Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 16 S2


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Andi berpamitan untuk berangkat ke studio. Mengambil peralatan yang ia butuhkan untuk pemotretan. Jarak tempat pemotretan cukup jauh, mengharuskannya untuk segera bergegas bersama Reza. Merasa kewalahan, Andi sudah mencoba mencari dua asisten untuk membantu dirinya dan juga Reza. Namun, sampai sekarang Andi tak.kunjung mendapat seseorang yang dirasa cukup profesional untuk bekerja bersamanya.


Sebelum berangkat, Nayla berpesan kepada Andi untuk mengantarnya membeli kado pernikahan untuk Sari dan juga Doni. Nanti malam, Andi berjanji akan mengantar Nayla. Ia akan menjemputnya di butik.


Setelah Andi pergi, Nayla kembali sibuk dengan Shazia. Ia menyiapkan kebutuhan sang putri dan juga dirinya selama berada di butik. Nayla menyiapkan semua kebutuhan Shazia tanpa ada satupun yang tertinggal. Setelah pekerjaan rumah selesai, barulah Nayla akan pergi ke butik dengan mengendarai taksi. Suara ketukan pintu membuat Nayla segera beranjak lalu memakai hijab instannya.


“Ryan?” Nayla dibuat terkejut dengan kedatangan lelaki tersebut. “Ada apa?” tanyanya.


“Ini, sepatu—”


“Om Iyan!” Shazia berlari, menghampiri Ryan. Senyum tak dapat Shazia tahan saat om favoritenya itu mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan. “Om Iyan.” Tangan mungil itu menyentuh pipi Ryan dengan gemas.


Zia, kok gitu, sih? Nanti papa marah. Batin Nayla.


Nayla mempersilakan Ryan duduk di kursi teras. Tidak mungkin mengusir lelaki itu, bukan? Nayla ke dalam, membuatkan secangkir teh untuk om favorite putrinya tersebut. Nayla dapat mendengar suara tawa Shazia. Putrinya itu terdengar sangat bahagia.


Ryan datang untuk mengembalikan satu sepatu Shazia yang tertinggal di mobilnya, kemarin. Maksud lain? Entahlah ... satu yang Ryan tau, bahwa dirinya bahagia bisa bertemu dan melihat senyuman Nayla. Senyum yang selalu berhasil membuat hatinya bergetar. Senyum yang mampu membuatnya lupa bahwa wanita di hadapannya ini adalah milik orang lain.


Ryan berpamitan setelah mendapat panggilan dari seseorang. Shazia menangis, ia hendak ikut. Tentu saja Nayla menahan putrinya tersebut.


“Kamu mau ke butik, Nay? Sekalian aku antar saja gimana?” tanya Ryan yang merasa tidak tega melihat Shazia menangis.


Nayla menggeleng keras. Dia berbohong dengan mengatakan hari ini tidak akan pergi ke butik. “Nggak apa, Yan, dia nangisnya sebentar, kok. Nanti juga berhenti. Oh, iya, terima kasih sepatunya. Maaf, jadi ngerepotin kamu.” Nayla tersenyum.


“Maaf, terima kasih, kamu nggak pernah lupa sama kata-kata itu.” Ryan juga tersenyum. “Oke, bye, Zia.” Lambaian tangan Ryan masih dibalas tangisan oleh Shazia.


Begitu mobil Ryan berlalu, Nayla membawa putrinya masuk ke rumah. Ciuman gemas ia labuhkan kepada pipi Shazia. “Kamu jangan gitu, Jaanu, nanti mama dimarahin papa.”


***


Sore hari, Andi pulang dari studio. Di rumah sudah ada Mas Irfan beserta istrinya, Mbak Dewi. Andi dan Nayla membatalkan rencana mereka untuk membeli kado, mungkin besok mereka akan pergi. Waktu bersama keluarga jauh lebih penting. Begitulah kata Nayla saat menelpon Andi, siang tadi. Butik tidak terlalu sibuk, pukul tiga sore Nayla memutuskan untuk pulang lebih awal.


Mengunjungi kedua adiknya yang sudah mulai jarang bisa bertemu karena kesibukan masing-masing. Sambil menunggu waktu maghrib, mereka berempat mengobrol bersama. Menikmati teh dan kopi buatan Nayla sembari bermain bersama Shazia.


“Nggak pengin ngasih adek buat Shazia, Nay?” tanya Mbak Dewi.

