
“Kakak ipar, kenapa nggak beli juga?” Yasmin bertanya.
Saat ia sedang hebohnya mencari sepatu dan tas yang cocok untuknya dan juga Yumna, kakak iparnya itu justru tidak membeli satupun barang yang ia tawarkan.
“Tas dan sepatuku masih bagus dan layak, Yasmin, aku nggak butuh yang baru.” Nayla menjelaskan.
Bukan hanya Yasmin, Fahad pun sudah meminta Nayla untuk memilih tas dan sepatu, atau apapun yang istrinya itu inginkan. Namun, lagi-lagi, hanya penolakan yang ia dapat dari Nayla. Memang, Fahad sudah mengenal betul jika istrinya itu tidak akan membeli sesuatu yang baru jika yang lama saja masih bagus dan layak dipakai. Tetapi, tetap saja, Fahad ingin membelikan sesuatu untuk istrinya. Yang mengatakan akan kalah dari yang menjalani. Fahad pun tidak lagi menawari Nayla apapun. Karena percuma saja, ujungnya meraka akan bertengkar hanya karena hal sepele.
***
Malam harinya, Nayla melakukan panggilan video dengan sang adik, Andi. Fahad meninggalkan Nayla seorang diri di kamar agar istri dan juga adik iparnya bisa leluasa mengobrol. Meskipun ia tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia, Fahad tetap memberi ruang kepada Nayla dan Andi untuk menghabiskan waktu bersama.
“Tiap telpon kamu pasti nanya itu terus, kenapa?” Nayla balik bertanya kepada Andi.
“Mbak, itu sendirian di sana. Udah pasti kita semua khawatir, Mas Arif aja tiap hari nanyain tentang, Mbak.” Andi berujar.
Nayla tersenyum. Ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Fahad memperlakukannya dengan sangat baik. Ya, begitulah setiap hari. Setiap melakukan panggilan suara atau video, Andi selalu menanyakan hal yang sama. Apakah Fahad memperlakukan kakaknya dengan baik? Apakah Fahad membuat air mata kakaknya jatuh? Dan, masih banyak lagi.
Jika seperti itu, Andi terdengar seperti bukan seorang adik, melainkan seorang kakak yang sangat menghawatirkan adiknya yang jauh dari dirinya.
“Mbak, kalau Fahad bikin, Mbak, nangis ... bilang sama aku, nanti aku susul ke India dan bawa, Mbak, pulang.”
Nayla mengangguk, mengiyani ucapan Andi. Sungguh, Andi adalah segalanya bagi Nayla. Adik kecilnya itu selalu menjadi kekuatannya ketika semangatnya menurun, ketika ia merasa lelah akan kehidupan. Mengingat orang tua yang sudah meninggalkan mereka terlebih dahulu, sebagai saudara ... Nayla dan Andi selalu menjadi penguat ketika rasa sedih dan merindukan orang tua mendatangi mereka.
“Kamu kuliahnya yang bener, Andi, jangan suka tidur malam, jangan telat makan, jangan lupa salat.” Nayla berpesan.
Andi mengangguk, ia mengacungkan satu jempolnya. “Mbak, jaga kesehatan, ya? Kalau Andi libur, Andi pasti nyusul, Mbak, ke sana.”
Saling mengingatkan adalah cara mereka menunjukkan rasa kasih sayang. Nayla dan Andi pun mengakhiri panggilan video sebab waktu sudah menunjukkan pukul 11 waktu India.
Nayla keluar kamar, ia mendapati Fahad yang tengah duduk di sofa living room dengan komputer lipat dipangkuannya. Suaminya itu terlihat sangat tampan ketika serius, “udah malem, Fahad.” Nayla mendaratkan tubuhnya di samping Fahad.
__ADS_1
“Iya, sebentar lagi selesai. Besok aku ke Mumbai, Sayang. Nggak apa, kan?”
“Mumbai?” Nayla bertanya.
Fahad mengangguk, ia menjelaskan ada pertemuan penting di hari Senin pagi di sebuah perusahaan yang akan bergabung dengan perusahannya. “Mereka minta kerjasama bareng, Sayang, mereka perusahaan baru.” Fahad menjelaskan.
“Seperti ... tanam saham?”
Fahad tersenyum simpul, ia menaruh laptop di meja lalu membetulkan duduknya agar bisa menghadap Nayla. “Pinter banget, sih, istriku ini.” Mencubit gemas kedua pipi Nayla. “Kamu tau tentang saham-saham gitu?” tanyanya.
“Cuma sekedar tau gitu aja, selebihnya aku bodoh soal bisnis.”
Fahad mematikan layar komputer lipat lalu menutupnya. “Nanti aku ajarin soal bisnis, biar kamu lebih paham lagi. Sekarang, ke kamar, yuk?” ajak Fahad.
Di atas tempat tidur, Fahad dan Nayla saling berhadapan, tatapan mata mereka terkunci cukup lama. Hingga Fahad mengakhirinya lebih dulu dengan menarik gemas hidung mungil Nayla. Fahad hendak meminta haknya sebagai suami, dengan alasan besok ia akan keluar kota.
“Kamu tadi nanya aku, kan? Boleh apa enggak kamu keluar kota. Dan, aku belum kasih jawaban.” Nayla berujar dengan kedua tangannya yang berada di dada Fahad.
