Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 49


__ADS_3

New Delhi, pukul 11 siang waktu setempat.


“Nomor Indonesia?”


Fahad selesai meeting, ia baru sempat melihat ponselnya. Ada sepuluh panggilan tak terjawab. Hatinya mulai tak tenang, ia hendak menghubungi nomor tersebut, namun ia sudah lebih dulu dihubungi. Ia geser icon panggil hijau itu. “Halo?”


“Iya, dengan Tuan Fahad?”


“Iya, saya sendiri, maaf ini siapa?” tanya Fahad.


“Saya suster di rumah sakit X, Tuan, saya sudah mencoba menelpon nomor anda berkali-kali namun tidak ada jawaban. Saya ingin mengabari bahwa istri dan adik ipar anda mengalami kecelakaan.”


“Kecelakaan?” Fahad terperanjat. Ia menunduk, memejamkan matanya. “Lalu bagaimana keadaan keduanya, Sus?”


“Tuan Andi sudah sadar, tapi nyonya Nayla belum sadar setelah menjalani operasi beberapa waktu lalu. Di sini ada Tuan Arif berserta keluarga yang lain.”


Fahad terkejut mendengar istrinya dioperasi. Bayangan betapa parahnya luka sang istri berlarian di benaknya. “Operasi?”


“Iya. Nanti setelah anda tiba, dokter akan menjelaskan semuanya.”


Fahad mengatakan akan segera terbang ke Indonesia, ia meminta tolong untuk menyampaikannya kepada Masyarakat Arif.


Meeting diadakan di hotel, Alina mengaturnya sesuai permintaan rekan bisnis Fahad yang meminta meeting diubah dari hari jumat ke hari sabtu. Fahad berlari keluar hotel, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana caranya ia bisa dengan cepat terbang ke Indonesia.


Sayang, tunggu aku.


“Fahad?” panggil Sahil yang juga baru saja keluar bersama Alina.


Fahad mengatakan tentang istri dan juga adik iparnya, ia meminta tolong kepada Sahil dan juga sekretarisnya, Alina—untuk mengurus semuanya. Ia akan ke Indonesia.


Melihat keadaan Fahad yang kacau, Sahil tidak bisa membiarkan sahabatnya untuk mengendarai mobil seorang diri. Ia mengantar Fahad kembali ke apartemen untuk mengambil paspor, lalu mengantarnya ke bandara.


Berterima kasih kepada Sahil, Fahad pun masuk ke pintu penerbangan internasional. Ia sangat gelisah, berkali-kali ia melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Terasa sangat lama, seakan waktu memang sengaja membuat ia harus lebih bersabar untuk bertemu dengan Nayla.


“Oh, shit! Kenapa harus delay?!” geram Fahad. Ia sudah sampai di Malaysia, namun pesawat mengalami kerusakan kecil di bagian mesin. Membuatnya harus menunggu—entah berapa lama lagi. “Tadi di Delhi juga delay, ini delay lagi. Padahal kurang satu jam lagi aku bisa ketemu sama Nayla,” imbuhnya.


Ia raup wajahnya dengan kasar, melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Ingin sekali ia marah, namun apa daya? Ia tetap harus menunggu.


***


“Mbak Dewi?” panggil Andi.

__ADS_1


Mbak Dewi baru saja sampai, menemani suaminya, Mas Irfan untuk menunggu Andi di ruang rawatnya. “Iya, kamu mau makan? Apa minum?” tanyanya seraya mendekat.


“Enggak. Aku bisa pinjam kaca, Mbak Dewi?”


Keningnya berkerut, keduanya alisnya menyatu. Mbak Dewi merasa heran kenapa adik iparnya meminta kaca. Pun dengan Mas Irfan yang langsung beranjak dari sofa. “Buat apa?”


“Pinjam aja. Mana?” Andi menengadahkan tangannya. Walaupun tubuhnya masih terasa lemas, ia berusaha terlihat sudah baik-baik saja.


