
Seusai mengakhiri panggilan telpon dari Fahad, Nayla kembali masuk ke kamar. Mencoba berpikir positif, mungkin benar kata suaminya ... Andi masih sibuk. Dan, ya, Andi sudah besar sekarang. Nayla tidak perlu khawatir, dia yakin Andi bisa menjaga diri. Tetapi, bagi seorang kakak ... adiknya yang sudah besar tetap akan menjadi adik kecilnya yang harus selalu ia jaga.
Kilatan cahaya dari lampu mobil masuk menembus kamar Nayla dari jendelanya. Mengintip, dan itu memanglah Andi. Mata Nayla menyipit, ia melihat bukan Andi yang turun dari arah kursi kemudi, Reza-lah yang keluar dari sana.
Nayla segera memakai jaket tipis dan hijabnya. Ia keluar kamar lalu membuka pintu rumah. Matanya membulat sempurna begitu melihat Andi yang sempoyongan dibantu berjalan oleh Reza.
“Andi ...” Nayla mendekat. Ia membantu Reza membopong tubuh Andi masuk kedalam rumah. Nayla dapat mencium aroma alkohol dari mulut sang adik.
“Mbak, maaf, tadi Andi—”
“Kenapa bisa kayak gini, sih? Andi kan nggak pernah minum,” tukas Nayla.
Keduanya membantu Andi untuk berbaring di kamar. Bau alkohol menguar, mengusik indera penciuman Nayla. Dia marah, melihat adiknya yang terlihat sangat hancur atas apa yang sudah terjadi. Andi tau, mana yang baik dan mana yang benar. Akan tetapi, kali ini adiknya itu benar-benar lemah. Lemah akan cinta.
“Makasih, Za, kamu udah anter Andi pulang.” Nayla mengantar Reza hingga ke depan pintu, terlihat seseorang diatas motor yang siap menjemput Reza. “Itu adik kamu?” tanyanya.
Reza mengangguk.
Nayla melepas sepatu Andi, membenarkan posisi tidurnya dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuh adiknya. Nayla duduk di tepi tempat tidur, memandang wajah adiknya yang tertidur. “Kamu kenapa kayak gini, Andi?" Nayla membelai lembut ujung kepala sang adik.
Nayla beranjak, menutup pintu kamar Andi tanpa menimbulkan suara.
Nayla menghela napasnya dengan kasar, ia merasa marah pada kedua orang tua Dewi. Syarat mas kawin yang mereka minta sangat aneh. Baiklah, memang banyak yang seperti itu, tapi apa harus mengikuti hal yang dirasa tidak baik seperti itu? Sebuah mas kawin akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Jika mas kawin adalah seperangkat alat salat, maka seperangkat alat sholat itu juga harus dipakai salat, bukan hanya untuk pajangan. Karena sungguh, mas kawin tersebut sangatlah berat. Maka dari itu, lebih baik mas kawin hanyalah uang. Sedikit, dan segera habiskan untuk hal yang berguna. Itu lebih baik.
Mas kawin harus atas kerelaan kedua belah pihak; yaitu kedua mempelai. Untuk apa mas kawin dengan jumlah besar namun tidak memberi keberkahan dalam pernikahan. Kosong, pernikahan itu kosong.
***
Pagi sudah kembali menyapa. Nayla sibuk dengan aktivitasnya sejak subuh. Nayla tengah memasak sembari mengawasi Shazia yang bermain dengan mainan alat masak di lantai.
Berkali-kali Nayla menengok Andi di kamar, namun adiknya itu tak kunjung bangun. Sepertinya, pengaruh minuman beralkohol itu membuat kesadaran Andi benar-benar hilang. Andi bukan peminum, tak heran jika tubuhnya bereaksi demikian.
Sesudah memandikan Shazia, Nayla memangku putri mungilnya itu lalu menyuapinya. Sebuah panggilan dari Fahad tertera di layar ponselnya.
“Papa!” teriak Shazia riang. Ia bertepuk tangan dengan mata yang berbinar bahagia. Nayla menyandarkan ponselnya pada sebuah gelas kaca agar suaminya bisa melihat mereka dengan jelas.
"“Lagi sarapan apa kamu?” tanya Fahad pada Shazia. Putrinya itu tidak menjawab, namun ia menunjukkan kentang dan wortel kukus yang ia pegang pada layar ponsel, bermaksud menunjukkan pada papanya.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Nayla.
“Belum, Yasmin belum bangun.”
