Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 114


__ADS_3

Fahad menatap istrinya lagi sebelum ia beranjak berdiri, sungguh ... mana mungkin ia sanggup menandatanginya. Melepas alat bantu, membuat Nayla harus pergi itu sama saja ia membunuhnya. Fahad tidak mungkin bisa hidup dengan rasa bersalah itu.


“Apa itu harus?” tanyanya pada diri sendiri. “Aku belum melakukan apapun untuknya, Andi, belum ...” Fahad berucap dengan lirih.


“Sudah. Mungkin ini yang terbaik untuk Mbak Nayla. Jangan sesali apapun, karena menahannya itu sama saja menyakiti diri kamu sendiri.” Andi membantu Fahad berdiri, ia juga memaksakan hatinya tetap kuat.


Ada sesuatu yang menyentuh jari kelingking Fahad. Bahkan, jari kelingkingnya digenggam cukup kuat. Fahad berbalik, ia melihat Nayla yang membuka matanya. “Andi, Nayla!” Kedua pria tersebut dibuat terkejut. Nayla sudah sadar, ia sudah membuka matanya. Fahad menggenggam tangan kanan Nayla, akhirnya ... mata itu terbuka. Andi keluar, ia memanggil dokter dan mengatakan bahwa kakaknya sudah sadar. Ammi dan yang lain juga mendengarnya, membuat senyum bahagia mengembang di wajah mereka semua.


Fahad tak henti menatap sang istri, ia merindukan mata yang menatapnya dengan lembut itu, mata yang selalu bisa meluluhkan hatinya. Mimpi buruk itu tidak akan terjadi, Nayla akan kembali bersamanya—tetap di sisinya.


***


Setelah satu hari, Nayla akhirnya bisa menggendong sang putri—keadaannya sudah benar-benar membaik. Ia pandangi wajah bayi mungil yang tengah tidur tersebut, hatinya sangat damai. Fahad membuka pintu ruang rawat Nayla setelah tadi ia mengantar Sahil dan Sanju pulang—keduanya baru saja menjenguk Nayla. Senyuman hangat menyambut Fahad, senyuman yang sangat ia rindukan. Seolah, sudah bertahun-tahun ia tidak melihat senyum itu.


“Dia masih tidur.” Fahad mengusap pipi bayi itu dengan lembut, lalu kemudian menyentuh pipi Nayla. “Bayi kita ditaruh di box dulu, ya? Aku suapi kamu makan.” Fahad mengambil alih bayinya dari gendongan Nayla lalu menaruhnya di box yang terdapat di sisi kiri tempat tidur istrinya.


“Andi belum datang?” Nayla bertanya sebelum menerima suapan makanan dari suaminya.


“Sebentar lagi juga datang. Kamu kangen sama dia?” tanyanya.


Nayla mengangguk. Kemarin saat membuka mata, ia belum sempat mengobrol banyak dengan Andi. Hari ini, sampai waktu menjelang sore ... adiknya itu belum terlihat lagi setelah berpamitan pulang tadi pagi.


“Mungkin Andi lagi tidur, Sayang, dia capek.”


Nayla menolak suapan dari Fahad, ia merasa sudah kenyang. Ia pandangi wajah lelah suaminya, mata itu terlihat sangat lelah.


“Kamu nggak kangen sama aku?” tanya Fahad.


“Aku kangen kamu.” Nayla menjawab. Sepersekian detik, Fahad langsung memasukkan tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Ia juga sangat merindukan Nayla. Fahad rindu sorot mata penuh kedamaian itu, ia rindu senyum dan juga sentuhan tangan istrinya. Ia berikan ciuman di setiap inci wajah Nayla, ia cium kedua mata yang tak henti meneteskan air mata itu. Rasa takut kehilangan masih ada di sudut hati Fahad. Mimpi itu terasa sangat nyata. Juga, pendarahan hebat yang ia lihat sungguh sangat menyayat hatinya. Wanita itu, yang mengorbankan semuanya ketika melahirkan—yang rela menukar nyawa demi buah hati mereka. Fahad tidak akan sanggup meskipun hanya membayangkan.


“Maafkan aku, jangan menghukumku dengan cara seperti itu lagi. Aku nggak bisa sendirian, aku nggak bisa tanpa kamu.” Fahad semakin mengeratkan pelukannya. Seakan tidak rela tubuh sang istri menjauh darinya. “Jangan pergi kemanapun, jangan pergi ...”


”Aku nggak pergi, Fahad.” Nayla mengusap dada suaminya, detak jantung yang bergemuruh itu bisa ia dengar dengan jelas. “Aku masih di sini sama kalian, aku nggak pergi ke manapun.”


