Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 50


__ADS_3

Menghapus air mata Nayla dengan ibu jarinya, “jangan minta maaf, kamu nggak salah, Sayang.” Fahad kembali mendaratkan ciuman di kening istrinya.


Ucapan Fahad justru membuat Nayla tak bisa berhenti membendung air matanya, ia tumpahkan segala rasa kecewa dan sakitnya di pelukan pria yang sangat ia rindukan. Dalam dekapan suaminya, Nayla tak henti menangis ... bibirnya tak henti mengucap kata maaf. Maaf sebab ia belum sempat memberitahu tentang kehamilannya. Maaf sebab ia tak bisa menjaga calon anak mereka.


“Sayang,” kedua tangan Fahad menangkup wajah Nayla. “Jangan bikin aku tambah bersalah karena permintaan maaf kamu. Di sini aku yang salah, aku nggak bisa jaga kalian berdua.”


“Aku mau kasih kejutan pas kamu datang, tapi ternyata—”


“Ssttt.” Fahad kembali mendekap tubuh Nayla, lebih memasukkan ke dalam dadanya. “Udah, Sayang, nggak apa. Allah punya sesuatu yang indah dibalik semua ini. Aku nggak nyalahin kamu, yang penting kamu sama Andi selamat.”


Cukup lama keduanya saling memberi pelukan, saling memberi kekuatan sebab hati mereka terluka. Iya, Fahad juga sakit dan kecewa ... tapi istrinya lebih merasa sakit dan kecewa. Air mata yang tak henti mengalir, permintaan maaf, sungguh ... Fahad tidak bisa melihat semua itu terlalu lama.


Fahad sudah pernah merasakan kehilangan seorang anak. Hatinya begitu pilu sedih yang berkepanjangan ... tak ada satu pun manusia yang menginginkan sebuah kesedihan, tapi apa mau dikata, semua sudah takdirnya. Susah payah Fahad berusaha bangkit dari kesedihannya. Ia mampu melewati semua rasa sakit itu ketika bertemu Nayla.


Dan sekarang, ia kembali merasakan sakit serta kesedihan dimana ia harus kehilangan anak yang bahkan belum ia tahu kehadirannya yang sudah hidup di rahim Nayla, istrinya. Fahad ingin marah. Bukan pada Nayla, melainkan kepada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga sang istri.


Permintaan maaf yang terlontar dari bibir Nayla, air mata yang tak henti menetes ... rasa sakit, pedih bercampur aduk di hati Fahad. Hanya pelukan, usapan lembut yang ia harapkan bisa menenangkan hati Nayla.


***


Fahad keluar kamar rawat inap setelah ia membaringkan tubuh Nayla yang tertidur di pelukannya.


Ia berjalan menuju ruang rawat Andi—ingin menanyakan keadaan adik iparnya. Melihat luka Nayla hingga menyebabkan istrinya itu keguguran, serta Andi yang juga terluka cukup parah ... terbayangkan di benak Fahad bagaimana kecelakaan itu sangat mengerikan.


“Andi.” Fahad mendekat, duduk di kursi yang tersedia di samping bed hospital adik iparnya tersebut.


Membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa pusing. Andi mencoba untuk duduk namun Fahad melarangnya—takut darah pada luka Andi kembali keluar.


“Maaf,” kata pertama yang keluar dari bibir Andi.


Fahad menghela napas dengan berat, lagi-lagi ia harus mendengar kata maaf. Tidak. Ia sama sekali tidak menyalahkan siapapun dalam kejadian ini. Sekalipun ia kecewa, namun apa yang sudah terjadi tak mungkin bisa diperbaiki.

__ADS_1


Tentu Andi merasa bersalah, melihat keadaan Nayla yang harus kehilangan calon anak pertamanya ... dan kini ia harus menghadapi Fahad dengan wajah sedih yang membuat ia semakin merasa bersalah.


“Aku nggak bisa jaga Mbak Nayla, aku nggak tahu kalau dia sedang hamil. Maaf, Fahad.”


“Andi, aku lelah mendengar kata maaf. Entah berapa kali Nayla meminta maaf, dan sekarang kamu juga meminta maaf. Ayolah ... nggak ada yang patut disalahkan karena memang nggak ada yang salah.” Fahad berujar, ia muak mendengar kata maaf. “Jangan meminta maaf, lihat kamu sama Nayla selamat itu aja udah bikin aku lega, jangan buat aku merasa terbebani dengan kata maaf kalian.”


Andai saja saat itu ia tidak sibuk dengan ponselnya, andai saja ia tidak melepas genggaman tangannya pada Nayla ... tentu semuanya tidak akan seperti ini. Andi mengutuk kelalaiannya atas apa yang menimpa Nayla. Rasa bersalah tetap menghujam di sudut relung hatinya.


Terdengar dering ponsel, segera Fahad merogoh saku jasnya untuk menerima sambungan telepon yang ternyata dari adiknya, Yumna. Ia permisi keluar ruang rawat Andi untuk menerima sambungan telepon tersebut.


