Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 86


__ADS_3

Dengan mengucap bismillah, Nayla masuk dengan kaki kanannya terlebih dahulu. Yumna dengan setia mengapit lengan kanannya sejak keluar dari mobil. Terlihat dua orang yang duduk di sofa ruang tamu, ada Ammi dan ... Nayla tidak mengenal wanita yang duduk di samping Ammi. Berjalan mendekat, Nayla mengucap salam lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya tersebut.


“Ini, Bibi Farida, Nak, dia adik Ammi yang tinggal di Locknow.” Ammi memperkenalkan.


Nayla juga mencium punggung tangan Bibi Farida, ia memperkenalkan diri. Raut wajah Bibi Farida sudah menjawab semuanya, tatapan sinisnya menusuk hati Nayla. Kecanggungannya pun berakhir tatkala Yumna menariknya untuk duduk.


Tak lama, Hannah keluar dari dapur dengan membawa minuman hangat di atas nampan. Ia menyuguhkannya kepada Nayla, lalu ia membangun Paman Abdul membawa koper dan tas nona barunya ke kamar Fahad.


Ammi menanyakan kabar Nayla, sementara Bibi Farida ... wanita itu terlihat memperhatikan menantu kakaknya dari atas sampai bawah. Pandangan matanya membuat Nayla tidak nyaman.


“Istirahatlah, Nak, kamu pasti lelah. Nanti siang kita makan bersama.” Ammi meminta Yumna mengantar Nayla ke kamar.


Kakinya melangkah menapaki satu persatu anak tangga rumah ibu mertuanya, hatinya merasa tidak baik. Nayla berusaha menyingkirkan rasa aneh itu, namun begitu ia mencoba ... rasa itu berubah menjadi rasa takut. Ini kali pertama ia datang ke rumah ibu mertuanya, namun tidak ada suami yang menemaninya. Kehidupan barunya akan dimulai, setelah menikah ia hanya merasakan hidup sebagai seorang istri. Dan kini, ia benar-benar menjalani hidup sebagai seorang menantu. Tinggal satu atap, ia harus bisa bertanggung jawab sebagai menantu pertama keluarga Fahad.


“Istirahatlah, Kak, nanti makan siang aku panggil, ya?” Yumna meninggalkan kakak iparnya lalu menutup pintu dengan perlahan.


Nayla masih berdiri di belakang pintu, matanya menyusuri tiap sudut kamar suaminya. Dulu dan sekarang, tidak ada yang berbeda dari kamar Fahad. Melangkah lebih masuk, Nayla duduk di tepi tempat tidur. Tangannya mengambil sebuah foto yang terbingkai indah di meja nakas, ada gambar dirinya dan Fahad disana. “Belum sehari, tapi aku udah kangen sama kamu.” Nayla berlama-lama memandangi foto pernikahan mereka, hingga suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya.


Suaminya menelpon, menanyakan apakah keadaannya baik-baik saja. Sudah pasti Nayla mengatakan bahwa ia baik-baik saja, karena memang itulah yang sebenarnya. Akan tetapi, Nayla menyembunyikan sesuatu yang mengganjal hatinya dari Fahad. Sikap Ammi dan Bibi Farida kepadanya. Nayla tidak ingin gegabah dalam berbicara, ia tidak ingin ada kesalahpahaman diantara suami dan juga Ammi serta Bibi Farida.


***


Hari sudah gelap, dingin yang ia rasakan menembus hingga ke tulang. Bukan hanya karena memang cuaca yang dingin, namun juga sikap Ammi yang dingin kepadanya. Saat makan siang tadi, tidak ada percakapan apapun ... hanya dentingan sendok dan piring yang mengisi suasana.


Nayla memakai hijabnya, ia memutuskan untuk turun dan membantu Hannah menyiapkan makan malam. Matanya mengedar, mencari keberadaan Ammi yang mungkin saja sedang menonton tv. Namun, nyatanya tidak ada siapapun di sana. Hannah menyapanya begitu ia sampai di dapur. Nayla memaksa ingin membantu, tentu saja Hannah menolaknya. Ia tidak ingin dimarahi oleh tuan mudanya, Fahad.

__ADS_1


“Hannah, aku kesepian kalau cuma diam di kamar. Aku bantu kamu, juga sekalian aku pengin belajar makanan khas dari Kashmir.” Nayla memohon, akhirnya Hannah mengiyakannya. Tak lama, Ibu Fatimah ... asisten rumah tangga yang lebih sepuh itupun datang. Ia meminta Hannah mengantarkan teh ke kamar Ammi.


Teh sudah dituang ke dalam cangkir, Nayla menawarkan diri untuk membawanya. Hannah mengangguk lalu menyerahkan nampan yang berisi secangkir teh itu kepada Nayla.


Mengambil napas panjang, Nayla mengetuk pintu kamar lalu memanggil ibu mertuanya. Terdengar sahutan dari Ammi yang menyuruhnya untuk masuk. “Ammi, ini tehnya.” Nayla berjalan mendekat, ia menaruh cangkir teh tersebut di atas meja nakas. Ammi menahannya, menyuruhnya untuk duduk di tepi tempat tidur bersamanya.


“Nak, Ammi mau bicara sama kamu. Ammi harap, jangan buat Ammi kecewa dan kamu bisa memenuhinya.”


