
Ketukan pintu terdengar. Hannah datang dengan nampan yang terdapat dua cangkir teh di atasnya. Hannah mengatakan, bahwa Fahad terbiasa meminum teh setelah ia pulang bekerja.
Nayla mengangguk, ia menerima nampan tersebut lalu menaruhnya di atas meja sofa.
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Fahad keluar dengan hanya memakai celana santai panjang dan bertelanjang dada. Sontak Nayla menutup mata dengan kedua telapak tangannya, menangkup wajahnya sendiri.
“Bajumu di mana, Fahad?!” seru Nayla.
Fahad berjalan mendekat pada Nayla, lalu duduk di samping kekasihnya itu. “Aku udah pakai baju, kok,” kata Fahad sembari menyentuh ujung kepala Nayla.
“Bohong!” sanggah Nayla. Ia sama sekali tak memberi celah akan kedua matanya menikmati pemandangan yang seharusnya memang belum bisa ia nikmati sepenuhnya.
“Kok, tahu? Kamu ngintip, kan?” goda Fahad.
Nayla kesal, ia menghentakkan kakinya ke lantai. “Fahad, jangan bercanda, ini kita lagi berdua aja di kamar. Aku nggak mau kalau—”
“Kalau apa?” tukas Fahad.
Nayla menggeleng keras, “udah buruan pakai baju!”
Fahad tertawa gemas melihat Nayla. Ia tak bermaksud aneh-aneh ketika keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada, ya ... hanya sedikit menggoda Nayla saja. Ia pun beranjak berdiri, mengambil kaos putih polos di lemarinya.
“Udah. Buka matanya.” Fahad kembali duduk di samping Nayla.
“Benar? Udah?” Nayla memastikan. Setelah Fahad menyahuti, serta ia yang memang mempercayainya pun akhirnya menurunkan kedua tangannya. Membuka mata dengan perlahan. “Menyebalkan!”
“Bercanda, Sayang. Takut banget kamu?” tanya Fahad.
Nayla menggeleng, sebab ia sudah paham bahwa Fahad tidak akan berbuat hal di luar batas. “Bukan takut sama kamu, tapi takut sama fitnah orang.”
“Iya, iya.” Fahad menyentuh lembut ujung kepala Nayla.
Ditengah obrolan, Yumna datang dan mengetuk pintu. “Kakak,” panggilnya dengan suara lembut. Matanya menampakkan ketakutan tersendiri. Takut jika Fahad masih akan memarahinya.
“Apa aku boleh masuk?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Fahad, juga satu jarinya mengisyaratkan agar Yumna mendekat kepadanya.
__ADS_1
Yumna sudah berdiri di dekat kakaknya—masih menunduk ketakutan. “Maafkan aku, Kak, aku bersalah. Aku nggak tahu kalau, Kakak, belum cerita apapun sama kakak ipar. Aku—”
“Yumna!” tukas Fahad dengan tegas. Ia beranjak berdiri—tepat mengahadap Yumna. “Kamu tahu, kan? Kakak nggak suka ada ngomongin soal hari itu. Kamu tahu sendiri gimana kakak susah payah berusaha baik-baik saja.”
“Kakak.” Yumna berhambur memeluk Fahad, “maaf, aku minta maaf, Kak. Aku benar-benar nyesel. Jangan marah.”
“Yumna,” suara Fahad kini terdengar melunak. Tangannya membelai lembut rambut adiknya, juga membalas pelukan sang adik dengan hangat. “Kakak nggak marah, Yumna. Kakak cuma nggak suka kamu bahas masalah itu lagi.”
Nayla yang duduk di sofa, sedari tadi memperhatikan Fahad dan Yumna itu, di buat sedikit kesal akan ucapan Fahad. “Nggak marah? Nah, kemarin itu apa kalau bukan marah? Ketawa?” gumamnya dengan lirih. Namun sialnya, Fahad masih bisa mendengar gumaman itu.
Fahad mengurai pelukannya, kembali duduk di samping Nayla. “Kamu ngomong apa?”
“A—aku nggak ngomong apa-apa.” Nayla mengerjap, ia menjawab dengan terbata-bata.
“Kamu pikir aku nggak denger? Aku denger semua ucapan kamu!” nada suara Fahad kembali tegas.
Terjadi perdebatan kecil di antara mereka. Dan Yumna, hanya menjadi penonton saja. Bingung? Pasti. Tapi biarlah, ia menyunggingkan senyumnya—menikmati keributan sepasang kekasih ini.
***
Sesudah makan malam, Fahad mengantar Nayla kembali ke kamar atas. Belum sampai ke tujuan, Nayla berpikir untuk menanyakan tentang Aadil secara langsung kepada Fahad.
Jujur. Nayla merasa ia memang perlu menanyakan itu. Ia ingin mendengarnya langsung dari Fahad. Sesuai janjinya pada Yasmin, bahwa ia tidak akan memberitahu Fahad bahwa adik pertama kekasihnya itu sudah menceritakan semua kepadanya—tentang Aadil.
“Fahad, aku mau ngomong sebentar sama kamu.” Nayla mengajak Fahad untuk masuk, lalu duduk di sofa kamar.
