Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 63


__ADS_3

Sepi. Nayla kembali seorang diri berada di apartemen. Entah kapan Yasmin akan kembali ke New Delhi. Semua pekerjaan rumah tangga sudah selesai ia kerjakan. Pun dengan cupcake yang nanti malam akan ia suguhkan untuk sahabat suaminya, Sahil dan istrinya.


Waktu menunjukkan pukul tiga sore waktu India, ia memutuskan untuk menelpon Andi. Sudah panggilan ketiga, tetapi panggilannya tak kunjung diterima. Meletakkan ponselnya di atas nakas kamar, Nayla mengambil sebuah foto yang terbingkai cantik di sana.


Ia tersenyum begitu melihat senyuman Andi di dalam foto tersebut. Sejak pagi ia belum sempat bertukar kabar, Andi juga tidak mengirim pesan. Bergumam lirih, Nayla bertanya kemanakah adiknya tersebut. Sedang tidur, atau masih sibuk di kampus?


Nayla segera mengambil ponsel begitu ada panggilan video yang masuk dari Andi. Senyuman dari Andi menyambutnya dengan hangat. Hatinya merasa damai jika sudah melihat senyuman sang adik.


“Maaf, Mbak, tadi masih di jalan. Ini baru sampai rumah.”


Nayla mengangguk, senyumnya tak kunjung pudar. Ia sungguh bahagia bisa melihat Andi. “Iya. Baru pulang dari kampus, apa dari mana?” tanyanya.


“Dari kampus. Mbak, apa kabar? Tadi aku ketemu sama Ryan, loh, Mbak.”


Kening Nayla berkerut dalam, ada jeda sesaat sebelum ia melontarkan pertanyaan kepada Andi. “Ryan?”


Andi mengangguk cepat, “iya, tadi aku mampir makan di rumah makan seberang bengkel, nggak lama dia datang. Jadilah kita makan satu meja.”


“Udah kayak orang pacaran, dong!” seru Nayla.


Berdecak kesal, kini giliran kening Andi yang berkerut dalam. “Dia nanyain, Mbak, loh.” Andi sangat heboh ketika membicarakan Ryan. Seakan ia tau bahwa Ryan pernah menaruh perasaan kepada Nayla.


“Dia juga nanya ... kapan, Mbak, pulang.”


“Andi, udah, ah! Bahas yang lain aja, jangan dia.” Nayla mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


“Kenapa?”


“Kamu mau buat mbak nggak bisa tidur semalaman, gara-gara nama Andi?”


“Kok, bisa? Kenapa emangnya? Ada sejarah apa gimana?” Andi mulai menggoda kakaknya. Ia tersenyum meledek tanpa rasa bersalah.


“Nggak ada apa-apa. Mbak telpon kamu itu cuma mau nanya kabar kamu, bukan ngomongin orang lain. Kalo mau ngomongin soal Ryan, mending mbak langsung tanya Sari aja.”


Kedua mata Andi membulat dengan sempurna. “Jadi, selama ini, Mbak, masih suka nanyain tentang Ryan ke Mbak Sari?”

__ADS_1


“Ngawur! Enggak, ya! Buat apa nanya tentang cowok lain.”


Andi tertawa, ia bisa melihat lagi wajah kakaknya yang sedang marah dan kesal. Ia merindukannya, sangat merindukan apapun yang akan kakaknya itu lakukan kepadanya. Entah itu perhatian, ejekan, kecerewetnya, atau bahkan kemarahan yang bisa membuat seisi rumah seakan tak ada kehidupan.


Bagaimana tidak? Kakaknya itu sangat suka mendiamkan orang—jika sedang marah. Cukup sekali Nayla berteriak kesal, selanjutnya ... esok hari, kakaknya akan mendiamkannya. Ketika diajak bicara pun, Nayla hanya akan menjawab seperlunya, tanpa ada kemauan sedikitpun untuk melihat orang yang mengajaknya bicara.


Andi membujuk, meminta maaf bahwa ia tidak akan lagi membahas orang lain, terutama membahas seorang pria. Andi juga tau, itu tidak baik, hanya saja ... tadi ia memang ingin menggoda Nayla. Kakaknya itu sudah menikah, tidak pantas rasanya jika terlalu berlebihan membicarakan pria lain. Terlebih jika hal tersebut sampai ke telinga suaminya, akan sangat memalukan dan menghancurkan harga diri kakaknya sebagai seorang istri.


Dengan alasan harus pergi ke suatu tempat bersama temannya, Andi mengakhiri sambungan video callnya lebih dulu. Nayla mengiyani, ia juga harus memasak sesuatu untuk suaminya yang sebentar lagi akan pulang.


***


Di India sedang musim panas. Tidak mungkin untuk Nayla memakai baju lengan panjang yang menutup aurat. Terlebih, ia sedang berada di rumah, ia pun memilih memakai daster tanpa lengan sejak ia pulang berbelanja tadi pagi.


“Kalau aku nggak masak sekarang, nanti dia pulang pasti ngajak pergi makan makanan India.” Nayla bergumam dengan tangan yang sibuk mencuci ayam.


Ia belum bisa memasak makanan India, sudah pasti yang Nayla masak kali ini ialah makanan Indonesia. Bukan ia tidak suka makanan dari negara suaminya tersebut, hanya saja ... jika ia tidak memakan sayur dengan kuah tanpa santan, tenggorokannya seakan kering bagaikan berada di gurun pasir. Tak nampak ada kehidupan di sana.


