meraih tubuh Nayla, mendekapnya lebih erat lalu mulai melepas kancing piyama istrinya tersebut. “Mau ngapain?” Nayla mencoba menahan tangan Fahad.
“Tadi katanya aku bisa mutusin mau marah, cemburu, atau apapun sesuka aku. Jadi aku mutusin ini.” Senyum penuh mendamba Fahad selipkan untuk Nayla. Keduanya kembali menghabiskan malam penuh dengan cinta, saling memberi dan menerima kebutuhan pasangan.
***
Pagi kembali menyapa. Sinar mentari pagi menepati janjinya, memancarkan cahayanya—menemani penduduk bumi mengawali hari dengan senyuman hangat sehangat pancaran sinarnya.
Selepas menunaikan ibadah salat subuh, Nayla sudah disibukkan dengan aktifitas rumah—memasak, menyiapkan kebutuhan suami dan juga adiknya. Tiga hari berlalu, dan hari ini Nayla sudah harus kembali bekerja seperti biasanya.
“Kok, nggak ilang-ilang, ya?” Nayla bertanya pada dirinya sendiri.
“Hi, Pretty.” Fahad mencubit pipi Nayla. “Ada apa?” tanyanya.
“Ini.” Nayla menunjukkan kedua tangannya, “warna mehendinya belum pudar.”
Fahad meraih kedua tangan Nayla, melihat design mehendi yang memang belum pudar. Warnanya masih sangat pekat. “Kata orang, kalau warna mehendinya gelap itu berarti suaminya cinta banget. Berarti emang benar kata orang-orang.”
“Hah? Benar gimana?” tanya Nayla.
“Ya, benar aku cinta banget sama kamu,” kata Fahad. “Udah biarin aja, nanti juga ilang sendiri.”
Iya, nanti juga hilang sendiri. Tapi jawaban apa yang akan Nayla berikan jika teman-temannya nanti bertanya tentang mehendi yang memenuhi tangan dan kakinya. Itulah yang sejak tadi ia pikirkan.
Hmm. Jawab jujur aja, masa mau bohong soal status, sih?! Cuma teman aku doang yang tahu, bukan temannya Fahad. Nayla membatin.
Nayla mengambil tas selempang kecil miliknya, ia berangkat bekerja dengan diantar oleh Fahad. Andi sudah berangkat ke kampus sejak pagi tadi sesudah sarapan.
Fahad tak ingin membatasi apa yang istrinya lakukan dengan syarat; Nayla tidak melupakan statusnya yang sudah menjadi seorang istri—ada batasan serta kewajiban yang tetap harus Nayla jaga. Bukan berarti Fahad tidak mempercayai istrinya, tetapi bayangan kelam rumah tangganya yang lalu sungguh sangat menakutkan.
Trauma. Fahad sedikit trauma jika mengingat istri pertamanya yang selalu mementingkan karir daripada keluarga. Nayla berbeda, Fahad tahu itu. Ia tidak ingin terlalu mengekang sang istri, bagaimanapun juga ... semua orang punya hak menentukan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.
“Kamu nggak mau peluk aku dulu?” tanya Fahad setelah Nayla turun dari motornya.
“Ngapain?” Nayla mengernyit. “Malu dilihat orang,” imbuhnya.
“Ya, udah, sini cium aja keningnya.” Tangan Fahad meraih kepala Nayla lalu mencium keningnya sangat lama. “Jangan ganjen, jangan ngobrol lama-lama sama cowok!” Fahad berpesan.
__ADS_1
“Nggak ganjen, cuma gatel!”
Fahad tertawa, ia mencubit gemas hidung mungil Nayla. “Itu sama aja.”
Nayla melambaikan tangannya kepada Fahad, pun sebaliknya. Menapaki empat buah anak tangga, masuk ke teras restaurant ... Nayla sudah disambut oleh Sari dan Doni, keduanya bertanya tentang apa yang baru saja mereka lihat. Terutama Sari, ia begitu heboh saat melihat Nayla dicium oleh pria yang ia ketahui masih berstatus pacar temannya itu.
Jengah? Sudah pasti, Sari sudah seperti wartawan yang menanyakan kehidupan pribadinya. “Nanti pulang kerja kita bisa ngobrol lagi, ini aku baru masuk, loh! Kita kerja dulu aja.” Nayla berusaha menghindar.
Disaat Nayla sudah berbalik badan—hendak menaruh tasnya ke loker, Pak Manager datang lalu menyapa Nayla—lebih tepatnya menyindir. “Eh, Nayla. Pengantin baru udah masuk kerja aja.”
Yassalam ... katanya bisa jaga rahasia? Bapak nggak asik banget. Keluh Nayla dalam hati.
Nayla berbalik, “eh, Bapak, selamat pagi.” Ia menunduk hormat sembari menepiskan senyumnya—senyum terpaksa tentunya.
“Kok, udah masuk kerja, Nay?”
“Ya, Bapak, cuma kasih izin cuti tiga hari. Kalau sebulan saya malah senang, Pak,” celetuk Nayla.
Kedua alis Pak Manager saling bertaut, “mau sebulan? Boleh. Tapi ke ruangan saya dulu, buat alasan apa soal pengunduran diri kamu.”
“Eh! Enggak, Pak, tiga hari aja cukup.” Panik Nayla.
Pak Manager tertawa melihat wajah Nayla yang kelimpungan. Ia pun berlalu masuk ke ruang kerjanya, meninggalkan Nayla yang mendapat sorot mata penuh pertanyaan dari Doni dan Sari.
Sari menarik lengan Nayla, “mau kemana? Main kabur aja.”
“Nikah sah, kan, Nay?” tanya Sari lagi.