Ia berjalan ke arah meja nakas, mengambil foto Aadil, lalu menyusul Fahad duduk di sofa. Fahad menghela napas panjang. Ya, ia berpikir bahwa memang sekarang saatnya untuk mengatakan semuanya kepada Nayla, calon istrinya.
Mengatakan kisah masa lalunya, kisah rumah tangganya. Fahad sangat sakit jika mengingat itu semua. Namun, Nayla memang berhak mengetahuinya. Ia tidak ingin menyembunyikan apapun.
“Maaf,” kata pertama yang keluar dari bibir Fahad. Ia mengambil alih foto Aadil dari tangan Nayla. “Maaf, Sayang, aku nggak pernah cerita soal anak aku,” imbuhnya.
Nayla menyentuh pundak Fahad, menepiskan senyum untuk kekasihnya itu. “Aku yang seharusnya minta maaf. Aku terlalu lancang ingin tahu masa lalu kamu.” Ucapnya dengan lembut.
Fahad yang tengah menunduk—menatap foto Aadil, menggeleng perlahan, “seharusnya aku cerita ini sama kamu. Tapi aku nggak siap, aku nggak siap buat ingat masa-masa itu. Masa di mana aku mati, hatiku mati, cintaku pun juga mati. Aku nggak tahu harus gimana lagi.”
__ADS_1
“Aadil pergi, dia pergi ninggalin aku. Aku nggak tahu harus gimana lagi. Aku marah sama ibunya Aadil, aku benci dia.” Fahad menahan emosinya. Sungguh, ia sangat merasa sesak mengingat ibu Aadil. “Aku benci dia. Aku nggak bisa maafin dia, karena dia Aadil pergi dari hidupku.”
Suara Fahad terdengar bergetar, kebenciannya tertanam dalam di lubuk hati. Mana mungkin ia bisa melupakan goresan luka dari cinta pertamanya. Cinta pertama yang melukis sejarah kelam dalam hidupnya.
Nayla melihat Fahad menitihkan air mata. Sudut hatinya merasa perih, ia dapat merasakan kepedihan hati Fahad selama ini. Pria itu sungguh menyayangi putranya ... putra yang sangat menggemaskan, putra yang sangat ia cintai. Kini, Fahad tak lagi dapat melihat tingkah menggemaskan Aadil, mendengar tawa bahagianya. Yang tersisa, hanya kepedihan atas apa yang terjadi pada putranya.
Fahad menghapus air matanya, mengahadap Nayla dengan seulas senyuman serta mata yang berbinar bahagia.
“Sekarang, aku nggak boleh sedih lagi. Ada kamu yang nyembuhin hati aku. Ada kamu yang selalu berhasil membantu aku melupakan masa-masa sulit itu,” ucap Fahad.
Nayla tersenyum, “bukan aku, ini semua udah menjadi jalan takdir kita. Selalu ada kebahagiaan di balik tangisan. Aku yakin, Aadil sekarang juga bahagia lihat kamu yang kembali seperti dulu. Kamu nggak boleh berlarut dalam kesedihan dan kebencian, Allah nggak suka itu.”
Fahad meletakkan foto Aadil di meja, ia meraih jari jemari Nayla—menggenggamnya dengan erat. “Iya, Aadil juga bahagia punya ibu sepeti kamu.”
“Kamu nggak merasa aku tipu, kan? Kamu nggak bakal ninggalin aku, kan?” cerca Fahad.
Nayla menggeleng, “masa lalu adalah hak setiap orang. Mau mengungkapkan atau tidak, itu hak pribadi. Aku nggak marah, itu masa lalu kamu, yang aku tahu, sekarang kamu udah baik-baik aja.”
“Kamu nggak bakal ninggalin aku, kan?” tanya Fahad lagi.
“Nggak ada alasan buat ninggalin kamu. Harusnya aku yang tanya kayak gitu. Kamu itu seorang Fahad Malik Khan dan aku cuma seorang Nayla Anjani. Kita berbeda, jatuh cinta sama kamu itu sal—”
“Aku cuma tanya, kamu bakal ninggalin aku atau enggak. Kenapa jawabnya kemana-mana? Makin jauh!” tukas Fahad yang merasa kesal Nayla kembali membahas perbedaan mereka.
“Ya, bukan gitu. Kan, emang kenyataannya seperti itu. Kamu dan aku ini—”
“Nayla!”
Jika nama itu sudah keluar dari bibir Fahad, itu tanda bahwa ia sudah mulai marah. Marah, jenuh akan pemikiran Nayla tentang perbedaan.
Nayla menunduk, takut akan sorot mata pria yang berada di hadapannya. “Jangan gitu, mata kamu nanti loncat, gimana?” lirih Nayla.
Tak tahan akan ucapan Nayla, Fahad pun tertawa sembari mencubit pipi kekasihnya itu dengan gemasnya. “Sekali lagi kamu bahas soal siapa kita, aku pastikan kamu pulang ke Indonesia udah bergelar Nyonya Fahad Malik Khan. Titik!”
Nayla mengangkat wajahnya, bibirnya mengerucut, pun dengan kedua alisnya saling bertaut. “Nggak lucu!”
__ADS_1
***