Nayla mengangguk pasti. “In syaa Allah, Ammi, selama Nayla mampu ... Nayla pasti memenuhi keinginan Ammi.”


“Nak, Ammi menyetujui pernikahanmu dan Fahad tanpa syarat apapun. Jadi, sekarang Ammi minta tolong sama kamu. Tolong jangan rebut Fahad dan bikin dia jauh dari keluarganya. Tidak ada yang namanya mantan ibu, yang ada hanya mantan istri atau suami.”


Ucapan Ammi membuat Nayla terkejut, ia yang semula menunduk itupun kini mendongakkan wajahnya dan menatap kedua mata ibu mertuanya. “Ammi, Nayla nggak punya niat ngrebut Fahad dari siapapun, apalagi Ammi.” Nayla mencoba menjelaskan. Sungguh, tidak ada sedikitpun niat di dalam hatinya untuk merebut putranya ataupun menjauhkan Fahad dari keluarganya. “Ammi, Fahad tetap milik Ammi. Nayla nggak mungkin ngrebut atau ngejauhin Fahad dari Ammi dan adik-adiknya.”


Ammi menyentuh kepala Nayla, ia tersenyum sembari berkata, “kamu anak baik, Ammi tau itu. Tapi tetap, Ammi minta itu sama kamu. Jangan berusaha membuat Fahad jauh dari keluarganya.”


Nayla menata piring di meja makan, kata Hannah ... biasanya keluarga Fahad akan makan di lantai atau lesehan. Namun, karena udara dingin dan juga Ammi yang sudah semakin tua, Fahad pun melarang Ammi untuk duduk dan makan lesehan. Akan sangat menyiksa kaki jika Ammi duduk di bawah. Bibi Farida keluar dari kamar, ia menuju meja makan. Tak lama, Ammi juga datang.


“Kakak ipar.” Yumna menuruni anak tangga, ia menghampiri Nayla yang berada di dapur. “Kak Fahad tadi telpon, dia nanya ... kenapa istrinya ini nggak nerima telpon atau balas pesannya.” Yumna menyampaikan pesan Fahad.


“Ponselku di kamar, Yumna, nanti aku telpon dia balik.” Nayla membawa satu teko air putih ke meja makan. Yumna mengekor dibelakangnya lalu mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi. Nayla menuang air putih kedalam gelas satu persatu, ketika ia ingin menuangkan air untuk Bibi Farida ... wanita itu justru merebut teko tersebut dari tangan Nayla.


Yumna yang melihat itupun bersiap melayangkan protesnya, namun Nayla segera mencegahnya. Ia menyentuh bahu Yumna lalu memberinya isyarat dengan kedipan mata. “Ammi mau diambilin apa?” tanya Nayla, ia mengalihkan suasana tegang yang hampir terjadi. Sesudah mengambilkan makanan di piring ibu mertuanya, Nayla pun mendudukkan tubuhnya di kursi samping Yumna yang berhadapan dengan Bibi Farida.


“Nak, kapan Fahad ke sini?” Ammi bertanya sesudah menghabiskan makan malamnya.

__ADS_1


Nayla yang berdiri hendak membereskan piring kotor itupun kembali duduk, ia menjawab pertanyaan Ammi. “Fahad belum kasih tau, Ammi, tapi dia pasti usahain secepatnya ke sini.”


“Wahhh, setelah menikah, Fahad sekarang jadi lupa sama keluarganya yang di Kashmir. Fahad lebih suka di Indonesia rupanya.” Bibi Farida berujar.


“Bibi, kenapa bicara gitu, sih?!” Yumna tak tahan lagi. Sejak awal ia tau jika sikap bibinya tersebut sangat tidak baik kepada kakak iparnya. Bagaimanapun juga, Nayla adalah menantu di rumah ini. Mau, tidak mau, Bibi Farida harus menerimanya dan bersikap baik.


“Yumna.” Nayla menatap adik iparnya, ia menggeleng perlahan agar Yumna tidak melanjutkan ucapannya.


“Tapi, Kak—”


“Yumna, bisa bantu kakak beresin ini?” tanya Nayla. Tidak ada pilihan lain, Yumna pun membantu Nayla membereskan piring bekas makan malam.


“Dia sudah berani ngasih perintah ke Yumna, padahal dia baru sehari di sini.” Bibi Farida kembali berbicara.


Yumna menaruh gelas kotor di sink bowl dengan kasar, hingga menimbulkan suara keras dari sana. “Bibi, keterlaluan!” geram Yumna, ia hendak menghampiri Bibi Farida, namun Nayla kembali mencegahnya. Kakak iparnya itu menahannya lagi. “Kakak ipar, bibi udah keterlaluan. Suka atau enggak, harusnya bibi nggak ngomong kayak gitu.”


“Nggak apa, Yumna, ucapan bibi jangan dibantah, ya, nanti bibi bisa tersinggung.” Nayla mencoba menjelaskan. Keadaan akan semakin memburuk jika Yumna menjawab setiap apapun yang Bibi Farida ucapkan, dan Nayla tidak ingin itu terjadi.


“Farida, masuk ke kamarmu,” perintah Ammi.


“Tapi, Kak—”


“Farida, masuk ke kamarmu!”


Ammi berlalu meninggalkan meja makan, ia masuk ke kamar tanpa berbicara sepatah katapun pada Nayla. Jangankan bicara, memandang saja tidak.

__ADS_1


***


__ADS_2