“Kamu nggak kasih ijin?” tanya Fahad yang seketika sedikit menjauhkan tubuhnya dari Nayla. “Kalau nggak boleh juga nggak apa, kok. Biar Sahil yang pergi sendiri.” Imbuhnya.
“Istriku ini pengertian sekali.” Fahad lagi-lagi mencubit hidung mungil Nayla hingga istrinya meringis kesakitan. “Ada yang mau kamu bicarakan lagi, nggak?” tanyanya kemudian.
Nayla menggeleng. Ia menutup mata sembari menarik selimutnya sampai ke kepala. Namun, Fahad dengan cepat menyingkap selimut istrinya tersebut. “Jangan pura-pura ngantuk, ya.”
***
Minggu sore, Fahad pun berangkat ke Mumbai bersama Sahil untuk keperluan bisnis. Tidak lama, senin malam mereka akan pulang. Meskipun tidak lama, namun sudah pasti Fahad khawatir meninggalkan istri dan adiknya di New Delhi. Terutama Nayla, New Delhi masih sangat baru untuknya. Biarpun istrinya itu sudah hapal jalanan dan situasi di sekitar apartemen, tetap saja rasa khawatirnya tidak bisa ia sembunyikan.
Jangan keluar malem, Sayang, kalau Yasmin ngajak atau maksa keluar malam juga, kamu bisa telpon aku. Kalau mau beli sesuatu, usahain belinya siang aja. Beli semua yang kalian butuhkan, jangan sampai ada keperluan yang kurang ... terus kalian beli malem-malem. Kan, bahaya.
Yasmin, jangan keluar selain ke kantor. Bawa mobil pelan-pelan, atau nggak ... kakak nanti minta tolong sopirnya Sanju buat antar jemput kamu kerja.
__ADS_1
Begitulah pesan Fahad sebelum ia berangkat ke bandara.
***
Keesokan harinya, Nayla keluar apartemen seorang diri untuk berbelanja kebutuhan pribadinya. Sebelumnya, ia sudah meminta ijin dari suaminya melalui pesan singkat. Jika menunggu Yasmin pulang, tentu hari sudah gelap. Adik iparnya itu sudah menelpon, mengabari jika akan pulang sedikit terlambat karena pekerjaannya belum selesai.
“Hai, kita bertemu lagi.” Anand menyapa Nayla.
Nayla menoleh ke sumber suara tersebut, ia melihat Anand berjalan mendekat kepadanya. Sesaat, ia tidak menunjukkan respon apapun. Lalu, setelahnya ia tersenyum begitu Anand kembali menyapanya.
“Kamu masih di sini?” Anand bertanya.
“Iya.” Nayla mengangguk dan kembali sibuk memilih keperluan yang akan ia beli. Tangannya memasukkan parfum dan minyak rambut yang biasa dipakai suaminya ke dalam keranjang belanja. Nayla juga mengambil beberapa sabun, shampoo, sikat dan pasta gigi.
Saat Nayla mengantri di kasir untuk membayar, Anand yang sejak tadi tidak berhenti mengajaknya mengobrol itu tiba-tiba pergi begitu mendapat telpon dari seseorang. Bahkan, pria itu melupakan barang belanjaan yang sudah selesai ia bayar.
“Nyonya, maaf,” kasir tersebut menatap Nayla lalu mengutarakan permintaannya untuk membawa serta belanjaan Anand.
“Tapi—”
“Sepertinya kalian saling mengenal, jadi tolong bawakan belanjaannya, Nyonya.”
Nayla berusaha menolak, namun kasir tersebut tetap saja memaksa. Belanjaan milik Anand tidak banyak, hanya beberapa saja. Tapi, yang menjadi masalah adalah Nayla tidak tau di mana Anand tinggal. Ia hanya tau apartemen pria itu berada di lantai enam. Tidak pantas rasanya jika mengetuk setiap pintu untuk mencari apartemen Anand.
Nayla pulang, dengan membawa belanjaan milik Anand juga tentunya. Sebelum ia masuk ke dalam lift, Nayla bertanya kepada petugas penjaga. Mungkin saja petugas tersebut mengetahui di mana letak apartemen Anand. Ya, beruntung petugas tersebut tau. Pintu nomor kedua sebelah kanan lift adalah apartemen Anand.
“Apa nggak ada orang, ya?” Nayla bertanya pada dirinya sendiri setelah beberapa kali ia membunyikan bel, namun tidak ada seorang pun yang membukakan pintu untuknya.
Nayla memutuskan untuk pulang dan mengantarkannya lagi besok pagi. Sesampainya di apartemen, Nayla segera membersihkan diri sebelum suaminya pulang.
Pukul enam malam, suaminya sudah sampai di apartemen. Nayla menyambutnya dengan senyuman yang membuat rasa lelah Fahad hilang seketika. Didekapnya dengan erat tubuh mungil sang istri, mencium puncak kepala sang istri lama. Fahad sungguh merindukan Nayla. Sangat-sangat rindu.
__ADS_1
Keduanya masuk ke kamar. Fahad pergi untuk membersihkan tubuh, sementara Nayla, ia mengambilkan baju ganti untuk Fahad lalu menaruhnya di tepi tempat tidur.
***