Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 62


__ADS_3

Lagi-lagi Fahad pulang terlambat. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun ia masih saja berkutat dengan komputer lipat miliknya.


Mengambil benda pilih miliknya yang tergeletak di samping laptop, ia melihat wallpaper di mana terpampang jelas foto sang istri yang tersenyum manis. Ia mendesah sesal, tidak mengabari Nayla bahwa ia akan pulang terlambat lagi.


Ada satu pesan dari Sahil, ia membatalkan untuk berkunjung ke apartemennya sebab ada acara keluarga di rumah istrinya, Sanju. Kebiasaan Fahad yang tak ingat waktu saat bekerja, masih terbawa sampai saat ini. Ia berjanji, bersungguh-sungguh untuk memperbaikinya, untuk Nayla.


“Aku pulang, Sayang.” Fahad mengambil ponsel dan jasnya yang terdapat di punggung kursi kerja. Fahad berharap Nayla tidak akan marah. Kecewa. Sudah pasti istrinya itu kecewa.


Dengan wajah cemas, Fahad mempercepat langkah kakinya begitu ia sampai di parkiran apartemen. Berkali-kali ia meminta jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, dengan perlahan ... ia putar kunci lalu membuka pintunya.


Nayla, istrinya itu tengah tertidur di sofa ruang tamu. Berjalan mendekat, ia rapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah wanita yang sudah ia buat kecewa untuk kesekian kalinya.


Fahad mengangkat tubuh Nayla perlahan setelah sebelumnya ia taruh jas di sofa tunggal. Ia baringkan sang istri, lalu kemudian ia tarik selimut untuk menutupi tubuh Nayla.


Fahad memandangi wajah Nayla cukup lama, ia masih merasa bingung dengan pribadi istrinya yang sulit dicerna. Nayla sangat tenang dalam menghadapi berbagai masalah, sungguh bertolak belakang dengan istri pertamanya dulu.


Tidak. Ia tidak bermaksud membandingkan. Hanya saja, kini ia merasa lebih damai ketika berada di samping Nayla. Seolah, Nayla menyalurkan ketenangan di hatinya. Ia kecup kening istrinya lama, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.


“Terima kasih, Sayang, terima kasih sudah berada di sisiku.” Fahad hendak berdiri, namun tangannya dicegah oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan istrinya. Fahad kembali duduk di tepi ranjang, ia tersenyum sembari menyentuh lembut puncak kepala Nayla.


“Kamu udah pulang?” tanya Nayla dengan senyuman teduhnya untuk Fahad. Ia duduk, menggenggam telapak tangan sang suami. “Udah makan?” tanyanya lagi.


“Maaf, hari ini aku bukan lupa, tapi kebiasaanku yang suka lupa waktu kalau lagi kerja. Maaf, Sayang.” Fahad mencium kedua telapak tangan Nayla.


“Iya. Kamu udah makan? Mau aku masakin?”

__ADS_1


Kening Fahad berkerut dalam, lagi dan lagi ia tak mendapat marah dari istrinya. Padahal sudah jelas-jelas ia melakukan sebuah kesalahan, meskipun itu tidak disengaja.


Sebuah pemikiran aneh pun muncul, Fahad bertanya kepada Nayla. “Sayang, kalau misal aku jatuh cinta sama wanita lain, kamu marah nggak?”


Kini giliran kening Nayla yang berkerut dalam. Tak cukup itu saja, dadanya terasa sesak, tenggorokannya terasa tercekat. Pertanyaan macam apa yang baru saja ia dengar. “Kamu jatuh cinta lagi?”


Fahad menggeleng keras, “misal, Sayang, misal.”


“Kamu berharapnya aku gimana?”


“Ya, aku berharap kamu marah, kamu maki-maki aku. Kalau perlu, bunuh aja sekalian.” Fahad berujar.


Nayla tersenyum simpul, ia beranjak berdiri lalu berjalan ke arah lemari. Mengambilkan baju ganti untuk suaminya. “Kamu baru pulang, kenapa nanya yang aneh-aneh, sih?” ucap Nayla dengan membawa sepasang baju santai Fahad, ia letakkan itu di atas tempat tidur.


Fahad menuntun Nayla untuk duduk di pangkuannya. Jarinya menyelipkan rambut panjang Nayla ke belakang telinga. “Cuma nanya aja, tapi respon kamu malah biasa aja, nggak marah ataupun nanya panjang kali lebar gitu.”


Fahad menggeleng, “nggak akan, Sayang, itu nggak akan terjadi. Aku nggak mungkin jatuh cinta sama wanita lain, aku nggak bakal rusak kepercayaan yang kamu kasih buat aku. Cuma kamu wanitaku, cuma kamu yang jadi istriku, dunia akhiratku.”


