Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 61


__ADS_3

Nayla tepiskan sebuah senyuman yang seketika menenangkan hati Fahad. “Iya, nggak apa. Kan, aku baru sehari di sini. Besok-besok kalau kamu lupa lagi, aku nggak jamin kalau nggak marah.”


Mencubit gemas pipi sang istri lalu menciumnya, “siap ... besok-besok kalau aku lupa, kamu bisa usir aku dari kamar.”


“Iya, sana mandi.” Mendorong tubuh suaminya untuk segera masuk ke kamar mandi.


Keluar apartemen dengan saling bergandengan tangan, Fahad terlihat tampan dengan kaos putih santai yang dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam. “Nunduk, jangan lihat kesana kemari.” Fahad berujar.


Nayla menengok, ia sedikit mengangkat wajahnya karena memang Fahad lebih tinggi darinya. “Kenapa?” Nayla bertanya dengan polosnya.


“Jangan tanya, pokoknya jangan lihat kesana kemari.”


“Tau gitu aku tadi pakai kacamata kuda aja!” kesal Nayla.


Fahad terkekeh mendengarnya, ia gigit punggung tangan istrinya dengan gemas—yang seketika ia mendapatkan cubitan di perutnya dari Nayla.


Masih di dalam lift, keduanya tak henti berbicara. “Lagian, kenapa kamu dandan kayak gini, sih? Kayak mahasiswi aja.” Fahad mengeluh.


Nayla melihat dirinya sendiri, ia berputar ke kanan dan ke kiri. Merasa bingung akan ucapan sang suami yang Mengatakan ia terlihat seperti seorang mahasiswi.


“Kayak mahasiswi gimana, sih? Perasaan biasa aja.” Nayla berujar. “Aku juga nggak dandan yang berlebihan. Aku cuma pakai bedak, eyeliner, sama, lipstick doang. Kamu jangan ngada-ngada, ya!” sambungnya.


“Orang-orang jadi lihat kamu terus, aku nggak—”


“Aku balik aja ke atas.” Nayla hendak menekan tombol lift, namun Fahad dengan cepat menarik pergelangan tangan istrinya. “Apa aku harus pakai daster doang? Kamu berlebihan, Fahad!” ia berseru kesal.


“Kamu ngajak berantem?” Fahad bertanya.


“Eh? Aku apa kamu yang ngajak berantem?” Nayla balik bertanya, matanya menyorot tajam pada Fahad.


“Oke-oke, maaf, aku yang salah.”


Permintaan maaf yang tidak tulus, Nayla tau itu. Tidak ingin berdebat lebih jauh lagi, Nayla memilih tidak menanggapi Fahad. Kedua tangannya ia lipat di atas perut, ia sama sekali tidak menoleh sedikitpun untuk melihat suaminya.


Lift terbuka, Nayla melangkah keluar lebih dulu. Ia berjalan dengan cepat, meninggalkan Fahad yang sejak tadi terus saja tersenyum.


Bagaimana mungkin Fahad tidak tersenyum melihat istrinya yang tengah merajuk. Menggemaskan. Istrinya itu sangat menggemaskan.

__ADS_1


Mereka sudah di parkiran, Nayla menyadari bahwa ponselnya tertinggal di meja rias kamarnya. Nayla meminta Fahad menunggu di mobil, sementara ia akan kembali ke apartemen seorang diri.


Nayla berlari begitu ia melihat pintu lift akan tertutup, “stop, please!” Nayla berseru. Beruntung, seseorang di dalam lift mendengar, ia mengulurnya tangannya agar pintu itu kembali terbuka.


“Hi, siapa namamu?”


Nayla tertegun untuk sesaat, ia bertemu dengan pria tadi siang. “Oh, hi,”ia balas menyapa dengan ragu. Nayla menekan tombol lantai tujuh.


“Aku bertanya, siapa namamu?” pria itu bertanya.


“Nayla. Namaku Nayla.”


“Kamu sedang berlibur atau?”


“Ya, aku sedang berlibur,” jawab Nayla cepat. Kenapa lift ini lama sekali? Dan, tunggu? Kenapa pintu lift terbuka di lantai dua tapi dia tidak keluar? Ya Allah, Fahad ... Batin Nayla, ia merasa ketakutan seorang diri.


“Kamu berasal dari mana?” tanya pria itu lagi.


Dari rahim ibuku!


Tidak mungkin ia menjawab seperti itu, Nayla hanya membatin. “Aku dari Indonesia.”


***


“Sayang, bisa ambilkan aku kue yang kamu buat tadi?” Fahad meminta. Mereka sudah kembali ke apartemen satu jam yang lalu seusai makan malam di sebuah restauran chinnes.


“Ini sudah hampir tengah malam, Fahad, makan kuenya besok aja nggak apa, kok. Aku nggak marah.” Nayla menjelaskan. Saat di perjalanan ke restaurant tadi, Fahad sudah meminta maaf dan mengatakan bahwa ia hanya bercanda. Bahkan, Fahad juga sudah mendaratkan sebuah ciuman di pipi Nayla sesaat sebelum mereka keluar dari mobil, tadi.


