Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 105


__ADS_3

Setelah semalam Fahad dihadapkan oleh tangisan sang istri, pagi ini ia dihadapkan dengan kemarahan sang adik, Yumna.


“Yumna, ayamnya enak nggak?” tanya Nayla.


“Enaklah. Apapun yang, Kakak ipar, masak itu pasti enak.” Yumna tersenyum, namun ketika matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Fahad ... senyumnya seketika pudar dan digantikan oleh wajah masamnya.


“Bukan kakak yang masak, tapi kakakmu itu yang masak.” Mata Nayla mengarah kepada Fahad.


Yumna berhenti makan, ia beranjak berdiri dan mengatakan bahwa ayam gorengnya tidak enak. “Yumna.” Fahad meraih pergelangan tangan adiknya, menahan tubuh itu kedalam pelukannya. “Sudah. Kakak tidak tahan kamu diamkan seperti ini. Kamu sama Yasmin kompak banget. Kakak nggak tahan Yumna.”


Yumna memberontak. “Makanya jangan jahat! Kakak, nggak mikirin aku sama Kak Yasmin? Gimana kalau apa yang kakak ipar alami sekarang, itu berbalik ke adik-adik, Kakak?!” seru Yumna.


“Tolong bantu kakak, Yumna, bantu kakak meyakinkan Ammi. Kakak nggak akan menikah dengan siapapun lagi, cuma Nayla istri dan kakak ipar kamu. Jangan seperti ini, Yumna, tolong percaya dan bantu kakak.” Fahad memohon.


Yumna menatap Nayla, ia meminta jawaban dari kakak iparnya. “Kakak ipar?”


Nayla mengangguk sembari menepiskan senyumnya, ia meminta Yumna memaafkan dan percaya kepada Fahad. Walaupun jauh di lubuk hatinya, Nayla tidak percaya sepenuhnya akan janji yang diucapkan suaminya. Setelah apa yang terjadi semalam—setelah semua air mata dan rasa kecewa yang selama ini ia pendam seorang diri akhirnya lepas dihadapan Fahad, Nayla tetap tidak yakin jika suaminya itu bisa meyakinkan Ammi. Sangat mustahil. Fahad bukan anak yang suka membangkang ucapan orangtua, bukan anak yang tidak mempedulikan perasaan orangtua. Biarlah, asalkan Fahad dan kedua adiknya bisa sejalan seperti dahulu. Biarlah ... ia akan mengambil jalan lain, suatu hari nanti.


***


Fahad tidak menepati janjinya untuk makan siang di rumah. Padahal, sebelum berangkat tadi pagi, ia meminta dibuatkan sop ayam oleh sang istri. Yumna dan Nayla pun berinisiatif pergi ke kantor, membawakan makan siang untuk Fahad.


Turun dari taksi, Nayla berjalan beringingan bersama Yumna. Security menunduk hormat dan memberi salam. Semua karyawan menatap dan berbisik setelah melihat Nayla yang tengah berbadan dua. Memang sudah sangat lama, istri atasan mereka itu tidak datang ke kantor.


“Ngapain kumpul di sini?” Anand datang.


“Itu,” menunjuk Nayla dan Yumna yang menghilang dibalik pintu lift. “Istrinya Pak Fahad ternyata lagi hamil.”


“Terus?” kedua alis Anand terangkat naik, ia tidak merasa heran tentang berita yang baru saja menyebar di kantor. Anand sudah tau Nayla hamil, ia beberapa kali bertemu wanita itu di depan gedung apartemen.

__ADS_1


“Ya, udah, nggak dan terusan lagi. Kita kaget aja, dia hamil ... tapi badannya tetap ramping, cantik. Masih kayak anak SMA.” Kata Priya.


“Dia memang cantik,” gumam Anand.


“Hah? Kamu bicara apa?”


“Enggak!” Anand pergi, ia tidak ingin diinterogasi atas apa yang baru saja ia ucapkan. Tidak akan ia biarkan berita bahwa—ia sempat menyukai istri atasannya itu tersebar di kantor. Akan sangat membahayakan pekerjaannya.


Pintu lift terbuka, Nayla dan Yumna disambut wajah terkejut dari Alina. “Ibu, datang?” tanyanya.


Nayla mengangguk. Tentu Alina mempersilakan Nayla untuk masuk ke rumah kerja Fahad tanpa memberitahu si pemilik ruangan terlebih dahulu. Sama seperti saat ia mendapati wajah terkejut Alina, saat pintu ruang kerja Fahad terbuka ... Nayla juga mendapat wajah terkejut dari suaminya. Bukan terkejut senang, tetapi raut wajahnya menunjukkan ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Feeling seorang istri tidak pernah salah, Nayla yakin akan hal itu.


“Maaf, aku nggak kasih tau kamu kalau aku mau ke kantor.” Nayla berdiri mematung. Ia takut suaminya marah.


“Enggak.” Fahad tersenyum, ia berdiri mendekati sang istri. “Jangan minta maaf. Kamu berhak datang, kapanpun kamu mau. Ayo, duduk.” Mengajak istrinya duduk di sofa, tangan Fahad menyentuh puncak kepala Nayla dengan lembut. “Kamu bawa sop ayam?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.


“Kamu nggak ketemu seseorang di bawah tadi?” Fahad bertanya.


“Aku nanya, kenapa kamu balik nanya, sih?” Menarik gemas hidung mungil Nayla, Fahad tidak bisa jika sehari saja ia absen menarik hidung dan juga mencubit gemas pipi sang istri.


Yumna tidak tahan melihat kemesraan sepasang suami istri dihadapannya itu, ia meminta izin kepada Fahad untuk ke ruang kerja Sahil ... mengajaknya makan siang di kantin kantor.