Fahad mendekap tubuh Nayla, ia benamkan wajahnya di dada sang istri. “Aku cuma mau kamu, aku cuma butuh kamu, nggak ada yang lain.”


Nayla mengangguk, telaga air mata tak sanggup lagi ia bendung. Bayangan jika itu benar terjadi, sudah pasti dunianya akan runtuh. Entah seperti apa ia nanti jika ada wanita lain yang masuk ke istana rumah tangga mereka.


***


Berjalan dengan tangan yang saling bergandengan, Nayla mengantar suaminya pergi bekerja sampai di depan gedung apartemen. Ia berencana membeli beberapa kebutuhan dapur. Fahad ingin menemani Nayla berbelanja, namun pagi ini ada meeting penting tentang perusahaan yang tidak mungkin hanya Sahil dan Alina yang menanganinya.

__ADS_1


Menatap wajah istrinya dengan sendu, Fahad merasa khawatir jika Nayla pergi seorang diri. “Sayang, kamu bisa pesan bahan dapur, nggak perlu pergi sendiri kayak gini. Aku khawatir.” Fahad menyentuh lembut satu sisi pipi Nayla.


“Aku lebih suka belanja sendiri, Fahad, aku bisa milih sayurannya. Nggak jauh juga aku belanjanya, paling cuma satu sampai dua jam aku belanja. Habis itu pulang.”


Senyuman dari Nayla seolah membius kekhawatirannya. Istrinya bukan tipe wanita manja, semua akan Nayla lakukan selagi ia bisa dan mampu. Fahad berpamitan, ia memeluk Nayla dan berpesan agar tetap selalu berhati-hati.


Setelah mobil Fahad semakin jauh dari pandangannya. Nayla bergegas berjalan menuju toko sayur dan buah yang tidak jauh dari apartemen. Dengan gaya simple dan casual, Nayla selalu terlihat cantik ketika tubuh mungilnya memakai celana jeans yang dipadukan dengan tunik motif bunga kecil-kecil serta pasmina berwarna pink tua. Sangat serasi dengan tunik pink muda yang ia kenakan.


Nayla hendak menyeberang jalan, namun ia urungkan begitu mendengar namanya dipanggil. Ia berhenti, menoleh dan mencari siapakah sosok yang memanggilnya.


“Kamu masih di sini?” sapa seorang pria yang kini sudah berada di hadapan Nayla.


Nayla mengangguk, tersenyum simpul. “Iya,” singkatnya. “Aku permisi—”


“Tunggu!” Anand menghentikan.


Anand bertanya, kemanakah tujuan Nayla saat ini. Dengan refleks, Nayla menunjuk sebuah toko sayur yang akan ia tuju. Bertanya hal yang tidak penting, Anand tidak membiarkan gadis cantik dihadapannya berlalu begitu saja. Meskipun Nayla sudah mengatakan permisi, ia justru mengikuti Nayla berjalan menuju toko.


Sedikit. Nayla sedikit takut, tapi mengingat bahwa ia berada di tempat ramai, membuat hatinya merasa tenang. Tidak akan ada yang berbuat jahat kepadanya.


Sampai di toko, Nayla menghilangkan keranjang dan segera memilih dan mengambil sayur yang ia inginkan. Toko tersebut rupanya tidak hanya menjual sayuran, ada kebutuhan rumah tangga lain yang tertata rapi di masing-masing raknya. Bisa dibilang, itu bukan hanya toko biasa, namun sudah seperti minimarket.


Nayla tak mempedulikan Anand, ia menikmati waktunya berbelanja. Keranjangnya sudah penuh dengan sayur dan bahan lain yang ia butuhkan, Nayla berjalan menuju kasir. Tetap diikuti Anand dari belakang. Hingga sebuah dering panggilan masuk terdengar dari ponselnya. Anand mengumpat begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel.


Anand menerima panggilan tersebut. Nayla tidak mengerti, sebab Anand berbicara dalam bahasa Hindi. Lebih tepatnya, Nayla tidak peduli. Belanjaan Nayla selesai dikemas, ia berlalu pergi tanpa berpamitan kepada Anand yang masih sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


“Sorry, tadi—” Anand berbalik, ia tidak mendapati Nayla yang terakhir kali ia lihat berdiri di belakangnya, tengah membayar. Mengedarkan pandangan, kedua matanya menangkap sosok Nayla yang sudah menyeberang jalan. Ia tersenyum dan berkata, “dia cukup berani berjalan seorang diri di negara orang, itu membuktikan bahwa dia adalah wanita mandiri.”


***


__ADS_2