
Fajar sudah tiba, suara Adzan yang merdu membangunkan Nayla. Sebuah notifikasi pesan—yang tak lain ialah pesan dari Fahad—membuat Nayla mengambil benda pipih miliknya yang tergelatak sembarangan di atas kasur.
“Sayang, hari ini aku antar kamu lagi.”
“Subuh-subuh udah WA aja, bangun jam berapa dia?” gumam Nayla.
“Nggak usah,” balas Nayla.
Fahad tak membalas, ia lebih memilih menelpon Nayla.
“Sayang, selama aku di Indonesia, aku bakal antar dan jemput kamu kerja,” kata Fahad.
“Aku—” belum Nayla menyelesaikan kalimatnya, Fahad memutus panggilannya secara sepihak.
“Dasar menyebalkan!” kesal Nayla sembari menatap layar ponselnya.
***
“Mbak, maaf, semalem aku ketiduran,” ucap Andi yang baru saja keluar kamar, seusai menunaikan ibadah salat subuh.
“Lain kali ponsel jangan di silent!” seru Nayla.
“Iya, Mbak, namanya juga lupa. Oh, iya. Mbak, semalem pulang naik apa?” tanya Andi yang membuat Nayla terkejut.
“Ehm, itu ... Mbak naik ... ojek,” bohong Nayla.
“Masa jam segitu masih ada ojek, Mbak?” selidik Andi.
Nayla menatap lekat kedua manik mata Andi, ingin sekali ia menceritakan tentang Fahad, pria India yang datang menemuinya. Tetapi, Nayla merasa bahwa saat ini belum saatnya Andi dan keluarganya yang lain mengetahui tentang sosok Fahad. Nayla merasa itu terlalu cepat, ia saja masih merasa ragu, lalu untuk apa mengatakan kepada keluarga, pikir Nayla.
Kedua mata Andi juga menatap lurus kedua mata Nayla, kedekatan di antara mereka sungguh sulit jika salah satu dari mereka ada yang menyembunyikan sesuatu. Sudah pasti, tanpa berbicara—hanya dari sorot mata dan sikap saja, mereka berdua sudah cukup tahu apa yang tengah menganggu pikiran satu sama lain.
“Mbak, ada apa?” tanya Andi dengan suara terendahnya.
Nayla menggeleng, ia mengalihkan pandangannya dan kembali sibuk dengan peralatan dapur—memasak sarapan dan menyeduh secangkir kopi untuk adiknya.
__ADS_1
“Mbak, itu percuma nyembunyiin sesuatu, Andi bisa tahu cari sendiri kalau, Mbak, nggak mau jawab,” kata Andi. “Ngomong aja, Mbak. Apa yang ganggu pikiran, Mbak?” tanya Andi lagi.
Nayla mematikan kompor, menuang air yang baru mendidih itu ke dalam cangkir kopi. “Andi, kalau misalnya Mbak nikah, gimana?” tanya Nayla sembari menyuguhkan kopi yang sudah ia aduk tersebut kepada adiknya.
“Sama siapa, Mbak? Aku kenal orangnya nggak? Emang udah berapa lama, Mbak, pacaran sama dia? Anak mana? Dia baik nggak?” cerca Andi antusias.
“Bisa satu-satu nggak? Nanyanya.”
Andi tersenyum, “maaf, Mbak. Ya, udah buruan jawab.”
“Namanya Fahad, dia dari India, dan sekarang dia ada di Indonesia, semalem dia yang jemput Mbak,” tutur Nayla dengan lembut.
“Hah? Orang India?” terkejut Andi. “Mbak, serius? Kok bisa, Mbak? Kenal di mana ?” lagi, Andi mencerca Nayla, ia sungguh merasa terkejut serta penasaran oleh ucapan Nayla tersebut tentang pria India tersebut.
“Kenal di Facebook. Mbak takut, Andi, dia itu orang kaya dan berpendidikan, sedangkan Mbak ini apa? nggak punya gelar, jelek lagi, pokoknya Mbak ini nggak selevel sama dia.” Nayla kembali merasa pesimis. “Kemarin Mbak di kasih tunjuk video dari keluarganya, mereka jelas-jelas nyebut nama Mbak. Nayla Anjani. Bahkan Fahad juga nunjukin dokumen cerainya,” tutur Nayla.
