
Menimbang-nimbang. Nayla ingin sekali memberitahu suaminya bahwa ia sedang hamil. Akan tetapi, Fahad baru dua hari berada di Kashmir. Nayla takut menganggu waktu Ammi bersama putranya. Di sisi lain, ada ketakutan yang menyergap hatinya. Pengalaman beberapa waktu lalu membuatnya berpikir, bahwa memberitahu suami tentang kehamilannya lebih awal adalah yang terbaik. Melihat kesedihan Fahad saat ia mengalami keguguran, Nayla tidak ingin hal itu terjadi lagi.
Akhirnya, Nayla memutuskan untuk menelpon Fahad dan mengatakan tentang kehamilannya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Nayla yakin suaminya itu belum tidur. Diambilnya benda pipih itu diatas nakas, membuka riwayat panggilan lalu menekan logo panggilan video dengan senyuman yang mengembang sempurna.
Sayang?
Nayla mengarahkan layar ponselnya mendekat ke perut, “hai, Papa, can't wait to see you!” Satu detik kemudian, Nayla kembali mengalihkan ponselnya ke wajah, agar ia bisa leluasa melihat ekspresi suaminya.
Sayang, kamu ...
Nayla mengangguk, airmata bahagianya sudah tak dapat ia tahan lagi. Nayla mengatakan bahwa ia sedang hamil. Wajah Fahad berbinar bahagia, Nayla dapat melihat itu.
Kamu hamil? Serius?
“Iya, aku hamil, satu bulan.” Nayla meyakinkan. Sudut mata Fahad berair, suaminya itu menangis.
Kabar bahagia tentang kehamilan Nayla seolah memberi harapan baru bagi Fahad. Buah cinta mereka kini sedang tumbuh di dalam sana. Semuanya akan membaik, semakin membaik. Fahad yakin akan hal itu.
Seusai mengakhiri panggilan video, Fahad segera memesan tiket pesawat. Ia akan kembali ke New Delhi, besok, penebangan pertama. Jika saja malam ini ada penerbangan, sudah pasti Fahad akan berangkat saat itu juga. Menggunakan jalur darat akan memakan waktu lebih lama lagi, yakni sekitar dua hari. Oleh sebab itu ia akan bersabar menunggu pagi hari tiba, agar ia juga bisa mengatakan kepada Ammi—bahwa seorang cucu akan hadir lagi ditengah-tengah keluarga mereka.
***
Bukan senyuman yang Fahad dapat, bibi dan Ammi terlihat kecewa begitu ia menyampaikan perihal kehamilan Nayla. Senyuman Ammi itu palsu, Fahad tentu sudah sangat hapal. Ia putranya, tidak mudah untuk Ammi menyembunyikan rasa kecewanya dari Fahad. Bibi Farida melarang Fahad pergi ke New Delhi, dengan alasan ... putra dari kakaknya itu baru dua hari berada di Kashmir.
Fahad tidak menyerah, ia tetap memaksa Ammi agar mengizinkannya pergi. “Nayla sedang hamil, Ammi, aku suaminya. Mana mungkin aku membiarkan Nayla sendirian di negara asing. Aku nggak bisa tinggal diam seperti ini, aku harus ada di sampingnya.”
“Bagaimana dengan Ammimu? Dia ibumu, Fahad, yang melahirkanmu. Kamu mau meninggalkan Ammi hanya karena wanita itu?” Bibi Farida menyela.
__ADS_1
“Bukan begitu, Bibi, dulu Nayla sudah pernah—” Fahad menghentikan ucapannya, hampir saja ia mengatakan perihal Nayla yang pernah keguguran. “Kasihan Nayla, Bi, dia butuh aku ... suaminya.” Fahad sudah kehilangan kesabarannya, ia keluar kamar Ammi, mengambil tas punggung di tepi tempat tidurnya yang sudah ia siapkan sejak semalam.
“Kakak.” Yumna memanggil. Ia menghampiri Fahad yang baru saja menutup pintu kamar. “Kakak mau ke mana?” tanyanya.
“Kakak mau kembali ke Delhi, Yumna, di mana Yasmin?” Fahad mengedarkan pandangannya. Mencari adik perempuannya yang lain.
“Kak Yasmin pergi ke rumah temannya.”
Fahad memeluk Yumna, ia labuhkan ciuman di puncak kepala adik bungsunya tersebut. “Jaga Ammi, sampaikan ke Yasmin juga, ya?”
Yumna mengangguk. Mengurai pelukannya, ia sedikit mendongak agar pandangannya bisa mencapai wajah Fahad. “Tapi kenapa mendadak, Kak? Apa kakak ipar sakit?”
Fahad menggeleng, ia mengatakan bahwa semalam ia baru saja mendapat kabar tentang kehamilan istrinya. Yumna berseru dengan hebohnya, kebahagiaan itu menular memenuhi seluruh ruang di hatinya. “Aku mau punya ponakan lagi, Kak?” Yumna memastikan.
Fahad mengangguk, ia kembali merengkuh tubuh Yumna ke dalam pelukannya. Sekali lagi, Fahad berpesan agar menjaga Ammi selama ia berada di New Delhi. “Kakak usahakan sering ke sini. Belajar yang baik, jangan keluyuran terus!”
Ammi dan Bibi Farida sudah berada di sofa ruang tamu, keduanya kompak menatap Fahad ya g baru saja turun bersama Yumna. Lagi, Fahad mencoba memberi pengertian kepada Ammi. Bahwa ia tidak akan pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang putra dan seorang kakak, ia juga tidak bisa melupakan kewajibannya sebagai seorang suami. Fahad akan berusaha berlaku adil kepada empat wanita penyemangat hidupnya—Ammi, Nayla, Yasmin dan Yumna.