Mbak Dewi mengambil kaca kecil di tasnya lalu menyerahkannya kepada Andi. “Mau lipstick sekalian?” kelakarnya yang berhasil membuat Andi tersenyum tipis.


Andi mengarahkan kaca tersebut tepat di atas wajahnya, ia melihat luka di pelipisnya yang memang belum kering, namun darahnya sudah berhenti keluar.


“Udah sini kacanya.” Mbak Dewi mengambil paksa kaca tersebut. “Tahu gitu nggak aku kasih tadi.”


Setelah melihat lukanya yang sudah tidak mengeluarkan darah, Andi memaksa ingin menemui Nayla. Sedari tadi ia sudah cukup menahan diri untuk tidak menemui kakaknya tersebut. Mas Irfan dan istrinya juga memaksa agar Andi tetap berada di ruang rawatnya, karena sangat berbahaya jika lukanya kembali berdarah.


“Lukaku nggak parah, Mas, kalau parah aku udah pingsan pas di sana, atau bahkan mati.” Andi berujar.


“Andi!” geram Mas Irfan. “Iya, kamu kuat. Kamu nggak pingsan ataupun mati. Tapi jika kamu itu nggak dijahit, nggak diperban juga. Tidur aja nggak boleh pakai bantal, nggak boleh duduk, apalagi turun dari ranjang.”


“Punggungku panas, Mas, dari tadi rebahan terus. Aku duduk aja kalau nggak boleh ke Mbak Nayla.”


“Bentar, Mbak tanya suster dulu. Tunggu.” Mbak indah keluar.


“Maaf, Mas, lebih baik besok saja. Lukanya—”


“Sebentar saja, Sus, habis itu saya balik ke sini lagi,” keukeuh Andi.


Ya ampun, Andi, susternya sampai geleng-geleng kepala sama keras kepalanya kamu.


Mas Irfan dan Mbak Dewi hanya bisa terdiam, melihat Andi yang tetap ngotot untuk menemui Nayla meskipun suster sudah melarangnya.


“Ya, sudah, tapi sebentar saja, ya, Mas? Saya ambilkan kursi roda dulu.”


Andi tersenyum lega, ia diantar oleh suster dan kedua kakaknya menuju ruang rawat Nayla. Begitu pintu dibuka, ia dapati Nayla yang tengah tidur. Ia mendekat, meraih jari jemari kakaknya yang lemah.


Ia pandang wajahnya ... ia usap lembut pipi Nayla. Membuat kakaknya itu terbangun. “Mbak,” senyum Andi menyambut Nayla. “Maaf,” imbuhnya.


Nayla tersenyum, ia mengamati setiap inci wajah adiknya. Lukanya masih terlihat menganga, “luka kamu—”


“Udah sembuh,” tukas Andi. “Mbak, maafin Andi.”

__ADS_1


Hening sesaat, bulir bening kembali menetes dari mata sendu Nayla. Ia sama sekali tidak menyalahkan Andi atas apa yang membuatnya kehilangan calon anak pertamanya. Tak bisa dipungkiri, hatinya sangat sakit dan kecewa. Tapi apa mau dikata semua sudah terjadi.


“Maaf, Andi nggak bisa jaga, Mbak Nayla. Maaf,” ucapnya berkali-kali.


“Nggak perlu minta maaf, nggak ada yang salah juga. Kan, ini musibah.” Nayla bertutur dengan lembut. “Kamu belum sembuh, balik ke kamar kamu, ya. Mbak udah nggak apa-apa, udah baikan.”


Andi tak mengindahkan ucapan Nayla, ia tetap berada di sana. Menggenggam erat tangan kakaknya, tak ingin menjauh ... rasa bersalah akan apa yang menimpa Nayla selalu saja berlarian di hati dan juga benaknya. Mengutuk atas kebodohannya, sehingga Nayla harus kehilangan calon anak pertamanya.