“Aku memang nggak pergi dari dunia ini, Fahad, tapi aku pasti pergi dari hidupmu. Aku nggak bisa di samping kamu lagi. Aku sudah buat Ammi kecewa. Bertepatan dengan aku yang melahirkan, pernikahanmu batal karena aku. Aku nggak bisa tetap jadi istri kamu, aku harus mundur. Sudah selesai, Fahad.” Batin Nayla pilu.


Sejak kemarin ia membuka mata, hanya Andi dan Fahad yang selalu berada di sampingnya. Ia bertanya kepada Andi mengenai pernikahan suaminya, dan adiknya menjawab bahwa pernikahan itu batal. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai hal itu. Sesaat setelah dipindahkan ke ruang rawat, Mahira datang untuk menemui Nayla. Juga, tidak ada penjelasan apapun dari Mahira tentang pernikahan Fahad. Nayla bertanya-tanya, bagaimana dengan Ammi dan Benazir? Apakah mereka tau bahwa ia sudah melahirkan?


Nayla ingin segera pulih, agar ia bisa pulang ke Indonesia. Mungkin tiga bulan lagi, setelah dirasa bayinya cukup kuat untuk perjalanan jarak jauh.


***


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibukota yang cukup ramai. Nayla mengedarkan pandangannya, mobil yang mereka kendarai bukan menuju ke apartemen. Nayla bertanya, namun Andi dan Fahad kompak tidak memberitahu ke mana tujuan mereka.


“Diam, Mbak, nurut saja sama aku. Hari ini aku jadi sopir taksi. Yang penting pulang, kan?” Andi bersuara, telinganya sudah panas mendengar berbagai pertanyaan yang terlontar dari Nayla. Kakaknya yang cerewet sudah kembali. Andi sangat bahagia. Biarlah cerewet, daripada harus melihat kakaknya menutup mata dalam keadaan kritis—Andi tidak bisa berjanji bisa bertahan dan kuat jika hal itu kembali menimpa Nayla.

__ADS_1


Mobil masuk di sebuah halaman rumah minimalis berlantai dua. Gerbang itu sudah terbuka, membuat mobil bisa leluasa masuk dengan mudah. Andi membuka bagasi, ia mengeluarkan tas lalu membawanya masuk. Pertanyaan dari Nayla tidak ia hiraukan, Andi berjalan tanpa menoleh sedikitpun kepada Nayla.


Fahad menggendong putrinya, Nayla berjalan perlahan dengan berpegang pada lengan kiri suaminya. “Fahad, ini rumah siapa? Kamu jawab atau aku—”


Fahad berhenti, ia menatap Nayla dengan sebuah senyuman hangat. “Ini rumah kita, aku sudah menyiapkan ini semua saat tau kamu hamil. Aku bikin rumah ini sesuai keinginan kamu. Minimalis, ada halaman dan juga ada sentuhan Indonesianya.”


Nayla diam sejenak. Rumah? Rumah untuk siapa? Ia akan pulang ke Indonesia—berpisah dari Fahad. Jadi, untuk apa rumah ini?


“Beberapa sentuhan Indonesia itu dari pernak pernik, dan ada lukisan wayang di dalamnya. Juga, ada peta Indonesia yang terbuat dari kain batik.” Fahad mengajak Nayla masuk, namun kaki istrinya itu tidak berpindah sedikitpun. “Kenapa? Ayo, masuk.” Ajak Fahad.


“Fahad, kenapa kamu bangun rumah ini? Kamu tau, kan? Aku mau pulang ke negaraku, jadi aku nggak bisa—”


“Kita masuk dulu, setelah itu kamu boleh memutuskan apapun.Tetap di sampingku atau pergi.”


Nayla tidak punya pilihan. Ia menuruti ucapan Fahad. Benar saja, begitu langkah kakinya melewati pintu utama ... ia sudah disambut sebuah peta Indonesia dari kain batik yang terbingkai rapi ditembok. Dibawah bingkai itu terdapat meja di mana ada dua guci bermotif batik Aceh dan Papua. Ada pula foto siluet pernikahan Fahad dan Nayla. Semuanya terlihat sangat cantik dan indah.


Duduk di sofa, Nayla menyusuri setiap sudut rumah itu. Sebagai wanita, tentu ada rasa bahagia di relung hatinya. Suaminya, prianya ... membuatkan sebuah rumah sesuai keinginannya. Nayla mencoba menghilangkan rasa bahagia itu, ia tidak ingin terjebak lebih dalam lagi oleh rasa cinta dan bahagia itu.