“Enak saja! Aku sudah bangun,” sahut Yasmin yang berjalan mendekat pada Fahad.
Yasmin berdiri di belakang Fahad dengan tangan yang sibuk menguncir kuda rambutnya. “Kakak ipar, aku sangat merindukanmu!” seru Yasmin.
Seketika Fahad menutup satu telinganya dengan telapak tangan. “Berisik!!" serunya.
__ADS_1
“Hai, Auntie Yasmin.” Nayla melambaikan tangan sang putri pada Yasmin.
“Uuuwww, Auntie kangen.” Yasmin berpura-pura menangis, membuat Shazia tersenyum saat melihatnya.
“udah sana, buatin kakak teh,” perintah Fahad. Yasmin menyebik, namun ia tetap melaksanakan perintah kakaknya tersebut. Menyiapkan teh dan sarapan. Ya, meskipun hanya roti panggang yang bisa ia buat.
Nayla dan Fahad kembali melanjutkan obrolan mereka. “Andi mana? Kok nggak ikut sarapan?” tanyanya.
“Masih tidur dia.”
Fahad meminta izin perihal undangan pesta di sebuah klub malam. Entah diberi izin atau tidak, Fahad merasa tetap penting untuk mengatakan semuanya kepada sang istri. Jangan sampai istrinya itu tau dari orang lain, yang sudah pasti akan menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.
“Aku, kan, belum jawab, kamu kebiasaan banget ... menyimpulkan segala sesuatunya sendiri,” sindir Nayla.
Fahad tersenyum, ya ... ia sadar bahwa apa yang diucapkan istrinya itu memang benar.
“Sebenarnya aku ingin ngelarang, tapi berhubung ini ada kepentingannya sama bisnis kamu, ya sudah nggak apa. Asal kamu bisa jaga kepercayaan yang sudah aku kasih, kamu boleh pergi.”
Fahad tersenyum simpul. Istrinya sangat pengertian. Ia bersyukur untuk hal itu.
“Ingat! Jangan macam-macam, jangan genit, jangan tebar pesona. Ingat, kamu sudah punya anak.”
Ucapan Nayla terdengar seperti ancaman. Menusuk indera pendengaran Fahad dengan tajam. Sudah cukup, masa lalu yang kelam itu mengusik hati dan jiwanya. Sekarang, Fahad bertekad untuk akan menjaga apapun yang ada di pelukannya. Menjaga hati dan juga cintanya untuk keluarga.
***
Nayla membelai wajah adiknya. “Andi, kamu sudah bangun?”
Andi sudah membuka matanya, ia dapat melihat senyuman Nayla. Andi hendak bangun, namun kepalanya terasa sangat berat.
“Nggak usah bangun dulu, mbak ambilin minum.”
Kepala Andi terasa berputar, perutnya seperti diaduk-aduk. Andi pun memuntahkan segala isi di dalam perutnya ke lantai. Nayla membantu Andi dengan memijat tengkuk leher adiknya itu. “Sudah?” tanya Nayla yang dijawab anggukan oleh Andi. Nayla mengambil tisu untuk mengelap bibir Andi. Ia membersihkan lantai yang terkena muntahan, ia juga membantu melepas kaos yang masih melekat di tubuh Andi dan membawanya ke belakang.
Nayla kembali ke kamar Andi dengan secangkir teh madu di tangannya. Ia melihat Andi yang mendudukkan separuh tubuhnya di kepala tempat tidur. Andi sudah memakai kaos ganti serta celana pendek selutut. Nayla duduk di tepi tempat tidur dan membantunya meminum teh.
“Kamu mau makan? Mbak ambilin, ya?”
Andi mengeleng lemah, “enggak, Mbak. Aku mau tidur saja Kelapaku pusing.”
“Ya, sudah. Mbak buatin bubur, nanti kalau sudah matang mbak bangunin kamu.” Nayla membantu Andi untuk berbaring, menutupi separuh tubuh sang adik dengan selimut.
***
Nayla ingin marah, bukan pada Andi ... melainkan pada kedua orang tua Dewi. Kenapa mereka mempersulit dua orang yang saling mencintai dengan syarat mas kawin yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Oke. Nayla tidak ingin memendam amarah yang berlarut-larut kepada keluarga Dewi. Di sini, Andi juga terlibat. Sebagai seorang lelaki, harusnya Andi juga bisa bersikap lebih dewasa. Sudahlah, semuanya sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur.
