
Nayla berada di salah satu supermarket untuk berbelanja beberapa kebutuhan, dengan ditemani suami dan sang putri tentunya. Sebelumnya, Nayla sudah menulis di catatan ponsel, apa saja yang harus dibeli. Meskipun sudah menulis, Nayla tetap saja memikirkan sesuatu yang mungkin saja belum dia tulis.
“Sayang, kalau tambah satu lagi pasti tambah rame.” Fahad berujar.
“Tambah apa?” tanya Nayla yang memang tidak mengerti maksud dari ucapan suaminya.
“Kalau tambah satu anak lagi, Sayang.” Senyuman penuh harapan.
“Kamu mau? Nambah berapa? Dua, tiga atau berapa?” Nayla menantang.
Fahad tertawa kecil. Tidak seserius itu, dia hanya asal berucap saja. Meskipun di dalam hati kecilnya memang menginginkan satu anggota lagi di dalam keluarga, Fahad mencoba menahan diri karena tidak ingin Nayla merasa terbebani dengan ucapan darinya. Soal anak, Fahad sudah sangat bersyukur dengan adanya Shazia. Baginya, kebahagian kedua bidadarinya tersebut adalah yang terpenting.
Nayla memang pernah mengatakan untuk menunda memiliki anak lagi. Shazia masih terlalu kecil. Saat ini, putri mungilnya itu sangat membutuhkan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya. Dalam masa kembangnya, Fahad benar-benar tidak ingin Shazia merasa terabaikan jika dia mempunyai adik. Selain itu, Nayla sudah pasti akan repot dan lelah dua kali lebih. Mengurus rumah, adik-adiknya, ammi, serta putrinya seorang diri.
“Kita bahas masalah anak di rumah saja, Fahad. Ini masih belanja, jangan ganggu konsentrasi belanja.” Nayla tersenyum kepada Fahad.
“Aku bercanda, Sayang, kamu serius banget,” satu tangan Fahad mengusap lembut puncak kepala sang istri.
Ucapan dari Fahad membuat senyuman Nayla semakin lebar. Mungkin, suaminya sudah berubah pikiran perihal anak, namun semua pemikiran itu sirna seiring penjelasan lebih lanjut dari Fahad. Serahkan semuanya kepada sang pencipta, anak kedua dalam waktu dekat atau lama, tidak ada masalah. Pun, jika hanya ada Shazia di pernikahan mereka, Fahad juga tidak merasa keberatan. Memutuskan untuk tetap bersama, dalam suka dan duka, selalu bergandengan tangan untuk berjuang bersama.
“Mau lanjut belanja atau senyum terus?” Fahad menggoda.
“Belanja, dong!” Nayla tersenyum simpul.
Nayla mengambil buah pisang kesukaan Shazia lalu memasukkannya ke dalam troli. Dia membeli banyak bahan kebutuhan dapur, karena sebentar lagi harus segera kembali ke India untuk membantu mengurus pertunangan Yasmin, adik iparnya. Nayla tidak ingin Andi kekurangan sesuatu, maka dari itu dia membeli persediaan kopi, teh, gula, beras, makanan instan yang bisa diolah oleh Andi sendiri. Seperti, mie instan dan sarden. Tak lupa Nayla juga membeli camilan untuk menemani Andi mengerjakan pekerjaannya di rumah
Nayla juga tidak pernah lelah mengingatkan Andi agar jangan terlalu sering memakan makanan instan yang tidak baik untuk kesehatannya.
Aku makan makanan instan kalau lagi lapar malam-malam, Mbak, paling sering aku beli lauk di luar dan masak nasi sendiri. Biasanya beli sate atau lalapan gitu. Kadang Mbak Indah, Mbak Dewi, Mbak Mita gantian kesini cuma buat masakin Andi sayur. Katanya takut dimarahin sama Mbak Nayla kalau sampai Andi sakit.
Begitulah yang selalu di ucapkan Andi ketika Nayla selalu mengingatkannya tentang makanan instan dan menjaga kesehatan. Nayla lega, adiknya ini memang sangat menurut pada kakak-kakaknya. Sama halnya dengan Nayla, A di tau dibalik kecerewetan semua kakaknya, semata-mata karena mereka sangat menyayangi adik bungsunya yang paling tampan dan baru saja patah hati itu.
“Nay?”
Nayla menoleh begitu ia mendengar namanya dipanggil. Jantungnya terasa berhenti sejenak. Tubuhnya membeku, kedua matanya tak bisa berpaling meskipun dia sangat ingin mengakhiri pandangan tersebut. Setelah beberapa detik, Nayla mundur begitu melihat Ryan semakin mendekatinya.
__ADS_1
Fahad!
Teriakkan itu hanya terucap di dalam hatinya, entah mengapa bibirnya sulit sekali terbuka dan memanggil nama sang suami.
“Sebentar, Nay, aku mau bicara sama kamu.” Ryan menahan troli Nayla. “Aku mau minta maaf sama kamu. Maaf, atas kelancanganku, maaf karena aku nggak mau mengerti tentang hati kamu.” Ryan masih mencoba menjelaskan dan meminta maaf. Meskipun Nayla berkali-kali menarik troli dan hendak pergi menjauh darinya.
“Aku sadar, Nay, sampai kapanpun aku sudah nggak bisa berjuang, Tapi ...,” ada jeda sesaat sebelum Ryan melanjutkan kalimatnya.
“Tapi, setidaknya aku sudah lega bisa mengungkapkan perasaan ini. lagi. Aku juga ngerasa nggak tenang sebelum aku minta maaf sama kamu. Maaf, Nay, maafin aku.” Ryan memohon dengan tulus.
Nayla dapat melihat itu dari sorot mata Ryan. Ya, Ryan memang benar-benar meminta maaf atas sikap dan hatinya yang lancang.