Andi keluar dari salah satu kamar, ia menghampiri Nayla lalu duduk di sampingnya. Andi mendapat lirikan tajam dari kakaknya, namun ia justru tertawa. “Baru sadar, baru pulang dari rumah sakit, jangan rese, ya!” Andi berujar.


Fahad menidurkan bayinya di sofa—di samping Nayla. Ia beranjak berdiri, mengatakan kepada Nayla agar menunggu sebentar.


Mata Nayla mengikuti kemana tubuh Fahad pergi. Suaminya itu masuk ke kamar lain, lalu tak lama ... terlihat Ammi keluar kamar dengan menggandeng tangan Fahad. Disusul Yasmin dan Yumna dibelakangnya. “Andi, jaga putriku sebentar.” Nayla berdiri, perlahan ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Ammi. Satu yang ada dipikiran Nayla saat ini. Ia harus meminta maaf, meminta maaf atas gagalnya pernikahan Fahad yang disebabkan olehnya.


Ammi tidak menjawab, ia memeluk Nayla sembari menguvap kata maaf. Maaf karena sudah terlalu egois dan tidak menghargai Nayla sebagai menantu. Maaf atas keras kepalanya yang membuat anak dan menantunya harus hidup bersama air mata beberapa bulan belakangan ini. “Jangan pergi kemanapun, Nak, tetaplah di samping Fahad. Kamu istrinya, satu-satunya ibu dari anak-anaknya. Dia suamimu, izinkan Fahad untuk memulai semuanya dari awal. Izinkan Ammi memperbaiki kesalahan, Nak.” Ammi menangis. Tidak ada yang lebih penting dari kebahagian putranya. Hampir saja, sekali ia akan menganjurkan hidup Fahad dengan tangannya sendiri.


“Kamu memang yang terbaik untuk Fahad dan juga keluarga ini, Nak, maafkan Ammi yang sudah menyakitimu. Maaf.”


Air mata Nayla menetes. Setelah sekian lama, ia bisa merasakan pelukan hangat dari ibu mertuanya. Tubuh Nayla masih mematung, tangannya menjuntai kebawah. Ia merasa kebingungan, haruskah ia membalas pelukan Ammi atau justru melepaskannya? Nayla bimbang. Bagaimana jika suatu saat Ammi kembali berniat menjodohkan Fahad dengan wanita lain? Bagiamana ia akan melanjutkan semua cerita yang hampir selesai ini?


Tidak. Nayla menyingkirkan jauh-jauh pikiran itu. Ammi sudah meminta maaf, tentu semuanya akan membaik. Dengan mengucap bismillah, Nayla akan kembali melangkah masuk dalam sebuah pernikahan yang hampir terhenti ditengah jalan. Ia membalas pelukan Ammi, tetap meminta maaf dan juga berterima kasih kepada ibu mertua tersebut.


***


Satu minggu kemudian.


Nayla tengah berada di kamar Andi. Ia membantu adiknya itu mengemas pakaian. Besok, Andi akan pulang ke Indonesia. Libur kuliahnya sudah selesai. Andi juga harus kembali bekerja, lebih tepatnya ... mencari pekerjaan baru lagi. Ya, Andi memilih mengundurkan diri setelah mengetahui pernikahan kedua Fahad yang—saat itu—akan segera dilaksanakan.


Bermain bersama keponakanya yang baru saja selesai disusui oleh Nayla. Andi menggendong bayi mungil itu, sesekali ia menjawil pipi gembul itu dengan sangat gemas.


“Mbak, bisa tolong ke sini sebentar?”


Nayla menutup koper, menghampiri Andi lalu duduk di tepi tempat tidur bersama adik dan juga putrinya. “Iya?”


Meraih satu tangan Nayla, Andi menatap kedua mata kakaknya dalam-dalam. Hubungan Nayla dan ibu mertuanya semakin membaik. Andi berusaha tidak mengkhawatirkan apapun lagi, namun ingatan akan air mata kakaknya—membuat hati Andi terasa berat meninggalkan saudaranya itu seorang diri di negara asing. Fahad. Andi sudah menaruh sedikit kepercayaannya lagi kepada pria itu. Tetapi bagaimana jika suatu saat Ammi menyuruh hal yang sama kepada Fahad?

__ADS_1


“Mbak, bahagia menikah sama Fahad?” tanya Andi dengan lembut.