Ammi pun mengizinkan, bagaimanapun ... ada rasa sayang di sudut hati Ammi untuk Nayla, ia tidak pernah memungkiri hal itu. Ini kehamilan pertama, sudah pasti Fahad—putranya—akan lebih mengutamakan kesehatan dan kebahagiaan Nayla. Semua demi janin yang ada di dalam rahim menantunya. Memang. Sampai sekarang, Fahad tidak pernah mengatakan perihal keguguran Nayla dalan sebuah kecelakaan. Saat bangun subuh tadi, Fahad juga sudah meminta pendapat Nayla, bahwa ia akan mengatakan semuanya kepada Ammi.
Lagi-lagi, Nayla melarangnya untuk memberitahu Ammi. Fahad mengatakan, itu adalah hal yang salah. Sudah seharusnya ia memberitahu Ammi. Selain karena Ammi adalah nenek dari anak-anaknya, mungkin saja ... jika Ammi tau tentang keguguran itu, Ammi akan membatalkan niatnya untuk menikahkan Fahad lagi dengan wanita lain.
Janji. Fahad tidak bisa melanggar janjinya yang sudah diambil oleh Nayla. Tidak ingin melanggar kepercayaan, Fahad memilih diam dan hanya bisa membujuk serta memberi pengertian bahwa Nayla adalah istri, ibu, menantu, putri, dan juga kakak yang baik. Fahad dapat memastikan hal itu.
Sebelum melangkah keluar, Fahad berhenti dan berbalik menatap Bibi Farida. “Bi, bersiap-siaplah. Sore nanti Imraan akan datang menjemput, Bibi, dan mengajak pulang ke hyderabad.”
***
__ADS_1
Duduk bersama, Nayla bergelut dengan banyaknya pertanyaan yang muncul di kepalanya setelah mendengar nama wanita tersebut. Mahira. Benarkah wanita itu mantan istri Fahad?
Kopi cappucino yang mereka pesan sudah tiba. Aroma caffein menguar memenuhi indera penciuman dua wanita yang duduk saling berhadapan itu.
“Kamu mau tanya sesuatu, Nayla?” Mahira bersuara setelah menyeruput kopinya. “Kamu pernah dengar namaku sebelumnya?” tanyanya lagi.
Nayla mengangguk, namun ada sedikit keraguan di hatinya. “Banyak yang memakai nama Mahira, mungkin dia itu bukan kamu.”
Sayangnya itu benar. Mahira di hadapan Nayla ini adalah mantan istri Fahad. Ibu dari Aadil. Dari sorot mata Mahira, Nayla dapat melihat sebuah kebaikan di sana. Wanita itu tidak mempunyai maksud buruk terhadapnya.
“Kamu pasti sudah mendengar tentang aku dan semua yang kulakukan di masa lalu.” Mahira memulai pembicaraan. Ia melanjutkan, sebuah penyesalan masih bersemayam di lubuk hatinya. Bukan menyesal karena Fahad menceraikannya, namun penyesalan terhadap apa yang sudah menimpa Aadil. Kata talak yang diucapkan Fahad masih terngiang di telinga, menghantuinya di setiap kaki melangkah. Oleh sebab itu, Mahira belum ingin menikah lagi. Trauma itu ada. Kesalahan yang ia buat memang sudah sangat fatal. Mementingkan pekerjaan dan mengorbankan putranya sendiri.
“Aku tau, Fahad masih membenciku. Aku nggak berharap dia kembali atau apa, aku hanya ingin meminta maaf karena sudah merusak hidupnya. Merusak kebahagiaannya bersama Aadil.” Mahira berujar tulus. “Tolong, sampaikan maafku padanya. Tapi, aku rasa ... dia pasti nggak mau dengar namaku lagi.” Tawanya penuh kesedihan.
Nayla menatap iba. Memang benar. Suaminya itu membenci Mahira, bahkan ... tidak ada yang boleh menyebut namanya di rumah, terlebih di hadapannya. Sekarang ini saja, Nayla merasa takut kalau saja suaminya itu tau bahwa ia sudah bertemu dengan Mahira.
“Seiring berjalannya waktu, Fahad pasti sudah memaafkanmu, Mahira. Itu juga bukan kesalahanmu, semua sudah diatur Allah. Kita manusia cuma bisa berdoa dan berusaha, selebihnya ... Allah yang menentukan.”
Mahira mengangguk, ia tersenyum simpul. Semoga saja Fahad benar-benar sudah memaafkannya, sehingga beban di hatinya sedikit berkurang.
“Aku mendengar kabar Fahad menikah lagi, tapi aku baru tau kalau istrinya adalah warga negara asing.” Mahira kembali menyeruput kopinya. “Aku tau, Fahad tidak mungkin salah memilih istri. Kamu pasti yang menyembuhkan luka hati Fahad. Benar, kan?” tanyanya.
Nayla tersenyum simpul. “Oh, iya. Kamu juga tinggal di Delhi?”
“Aku tunggal di Mumbai, Nayla. Aku sedang ada pekerjaan di sini.”
Nayla mengangguk paham. Suara dering dari ponselnya memutus obrolannya bersama Mahira. Mahira melihat sekilas ponsel Nayla diatas meja, ada nama Fahad di sana. Sebelum Nayla menerima panggilan, Mahira lebih dulu berpesan agar tidak mengatakan kepada Fahad perihal pertemuan dan obrolan mereka. Tidak untuk sekarang, tapi nanti.
__ADS_1
***