***


Duduk bersandar di kepala tempat tidur, kakinya yang Nayla selonjoran itu tengah dipijat oleh sang suami. Memang seperti itu setiap hari—setiap malam. Sebelum tidur, Fahad selalu menyempatkan waktu untuk memijat kaki Nayla. Semua pekerjaan rumah Nayla lakukan seorang diri, entah berapa kali Fahad mengatakan akan mencarikan sistem rumah tangga untuk membantunya ... tetapi Nayla tetap saja menolak, dengan alasan bahwa ia juga membutuhkan kesibukan.


Terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah seorang diri, Nayla tidak bisa jika memberikan tanggungjawabnya sebagai istri kepada orang lain. Meskipun hanya sekedar bantu-bantu, Nayla tetap tetap tidak mau. Empat bulan lagi. Statusnya sebagai istri Fahad hanya tinggal empat bukan lagi. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk memberikan semua yang ia punya dan ia bisa untuk Fahad, suaminya.


“Sayang, kamu masih sering bertukar pesan sama Mahira?” tanya Fahad, tetap dengan tangan yang sibuk memijat kaki istrinya.

__ADS_1


Nayla mengangguk, “masihlah, sering malah. Kenapa? Tumben nanya.”


“Kalau lagi sama dia, nggak pernah ngomongin aku? Dia ngasih tau kamu apa gitu, misalnya.”


Nayla mengingat-ingat. Tidak, Mahira tidak pernah memberitahu apapun kepadanya. Apalagi perihal masa lalunya dengan Fahad. Tidak pernah sekalipun Mahira menyingung rumah tangganya yang terdahulu. “Ini kamu tumben nanya soal Mahira, nyebut namanya lagi. Ada apa?” selidik Nayla.


“Enggak,” menggeleng. Fahad menyudahi pijatannya, ia ikut menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. “Sayang, kamu cinta nggak sama aku?”


Kening Nayla berkerut dalam. Mulai dari menanyakan Mahira, kini suaminya menanyakan perihal cinta. “Kamu nanya apa, sih? Dari Mahira, ke cinta. Maksudnya apa?”


“Sudah lama, sejak Ammi nyuruh aku nikah lagi. Tapi, kenapa kamu nggak pernah marah? Sekali aja nggak pernah. Kemarin malam, kamu tetap minta pisah. Bukannya marah ke aku.” Fahad memasukkan jarinya ke sela-sela jari tangan Nayla. Bermain-main dengan punggung tangan sang istri.


Bukan tidak marah atau tidak cinta. Tentu saja Nayla ingin marah, cinta dari suaminya terpaksa harus dibagi. Iya, terpaksa. Karena itu ia tidak bisa marah. Semua ini juga bukan keinginan dari Fahad, Ammi yang memintanya untuk menikah lagi. Namun, jauh di lubuk hatinya ... Nayla juga menanyakan perihal rasa cinta Fahad untuknya. Kenapa suaminya itu diam saja? Kenapa suaminya itu menurut saja apa kata Ammi? Apa semudah itu untuk menikah lagi? Kenapa Fahad tidak mencoba memperjuangkan rumahtangganya? Kenapa Fahad tidak memperjuangkan Nayla? Kenapa?


Semua pertanyaan itu berlarian di benak Nayla. Saling mengadu kesana kemari, mencari seseorang yang mungkin bisa menjawab pertanyaannya. Tetapi, sia-sia. Nayla tidak mendapat jawaban apapun, yang ada hanya diam. Nayla terpaksa hanya diam.


“Aku rasa, kamu sudah tau jawabanku.” Nayla tersenyum. Ia memeluk suaminya, menghirup aroma maskulin dari tubuh itu.


***


Hari ini jadwal Nayla untuk ke dokter. Fahad dan Nayla memutuskan untuk melakukan USG, mereka tidak sabar mengetahui jenis kelamin bayi tersebut. Fahad sudah meminta izin kepada dokter agar Yumna bisa ikut masuk.


Suara detak jantung itu terdengar, layar monitor menunjukkan bentuk sempurna dari bayi berjenis kelamin perempuan. Fahad menggenggam tangan Nayla, hatinya bergemuruh setelah mengetahui bayi itu adalah perempuan. Sudut matanya berair, sama seperti Nayla. Ia sungguh bahagia. Nayla turun dengan dibantu Fahad, mereka berdua duduk di kursi depan meja dokter. Yumna berusia di belakang Nayla.


“Dari bulan kemarin, berat badan Ibu Nayla tidak naik. Di bulan-bulan ini, seharusnya naik satu kilo. Juga, usahakan jangan stres. Pak Fahad, tolong istrinya dibantu, ya. Istrinya jangan sampai stres, karena itu sangat berpengaruh pada kesehatan ibu dan anak. Bulan depan, berat badan Ibu Nayla harus naik satu kilo, ya.”


Fahad menatap Nayla dengan tatapan bersalah. Sangat bersalah. Tidak cukup banyak kebahagiaan yang dapat ia berikan kepada Nayla, yang ada hanya tangisan dan kesedihan. Melepas Nayla agar bahagia? Tidak. Fahad tidak bisa melakukan itu. Ia tidak bisa tanpa Nayla di sisinya. Tetapi, mempertahankan Nayla ... inilah yang harus didapat istrinya, hidup dengan kekecewaan dalam keadaan hamil.


Aku nggak bisa lepasin kamu. Kamu istriku. Cuma kamu ibu dari anak-anakku. Maafkan aku. Aku mohon, Sayang, tunggu sebentar lagi. Aku mohon, bersabarlah lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2