Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 8 S2


__ADS_3

Patokan mas kawin itu membuat Andi menciut. Uang dari mana untuk membeli mobil dan rumah sebagai mas kawin? Sementara ia baru merintis usahanya.


“De, aku uang dari mana buat beli mobil atau rumah? Kamu tau kan, aku baru kerja,” tutur Andi.


“Tapi orang tuaku nyuruh kamu buat ngelamar aku sekarang!” seru Dewi. Perempuan itu tak tau lagi harus berbuat apa. Di satu sisi, ia tidak ingin kehilangan Andi, namun di satu sisi lagi ... ada orangtuanya yang terus meminta hal yang sudah pasti Andi tidak mampu memenuhinya.


Andi mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mengatur napas mencoba tidak terpancing emosi. “Terus, maksud orang tua kamu nyuruh aku ngasih mas kawin mobil dan rumah itu apa? Apa nggak ada syarat lain buat kita nikah? Apa harus dengan seperti itu?” tanya Andi dengan lembut.


“Karena orang tuaku sering lihat kamu jalan pakai mobil, Andi. Dan itu nggak sekali dua kali, itu sering. Makanya mereka minta itu.”


“Dan kamu setuju?” tanya Andi. Dewi mengangguk dengan tatapan memohon. “De, kamu tau kan aku nggak punya apa-apa? Itu juga mobil aku pinjam ke teman kalau lagi ada perlu. Mana bisa aku beli mobil. Kamu tau aku cuma OB, De. Apa kamu lagi nguji aku?”


“Karena itu, karena kamu OB. Orang tuaku nyuruh kamu buat beli mobil dan rumah supaya kamu nggak jadi OB lagi. Mereka pengen kamu sukses, Andi.”


Andi tersenyum kecut, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja. “Bilang saja, orang tua kamu malu kalau sampe mereka punya menantu OB kayak aku.”


Dewi terdiam, memang benar apa yang di katakan Andi. Orang tuanya malu mempunyai menantu seorang OB. Tapi, Dewi mencintai Andi ... dia tidak peduli dengan apa pekerjaannya, dia tetap mencintainya.


Andi beranjak, ia sudah muak dengan obrolan tentang mas kawin mobil atau rumah. “Aku nggak tau, De, aku ngerasa hubungan kita cukup sampe disini aja. Aku mundur, aku nggak akan bisa jadi menantu ideal buat orang tua kamu. Di luar masih banyak cowok kaya yang siap nikahin kamu dengan mas kawin itu.”


Andi melangkah pergi, Dewi berusaha mengejar. “Andi tunggu dulu. Aku nggak mau putus, aku cuma mau kamu yang jadi suamikuu.” Dewi menarik lengan Andi.


“De, aku nggak punya apa-apa buat beli mas kawin—”


Dewi memotong ucapan Andi. "Apa kamu nggak mau berjuang?" ujung matanya mulai berair.


Andi mendesah pelan, ia sangat tidak bisa melihat wanita menangis. “Dewi, jangan gitu ... jangan nangis, mungkin memang kita nggak jodoh.” Andi menghapus air mata Dewi dengan ibu jarinya.


Andi melajukan motor matiknya mengantar Dewi pulang. Di perjalanan, bayangan air mata Dewi terus saja memenuhi kedua mata Andi. Baru saja Andi merangkai bunga-bunga mimpi menghabiskan sisa hidup bersama sang kekasih, namun bunga-bunga itu seolah mati sebelum bisa tumbuh dengan baik.


“Kamu masuk duluan, aku lihat dari sini.”


Dewi turun, menatap Andi dengan sorot mata memohon. “Andi ...” Menyentuh tangan Andi yang hendak menyalakan mesin motornya. “Andi, aku nggak mau kita putus. Aku cuma mau nikah sama kamu,” ucap Dewi penuh harap.


Tak tega rasanya Andi melihat mata kekasihnya itu. Tapi, mendengar permintaan orang tua Dewi, membuat ia ragu. Andi mengangguk perlahan. “Aku usahain.” Ucapnya dengan lesu.


***


Andi kembali pulang, dengan wajah lesu ia membuka pintu rumah. Berbaring di sofa, menutup kedua matanya dengan satu lengan. Lelah, bingung, entah apa yang harus dilakukan. Andi tidak ingin mengakhiri semuanya begitu saja.


Sapaan dari Nayla membuat Andi membuka mata, mendudukkan tubuhnya dengan malas. “Belum tidur, Mbak?” tanyanya sembari menerima segelas air putih yang diberikan oleh Nayla.


“Tadi ditelpon Fahad. Kamu kenapa?” Nayla bertanya.

