
Menghabiskan waktu bersama, duduk di teras sembari memainkan gitar dan menyanyikan lagu. Suara Fahad terdengar merdu ketika menyanyikan lagu hindi favoritnya. Andi sibuk dengan komputer lipat miliknya, entah apa yang sedang ia kerjakan. Ikut menyanyi, rasanya ia tidak akan bisa ... sebab ia memang tidak mengetahui lagu tersebut.
Nayla menghampiri keduanya sembari membawa nampan yang terdapat kopi dan camilan untuk Andi dan juga Fahad.
“Nyanyi lagu apa?” tanya Nayla yang menyuguhkan secangkir kopi untuk Fahad.
“Judulnya Galliyan,” jawab Fahad.
***
[¹]
Yahin doobe din mere
Yahin hote hai savere
Yahin marna aur jeena
Yahin mandir aur madeena
Teri galliyan, galliyan teri galliyan
Mujhko bhaave galliyan teri galliyan
Teri galliyan, galliyan teri galliyan
Yun hi tadpaave galliyan teri galliyan
Tu meri neendon mein sota hai
Tu mere ashqoon mein rota hai
Sarghosi si hai khayalon mein
Tu na ho phir bhi tu hota hai
Hai sila tu meredard ka
Mere dil ki duuayein hai
Teri galliyan, galliyan teri galliyan
Mujhko bhaave galliyan teri galliyan
Teri galliyan, galliyan teri galliyan
Yun hi tadpaave galliyan teri galliyan
***
“Nasib!” seru Andi sesudah Fahad selesai menyanyi. “Nggak ada gandengan, bisanya cuma lihat kemesraan orang,” imbuhnya.
Nayla tertawa mendengar keluhan Andi, “lagian siapa yang mesra-mesraan? Dia cuma nyanyi, nggak ngapa-ngapain.”
Andi berdecak kesal, “ya, itu juga romantis. Apa yang namanya romantis itu identik sama yang pelukan, ciuman, dan—”
“Apa?” tukas Nayla.
“Bukan apa-apa!” seru Andi sembari yang menahan tawanya.
***
Sepulang dari masjid, menunaikan salat Jumat—Andi dan Fahad berpamitan kepada Nayla bahwa mereka akan keluar sebentar. Keduanya kompak tidak mengatakan kemana tujuan mereka.
“Kita cuma ke depan, Sayang, nggak lama.”
Begitulah kata Fahad. Nayla pun tak lagi bertanya, ia kembali masuk ke rumah begitu Andi dan Fahad semakin jauh dari pandangan.
Sibuk membersihkan rumah, Nayla di kejutkan dengan kedatangan Fahad yang mengendarai motor sport berwarna hitam yang entah milik siapa. Nayla menatap Andi dan Fahad bergantian, berbagai pertanyaan ingin sekali ia lontarkan kepada keduanya.
“Fahad, itu motor—”
“Motorku,” tukas Fahad yang baru saja turun dari motornya.
“Motormu?” Nayla bertanya.
“Iya. Masa motor tetangga aku bawa.”
“Andi, kenapa kamu biarin Fahad beli motor? Kalau tetangga lihat kan nggak enak.”
__ADS_1
Fahad menghampiri Nayla yang masih berdiri di tengah pintu masuk, ia menuntunnya untuk masuk lalu duduk di sofa. “Kenapa jadi marah sama Andi? Aku yang mau beli motor, bukan salah Andi kalau aku beli.”
“Iya, tapi Andi kan yang kasih tahu dealer motornya? Ya, itu salah dia!” seru Nayla dengan sorot mata tajam yang ia tujukan pada Andi.
“Eh? Kenapa jadi Andi yang salah? Andi cuma nganter, Mbak, kan dia yang keluar duit.” Andi membela diri.
Nayla merasa tidak enak, memang motor itu dibeli dengan uang Fahad sendiri. Tapi bagaimana dengan tetangga yang sudah pasti akan menggunjing mereka. Sudah beberapa kali tetangga melihat Fahad yang keluar masuk rumahnya, dan sekarang kekasihnya itu membeli motor sport dengan harga yang sudah pasti tidak murah.
Terlebih, sudah tidak ada peran orangtua di rumahnya, itu menjadi nilai lebih bagi para tetangga menggunjing dan menanyakan kehadiran Fahad. Nayla tidak pernah mengijinkan Fahad masuk ke dalam rumah jika Andi tidak ada, dan Fahad mengerti itu—betapa pentingnya menjaga kehormatan seorang wanita.
“Besok kamu itu pulang, Fahad, jadi ngapain harus beli motor? Kamu juga stay di India, nggak di sini,” kata Nayla.