Matanya berlama-lama menatap wajah Nayla, ia tahu ... kakaknya sedang berusaha baik-baik saja. Senyuman itu tak bisa membohongi Andi, “Mbak, maaf. Gara-gara Andi tadi—”


“Andi,” tukas Nayla. “Udah, ya, jangan bahas itu lagi. Mbak udah ikhlas. Ini bukan salah kamu, musibah ... nggak ada yang mau kayak gini.”


“Kalau, Mbak, nggak ngedorong Andi, kalau Andi nggak lepas gandengan tangan tadi ... Mbak, nggak mungkin kayak gini.”


Menyentuh lembut satu sisi wajah adiknya, ia hapus sudut mata Andi yang berair—Nayla tahu, adiknya menahan air matanya. “Andi ... jangan buat Mbak tambah sedih, yang penting kita selamat. Masalah anak,” ia mengambil napasnya dalam-dalam, memejamkan matanya sesaat. “Allah punya alasan dibalik semua ini, Mbak yakin, siapa yang berbaik sangka sama Allah ... pasti Allah juga udah nyiapin yang terbaik. Jangan nyalahin diri kamu sendiri. Mbak ikhlas, nggak ada yang lebih baik selain ikhlas,” tutur Nayla dengan lembut.


***


Setelah cukup lama, Nayla berhasil membujuk Andi untuk kembali ke ruang rawatnya. Sebab lukanya yang kembali mengeluarkan sedikit darah. Nayla khawatir, luka Andi akan semakin parah.


Andi menurut, ia ingin cepat sembuh untuk kembali menjaga kakaknya. Menolak diantar menggunakan kursi roda, Andi lebih memilih berjalan kaki.


Membuka pintu, ia melihat Fahad yang berjalan mendekat ke arahnya. “Fahad,” kata Andi.


Fahad berjalan lebih cepat, ia menghampiri Andi dan Mas Arif yang melihat ke arahnya. “Andi, kamu—”


“Fahad, maaf, aku nggak bisa jaga Mbak Nayla sama calon anak kamu. Maaf,” katanya berulang kali.


Mendengar ucapan Andi, kening Fahad berkerut. “Anak?” tanyanya heran.


Andi mengangguk, “iya, Mbak Nayla hamil. Maaf, Fahad.”


Menyentuh bahu adik iparnya, Fahad tersenyum. “Udah, nggak usah dipikirin. Yang penting kalian selamat, dan ... luka kamu berdarah, kembali ke ruang rawat kamu, istirahat.”


Melihat Fahad yang masuk, Mbak Dewi dan suaminya, serta Mbak Indah memutuskan untuk keluar. Memberi waktu kepada sepasang suami istri itu untuk menghabiskan waktu bersama.


Fahad duduk di kursi yang terdapat di samping ranjang istrinya, ia amati lekat-lekat wajah yang ia rindukan. Senyum dan tawa yang sekian lama tidak ia lihat. Teringat ucapan Andi tentang calon anak ... melihat perut Nayla, hatinya kembali terluka. Ia sudah kehilangan Aadil, dan kini ia harus kehilangan anak—yang bahkan belum ia tahu kehadirannya di rahim sang istri.


Hatinya perih. Tapi ia sadar, istrinya jauh lebih terluka. Diciumnya kening Nayla lama, hingga istrinya itu membuka matanya. “Aku kembali,” ucapnya dengan senyuman hangat.


Memandangi wajah suami yang hanya berjarak beberapa centi, air matanya keluar dengan sendirinya. “Maaf,” kata pertama yang ia ucapkan setelah beberapa saat keheningan menyelimuti pertemuan mereka.

__ADS_1


Menghapus air mata Nayla dengan ibu jarinya, “jangan minta maaf, kamu nggak salah, Sayang.” Fahad kembali mendaratkan ciuman di kening istrinya.


***


__ADS_2