
Andi menuntun Nayla untuk duduk di tepi tempat tidur, ia mengambil segelas air putih di atas meja nakas lalu menyuruh kakaknya itu untuk minum. “Mbak, ada apa? Kenapa takut sama Ryan?” tanyanya dengan perlahan.
Nayla pun menceritakan apa yang sudah terjadi semalam dan pernyataan cinta dari Ryan untuknya. Andi terkejut mendengarnya, tangannya sudah mengepal menahan geram pada lelaki yang sudah lancang mencintai kakaknya.
“Kenapa, Mbak, nggak bilang sama Andi?”
“Kalau mbak bilang ... kamu pasti mukulin dia, sedangkan—”
“Itu pasti, Mbak, aku pasti pukulin dia. Cinta boleh saja, tapi nggak harus gitu juga, kan!”
“Mbak nggak mau merusak acara pernikahan Sari dan Doni, Andi. Kalau kamu tau, kamu pasti sudah bikin dia babak belur sama seperti Fahad dulu,” ujar Nayla.
Andi hendak memrotes lagi, namun tangan kecil milik Shazia menyentuh lengannya. Senyum keponakannya itu membuat kedua tangannya serentak mengangkat tubuh Shazia ke dalam pangkuannya. Andi memilih tidak kembali ke studio, ia menyerahkan semua pekerjaannya pada Reza. Reza mengiyakan perintah Andi, meskipun bibirnya tak henti mengumpat pada temannya itu. Bukan berarti Reza keberatan, dia cukup memahami alasan yang diberikan Andi kepadanya. Ya, kakaknya sendirian di rumah, ada sesuatu yang tidak Andi jelaskan kepadanya secara detail ... dapat dipastikan bahwa bukan hal.sepele yang sedang terjadi di rumah Andi.
Seharian Andi berada di rumah, ia yang mengalah keluar rumah untuk membeli segala keperluan karena Nayla masih merasa takut. Andi bisa mengerti ketakutan kakaknya, terlebih saat ini suaminya tidak berada di sampingnya.
Nayla tidak menyalahkan perasaan cinta Ryan padanya. Dia tau, itu manusiawi. Nayla tidak berpikir bahwa Ryan masih menyimpan perasaan padanya. Hanya saja, mendengar ungkapan cinta itu di saat ia sudah menjadi istri pria lain ... membuat hatinya terkejut bukan main. Nayla pikir, Ryan sudah melupakan semuanya mengingat dimana saat teman-teman mereka yang masih saja menyindir soal perasaan Ryan padanya, dan di saat itu hanyalah Ryan yang masih terlihat biasa saja. Tidak ada perasaan canggung yang ditunjukan lelaki itu.
Ternyata Nayla salah ... Ryan masih sama, dia masih mencintainya. Sampai sekarang.
***
Seminggu sudah Nayla tidak keluar rumah. Rasa bosan mulai melandanya. Dia ingin keluar rumah sekedar mencari suasana baru agar kepenatannya sedikit berkurang. Namun, rasa takutnya pada Ryan datang sebelum ia benar-benar keluar rumah.
Selama seminggu itu pula, Andi selalu berangkat ke studio lebih siang. Karena selama seminggu itu, Ryan terus saja datang ke rumah. Entah apa yang diinginkan pria itu dengan datang setiap pagi ke rumah mereka. Andi ingin keluar, mendaratkan beberapa pukulan pada Ryan ... namun, kakaknya itu selalu mencegahnya. Nayla tidak ingin Andi berada dalam masalah. Dan, Ryan akan pergi sendiri karena tidak mendapat jawaban dari sang pemilik rumah. Begitulah, setiap hari.
Pagi itu, Ryan memang datang ...tapi tak lama, pria itu pergi. Ada sebuah surat yang diselipkan Ryan dari bawah pintu. Nayla mengambilnya lalu membacanya.
__ADS_1
Nayla ... maaf, aku salah. Maafkan aku.
Ya, hanya itu isi dari selembar surat tersebut. Nayla berpikir positif, mungkin itu memang maksud Ryan datang setiap hari ke rumah. Pria itu ingin meminta maaf padanya. Namun, Nayla tetap merasa takut jika harus bertemu dengan pria itu lagi. Tetap berdiam diri di rumah adalah yang terbaik. Menyibukkan diri dengan segala urusan rumah dan sibuk mengurus putrinya.
Siang itu, Andi sudah berangkat ke studio, Shazia pun sudah tidur siang. Nayla yang sangat merindukan suaminya itu memilih memasak kheer, puding nasi. Nayla sangat menyukai kheer karena cara memasaknya yang sangat mudah. Dan, puding nasi itu adalah salah satu dessert kesukaan suaminya.
Cukup merendam beras dengan air panas selama lima menit, tiriskan lalu tumbuk. Beras tidak perlu terlalu halus, sisihkan. Lalu, rebus susu cair, kapulaga, susu kental manis, jahe dan beras dengan api sedang sampai sedikit mengental dan masukan khoya. Khoya ini terbuat dari susu cair dan minyak samin, lalu campurkan kedua bahan itu pada satu cup susu low fat. Tidak memakai khoya pun rasanya juga sudah lezat.