“Nay, apa kamu nggak bisa maafin aku?”
Nayla menghela napas panjang.
“Ryan, aku sudah melupakan semua itu,” bohong Nayla, mana mungkin dia bisa melupakan ada pria lain yang menyentuhnya dengan paksa. Tapi, Nayla memutuskan untuk tidak larut dalam ketakutannya pada Ryan. Bagaimanapun juga, dia harus menghadapi rasa takut itu. Dan Ryan bukanlah pria yang menyeramkan, dia hanya mengutarakan rasa cintanya, tidak lebih.
“Jadi, kamu nggak usah merasa bersalah lagi. Kita lupakan semuanya,” sambungnya.
Masih ada tahu ragu serta takut, namun Nayla tetap menyambut uluran tangan Ryan. “Kamu juga, jangan lupa bahagia. Bahagia itu kita yang tentukan, bukan orang lain,” sebuah senyuman mengiringi ucapan Nayla.
“Terima kasih, Nay, salam buat Shazia.” Dengan berarti hati, dengan langkah yang dia paksa, Ryan berjalan keluar area supermarket. Sakit sekali, harus merelakan Nayla lagi.
Nayla tidak sadar, ada sepasang mata yang mengawasinya sejak Ryan menghampirinya. Fahad, diamengawasi Nayla. Bukan dengan tatapan marah ataupun curiga, melainkan tatapan penuh bahagia sebab Ryan sudah memutuskan akan pergi dari istrinya dan mengubur cintanya.
Saat Fahad melihat Ryan menghampiri Nayla, tangannya mengepal serta merasa geram dan hendak memukuli lelaki itu. Satu kakinya sudah maju selangkah, namun dia ingat bahwa Shazia sedang berada di dalam gendongannya, juga Nayla yang tidak suka penyelesaian masalah dengan kekerasan. Fahad menahan diri dan berusaha mengendalikan emosinya.
“Sayang?” Fahad menepuk bahu Nayla yang masih memandang ke arah pintu keluar.
“Eh,” terkejut Nayla. “Biskuitnya sudah dapat?” tanyanya kemudian.
“Sudah.” Fahad menaruh dua bungkus biskuit ke dalam troli. “Masih ada yang mau dibeli lagi?”
Nayla menggeleng, “Nggak ada, sudah lengkap semua.” Mereka bertiga pun berjalan ke arah kasir, membayar semua belanjaan lalu pulang.
__ADS_1
***
Nayla mengatakan pada Andi, di mana saja dia menaruh kebutuhan dapur. Mulai dari persediaan gula, teh, kopi, susu, mie instan dan yang lainnya. “Ini sarden, nugget, sama sosis ada di kulkas, Ndi,” kaya lta Nayla yang menata lima kaleng sarden ukuran sedang dan empat pack nugget serta sosis ke dalam lemari pendingin. Andi memperhatikan seraya mengiyakan ucapan dan segala pesan Nayla.
“Mbak juga beli camilan, sebagian ada di kulkas, sebagian ada di lemari penyimpanan, di sebelah mie instan itu,” imbuhnya.
“Iya, Mbak.”
“Anak pintar.” Nayla menepuk-nepuk kepala adiknya.
“Di kira anak TK apa!” protes Andi.
Fahad yang mendengar mereka pun tersenyum simpul. Istri dan adik iparnya ini sangat saling menyayangi satu sama lain. Kepedulian dan kedekatan mereka sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Jika satu dari mereka tersakiti, maka yang satu akan mengobati dan jika perlu membalas rasa sakit itu. Terutama Andi, yang tidak pernah mau diam jika Nayla menangis.
Masih jelas diingatannya, Andi menghajarnya habis-habisan karena melihat Nayla tersakiti dan menangis sebab dirinya yang akan menikah lagi. Fahad tahu Andi akan marah, tapi dia sendiri tidak menyangka jika Andi akan berubah layaknya harimau kelaparan. Menerkam mangsanya tanpa ampun.
Berbeda dengan Nayla, yang lebih suka menyelesaikan masalah dengan duduk dan berbicara baik-baik. Bagi Nayla, tidak ada untungnya menyelesaikan masalah dengan emosi, semuanya akan semakin rumit. Wanita tidak suka kekerasan, mereka akan lebih memilih diam dan sabar. Namun, jika mereka sudah tidak dianggap, mereka akan pergi dan tidak akan kembali lagi.
“Kamu kalau ada waktu, main ke India, Ndi, pintu rumah selalu terbuka buat kamu, “ucap Fahad seraya menepuk bahu adik iparnya tersebut.
Andi mengangguk, “Iya, aku usahain. Tapi awas aja,” jari telunjuknya mengarah ke Fahad. “Kalau aku kesana, aku lihat Mbak Nayla nangis kayak dulu lagi. Aku bisa lebih dari itu dan Mbak Nayla aku bawa pulang.”
“Andi, kamu—”
Andi menoleh “Bercanda, Mbak, serius banget,” sahutnya.
Fahad tidak marah, ucapan Andi adalah sebuah peringatan untuknya. Peringatan untuk selalu mencintai dan juga melindungi Nayla.
***
Family time
Jangan menyia-nyiakan waktu bersama keluarga. Sebesar apapun gajimu, tidak akan bisa membeli kehangatan berkumpul bersama keluarga. Kemanapun kaki membawa, kemanapun kamu singgah, bagaimanapun keadaannya, keluarga adalah tempat pulang. Rumah, tempat terhangat dan ternyaman. Jangan biarkan rumah itu menjadi dingin dan tak berpenghuni dengan kesibukan masing-masing. Luangkan waktu untuk keluarga sebelum penyesalan itu datang.
__ADS_1
@ummy_wachida_