“Bukan masalah itu, aku emang mau nyoba kue buatan kamu. Setau aku kamu nggak pernah bikin kue, jadi aku mau nyoba.”


“Kamu nggak takut gendut?” Nayla bertanya. Ia mendaratkan tubuhnya di samping suaminya, duduk bersama di sofa ruang tv.


“Enggak, sesekali nggak apa, kan? Ambilin kuenya, tapi sebelum itu ... ganti baju kamu pakai pijama, jangan pakai daster kayak gini, takut aku khilaf.” Fahad menarik ujung daster tanpa lengan Nayla.


Nayla tertawa, ia beranjak berdiri kaku masuk kamar. Mengganti dasternya dengan pijama seperti permintaan suaminya.


Takut. Fahad takut ia lupa diri ketika migat istrinya memakai baju minim bahan. Ya, Nayla belum selesai nifas. Sudah sebulan, tapi Fahad merasa kalau masa nifas Nayla sudah lebih dari dua bulan. Lama, baginya.

__ADS_1


Datang dengan dua cup kue di atas piring, Nayla dan Fahad memakan kue itu bersama dengan ditemani kopi hitam—untuk Fahad dan air putih untuk Nayla sendiri.


Menikmati kue tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Fahad. Mengatakan enak, tidak. Mengatakan tidak enak, pun tidak. Nayla merasa bahwa kue buatannya lumayan enak. Bisa dimakan.


Melirik sekilas, Nayla memperhatikan suaminya yang asik dengan kue miliknya. Bahkan, Fahad meminta diambilkan kue lagi, tapi tetap saja tidak ada pujian atau hinaan dari suaminya itu.


“Enak nggak, sih? Kuenya.” Nayla bertanya.


“Coba kamu hitung cup kosong itu, ada berapa?”


Nayla Menjawab, ada empat cupcake yang sudah dihabiskan suaminya itu.


“Ya, berarti kue buatan kamu itu enak, Sayang. Kalau nggak enak, nggak mungkin malam-malam gini aku makan habis empat cup. Besok bikin lagi, ya?” pinta Fahad sembari menghabiskan kue terakhir di tangannya.


Fahad mengatakan bahwa besok Sahil dan istrinya, Sanju, akan datang ke apartemen mereka. Nayla mengangguk, ia mengiyani permintaan suaminya.


***


“Kamu mau saya pecat?!” gertak Fahad pada Anand. Salah satu karyawannya.


Anand yang menunduk itupun menggelengkan kepalanya. “Ya, nggak mau, Pak.


“Oke, langsung ke intinya saja. Kamu tau, kan? Perusahaan kita sedang menyiapkan kontrak kerjasama dengan perusahaan Malaysia, dan ini pertama kalinya kita bekerjasama dengan perusahaan luar negeri. Saya sudah bilang jauh-jauh hari, kan, sama kamu?”


“Maaf, Pak, sebenarnya semua berkas untuk kontrak seharusnya sudah siap dari dua hari yang lalu, tapi ibu saya datang mengunjungi, jadi saya—”


“Sudahlah,” tukas Fahad. “Saya mau kamu selesaikan semuanya hari ini.”


“Baik, Pak.” Pasrah Anand. Ia masih ingin bekerja di Fahad Industries, sebisa mungkin ia harus menyelesaikan hari ini sebelum jam pulang kerja.


“Sahil masih ada di pabrik, segera temui Sahil kalau dia sudah kembali. Bicarakan dengan dia perihal kontrak ini.”


Anand mengiyani, ia permisi keluar agar bisa menyelesaikan berkas kontrak yang dibutuhkan atasannya itu. Menutup pintu, berjalan sedikit lebih jauh dari ruangan Fahad. Anand tak henti mengumpat bosnya.


Ya, memang seperti itu. Anand sering kali dimarahi oleh Fahad, tapi tak sedikitpun ada niatan di hati Anand untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Ia merasa, Fahad adalah seorang bos baik—meskipun Fahad terkenal mudah marah akan berbagai hal.


Fahad selalu memberi uang tunjangan kepada karyawannya yang beragama Hindu ketika hari raya Diwali, Navrati atau juga disebut dussera, hari raya holi, raksabandha, dan hari besar umat Hindu lainnya. Fahad selalu mengatakan kepada seluruh karyawan betapa pentingnya sebuah toleransi. Fahad tidak membedakan karyawan, semua sama di matanya. Itulah salah satu alasan Anand tetap bertahan dan setia.

__ADS_1


Sama halnya dengan Anand, Fahad tidak pernah berniat memecat Anand. Sejak pertama perusahaannya berdiri, Anand sudah bekerja dengan setia hingga detik ini. Kinerjanya cukup bagus, oleh sebab itu Fahad tidak pernah ingin memecatnya.


***


__ADS_2