Aduk sampai terasa berat dan beras sudah menjadi nasi. Pindahkan kedalam wadah tahan panas lalu taburi kacang almond.
Matang, Nayla memasukkan kheer ke dalam mangkuk besar. Ia menyiram dengan khoya di atasnya. Nayla tersenyum melihat hasil masakannya.
“Assalamu'alaikum,” suara seorang pria terdengar.
Nayla yang berdiri menghadap bowl sink itu seketika menghentikan aktifitasnya mencuci peralatan masak. Ia sangat mengenal suara itu. Nayla mematikan keran air, perlahan ... ia memutar tubuhnya.
Kedua sudut bibirnya naik, membentuk sebuah senyuman. Ia berhambur ke pelukan pria tersebut. ”Aku kangen,” ucapnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Nayla mendongakkan wajah, agar pandangannya bisa menjangkau wajah Fahad dengan lebih jelas. “Koi, nggak bilang kalau kamu mau datang? Kan, aku bisa jemput di bandara.”
“Kan, surprise,” jawab Fahad. Ia menghapus air mata Nayla dengan ibu jarinya, lalu mendaratkan ciuman di pipi sang istri dengan gemasnya. “Salam aku belum dijawab,” katanya kemudian.
Nayla tersenyum simpul lalu menjawab salam suaminya, “wa'alaikumsalam.”
Fahad kembali memeluk istrinya, lama ... cukup lama mereka hanya saling berpelukan sampai suara Shazia yang terbangun memaksa mereka saling melepas pelukan. Nayla masuk ke kamar, sementara Fahad ... ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya terlebih dahulu.
“Masya Allah, anak papa semakin cantik.” Fahad mendaratkan ciuman di kedua pipi sang putri. Mendekap tubuh yang gembul itu dengan cukup lama. Shazia terlihat sangat merindukan papanya. Kedua tangannya melingkar di leher Fahad, menyandarkan kepalanya di bahu sang papa.
__ADS_1
Fahad membawa Shazia keluar kamar lalu duduk di sofa ruang tv.
“Papa ... papa,” celoteh Shazia bahagia.
Nayla menyuguhkan segelas air putih untuk Fahad, sesuai permintaan sang suami. “Sini kheernya, biar aku yang suapi dia.” Fahad mengambil mangkuk kecil.dari tangan Nayla dan mulai menyuapi sang putri puding beras yang masih hangat itu. “Kamu setiap hari masak ini?” tanyanya kepada Nayla.
Nayla menggeleng, “aku hari ini kangen kamu, jadi aku masak itu.”
Helaan napas lelah terdengar dari Fahad. “Aku baru datang, pengin banget makan makanan Indonesia. Tapi, kamu malah masak kheer.”
Nayla tersenyum. “Iya, nanti aku masakin. Mau apa? Mie instan?” dia menggoda.
“Kamu pasti punya stok mie instan banyak, kan?” Fahad menyentuh pipi Nayla dengan punggung tangannya. “Kebiasaan!” sentuhan lembut itu berubah menjadi cubitan gemas. “Senang kamu, ya? Bisa makan mie instan sepuasnya selama nggak ada aku.”
Nayla meringis kesakitan. “Fahad, kamu datang-datang main cubit aja!” protesnya.
Fahad tersenyum, dia sangat merindukan semua yang ada pada Nayla. Tawanya, senyumnya, marahnya, dan apapun itu ... Fahad sangat rindu. Kedua matanya memperhatikan setiap inci wajah sang istri, mencoba mencari titik kesedihan dan ketakutan yang sudah beberapa hari ini menghantui wanita di hadapannya ini. Fahad tau, Andi menceritakan semuanya, tanpa terkecuali. Dia tidak marah pada Nayla. Istrinya hanya datang ke pernikahan temannya, tidak lebih. Namun, apa yang dilakukan oleh Ryan memang benar-benar membuat istrinya ini merasa ketakutan.
“Sayang, kenapa kalau sudah cinta itu susah banget buat lupa.” Fahad berucap.
Kedua alis Nayla menyatu, “maksudnya?”
Fahad menaruh mangkuk kheer ke meja lalu menurunkan Shazia dari pangkuannya. “Iya,” merapikan anak rambut Nayla ke belakang telinga. “Siapapun, kalau sudah kena pandangan mata kamu, sudah kena senyum kamu, sudah kena cinta kamu, pasti nggak bisa lupa. Entah setahun, dua tahun, tiga tahun, atau bahkan selamanya.”
Nayla terdiam. Tak terasa bulir bening itu meluncur, membasahi pipinya. “Maafin aku, Fahad. Aku salah,” suaranya bergetar.
Sontak kedua tangan Fahad merangkul tubuh Nayla. Membiarkan pundaknya menjadi tempat peraduan sang istri yang benar-benar kecewa. Tidak. Fahad tidak akan menyuruh Nayla untuk berhenti menangis. Biarlah semua rasa sakit dan kecewa itu keluar bersama tetes bening dari mata indah sang istri.
__ADS_1
“Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu. Aku nggak bisa jaga kamu dan Shazia. Jangan takut lagi, aku sudah di sini.
***