“Oh, jadi dia duda?” tanya Andi yang di jawab anggukan kepala oleh Nayla.
“Mbak, sini duduk dulu.” Andi menarik satu tangan Nayla, menuntunnya untuk duduk di sampingnya—di kursi meja makan sederhana yang juga berada satu ruangan dengan dapur.
“Tapi kamu—”
“Mbak,” tukas Andi. Ia menggenggam erat jari jemari Nayla. “Andi udah gede. InsyaAllah, Andi bisa jaga diri dan jaga kepercayaan, Mbak. Kakak-kakak Andi yang lain rumahnya juga nggak terlalu jauh. Andi nggak bakal kesepian. Emang, Mbak, mau nemenin Andi terus sampai tua? Mbak, juga harus nikah suatu saat nanti, kasih Andi keponakan yang banyak,” penuturan Andi yang di iringi senyuman teduhnya, membuat hati Nayla tenang.
“Iya, nanti Mbak juga mau ngomong sama Mas Arif,” kata Nayla.
“Mbak, bisa bahasa Inggris?” tanya Andi yang meragukan Nayla.
“Bisa-lah. Mbak dulu pas masih sekolah nilai bahasa Inggris Mbak paling bagus dari pada murid yang lain. Itu juga salah satu pelajaran favorit.” Nayla membanggakan dirinya.
“Hemm.” Andi mengangguk-anggukan kepalanya. “Terus hari ini dia jemput lagi?” tanya Andi
“Katanya, Iya,” jawab Nayla malas.
“Yah ... Andi jam tujuh udah harus berangkat kuliah, nggak sempet ketemu, dong.”
__ADS_1
“Lain kali bisa. Udah sana motormu di lap, kotor banget. Mbak mau siapin sarapan.”
“Mbak, dia nganter kerja pakai apa?” penasaran Andi.
“Motor, dia nyewa,” jawab Nayla.
“Oh.” Andi membulatkan bibirnya. “Niat banget dia,” gumam Andi lirih seraya berjalan ke arah teras rumahnya.
***
Setelah Andi berangkat kuliah, Nayla pun bersiap-siap berangkat kerja. Ia masih berdiri di depan cermin lemarinya, melihat penampilannya—yang ia rasa belum rapi. Tak lama, terdengar suara klakson motor Fahad—motor sewa.
Nayla berjalan keluar, ia mengunci pintu rumah. Berjalan mendekat pada Fahad seraya menepiskan senyumnya.
“Assalamu'alaikum, Sayang.”
“Wa'alaikumsalam,” jawab Nayla.
“Aku seneng, kamu nggak marah lagi aku panggil sayang.”
“Eh, lupa. Jangan manggil aku sayang!” seru Nayla sembari mencubit lengan Fahad.
Fahad meringis, menikmati cubitan Nayla. Sakit memang, tapi ada kenikmatan tersendiri saat Nayla mencubitnya.
“Ayo,” ajak Fahad agar Nayla segera naik ke motor.
“Iya.”
Sepanjang perjalanan, Nayla memegang erat ujung jaket Fahad. Cuaca pagi itu sudah mendung, sehingga memaksa Fahad mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan tinggi, takut jika hujan segera turun.
Saat sampai di depan restaurant, Fahad melihat Nayla yang berjalan masuk dan tersenyum arahnya, setelah sebelumnya Nayla berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Nayla juga melambaikan tangan. Jika boleh melarang, Fahad ingin sekali melarang Nayla bekerja.
Semalam saja, Nayla pulang pukul sebelas malam, dan pagi ini ia sudah harus bekerja lagi. Ya, tentu Fahad tidak bisa melarang Nayla berhenti bekerja, karena ia belum menjadi suaminya.
Fahad bergegas kembali ke hotel, memulai bekerja kembali dengan komputer lipatnya.
__ADS_1
***