Oh, tunggu! Bubur?
__ADS_1
Nayla mengecilkan api. Ia mengaduk bubur beras tersebut agar teksturnya lebih lembek. Sembari menunggu bubur matang, Nayla juga memasak ayam suwir beserta kuah untuk pendamping makan bubur, nanti.
Suara motor mengalihkan perhatian Nayla. Suara motor Mas Arif, Nayla sangat hapal. Nayla membukakan pintu, mempersilakan kakak dan juga kakak iparnya untuk masuk. Ada rasa takut di hati Nayla. Kakak pertamanya itu cukup tegas, di takut jika Mas Arif akan sangat marah jika tau keadaan adik bungsu mereka.
“Lagi masak apa, Nay?” Mbak Indah mengikuti Nayla ke dapur.
“Masak bubur, Mbak. Buat Andi.”
“Andi?” tanya Mas Arif yang baru saja menyusul.
Nayla mengangguk, “Dia lagi nggak enak badan, makanya aku masakin bubur.”
Nayla juga membuatkan minuman untuk Mas Arif dan istrinya. Awalnya, Nayla ragu mengatakan apa yang terjadi pada Andi. Namun, ia merasa bersalah jika tidak memberi tau kakaknya yang lain. Akhirnya Nayla pun menceritakan tentang mas kawin yang diminta orang tua dewi serta Andi yang mabuk.
Satu tangan Mas Arif mengepal geram. Adik bungsu yang ia kenal baik dan tidak neko-neko itu berani menenggak minuman haram hanya karena seorang gadis. Beranjak berdiri, ingin rasanya Mas Arif menghantam wajah Andi, agar adiknya itu sadar akan kesalahan yang sudah ia perbuat.
Tentu saja Nayla tidak tinggal diam. Dia menarik tangan Mas Arif lalu menuntunnya untuk duduk kembali. Memberi penjelasan bahwa Andi bukan hanya sakit badan, hati adiknya itu juga sakit. Kekerasan hanya akan menambah luka yang semakin lebar di ruang hati milik Andi. Nayla yakin, jika Mas Arif memiliki Andi, adiknya itu sudah pasti akan diam saja dan tidak membalas satu pukulan pun.
“Tapi, apa harus dia minum seperti itu? Ini seperti bukan Andi.” Mas Arif berucap.
“Justru itu, karena dia bukan seperti Andi yang kita kenal. Benar kata Nayla, kita jengah memperburuk suasana hatinya, kita harus mengerti keadaan Andi, Pa. Kita bantu dia sembuh.” Mbak Indah menimpali.
Mas Arif pun setuju, ia memilih diam dan membiarkan Nayla yang bicara. Jika nanti Andi masih saja minum, ia sendiri yang akan turun tangan untuk memberi pelajaran kepada adiknya tersebut.
Bubur sudah matang. Nayla segera membawa nampan berisi mangkuk bubur dan air putih ke kamar Andi. Sebelumnya, Nayla menengok Shazia yang masih terlelap dalam tidurnya.
Andi mulai mengerjapkan matanya, menyesuaikan akan bias cahaya yang masuk ke matanya. “Mbak,” suara parau Andi. “Andi nggak mau makan,” imbuhnya.
Nayla sedikit memaksa. Dia membantu Andi untuk duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur.“Kamu dari semalam pasti belum makan.”
Mendengar ucapan Nayla, Andi mulai mengingat apa yang ia lakukan semalam. Membuka matanya lebih lebar, memandang wajah kakak perempuannya yang tersenyum hangat. “Mbak, semalam—”
“Iya.” Nayla mengangguk. “Kalau kamu sudah baikan, nanti kita bisa ngobrol.”
Mendekatkan sendok yang sudah terisi bubur itu ke bibir Andi. Nayla menyuapi Andi dengan penuh kasih sayang. Kedua orangtua mereka sudah tiada, kasih sayang sesama saudara adalah kekuatan yang paling besar diantara mereka. Mengungkapkan rasa sayang dengan saling menunjukkan kepedulian satu sama lain. Setelah semua ini berlalu, Nayla berharap adiknya bisa lebih dewasa menyikapi sebuah cinta.
Suara tawa kecil Shazia terdengar.
“Mbak, Zia bangun.” Andi menolak suapan Nayla.
“Ada Mbak Indah sama Mas Arif. Habisin dulu buburnya.”
Andi menggeleng. Ia merasa perutnya sudah terisi penuh.
***
__ADS_1