Sop ayam dengan sambal kecap adalah favoritnya. Masih memotong sayuran saja, Nayla sudah bisa membayangkan segarnya kuah SOP yang dipadukan dengan sambal super pedas. Bukan ia membenci makanan India, atau tidak menghargai suaminya ... suatu saat nanti, ia pasti sudah bisa memasak makanan dari negara suaminya. Semua butuh proses, ia akan belajar sedikit demi sedikit.


Fahad pun membalas senyuman sang istri, ia mencium kening Nayla lama. Dan sebuah dekapan hangat ia berikan untuk istrinya. “Kangen banget aku sama istriku ini.” Fahad berucap.


Nayla merenggangkan pelukan Fahad, ia mundur satu langkah. Meminta maaf, itulah yang Nayla katakan. Fahad berdecak, ia menutup pintu lalu menuntun tangan sang istri untuk duduk di sofa.


“Aku cuma bilang kangen, nggak bilang kalau kamu salah. Kenapa harus minta maaf, sih?” menyelipkan beberapa rambut Nayla ke belakang telinga. Ia menatap sang istri dengan lembut, “kamu belum kenal suami kamu ini dengan baik, ya?” tanyanya sembari menarik dasinya agar sedikit renggang.


“Aku kenal, kok. Maksud kamu apa, sih?”


Kan, jadi panjang ini nanti kalau dibahas. Mengeluh atas pertanyaannya sendiri yang salah. “Gini, maksud aku, tuh ... jangan minta maaf lagi soal kamu yang belum bisa kasih kewajiban batin lagi. Aku nggak gimana-gimana, InsyaAllah aku bisa jaga napsu.”


Nayla tersenyum simpul, “hmmm, kayaknya nggak lama lagi, kok.”


“Iya. Oh, iya, nanti Sahil mungkin jam delapan ke sini. Sebelum itu kita keluar cari makan dulu, ya? Mau, kan?”


“Aku masak, Fahad,” jawab Nayla. Ia berdiri, berjalan menuju ke kamar, menyiapkan baju ganti untuk suaminya.

__ADS_1


Mengekor di belakang Nayla, Fahad dapat mencium aroma sop ayam. “Kesukaannya.” Fahad bergumam lirih diikuti senyumannya.


***


Sejauh ini, rumah tangga Fahad dan Nayla tidak pernah ada pertengkaran atau permasalahan yang berarti. Hanya sedikit perselisihan. Itu hal yang wajar, bukan? Antara suami dan istri sudah pasti ada hal yang tidak sepaham dan sepemikiran. Tetapi keduanya belah pihak harus bisa menyelesaikannya dengan baik.


Begitulah Nayla dan Fahad, mereka berdua saling melengkapi satu sama lain. Saling mengingatkan, saling meminta dan memberi. Berkata tidak jika memang ada sesuatu yang tidak disuka dan mengganjal di hati. Pernikahan mereka memang masih terhitung baru. Baru beberapa bulan, tapi harapan dan doa yang terbaik selalu mereka panjatkan untuk kebahagiaan dan keberkahan rumah tangga—kemarin, hari ini, esok, dan seterusnya hingga ke Jannah.


“Sayang, aku mau mulai nge-gym lagi. Boleh, kan?” perbincangan disela makan malam. Duduk bersebelahan, menikmati sop ayam yang masih hangat. “Pulang kerja aku langsung ke gym, jadi pulangnya agak telat dikit. Gimana?”


Nayla diam, namun ia tetap menyiapkan makanan ke mulutnya. “Terserah kamu aja, gimana baiknya.” Nayla menjawab tanpa melihat suaminya.


Fahad tersenyum, satu tangannya menyentuh lembut puncak kepala sang istri yang sedang tidak menggunakan hijab tersebut. “Baiknya, sih ... aku nggak usah nge-gym. Nge-gymnya di rumah aja sama kamu. Iya, kan?”


Nayla tertawa kecil, meletakkan sendok lalu menatap wajah suaminya. “Ngaco, ih!”


Keinginannya untuk kembali berolah raga sudah sangat lama ia tunda. Kesibukan mengurus perusahaan, pernikahan, hingga musibah yang terjadi beberapa saat lalu memang menguras waktu Fahad. Tetapi, melihat reaksi sang istri, Fahad pun mengurungkan niatnya tersebut.


“Next time aku beli alat olahraga aja, biar nggak usah pergi ke gym.”


“Kamu pergi aja, aku nggak apa, kok.” Nayla berucap. “Sambil nunggu kamu pulang, aku bisa pergi jalan-jalan dulu ke mall.”


“Eh! Ternyata ada maksud terselubungnya.” Fahad mencubit gemas satu sisi pipi Nayla. “Besok, deh, kita pergi ke mall. Kamu nggak boleh pergi sendirian.”


Ditengah makan malam dan perbincangan pasangan suami istri itu, suara bel pintu terdengar. Nayla beranjak berdiri, ia berjalan ke arah pintu utama dengan cepat.


“Nayla!” teriak Fahad.


Sontak Nayla pun berhenti, ia terkejut mendengar namanya dipanggil dengan nada marah. “I-iya?” ia berbalik, menatap Fahad yang berjalan mendekatinya.


“Itu Sahil sama istrinya, kamu mau keluar gitu aja?” kata Fahad dengan serius. “Mana hijab kamu?” suaranya sudah kembali melunak begitu tubuhnya sudah berdiri tepat di depan sang istri.


“Lupa.” Nayla menyengir kaku. Ia masuk ke kamar untuk mengganti bajunya dengan baju lengan panjang lalu memakai hijab.


***

__ADS_1


__ADS_2