Suara panik Yumna yang pertama kali ia dengar, menanyakan ada apa sehingga membuatnya pergi ke Indonesia secara mendadak. Mengatakan bahwa tidak ada hal yang serius, ia hanya sudah sangat merindukan istrinya. Biarlah ia dianggap pria yang sudah termakan oleh cinta—tapi memang kenyataanya ia mencintai Nayla.


Memberitahu alasan yang sebenarnya, sudah pasti Fahad tidak bisa mengatakan sebab Nayla sudah membuatnya berjanji—untuk tidak memberitahu bahwa ia telah mengalami kecelakaan yang membuatnya keguguran. Nayla tak ingin ibu mertuanya khawatir. Mengingat usianya yang tak lagi muda, serta jarak mereka yang cukup jauh.


Fahad juga berbicara kepada Ammi, meminta maaf sebab tak bisa pulang ke Kashmir terlebih dahulu. Ia berjanji akan segera kembali ke India dalam waktu dekat.


***


Kedua manik matanya tak henti memandang wajah sang istri yang masih terlibat pucat. Menggenggam jari jemarinya, menciumnya, serta memberi usapan lembut. Hatinya tak henti meminta maaf atas apa yang harus istrinya alami. Sebagai seorang suami, Fahad menyadari bahwa ialah yang patut disalahkan.


Bertekad, bahwa ia akan menjaga apa yang sudah Allah titipkan kepadanya. Wanita yang dengan susah payah ia dapatkan hati dan juga cintanya.


“Fahad,” panggil Nayla.


Sontak Fahad mengangkat kepalanya, tersenyum melihat Nayla yang memandangnya dengan tatapan nanar. “Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” tanyanya dengan lembut. “Mau minum?”


Nayla mengangguk, segera Fahad mengambil air mineral botol lalu membantu istrinya minum dengan menggunakan sedotan.


“Fahad?” panggil Nayla lagi.


“Hemm?” sahutnya sembari membelai lembut puncak kepala Nayla.

__ADS_1


Nayla bertanya dengan lirih, “kamu udah makan?”


Menjawabnya dengan anggukan kepala serta senyum yang menandakan bahwa ia baik-baik saja. “Udah, tadi dibeliin nasi goreng sama Mbak Indah. Dia tahu kalau aku suka nasi goreng, makanya dibeliin itu.”


Menatap mata Fahad dalam-dalam, “kamu pasti kecewa,” lirih Nayla.


Fahad mengangguk, ia beranjak untuk duduk di samping tubuh Nayla—memeluk istrinya lama, mencari ketenangan dari dekapan hangatnya. Ia tumpahkan air mata kekecewaan yang sudah tak sanggup lagi ia bendung.


“Shona,” sudut matanya berair, masih memeluk Nayla. “Apa aku terlalu buruk untuk jadi seorang papa? ini udah kedua kalinya.”


Suaranya terdengar sangat berat, kekecewaan terhadap diri sendiri atas apa yang terjadi pada kedua anaknya. Nayla merenggangkan pelukan suaminya, menangkup wajah pria yang menangis di bahunya itu.


Nayla sangat memahami perasaan suaminya, kehilangan Aadil dengan cara yang sungguh menyayat hati—menjadi pukulan keras yang menghantam suaminya. Mencoba bangkit, dan berhasil ... namun kini rasa kehilangan itu kembali menebar perih bagaikan garam yang ditaburkan di atas luka.


“Fahad, aku yang—”


“Enggak, jangan bilang maaf lagi,” tukas Fahad. “Aku nggak bisa dengar kata itu, aku semakin merasa bersalah sama kalian. Aku terlalu sibuk sama pekerjaan, dulu dan sekarang pun sama. Aku nggak bisa kasih perhatian lebih buat anak-anak yang harusnya aku ajak main, aku peluk.”


Nayla menghapus air mata Fahad sembari menepiskan senyumannya, “ini bukan karena kamu. Kamu sendiri yang bilang kalau nggak ada yang salah, ini semua musibah ... nggak ada yang minta kayak gini.”


“Tapi—”


“Fahad, Allah punya maksud baik dibalik semua ini. Itu, kan, yang kamu bilang ke aku? Aku kuat karena ada kamu di sampingku. Pegang tangan aku,” tangan Nayla menggenggam telapak tangan Fahad dengan erat. “Kita sama-sama, kita nggak boleh kayak gini. Allah nggak suka umat-NYA berlarut-larut dalam kesedihan. Aku ikhlas. Aku ikhlas Allah ambil janin yang baru sebentar ada di rahim aku. Dan kamu juga harus ikhlas. Ya?”


“Kamu nggak kecewa sama aku?” tanya Fahad setelah beberapa saat keheningan tercipta diantara mereka.


Nayla menggeleng samar, “musibah ini bukan alasan aku buat kecewa sama kamu.”


“Terima kasih, karena selalu bikin hati aku tenang.”


“Kamu tidur, ya, kamu pasti capek banget.” Nayla tersenyum sembari menyentuh lembut pipi suaminya.

__ADS_1


***


__ADS_2