
Anand keluar ruang kerja Fahad, berbarengan dengan Nayla yang keluar dari kamar mandi. Fahad mengajak istrinya untuk makan siang di kantin kantor, sebelumnya mereka berdua menghampiri Sahil dan Sanju terlebih dahulu.
Fahad dan Sahil memang lebih sering makan siang di kantin kantor. Fahad ingin lebih dekat dengan para karyawannya, melihat mereka bersendagurau di jam istirahat.
Tidak ingin kalah dari Fahad yang selalu menggandeng tangan Nayla, ia pun menggandeng tangan Sanju. Tidak seperti biasanya. Sanju sampai di buat menganga melihat tingkah suaminya yang berubah lebih perhatian.
Nayla sedikit risih, begitu duduk di salah satu kursi kantin ... dirinya menjadi perhatian. Berkali-kali ia melemparkan pertanyaan kepada Fahad, apakah penampilannya buruk? Ataukah ada yang kurang?
“Nggak ada, Sayang, istriku ini selalu cantik dan ... muda!” ucapnya penuh penekanan. “Mereka pikir aku menikah dengan anak kecil, Sayang, makanya mereka lihatin terus,” imbuhnya dengan wajah yang sedikit kesal. Ungkapan Sahil yang mengatakan ia terlihat tua ketika bersanding dengan Nayla sangat mengganggunya hari ini. “Apa aku kelihatan tua banget, ya?” kini Fahad yang merasa tidak percaya diri.
Nayla tersenyum simpul, “kamu bukannya kelihatan tua, Sayang, cuma lebih dewasa aja.”
“Ya, sama aja kalau gitu.”
Sahil dan Sanju hanya menyimak, membiarkan pasangan di hadapan mereka berselisih tentang siapa yang tua dan siapa yang kecil.
Seusai makan siang, Sanju hendak mengajak Nayla untuk pulang, namun Fahad tidak mengizinkan istrinya itu pulang. Ia menahan Nayla agar tetap di kantor dan akan pulang bersama dengannya nanti. Nayla mencoba meminta izin pulang, tapi tetap saja suaminya itu tidak mengizinkan.
Mengajak Nayla untuk kembali ke ruang kerjanya. Fahad meminta Alina untuk membawakan beberapa potong buah dan minuman untuk istrinya.
Satu jam ... dua jam ... Nayla sudah merasa bosan. Ia meminta izin Fahad untuk menemui Yasmin, tapi suaminya itu tidak mengizinkan.
“Yasmin kalau ketemu kamu nanti pasti minta izin pulang lebih awal, ngajak kamu jalan. Terus aku ngapain, dong?”
“Ya, di sini aja. Bentar lagi, kan, juga waktunya pulang.”
“Nayla.”
Baiklah, Fahad sudah menyebut namanya. Suaminya sudah mulai marah. Nayla pun memilih diam, tidak lagi berkata satu kata patah pun. Untuk membunuh waktu, Nayla bertukar pesan dengan adiknya, Andi.
Nayla menanyakan kabar serta bagaimana kuliah dan pekerjaan Andi. Adiknya mengatakan, bahwa sampai saat ini ... ia masih bisa mengatur waktu antara kuliah dan pekerjaan. Namun, nanti jika sudah mulai skripsi, Andi tidak bisa berjanji akan selalu bisa membagi waktu dengan baik. Apapun yang Andi lakukan, Nayla pasti akan mendukung sepenuhnya.
Nayla yang berbaring di sofa itu menguap berkali-kali, Fahad melihatnya. “Kalau ngantuk, tidur dulu aja, Sayang.”
“Aku nggak ngantuk, kok.” Nayla menjawab.
__ADS_1
Belum sampai lima menit setelah menjawab pertanyaan suaminya, Nayla sudah terlelap tidur dengan ponsel yang tetap berada di genggaman tangannya, di atas perut. Fahad mendekat, ia mengambil alih ponsel Nayla dengan perlahan.
Kedua matanya memandang setiap inci wajah cantik istrinya. Senyum menghiasi bibir Fahad, “katanya nggak ngantuk, tapi sekarang udah tidur.” Mencium kening istrinya dengan perlahan.
***
Waktu menunjukkan pukul tiga sore, Fahad sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia berniat mengajak istrinya untuk pulang lebih awal. Sebelum membangunkan Nayla, Fahad lebih dulu pergi menemui Yasmin.
“Kakak ipar di sini? Kok, aku nggak tau?” tanyanya setelah Fahad mengatakan akan pulang bersama Nayla.
“Kamu ke mana aja? Kok, bisa nggak tau.”
“Daritadi aku di sini, makan siang juga di ruang kerja. Berarti aku ketinggalan gosip!” heboh Yasmin. “Aku mau ketemu kakak ipar dulu.”
“Yasmin!” Fahad menarik lengan adiknya, membuatnya kembali duduk di kursinya. “Kakak ipar kamu masih tidur, nanti di apartemen aja ketemunya.”