“Kamu ini!” Fahad menarik gemas hidung Nayla, membuat kekasihnya itu meringis kesakitan. “Nanti biar dipakai Andi kuliah, jadi kamu bisa pakai motor Andi kalau berangkat kerja. Aku nggak mau kamu naik ojek terus, diboncengin cowok lain.”
“Ya, tapi kan—”
“Diam atau aku cium?!” kata Fahad yang membut Andi tertawa mendengarnya. Lain halnya dengan Nayla, ia justru merengut kesal pada Fahad.
***
Fahad dan Nayla sudah berada di bandara. Mereka duduk di ruang tunggu, dua cup kopi panas menemani pagi yang cukup dingin itu. Fahad berpesan agar besok Nayla segera mengurus syarat-syarat untuk menikah, begitupun dengannya.
Mengingat mereka yang berbeda negara, sudah pasti itu akan memakan waktu yang cukup lama tentunya. Nayla mengangguk, mengiyani ucapan Fahad. Besok ia masuk kerja dengan jadwal sift siang, dan paginya ia masih bisa mengurus persyaratan menikah.
Fahad menyentuh lembut pipi Nayla sebelum pergi, “i love you.”
Nayla tersenyum simpul, walaupun jauh di lubuk hatinya ia sangat berat harus kembali berpisah dari Fahad. Hanya sementara, sampai semua syarat menikah selesai mereka urus.
“Jaga kesehatan. Nanti kabarin aku kalau kamu udah sampai, salam juga buat Ammi dan lainnya,” kata Nayla yang dijawab anggukan kepala oleh Fahad.
Lambaian tangan keduanya saling bertemu, senyuman hangat serta sorot mata penuh cinta sangat tergambar jelas dari dua insan yang sebentar lagi akan menyatu di dalam sebuah mahligai rumah tangga.
Begitu tubuh Fahad semakin jauh dari pandangan, Nayla memutuskan untuk segera pulang ke rumah dengan menggunakan jasa taksi.
Begitu sampai di rumah, Nayla melempar tas selempang miliknya ke arah Andi yang tengah bersantai di ruang tv.
“Mbak!” seru Andi. “Kira-kira dong kalau mau ngelempar sesuatu, duit kan bisa.”
Nayla memberengut kesal, ia menyusul Andi duduk di lantai beralaskan karpet—lalu mencubit lengan sang adik dengan cukup keras.
“Mbak nggak enak sama Fahad, Andi,” keluhnya. “Apa kata orang juga kalau ada motor itu di sini? Pasti mereka pada ngegosip yang enggak-enggak.”
“Andi udah ngelarang Fahad, Mbak. Andi bilang kalau dia bisa pakai motor Andi kalau kemana-mana, dan sama yang kayak, Mbak, bilang tadi kalau nggak enak sama tetangga.”
“Tapi Fahad bilang kalau dia beli motor itu emang karena butuh, bukan gaya-gaya atau pamer. Dia bilang ribet kalau pakai taksi, enak naik motor sendiri katanya,” tutur Andi. “Dia di India nggak punya motor, Ammi nggak kasih ijin buat beli. Makanya dia beli di sini.” Imbuhnya.
Nayla mengalah, toh motor itu juga sudah terlanjur dibeli. Mengedepankan rasa tidak enak pada tetangga tidak akan menjamin hubungannya dengan Fahad akan baik-baik saja atau justru membuatnya akan semakin memburuk.
***
Pagi ini Nayla berencana pergi untuk mengurus surat dan syarat-syarat untuk menikah. Setelah sebelumnya ia sudah mengabari Mas Arif dan yang lainnya—sebab kesibukan masing-masing, Nayla pun harus pergi seorang diri mengurus semuanya.
Andi tengah bersiap berangkat kuliah dengan menggunakan motor Fahad. Ia berpesan kepada kakaknya agar berhati-hati saat berkendara, mengingat Nayla yang memang jarang sekali mengendarai motor seorang diri. Kemanapun, ia akan selalu mengantar—atau terkadang Nayla akan menggunakan jasa ojek online.
Waktu setengah hari untuk mengurus segala persyaratan menikah, sudah pasti tidak akan cukup. Ia harus kembali melanjutkannya esok hari. Tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu, Nayla menuju ke tempat kerja karena memang ia mendapat jadwal sift siang.
Berbagai pertanyaan ia terima dari teman-teman, terutama Sari yang tidak memberi kesempatan kepada Nayla untuk menjawab satu persatu pertanyaan yang ia lontarkan.
“Aku dari tempat saudara, ada hajatan di sana. Makanya aku cuti. Udah? Jelas?” singkat, padat, jelas. Begitulah jawaban Nayla.
Bukan Sari namanya jika ia langsung mempercayai jawaban Nayla. Berbeda dengan Ryan, pria itu tak menunjukkan ekspresi apapun ... juga tak ada pertanyaan yang berarti, yang ia tujukan untuk Nayla. Ryan hanya menanyakan kabarnya saja.