__ADS_1


Andi meneguk air putih itu hingga tersisa setengah gelas lalu menaruhnya di meja. “Nggak ada, Mbak. Cuma capek.” Andi menoleh pada Nayla, “besok, Mbak, jadi datang ke acara syukurannya Ryan?”


Nayla mengangguk. “Kalau kamu capek, mbak bisa naik taksi kok.”


Andi menggeleng cepat. “Enggak, besok Andi anter asaja. Jam sembilan, kan?”


Nayla mengangguk.


“Mbak?”


Nayla yang hendak berdiri itu pun mengurungkan niatnya. Ia memiringkan posisi duduknya agar lebih leluasa berbicara dengan adiknya. “Ya?”


Andi menatap langit-langit rumahnya. Untuk sesaat, dia terdiam, merangkai kalimat untuk disampaikan pada kakaknya ini. “Mbak, kenapa mau nikah sama Fahad?” tanyanya. “Kalau seandainya Fahad itu nggak kaya ... apa, Mbak, masih mau nikah sama dia?”


Nayla sudah mulai mengerti kemana arah pembicaraan Andi. Ya, walaupun Andi sama sekali belum pernah mengenalkan atau menceritakan tentang kekasihnya, dari raut wajah dan pertanyaan ... Nayla paham bahwa percakapan mereka mengenai kekasih adiknya ini.


“Andi, kamu juga tau sejak awal. Mbak dulu nggak mau nikah sama dia, dia kan orang kaya. Mbak waktu itu cuma seorang pelayan restaurant.”


“Terus kenapa, Mbak, mau nikah sama dia? Alasannya apa?” tanya Andi tetap dengan posisi semula.


Nayla mengedikkan bahunya. “Mbak juga nggak tau. Mungkin karena dia sungguh-sungguh buat nikah.”


“Aku pengen punya istri kayak, Mbak Nayla,” celetuk Andi. “Mbak, aku ngaku sebagai OB. Aku nggak ngaku kalau aku fotografer.” Imbuhnya.


Nayla mengerutkan keningnya. “Kenapa?”


“Mobil?” terkejut Nayla.


Andi mengangguk lemah. Pandangan matanya meminta sebuah saran dari sang kakak. “Apa aku harus kasih mas kawin mobil, Mbak? Bukannya itu terlalu berlebihan?”


“Andi, kalau kamu merasa nggak mampu, ya bilang aja. Karena percuma kalau kamu memaksa memberi mas kawin itu tapi hati kamu nggak ikhlas, pernikahan kamu nggak akan berkah. Nggak akan ada kebaikan di dalamnya,” tutur Nayla lembut.


“Kalau soal ikhlas, aku pasti ikhlas kasih apapun ke Dewi, tapi orangtuanya ngasih syarat yang aku nggak mampu, Mbak. Mereka tau, kalau aku ini OB. Tapi, kenapa mereka masih minta mas kawin seperti itu? Kalau diawal sudah begini, untuk selanjutnya pasti nggak ada yang baik-baik saja.” Andi menghela napas panjang. Rasanya, tidak akan kebaikan jika semua dimulai dengan sebuah paksaan.


“Mbak batalin rencana grand opening butik itu, mbak jual semuanya. Dan, kamu bisa kasih mas kawin mobil.”


Andi mendudukkan tubuhnya dengan tegap, menatap Nayla tanpa ragu. “Jangan pernah ngungkit soal modal butik itu. Semua itu nggak seberapa, Mbak. Kalau dulu, Mbak, nggak merelakan pendidikan untuk berjuang sama Andi ... sudah pasti Andi nggak bisa sejauh ini, Mbak.”


Andi tidak suka, jika Nayla terus saja mengungkit uang hasil kontrak kerjasamanya yang sudah sepenuhnya ia berikan kepada sang kakak. Ikhlas. Andi sungguh ikhlas memberikan semua itu. Tidak ada keraguan sedikitpun di dalam hatinya. Andi tau, Nayla adalah orang yang serius dengan semua ucapan dan niatnya. Dibalik sifat keras kepala kakaknya itu, ada rasa tanggung jawab besar yang selalu bisa dipenuhi tanpa ada celah sedikitpun.


“Andi, mbak dukung apapun keputusan kamu. Mbak cuma bisa kasih saran, untuk selanjutnya ... itu terserah kamu. Kamu ingat hadist ini, nggak? ...


Hadits Rasulullah Saw dari Aisyah.

__ADS_1


“Dari Aisyah bahwa Nabi Saw bersabda : “Sesungguhnya perkawinan yang besar barokahnya adalah yang paling mudah maharnya” dan sabdanya pula “Perempuan yang baik hati adalah yang murah maharnya, memudahkan dalam urusan perkawinannya serta baik akhlaknya sedangkan perempuan yang celaka yaitu yang mahal maharnya, sulit perkawinannya dan buruk akhlaknya.”


