
Nayla sudah mulai mengemasi baju dan segala perlengkapan yang ia butuhkan—karena besok ia sudah harus berangkat ke India bersama suaminya. Keduanya sedikit berdebat perihal pakaian yang dibawa Nayla.
Bagaimana mungkin Fahad membiarkan istrinya itu membawa semua pakaiannya. Bahkan hanya tersisa beberapa stel di lemari.
“Apa kamu mau nyuruh aku pakai kurti? Apa kalau perlu pakai saree?” kesal Nayla.
“Nggak gitu, Nayla.” Sudah dapat dipastikan, jika Fahad sudah memanggil dengan nama, itu berarti ia mulai kesal—lebih tepatnya lelah dengan sikap istrinya. “Apa kamu nggak balik ke Indonesia lagi?”
“Balik,” jawabnya dengan lirih. Ia menunduk, menatap koper yang berisikan pakaiannya.
“Makanya, kan. Nggak usah dibawa semua. Nanti aku belikan baju lengkap sama tokonya, kalau perlu sama mallnya sekalian.”
Decakan kesal terdengar dari bibir Nayla. Fahad mendekat, ia raih pergelangan tangan istrinya kaku menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang.
“Perasaan, dulu waktu masih pacaran, kamu mandiri dan dewasa banget. Sekarang kenapa jadi kayak anak kecil gini, sih?”
Nayla menunduk, ia menyadari ... sikapnya yang berubah menjadi kekanakan setiap kali bersama Fahad. Dan mengenai pakaian yang akan ia bawa, itupun sudah terlalu berlebihan—Nayla menyadarinya.
“Maaf,” menyesali. Nayla mendongakkan wajahnya agar bisa leluasa menatap wajah suaminya. “Aku nggak tahu, kenapa aku jadi kayak gini. Padahal aku nggak pernah manja sama siapapun, tapi sekarang—”
“Nggak apa.” Fahad tersenyum, ia usap puncak kepala Nayla dengan lembut. “Aku suka kamu manja. Tapi, ya, yang masuk akal, dong. Ini masa mau bawa dua koper besar isinya baju kamu semua.” Fahad berujar. Ia dekap tubuh Nayla, sebuah ciuman ia dapatkan di kening sang istri.
“Aku keterlaluan banget, ya? Apa sekarang aku nggak seperti yang kamu harapkan? Pas masih pacaran sampai sekarang kita udah nikah, ternyata aku berbeda 180%.”
Fahad terkekeh mendengar ucapan Nayla. Ia tidak menyangka, istrinya sekarang ini bukan hanya manja, tapi juga sensitif. Ia semakin mengeratkan pelukannya. “Sayang, aku tadi nggak serius soal kamu yang berubah. Kamu nggak berubah, dari saat kita pacaran sampai detik ini, kamu tetap sama. Tetap jadi istri aku yang menggemaskan.”
Memang benar. Seseorang tidak ada yang berubah ketika masih dalam tahap berpacaran hingga menikah. Bukan tentang berapa lama kita mengenal pasangan dari proses mulai berpacaran, bertunangan, hingga sampai pada sebuah ikatan pernikahan ... tapi tentang bagaimana kita menyikapi semua proses tersebut.
Sudah pasti, perbedaan atau bahkan menurut sebagian orang adalah sebuah perubahan, akan terlihat mencolok pada saat seseorang itu melangkah memasuki gerbang pernikahan. Semua orang harus bisa memahami hal tersebut.
Saling menghargai, berusaha memahami bahwa semua perbedaan dan perubahan ialah proses untuk sepasang suami istri agar saling bisa—untuk lebih menanamkan rasa cinta yang sudah sejak awal mereka putuskan untuk membinanya bersama-sama.
“Kamu kaget, ya? Lihat sikap aku yang tiba-tiba kayak gitu.” Nayla bertanya.
__ADS_1
“Gitu gimana?”
Nayla merenggangkan pelukan Fahad, “kamu, ya, ditanya malah nanya balik.”
Menarik gemas hidung mungil Nayla. “Aku nggak kaget, Sayang, itu manusiawi. Semua orang punya sisi manjanya masing-masing. Sebenarnya kamu bukan manja atau kekanakan, sih, tapi kadang nyebelin aja. Pengin gigit pipi kamu kalau lagi nyebelin kayak tadi.”
Sebuah cubitan Nayla layangkan ke lengan suaminya. Namun balasan Fahad ternyata lebih menyakitkan, benar saja ... suaminya itu menggigit pipinya hingga membekas.
“Kok, digigit beneran, sih? Kan, sakit,” keluh Nayla.
“Emang siapa yang bilang nggak sakit?”
Nayla beranjak berdiri, ia keluar kamar dengan raut wajah kesal. Telapak tangannya masih berada di pipi sisi kanan. Ia meringis, gigitan Fahad masih terasa sakit.
“Mbak?” panggil Andi yang duduk di sofa ruang tv.
“Apa?!” Nayla menyahut sembari mendudukkan tubuhnya di samping Andi.
“Lagi kesel!”
Andi tersenyum, ia melihat bekas gigitan di pipi Nayla. “Kalian ini romantisnya beda, tapi seru juga.”
Tak ada respon apapun dari Nayla. Setelah beberapa saat, Andi menunjukkan sesuatu dari layar komputer lipatnya. Fahad terlihat datang dan bergabung bersama mereka.
