
Lelah bermain lempar-lemparan salju, kini Fahad dan Nayla sudah berada di dalam gondola lagi. Mereka turun. Hanya ada mereka berdua, hingga Fahad lebih leluasa memeluk tubuh istrinya dari belakang. Untuk sejenak, Nayla lupa akan rasa kecewa di hatinya tatkala menghabiskan waktu bersama Fahad. Suaminya dengan bersemangat melemparkan bola salju kecil ke arahnya. Tak mau kalah, Nayla juga melempar bola salju tepat di punggung suaminya. Tawa Nayla pecah saat Fahad berusaha mengejar dan mendapatkan tubuhnya di dalam pelukan.
“Fahad, aku bisa minta sesuatu?” Nayla bertanya.
“Apa?” tanya Fahad tanpa mengurai pelukannya.
Tatapan mata Nayla lurus ke depan, “aku udah cukup lama di Kashmir, apa besok aku boleh balik ke Delhi?”
Fahad mengiyani, dengan syarat ... Nayla tidak boleh pergi ke mana-mana lagi, tidak boleh melanjutkan perjalannya ke Indonesia. “Tetap di sampingku, temani aku mempertahankan rumah tangga ini. Jangan sekalipun kamu berpikir pulang ke Indonesia.”
Nayla melepas pelukan Fahad, ia berbalik menghadap suaminya. “Jangan egois, Fahad, kita punya kehidupan masing-masing, kita nggak bisa terus bersama.”
Fahad menghela napas dalam-dalam. Memang benar, ia egois. Tidak ada pilihan sekian egois, hanya itu yang bisa ia lakukan. “Sayang, aku mohon tunggu sebentar. Sebentar lagi.”
Nayla menggeleng keras, “nggak ada harapan, Fahad. Kisah ini udah selesai, udah tamat, kita nggak—”
Fahad membungkam bibir Nayla dengan ciuman, ia tak tahan mendengar permintaan istrinya untuk pulang. Ia benamkan bibirnya dengan lembut, meksipun Nayla meronta ... ia tidak akan melepasnya begitu saja. Fahad dapat melihat air mata yang menetes di sudut mata Nayla, ia menyeka air mata tersebut dengan ibu jarinya. Tetap dengan ciuman lembutnya, Fahad mendekap tubuh sang istri lebih dalam lagi.
Nayla membuka matanya, gondola yang membawa mereka sudah hampir sampai. Membuat Nayla harus memaksa mengakhiri ciuman suaminya.
“Sakit!”
“Sayang, itu dialogku! Kamu yang gigit, malah kamu yang kesakitan.” Fahad berseru dengan jari yang menyentuh bibirnya.
“Lagian, kamu! Ini udah sampai gondolanya.” Nayla berjalan mendahului Fahad.
__ADS_1
Nayla tidur, dengan perlahan Fahad keluar kamar ... ia ingin menemui Ammi. Sepulangnya dari Gulmarg, istrinya itu terlihat murung. Fahad pun memutuskan untuk kembali ke New Delhi, besok. Bahkan ia sudah memesan tiket untuknya dan juga Nayla. Tidak mudah meminta ijin dari Ammi. Lagi-lagi Fahad harus mendengar hinaan Bibi Farida untuk istrinya. Tangannya mengepal geram, ingin sekali ia menghentikan ucapan Bibi Farida, namun ia selalu mengingat pesan Nayla agar tidak menyela apapun yang diucapkan bibinya.
Ya Tuhan. Fahad tidak tahan, ia berdiri dengan wajah yang merah padam menahan amarah. Fahad hampir putus asa, baiklah ... biarlah Nayla yang kembali ke New Delhi seorang diri, daripada istrinya itu harus mendengar hal yang lebih menyakitkan lagi.
“Kembalilah ke New Delhi, Nak, bawa istrimu. Pekerjaanmu pasti juga sudah menunggu.” Ucapan Ammi menghentikan langkah Fahad. Putranya itu berbalik dengan sebuah senyuman. “Setelah itu, bawa Yasmin pulang. Ammi merindukan dia.”
Fahad mengangguk, ia memeluk Ammi sembari mengucap terima kasihnya. Berpamitan kembali ke kamar, Fahad melangkah dengan hati yang berbahagia. Sebentar lagi, istrinya itu tidak akan mendengar apapun lagi dari Bibi Farida. Istrinya juga bisa bernapas dengan lega, tidak akan lagi terkungkung di rumah besarnya yang ia pikir akan membuat Nayla nyaman—namun ternyata tidak, istrinya justru merasa kesulitan di dalamnya.
Fahad memasukkan semua baju dan barang milik Nayla ke dalam koper dengan perlahan, ia tidak ingin istrinya terbangun. “Jangan khawatir, Sayang, aku akan selalu ada di samping kamu.” Ia berharap, setelah kembali ke New Delhi, niat Ammi memintanya untuk menikah lagi akan dibatalkan. Semua akan membaik dengan berjalannya waktu, istrinya tetaplah Nayla Anjani. Gadis Indonesia yang sulit sekali ia dapatkan, gadis Indonesia yang mampu membuatnya sembuh dari luka lama.