Yasmin memberengut kesal, ia berjanji berdiri lagi, namun Fahad kembali berhasil membuatnya untuk duduk. Yasmin tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah kakaknya.
.Fahad kembali ke ruangannya, ia berjongkok di samping sofa. “Sayang,” tangannya menyentuh lembut pipi Nayla. “Sayang, ayo kita pulang.”
Nayla hanya menggeliat tanpa membuka matanya. “Sayang, kamu mau jalan sendiri apa aku gendong sampai parkiran?”
“Ternyata mau digendong, oke.” Fahad mengangkat tubuh Nayla.
Istrinya memberontak ingin turun, “turunin, atau aku—”
“Iya-iya, turun.” Fahad tertawa, ia menurunkan tubuh Nayla di sofa. Istrinya meminta izin untuk membersihkan wajah terlebih dahulu. Setelah Nayla keluar, kini giliran Fahad yang ke toilet. Sembari menunggu suaminya, Nayla mendekati meja kerja Fahad. Matanya tertarik pada sebuah foto yang terbingkai rapi di sisi kanan meja Fahad. Foto tersebut ialah foto pernikahannya yang berlangsung di Indonesia.
Melihat itu, Nayla teringat saat pertama kali ia bertemu dengan Fahad. Tidak ada keramahan sama sekali darinya, bahkan ... ia mengusir Fahad agar kembali ke India. Lucu memang.
Tidak ada yang tau siapa jodoh kita di masa mendatang, mungkin dia yang sama sekali tidak terpikirkan, atau dia yang ternyata selama ini dekat namun tidak kita sadari.
Fahad keluar dari toilet, ia berjalan mendekat kepada Nayla. “Kemarin-kemarin sebelum pulang kerja, aku pasti nyimpan foto ini dulu di laci,” kata Fahad.
“Masa? Kenapa gitu?” tanya Nayla.
__ADS_1
“Ya, karena kamu yang masih malu mengakui aku sebagai suami kamu, makanya aku simpan itu. Sekarang, enggak, aku nggak bakal simpan lagi karena istriku ini udah nggak malu. Mau datang ke kantor lagi.”
“Bukan malu mengakui kamu sebagai suami, Fahad, tapi aku sendiri yang—”
Bibir Nayla tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi setelah Fahad menciumnya dengan tiba-tiba. Fahad mengakhiri ciumannya setelah Nayla mencubit perutnya dengan keras. “Sakit,” keluh Fahad dengan tangan yang menyentuh bagian perut yang dibutuhkan oleh istrinya.
“Makanya, tau tempat, dong! Jangan kayak pangeran novel yang bisa main di mana aja dan kapan aja.” Nayla berseru kesal.
Fahad yang tadinya meringis kesakitan pun dibuat tertawa akan sikap sang istri yang menurutnya menggemaskan. Ya, kekesalan Nayla sangat menggemaskan, baginya.
“Nayla?” Anand melihat Nayla sekilas saat akan memasuki lift, ia mengejarnya agar bisa memaafkan itu Nayla atau bukan.
Benar, Nayla yang baru saja masuk lift. Namun, betapa terkejutnya ia mendapati atasannya juga berada di dalam lift. Yang lebih membuatnya tidak habis pikir adalah, tangan Nayla yang tidak lepas dari genggaman tangan Fahad.
“Kamu?” Nayla.
“Iya.” Anand tersenyum kaku.
“Sayang, kamu kenal dia?” kini Fahad yang bertanya.
Nayla pun menjelaskan, bahwa Anand yang tinggal di lantai enam—yang beberapa hari lalu ia antarkan belanjaannya, adalah Anand yang berada di hadapannya ini.
“Oh, jadi kamu yang—”
“Fahad.” Nayla mencegah tubuh Fahad yang akan mendekati Anand. Dapat dipastikan, suaminya akan membuat perhitungan dengan Anand mengenai pergelangan tangannya yang disentuh oleh pria itu. Nayla memberi isyarat dengan gelengan kepala.
Jadi istri Pak Fahad itu Nayla?!
Ah, sial! Aku udah berani pegang tangannya, habislah aku, batin Anand. Ia merasa ketakutan, takut dipecat.
Lift berhenti di lobby, “permisi, Pak.” Anand keluar lebih dulu, ia melangkah ke mana saja. Asal lepas dari tatapan tajam atasannya itu. “Aku selamat!” lega sudah.
***
Tidak langsung pulang ke apartemen, Fahad mengarahkan mobilnya untuk pergi ke salah satu mall. Ia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya. Fahad menggulung lengan kemejanya sampai siku. Seperti biasa, tidak peduli di tempat umum ... Fahad akan tetap menggandeng tangan istrinya.
__ADS_1
“MasyaAllah, gandeng tangan istri itu memang nikmat banget.” Fahad berujar jemawa. Membuat Nayla tertawa dan semakin merapatkan gandengan tangan mereka. “Berkahnya banyak banget, ya, Sayang?” tanyanya yang dijawab senyuman dan anggukan kepala oleh Nayla.
***