“Aku udah ngumpulin semua foto masa kecil kita sampai, Mbak, nikah. Semuanya aku jadikan satu. Keren, kan?”
Ya. Satu persatu foto masa kecil Andi dan Nayla nampak dari video tersebut. Kasih sayang keduanya terlihat sangat jelas dari foto tersebut. Dimana Nayla yang selalu menggandeng tangan Andi ketika mereka pergi ke manapun. Terlihat satu video lama di mana Nayla berlari mengejar Andi yang kala itu baru saja bisa berjalan. Nayla takut adiknya akan terjatuh, oleh sebab itu ia langsung menggandeng tangan mungil Andi lalu berjalan bersama-sama.
Suasana haru menyelimuti mereka bertiga. Tak ada yang bersuara kecuali suara musik dari video tersebut. Mata mereka masih tertuju pada layar laptop, menyusuri kenangan demi kenangan.
Foto mereka saat remaja terlihat sangat romantis. Berbeda dengan Nayla yang tidak suka mengambil gambar, Andi justru sangat suka mengabadikan setiap momen dan menyimpannya sebagai kenangan.
“Jelek!” seru Nayla saat melihat slide fotonya yang terlelap tidur dengan bibir yang sedikit terbuka. “Kamu, kok, punya foto itu?! Kapan ngambilnya? Mana tubuhnya berantakan banget lagi.”
__ADS_1
Andi dan Fahad tertawa. Ya, Andi mengambilnya diam-diam saat kakaknya itu baru saja pulang bekerja dan langsung tertidur di sofa ruang tv dengan hanya melepas tas, hijab, dan sepatunya saja.
“Semua foto-foto kamu yang cakep doang, aku ada foto jeleknya. Nggak seru, ah!” keluh Nayla.
“Ini bentar lagi ada foto, Mbak, yang lebih cakep. Lihat aja dulu.” Benar saja ucapan Andi. Slide selanjutnya menunjukkan foto pernikahan Nayla dan Fahad.
Senyum dan tawa bahagia terpancar jelas dari foto-foto tersebut. Berbeda ... Nayla, Fahad dan Andi justru dibuat terenyuh ketika melihatnya. Ujung mata Nayla mulai basah, air matanya perlahan menetes.
“Mbak.” Andi meraih jari jemari Nayla ketika video tersebut berakhir. “Makasih, udah jadi kakak terbaik. Dan maaf, aku belum bisa jadi adik yang membanggakan. Aku janji, suatu saat, Mbak, pasti bangga sama aku.”
Nayla menggenggam tangan Andi, pandangan kedua saling bertemu, “sejak kamu lahir, kamu itu udah jadi kebanggaan. Kebanggaan bapak, ibu, dan kita semua.”
Andi menyeka air mata Nayla dengan ibu jarinya. Detik selanjutnya, Nayla berhambur ke dalam pelukan Andi. Adiknya. Adik yang selama ini selalu ada di sampingnya, yang selalu bersama-sama dan selalu terbuka satu sama lain ... kini mereka harus terpisah oleh jarak.
Ini memang bukan pertama kalinya, dulu Nayla juga sudah pernah pergi ke India. Namun kali ini berbeda, sangat terasa berbeda. Kini kakaknya itu akan pergi sebagai seorang istri dari seorang pria berkewarganegaraan asing.
Andi tahu, itu tidak akan mudah. Kakaknya harus beradaptasi dengan suasana, budaya, serta orang-orang di sekitarnya yang sudah pasti berbeda. Entah itu keseharian ataupun pemikiran orang-orang tersebut.
Melepas gandengan tangannya dari Nayla lalu menyerahkan kepada pria yang saat ini lebih berhak melindungi dan berada di sampingnya. Berat. Sangat berat. Hati Andi merasa pilu harus merelakan Nayla pergi jauh. Tapi ia sudah tidak berhak, Nayla memang harus bersama suaminya—Andi menyadari akan hal tersebut.
“Andi boleh telpon setiap hari, kan?” suaranya tercekat, Andi ingin menangis ... namun ia menahannya agar Nayla tidak merasa—lebih bersedih lagi.
“Jangan nanya. Kamu memang harus telpon setiap hari, jangan sampai lupa seharipun.” Nayla masih berada dalam dekapan tubuh adiknya.
“Pindah kuliah ke India aja, ya? Tenang aja, nanti Mbak coba buka usaha online biar kamu nggak ngerasa sungkan sama Fahad, biar kamu bisa kuliah di India.” Nayla memohon pada Andi.
Menggeleng, Andi mengurai pelukannya lalu menatap kedua manik mata Nayla yang masih basah. “Ini bukan masalah uang kuliah ataupun merasa sungkan sama Fahad, Mbak, tapi aku mau kuliah di sini aja. Aku nggak mau rumah ini kosong.”
Mata Andi menelusuri setiap sudut rumah. “Di rumah ini banyak kenangan, Mbak, di dalam rumah ini aku bisa ngerasain kehadiran bapak dan ibu. Dan nanti kalau, Mbak, udah ke India, rumah ini yang nantinya jadi obat rindu saat-saat kita bercanda.”
“Ikutlah ke India, Andi. Demi Nayla.” Fahad berucap.
***
__ADS_1