“Sari, aku jawab pertanyaan kamu nanti, ya? Sekarang aku mau kerja, Pak Manager lagi lihat ke arah kita.”
Sari mengikuti arah mata Nayla, memang benar ... Pak Manager tengah memandang ke arah mereka. Seulas senyuman ia selipkan kepada pria yang berpakaian santai itu, Pak Manager.
Sari menyusul Nayla, dan Ryan hanya bisa memandang keduanya sembari menghela napas dengan berat. “Susah banget dapetin kamu.” Gumamnya.
***
Dua bulan kemudian ...
Nayla mengetuk pintu ruang kerja Pak Manager sesaat sebelum ia pulang. Duduk di sofa, berhadapan dengan atasannya dan hanya ada meja sebagai pembatas diantara keduanya. Nayla hendak menyampaikan sesuatu, lebih tepatnya meminta izin untuk cuti.
“Kamu udah cuti seminggu, Nay, sekarang ada acara apa kamu mau ambil cuti lagi?” tanya Pak Manager dengan nada suara yang terdengar seperti meledek. Ya, itu yang Nayla tangkap. Pun dengan ekspresi wajah yang semakin memperjelas bahwa ia sedang diledek.
Percuma bohong, kayaknya Pak Manager tahu aku mau ngapain minta izin cuti lagi.
Nayla membatin, ia pun memilih berkata jujur. “Begini, Pak, hari Kamis Minggu depan nanti saya mau—”
__ADS_1
“Nikah!”
“Eh?”
Pak Manager yang bernama Prasetya itu tersenyum simpul, “saya pernah muda, Nay, jadi saya tahu bagaimana rasanya jatuh cinta dan menikah.”
Masih muda, mempunyai seorang putra yang masih berusia dua tahun. Sudah pasti Pak Prasetya bisa mengerti apa itu cinta dan menikah, karena ia memang sudah berpengalaman.
“Setua apa, Pak?” gumam Nayla lirih sembari melempar pandangannya ke sembarang arah.
“Ya, nggak tua-tua bangetlah, Nay. Masih beranak satu ini,” sahut Pak Prasetya.
“Eh, Bapak denger, ya?” celetuk Nayla. “Maaf, Pak.”
Begitulah, antara karyawan dan atasan di tempat kerja Nayla memang sudah biasa saling bersenda gurau. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada atasan, para karyawan merasa nyaman saat bercanda karena memang Pak Prasetya adalah orang yang cukup ramah—dan tidak semena-mena ataupun sombong atas apa yang ia miliki.
Izin cuti Nayla dapat. Namun tak seperti sebelumnya dimana ia mendapat ijin selama satu Minggu. “Kamu tahu sendiri kan, Nay? Peraturan izin di sini nggak bisa lebih dari tiga hari. Kemarin saya kasih izin satu Minggu karena kamu memang jarang ambil cuti, kamu sakit aja juga izin satu hari, paling lama cuma dua hari.”
Nayla mengerti, dan itupun dirasa sudah cukup. Ia akan menjelaskannya nanti kepada Fahad yang memang sudah datang dari tiga hari yang lalu.
“Saya nggak mau kalau karyawan lain nanti merasa iri atau saya pilih kasih sama kamu, jadi saya cuma kasih izin cuti tiga hari. Saya harap kamu mengerti, Nay,” kata Pak Prasetya.
Nayla mengangguk, “iya, Pak, saya yang berterima kasih sama, Bapak, udah kasih saya izin cuti lagi.”
“Setelah saya menikah, saya masih boleh kerja di sini kan, Pak?” tanya Nayla.
“Tentu, Nay, malah saya kira kamu mau berhenti kerja dan ikut suami kamu.”
***
[Footnote]
[¹]
Di sinilah hariku akan berakhir
Di sinilah pagiku akan dimulai
Di sinilah aku hidup dan mati
Di sinilah tempat suciku
Di jalanmu, kuberjalan di jalanmu
Berada di jalanmu membuatku bahagia
Di jalanmu, kuberjalan di jalanmu
Berada di jalanmu membuatku menderita
Kau bermimpi dalam tidurku
Kau berada dalam air mataku
Seperti ada yang berbisik dalam khayalanku
Bahkan ketika kau tak di sini
Kau serasa hadir entah bagaimana caranya
Kau adalah anugerah dibalik rasa sakitku
Ini adalah doa tulus dari hatiku
Di jalanmu, kuberjalan di jalanmu
Berada di jalanmu membuatku menderita
Music : Ankit Tiwari
Singer : Ankit Tiwari
Lyrics : Manoj Muntashir
Label : T-Series
Movie : Ek Villain (2014)
Translate : Aisha/Nizam (Nizam Lamongan)
__ADS_1