***
“Sayang,” panggil Fahad saat istrinya itu mulai menggeliat dan membuka mata dengan perlahan.
Seperti biasa, seusai salat, Nayla akan turun ke bawah membantu Hannah dan Ibu Fatimah di dapur. Hanya itu hiburan Nayla di rumah besar tersebut. Berkumpul bersama mereka membuat Nayla tidak merasa sesak, mereka sudah seperti saudara. Hannah dan Ibu Fatimah bisa mengerti dan selalu menghiburnya ketika bibi mengatakan sesuatu yang menyakitinya.
Suasana pagi yang baik itu tiba-tiba berubah oleh kedatangan Bibi Farida ke dapur, wanita paruh baya itu melayangkan sebuah tamparan merasa di pipi kiri Nayla. Membuat tiga orang di dapur itu terkejut bukan main. “Kamu!” menunjuk Nayla dengan sorot mata tajam.
“Nyonya, ada apa ini?” ibu Fatimah menyela.
“Diam! Jangan melewatkan batasannya, Fatimah!”
Nayla menunduk, tangannya menyentuh pipi bekas Bibi Farida menamparnya. “Bibi—”
“Akhirnya kamu menunjukkan siapa diri kamu yang sebenarnya. Benar, kan, kamu memang berniat menjauhkan Fahad dari keluarganya, menjauhkannya dari ibu yang sudah melahirkannya!”
__ADS_1
“Maksud, Bibi, apa?” Nayla bertanya, airmatanya sudah mulai menganak sungai, namun ia masih mencoba membendungnya. Nayla tidak ingin bibi menganggapnya sedang mencari perhatian atau belas kasih dibalik airmatanya.
Bibi Farida menyunggingkan senyum sinisnya, “pura-pura bodoh!” memaki Nayla. Bibi mengatakan apa yang dilakukan Fahad kemarin—yang meminta ijin Ammi untuk kembali ke New Delhi. Dan, semua itu adalah salah Nayla, begitulah kata Bibi Farida.
Nayla menggeleng lemah, “enggak, Bi, kata siapa Fahad mau balik ke Delhi? Dia tetap di sini, Bi, sama keluarganya.” Nayla mencoba menjelaskan, namun bibi tetap tidak percaya dan tetap menyalahkannya. Sudah, Nayla berhenti bicara, ia mendengarkan semua hinaan bibi tentang dirinya, tidak ada gunanya lagi memberi penjelasan terhadap orang yang sudah terlanjur membenci.
Bibi Farida pergi setelah puas menghina serta menyalahkan Nayla. Pagi ini ia beruntung, karena Fahad tidak mendengar apa yang sudah ia perbuat. Jika saja Fahad tau, sudah pasti ... pria itu akan memulangkan bibi ke rumahnya yang berada di Hyderabad.
Nayla memaksa kakinya melangkah ke kursi meja makan, ia duduk dengan satu tetes airmata yang jatuh tanpa meminta ijin tersebut. Tangannya dengan cepat menghapusnya, agar suaminya tidak tau apa yang baru saja terjadi. Sudah cukup, Nayla tidak ingin ada keributan lagi tentang dirinya. Hannah menghampiri Nayla dengan segelas air putih ditangannya, wanita itu memberi saran agar mengatakannya kepada Fahad, tentang apa yang sudah bibi lakukan.
Nayla menggeleng, memaksa tersenyum di depan Hannah. “Nggak apa, Hannah. Jangan kasih tau Fahad, ya? Aku nggak mau dia sedih.”
Hannah dan Ibu Fatimah menatap Nayla iba, ingin sekali rasanya mereka mengadukan semua yang dilakukan Bibi Farida kepada Fahad. Tetapi, mereka tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, mereka tidak bisa ikut campur terlalu dalam. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menghibur serta menguatkan Nayla yang jauh dari keluarganya.
Semua berjalan seperti biasa, Nayla tidak ikut duduk di meja makan. Ia menghindar, mengatakan kepada Fahad bahwa ia sudah sarapan lebih dulu di dapur—bersama Hannah dan Ibu Fatimah. Nayla tidak bisa makan satu meja bersama wanita yang sudah melayangkan sebuah tamparan di pipinya. Ia takut, takut jika bibi kembali melakukan hal yang sama dan Fahad pasti tidak bisa menahan diri—untuk tidak marah. Nayla tidak ingin itu terjadi.
“Sayang, ayo siap-siap,” ajak Fahad, ia menghampiri Nayla yang berada di dapur.
“Ke mana?” bingung Nayla.
Fahad tersenyum, tangannya menyentuh puncak kepala istrinya. “Kita pulang ke Delhi, semalam baju-baju dan barang pribadi kamu udah aku masukin sebagian di koper. Pesawat kita dua jam lagi, ayo.”
Nayla terdiam, sekarang ... ia mengerti kenapa tadi pagi bibi menampar dan memakinya. Tidak dipungkiri, Nayla merasa bahagia bisa kembali ke Delhi. Tetapi ... “Fahad, terus gimana sama Ammi? Kamu di sini aja dulu, aku bisa pulang sendiri, kok.”
***
__ADS_1