Menyentuh pundak Andi, “kamu sudah dewasa, mbak yakin kamu bisa mengambil keputusan dengan baik.”


***


Andi tengah mengantar Nayla dan Shazia ke tempat di mana Ryan mengadakan syukuran. Nayla dan teman-teman yang lain sepakat akan bertemu di tempat acara. Tak lupa, Nayla sudah meminta izin lagi kepada suaminya. Ia ingin memastikan bahwa Fahad benar-benar mengizinkannya karena Andi tidak bisa menemaninya di acara tersebut sampai selesai. Ada jadwal pemotretan di studio.


Nayla melihat wajah adiknya, terlihat biasa saja memang. Seperti tidak ada yang terjadi setelah pembahasan mas kawin dengannya semalam. Nayla menyentuh pundak sang adik. “Andi, kamu nggak apa, kan?” tanyanya.


Andi menoleh sebentar sembari menepiskan senyumnya. “Enggak, Mbak. Aku sudah lebih baik setelah ngobrol sama, Mbak, semalam. Sekarang, aku tau apa yang harus aku lakukan.”


Nayla lega mendengarnya. Ia takut adiknya akan frustasi oleh permintaan orang tua kekasihnya. Nayla tau, ini bukan pertama kalinya Andi menjalin hubungan dengan seseorang. Tapi Nayla rasa, baru kali ini Andi menjalin hubungan dengan serius sampai ada pembahasan soal mas kawin. “Andi, boleh nanya nggak?”


Andi tersenyum simpul. Pertanyaan kakaknya ini sangat lucu. "


“Mbak, itu namanya sudah nanya,” sahut Andi.


Nayla dan Andi tertawa, disusul dengan suara tawa kecil dari Shazia yang berada kursi belakang.


“Mau nanya apa, Mbak?” tanya Andi tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus ke depan.


Sejak semalam, Nayla dibuat penasaran dengan keputusan Andi yang mengaku sebagai seorang OB. Bukankah pekerjaannya yang sekarang patut dibanggakan—karena semua diraih oleh kerja keras dan keringat Andi sendiri.


“Aku mau lihat, siapa wanita yang ikhlas dan mau hidup sama seorang OB seperti aku ini, Mbak. Kalau membicarakan soal mobil, sudah jelas ini bukan mobilku. Dewi wanita baik, dia tau aku pasti bertanggungjawab. Tapi,” helaan napas panjang terdengar dari Andi. “Orangtuanya terlalu memaksa, Mbak. Aku tau, orangtua istriku nanti itu juga orangtuaku, tapi melihat dari permintaan yang menurutku itu nggak masuk akal, belum tentu mereka bisa menerima aku sebagai putra mereka. Aku nggak bisa, hidup dibalik rasa sungkan. Aku lebih mengedepankan rasa sayang diantara keluarga.” Senyuman terbit dari bibirnya. Sebuah senyuman untuk menyemangati diri sendiri.


Binar kagum terpancar dari kedua manik mata Nayla. Dari semua penjelasan adiknya, Nayla tau Andi lebih memilih mengubur perasaanya. Walaupun sakit, Nayla yakin Andi pasti bisa melewati semua ini.


Mobil berhenti tepat di area parkir sebuah cafe. Karangan bunga berjajar rapi di sekitar halaman. Terpampang jelas bahwa cafe itu bukan hanya sedang mengadakan acara syukuran, namun sebuah grand opening. Nayla belum turun, ia masih terpaku menatap semua karangan bunga itu.


“Nggak turun?” tanya Andi sembari melepas sabuk pengamannya. “Nggak usah ragu, Mbak Nayla, juga diundang.”


Nayla tertawa kecil. Andi bisa melihat ada keraguan dibalik sorot matanya. Melepaskan pengait sabuk pengaman, menghela napas panjang untuk menyemangati diri sendiri agar tidak ragu dan malu untuk memenuhi undangan tersebut.


Andi mengambil Shazia, membawa si pipi gembul itu kedalam pelukannya. “Zia jangan bikin repot mama, ya? Duduk cantik sambil awasin mama kalau digodain cowok lain.”


“Andi, kamu—”


“Bercanda, Mbak.” Andi tertawa.


Shazia meronta, meminta untuk diturunkan setelah melihat Ryan yang berjalan menghampirinya. “Om Iyan!” Berlari, merentangkan kedua tangannya.


“Hai, Shazia.” Ryan mengangkat tubuh Shazia, mencium kedua pipinya dengan gemas lalu menyapa Nayla dan juga Andi.

__ADS_1


***


 


__ADS_2