__ADS_1


“Apa? Adik?” terkejut Nayla. “Aku masih sibuk sama butik, Mbak, lagipula Zia juga masih kecil. Aku takut nggak bisa membagi waktu.” Nayla menjawab dengan sedikit emosi.


Mas Irfan tersenyum simpul melihat Nayla, adiknya ini tetap menggemaskan dan akan tetap menjadi adik kecilnya sampai kapanpun. Adik kecil yang sangat ia sayangi. “Cuma tanya, Nayla, jawabnya biasa saja kan bisa,” tutur Mas Irfan.


“Kalau nggak gitu, bukan Mbak Nayla namanya,” cetus Andi.


Di tengah keseruan mereka, suara ketukan pintu memecah percakapan di antara Nayla dan para saudaranya. Nayla beranjak berdiri, berjalan ke arah pintu.


“Maaf, siapa?” tanya Nayla pada wanita cantik yang berdiri di depannya saat ini.


“Mbak, aku Dewi.”


Nayla menaikkan kedua alisnya, matanya membulat dengan sempurna. Ia tidak menyangka Dewi akan datang ke rumah.


Tanpa basa-basi, Dewi mengutarakan niatnya yang ingin menemui Andi kepada Nayla. Sudah pasti Nayla mempersilakan tamunya untuk masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Satu tangan Nayla menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kisah cinta adiknya ini sungguh membuatnya kagum akan sosok Dewi yang mencoba memperjuangkan cintanya walaupun orangtuanya menentang dan Andi sudah mulai menyerah. Tidak ada yang salah jika seorang wanita berjuang demi cintanya. Asal, masih dalam batas wajar.


“Andi, ada Dewi di depan,” kata Nayla.


“Hah! Dewi?” terkejut Andi. Sontak tubuhnya berdiri tegap, menatap Nayla penuh tanya.


Nayla berdecak kesal. “Namanya sama, Mbak,” ucapnya.


Sejenak, Andi terpaku mengetahui Dewi datang ke rumahnya. Tidak bisa, hatinya sudah pasti akan luluh jika melihat air mata Dewi. Padahal, saat memutuskan semuanya ... Andi terpaksa harus menjadi pria yang tega. Karena percuma saja jika kedua orangtua Dewi tetap tidak setuju, menurut Andi. Baiklah, duduk berdua dan membicarakan semuanya dengan kepala dingin memanglah yang terbaik.


 ***


Duduk berhadapan dengan Dewi. Andi menghindari sorot mata gadis yang sangat ia cintai ini. Dia sudah mencoba melupakan perasaanya pada Dewi, karena percuma jika berjuang dan tetap mencintai jika kedua orangtua gadis itu tetap pada pendiriannya.


“Andi.” Dewi membuka suara. “Aku mau ngomong sama kamu,” sambungnya.


“Sebenarnya, aku juga ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu.” Andi masih tetap menghindari sorot mata Dewi.


“Andi, aku mau di jodohin.” Dewi mencoba menjelaskan lebih lanjut. Sekaya apapun pria yang dijodohkan untuknya, jika tidak ada cinta ... maka semua itu akan sia-sia. Dewi tidak ingin terluka lebih dalam lagi. “Apa kamu sudah nggak cinta sama aku lagi?” tanyanya dengan lembut. “Kamu juga bohong, Andi, kamu bukan OB, kamu fotografer. Kenapa kamu tega sama aku?” Dewi mencoba menahan air matanya. Sangat sesak, selalu tidak ada udara yang masuk ke rongga pernapasannya.


Sorot mata itu saling terkunci, Andi tak dapat menghindarinya lagi. Mendengar bahwa Dewi akan segera dijodohkan, membuatnya merasa takut dan juga terluka.

__ADS_1


“Aku minta maaf, De. Sebenarnya aku nggak ada niat buat bohong sama kamu. Aku cuma belum siap kalau semua orang tau tentang pekerjaanku. Aku nggak mau dianggap memanfaatkan uang kakak iparku.” Ya, Andi merasa sedikit terbebani dengan status sosial Fahad. Semua orang melihat bagaimana kehidupan Nayla sedikit berubah setelah menikah dengan pria itu. Walaupun Nayla dan Andi tidak pernah menunjukkannya secara terang-terangan siapa sebenarnya sosok Fahad, namun semua orang sudah mempunyai pandangan serta penilaiannya sendiri-sendiri. Dan, tidak mungkin bagi Nayla dan Andi untuk menghentikan semua itu.