Nayla tersenyum simpul, ia menepuk punggung tangan adiknya. “Menikah dengan siapapun, nggak akan menjamin seseorang itu nggak tersakiti, Andi. Orang yang paling kamu cinta dan sayang, adalah orang yang mempunyai kemungkinan terbesar untuk menyakiti.” Memberi jeda sejenak, Nayla dapat melihat kekhawatiran dari mata adiknya. “Mbak percaya sama Fahad, mbak juga percaya kamu pasti melakukan apapun kalau air mata ini jatuh lagi.”


“Aku mau minta sesuatu sama, Mbak.”


“Apa?”


“Tolong jangan menutupi apapun lagi dari Andi, jangan menanggung semua rasa sedih itu sendiri. Aku merasa nggak berguna kalau, Mbak, menangis lagi.” Andi berujar.


Nayla mengangguk, ia memeluk tubuh Andi. Ia berlaku dalam lembut di punggung adiknya tersebut. “Iya, mbak janji. Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan. Mbak bangga punya Adi seperti kamu.”


Suara tangis dari bayi mungil itu terdengar, memaksa pelukan itu terurai—membuat ibu dan juga pamannya beralih menatap dan memperhatikannya.


“Hey. Om cuma pinjam mamamu sebentar, heboh banget nangisnya.” Andi dan Nayla tertawa bersama. Membuat suasana haru berubah penuh canda karena tangisan bayi mungil itu yang terdengar sangat keras.


***


Shazia Fahad Khan.


Nama indah yang diberikan Fahad untuk putri kecilnya. Nama yang mempunyai makna harum. Fahad berharap, jika suatu saat ada sesuatu yang menjurus ke sebuah perpisahan ... atau apapun yang menggoyahkan rumah tangga dan keluarganya—keharuman Shazia diharap bisa menarik semua rasa diantara ia dan juga Nayla. Shazia, putri mereka adalah seseorang yang senantiasa akan selalu mengingatkan saat-saat pahit sebelum datangnya waktu bahagia. Kehadiran Shazia, senyuman Shazia yang kini sudah berusia dua tahun itu mampu menyatukan semua keluarga. Mampu meredam keegoisan orang-orang dewasa disekitarnya.


“Papa ...” Shazia berlari menghampiri Fahad yang baru saja pulang bekerja.


Menangkap tubuh putrinya, Fahad mengangkat tubuh kecil itu lalu memasukkannya kedalam pelukan. Ia cium kedua pipi gembul putrinya. Rambut sebahu itu tampak mengayun ke sana ke mari setiap kali ia menggendong tubuh putrinya. “Shazia rewel, nggak? Shazia buat mama capek, nggak?” tanyanya sembari melangkah masuk menghampiri istrinya yang menunggu ruang tv sembari menepiskan senyuman indahnya.


“Zia kangen, Papa.” Kedua tangannya melingkar di leher papanya. Shazia menolak uluran tangan mamanya, ia menyembunyikan wajahnya diceruk leher pria yang selalu ada untuknya tersebut.


“Zia, kok, gitu lagi? Papa baru pulang kerja, Zia. Ayo, turun?” Nayla kembali mengulurkan tangannya, ia hendak meraih tubuh putrinya. Namun, Fahad menolaknya dengan lembut. Tak mengapa, ia tidak lelah sama sekali. Ia juga sangat merindukan putrinya.


“Jangan terlalu dimanja, nggak baik, Fahad.” Nayla memrotes. Sudah berulang kali ia mengatakan kepada Fahad, untuk mengontrol rasa sayang, agar suatu saat nanti Shazia tidak manja dan bisa mandiri.


“Iya, Sayang. Terima kasih, kamu selalu mengingatkan kalau aku terlalu memanjakan dia. Jangan lelah, dan jangan pernah lupa untuk mengingatkanku.” Fahad merentangkan satu tangannya agar Nayla bisa masuk ke pelukannya—bersama Shazia. “Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih, kamu tetap di sampingku. Aku mencintaimu.”


Nayla tersenyum,.“terima masih juga, sudah memperjuangkanku, terima kasih untuk tetap mencintaimu.”


***


Apa kabar, Readers?


Kisah Fahad dan Nayla sudah dipenghujung cerita, nih. Saya harap, kalian bisa mengambil pelajaran baik dan membuang yang buruk dari kisah ini. Saya mohon, kalian membacanya dengan bijak. Season satu sudah selesai. Kalau kalian masih rindu Nayla dan Fahad, silakan baca kisah baru mereka di CINTA DARI FACEBOOK SEASON 2 dibawah ini.


Terima kasih atas dukungan dan jejak cinta yang kalian tinggalkan untuk Nayla dan Fahad. Baca karya saya yang lain juga, ya. Sekali lagi terima kasih 🙏 😊


@ummy_wachida_

__ADS_1


__ADS_2