“Heh!” Doni menjambak rambut Sari, “yang namanya nikah dimana-mana juga sah, beg* dipelihara.”
“Sakit!” seru Sari, ia menyentuh bagian kepala di mana Doni menjambaknya tadi. “Maksudnya, nikah resmi apa nikah siri, gitu!” semburnya kepada Doni.
Bukan bermaksud menghina atau apa, Sari hanya memastikan saja. Ia tidak ingin Nayla dirugikan atas pernikahan berbeda negara tersebut.
“Nikah resmilah, mana mau aku nikah siri.” Nayla menyahut.
“Maaf, Nay, aku cuma mastiin aja. Tapi kamu nggak—”
“Apa? Pikiran kamu udah lari kemana aja?” tukas Nayla yang sudah tahu pertanyaan apa lagi yang akan dilontarkan oleh Sari.
Tertawa kecil, “kamu tahu aja, Nay, kalau pikiran aku udah kemana-mana.” Sari menepuk lengan Nayla.
“Emang yang ada di pikiran kamu apa, Sar?” tanya Doni.
“Nayla hamil duluan!”
Sontak Doni kembali menjambak rambut Sari, membuat sang pemilik rambut itu berseru kesakitan. Lagi-lagi Sari mengatakan hal yang sangat tidak sopan, bagi Doni. Tapi bagi Nayla itu tak mengapa, daripada menerka-nerka ... akankah lebih baik bertanya pada orang yang bersangkutan.
__ADS_1
Nayla menjelaskan, bahwa ia tidak hamil. Sebelum menikah, Fahad sangat menjaga kehormatannya, pria itu hanya menggenggam tangannya—tidak lebih. Nayla juga mengatakan alasan apa yang membuatnya tidak mengadakan pesta pernikahan pada umunya. Karena ia tidak menyukainya, memang sudah keinginannya sejak dulu ... menikah dengan sederhana.
Lagi juga, ia dipertemukan dan berjodoh dengan seorang pria berkewarganegaraan India—dan ternyata suaminya itu bukan orang biasa, bukan hanya menjual saffron, tapi juga seorang pebisnis. Ia tidak ingin orang lain tahu tentang siapa sebenarnya sosok Fahad. Ya, ia mengatakan kepada Sari dan Doni bahwa suaminya adalah penjual saffron biasa.
“Tapi, Nay, biasanya orang India dan para tetangganya itu kan mesum.” Sari kembali bersuara.
“Sari!” seru Doni. Belum sempat ia menjambak rambut Sari, Nayla sudah lebih dulu menjambaknya.
“Ya ampun, bisa rontok semua rambutku!”
“Mulut daritadi ngejeplak terus! Jangan bawa nama negara, tapi orangnya itu sendiri,” sungut Nayla. “Jangan menjudge semua pria India kayak gitu. Kepala mereka beda, pemikiran mereka pun juga beda, Sar,” tutur Nayla.
“Iya, tapi kebanyakan gitu.” Sari menimpali.
“Kebanyakan bukan berarti semua, buktinya Fahad nggak pernah mesum sama aku. Dia bisa jaga kehormatan aku, dia menghargai apa yang aku jaga selama ini. Lagipula cowok Indonesia nggak ada yang mesum apa? Di semua negara juga ada, tapi balik lagi kalau nggak semuanya mesum.”
Sari mengangguk, ia melirik ke arah Doni yang berdiri di sampingnya. “Ngapain lihat aku kayak gitu?” selidik Doni.
“Enggak. Tapi benar apa yang Nayla bilang tadi, kalau di Indonesia juga ada cowok mesum. Contohnya—”
Ryan datang, “ada apa ini? Kenapa pada ngumpul di sini?”
“Ini, contohnya Doni salah satu cowok mesum yang Indonesia punya.” Sari menepuk bahu Doni.
“Ngaco!” Kesal Doni.
Ryan menyapa Nayla—menanyakan kabar setelah tiga hari ia tak bertemu dengan temannya tersebut. Ia melihat kedua tangan Nayla, “itu mehendi, kan? Cantik banget,” ucap Ryan.
“Yang cantik mehendinya apa orangnya?” celetuk Doni, membuat tiga orang yang berada di hadapannya yang menatap dirinya penuh tanda tanya. Duh! Keceplosan!
“Oh, iya, Nay.” Ryan mencoba mengalihkan suasana. “Katanya kamu sakit, udah sembuh beneran apa belum? Kok, udah masuk kerja.”
Sari menyahut, “Nayla nggak sakit, dia nikah dan nggak ngundang kita semua.”
“Hah?!” terkejut Ryan. Ia kembali memastikannya kepada Nayla. Dan, ya ... benar saja. Gadis berhijab itu sudah menikah tiga hari yang lalu.
Hening. Tak ada yang bergerak ataupun bersuara. Waktu seolah terhenti. Manik mata milik Ryan dan Nayla terkunci cukup lama, sampai suara Pak Manager mengejutkan mereka—menegur para karyawannya agar segera bekerja.
Ryan berlalu pergi lebih dulu tanpa berkata sepatah katapun. “Dia kenapa?” tanya Sari yang melihat Ryan semakin jauh dari pandangannya.
“Patah hati, dia kan suka sama Nayla.” Kata Doni.
“Serius? Sejak kapan?” Sari menggoyang-goyangkan lengan Doni, meminta penjelasan.
Keceplosan lagi. Dasar Doni! Ia merutuki kebodohannya sendiri. Memilih pergi meninggalkan dua wanita yang menatap heran kepadanya, Doni tak mempedulikan Sari yang memanggilnya. Pun dengan Nayla, ia pergi ke arah lain ... meninggalkan Sari dengan beribu-ribu pertanyaan di pikirannya.
***
__ADS_1