“Aku mau orang-orang melihat dari jerih payahku sendiri. Soal mobil, itu bukan mobilku, itu mobil kakak iparku, suaminya Mbak Nayla. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya sendiri sama orangnya.” Andi menambahkan.


Dewi menunduk, jari tangannya saling meremas. Tidak masalah jika Andi memang benar seorang OB. Dia tidak peduli itu. Yang dia tau, Andi adalah pria yang bertanggungjawab dan sangat menghormati wanita. Bukankah semua itu sudah cukup? Jika mempunyai pekerjaan dengan jabatan tinggi, jika terlahir sebagai orang yang cukup berada ... namun tidak mempunyai rasa tanggungjawab dan rasa hormat, semua itu tidak akan ada apa-apanya.


“Maaf, Dewi. Aku salah, aku—”


“Apa kita nggak bisa melanjutkan ini semua?” tukas Dewi.


“Kamu anak perempuan, menikah juga harus ada walinya. Aku nggak mau kamu melawan orangtua, De. Untuk sekarang, turuti semua ucapan orangtua kamu. Kalau kita memang jodoh, kita pasti bersama lagi.” Andi berujar dengan penuh rasa sesak di hatinya. Sakit. Dia tau, Dewi-lah yang paling tersakiti diantara semua keegoisan ini. “Selagi orangtua masih ada, bahagiakan mereka, turuti semua perintahnya ... asal masih berada di jalan yang benar. Maaf, De, aku minta maaf.”


“Tapi, aku nggak cinta sama dia. Aku nggak bisa menikah tanpa ada rasa cinta seperti ini.”


Andi mengambil napas panjang. Ia beranjak lalu duduk di samping Dewi. “Nggak ada yang salah dengan perjodohan, cinta juga bisa datang seiring berjalannya waktu.” Andi mencoba menenangkan Dewi. “Aku nggak munafik, aku memang masih cinta sama kamu. Biarkan semua seperti ini. Nggak ada yang tau, besok seperti apa. Jangankan besok, lima detik dari sekarang aja nggak ada yang tau, kan?”


Dewi mengangguk. Sebuah senyuman terbit dari bibir tipisnya. “Aku boleh minta sesuatu untuk terakhir kalinya?” tanyanya dengan mata yang tatapan mata yang dalam kepada Andi. “Bisa minta tolong antar aku pulang? Supaya aku tetap yakin, kalau kamu sebenarnya memang yang terbaik buat aku.” Pintanya setelah Andi mengangguk.


“Iya, aku antar kamu pulang. Bukan untuk membuktikan kalau aku yang terbaik untuk kamu. Tapi karena kamu memang pantas mendapatkan semua itu. Kamu berhak bahagia, De, dengan atau tanpa aku di samping kamu.”


Nayla menatap mobil yang dikendarai Andi untuk mengantar Dewi semakin jauh dari jangkauan matanya. Kisah cinta dua anak muda ini sungguh rumit. Nayla berharap, Andi bisa memperbaiki semuanya. Dewi tidak salah, semua adalah salah Andi. Nayla tidak menampik hal itu. Namun, peran kedua orangtua Dewi juga sangat besar. Ya, Nayla tau ... semua orangtua pasti ingin anak perempuannya mendapat suami yang bisa memenuhi semua kebutuhannya—lahir dan batin. Akan tetapi, memberi syarat yang jauh dari kata mampu juga tidak bisa dibenarkan begitu saja.


“Dewi itu siapa, Nay?”


Nayla tersentak, satu tangannya menyentuh dada. “Kaget aku, Mbak.” Menutup pintu, Nayla bergabung dengan Mas Irfan dan juga Shazia di ruang tv. “Mantan pacarnya Andi, Mbak, tapi mungkin bisa balikan lagi. Mungkin.” Nayla menekankan.


Mbak Dewi menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan kisah cinta anak muda jaman sekarang. “Cewek sekarang sudah berani datang ke rumah cowok, ya,” celetuknya.


“Lah, kamu dulu juga gitu. Nggak ingat?” timpal Mas Irfan.


Nayla tertawa. Ya, dia ingat. Hujan deras, Mbak Dewi datang ke rumah Mas Irfan hanya untuk mengantarkan bubur dan juga obat. “Dikira Mas Irfan nggak dimasakin apa sama ibunya? Main datang aja. Tapi, setelah itu Mas Irfan cukup peka, kok. Langsung datang ke sini terus ngelamar.”


Mbak Dewi tersenyum, menunduk. Hari itu adalah hari paling memalukan bagi dirinya.


***

__ADS_1


 


__ADS_2