
Nayla tengah menidurkan Shazia. Tangannya menepuk lengan sang putri dengan lembut. Sejak keberangkatan Fahad, Nayla bin menerima pesan apapun dari suaminya. Berki-kami ia melihat ponsel, namun tidak ada satu pesan yang ia harapkan dari Fahad. Menunggu, hingga sebuah notifikasi membuat ia dengan cepat mengambil ponsel yang tergelatak di belakang tubuhnya. Nayla melihat Shazia sekilas, putrinya tidak terganggu dengan suara notifikasi tersebut.
“Nay, rabu nanti jadi datang, kan?”
Hela napas lelah terdengar dari Nayla. Bukan pesan dari suaminya, melainkan dari Ryan.
“Insya Allah, Yan, tapi cuma aku sama Zia. Fahad sudah balik ke India.”
“Iya, nggak apa, Nay, makasih.”
Nayla beranjak bangun dengan perlahan, ia hendak keluar kamar, melihat apa yang sedang dilakukan adiknya. Namun, panggilan suara dari Fahad mengurungkan langkah kakinya. Senyuman mengembang sempurna, Nayla menggeser icon panggil hijau. Menyapa suaminya dengan wajah yang berbinar.
“Kangen banget, ya? Sampai teriak gitu.” Fahad tertawa. Suara Nayla membuat ia semakin merindukan perempuan tersebut.
Nayla menggeleng. “Aku senang, kamu telpon. Kamu baru sampai di rumah?”
Pesawat mengalami delay sebab mesin pesawat mengalami kerusakan. Fahad harus rela menunggu pesawat lain datang dan melanjutkan penerbangan. Juga, Fahad merasa istrinya sedang sibuk mengurus Shazia yang belum sehat betul. Ia tidak ingin menganggu waktu Nayla.
Fahad dan Nayla cukup lama melakukan panggilan, mereka juga menggantinya ke panggilan video. Baru sehari tidak bertemu, namun rasa rindu sudah memenuhi hati mereka. Setelah sekian lama mengobrol, keduanya saling mengakhiri panggilan. Sebelum tidur, Nayla lebih dulu melihat Andi yang ternyata sudah tertidur di sofa ruang tv. Laptop masih menyala, serta ponsel yang masih berada di tangan Andi itu segera Nayla rapikan. Sebelum mematikan laptop, Nayla lebih dulu menyimpan file pekerjaan adiknya ke dalam folder yang baru ia buat. Besok, biar Andi sendiri yang memeriksanya.
***
Pagi itu Nayla tengah berada di dapur seperti biasanya. Sementara Andi, ia tengah menemani Shazia yang sudah bangun lalu mengajak si pipi gembul itu untuk duduk di ruang tv. Panas Shazia sudah benar-benar turun. Andi merasa lega. Panggilan dari Nayla memaksa Andi beranjak serta membawa Shazia menuju meja makan.
“Sarapan dulu.” Melihat Andi sekilas. Tangannya sibuk menyiapkan bekal makan siang untuk adiknya tersebut. “Ini nanti dimakan sama Reza juga, ya. Mbak bawain banyak.”
Andi duduk, ia mengambilnya Shazia kentang kukus yang sudah dingin. “Mbak, nggak apa di rumah sendiri?” tanya Andi.
Nayla mengambil putrinya dari pangkuan Andi lalu mendudukkannya di kursi makan khusus. “Nggak apa. Biasanya mbak juga sendiri kalau Fahad lagi kerja.”
Mereka bertiga sarapan bersama, dengan Nayla yang membiarkan Shazia makan sendiri di piringnya. Bukan Nayla tidak mau menyuapi, memang seharusnya seperti itu bukan? Mengajari dan membiasakan anak hal baik sejak dini.
Selepas Andi pergi bekerja, Nayla membersihkan piring bekas mereka sarapan tadi. Ia mengunci pintu rumah dan membiarkan Shazia bermain kesana kemari. Ia sudah menyingkirkan beberapa barang yang sekiranya membahayakan bagi putrinya tersebut.
***
Setiap hari, Fahad melakukan panggilan video dengan Nayla dan putrinya. Beruntung ada Yasmin, ia tidak terlalu merasa kesepian di rumah. “Kak, ini ada undangan pesta.” Yasmin menyodorkan sebuah undangan pada Fahad yang tengah duduk menikmati kopi seusai makan malam.
“Undangan pesta?” tanya Fahad sembari menerima undangan itu dan membaca nama sang pengirim. Keningnya berkerut, undangan pesta di sebuah klub ternama di kota New Delhi. “Acaranya di klub, bisa-bisanya mereka mengundang dengan resmi seperti ini. Nggak punya malu!” melempar undangan tersebut ke meja dengan kasar
“Itu undangan penting, Kak, bisa dibilang perayaan keberhasilan kontrak kerja. Mereka pasti tersinggung kalau, Kakak, nggak datang.”
Fahad tidak suka datang ke klub malam. Baiklah, dulu juga ia pernah dan suka masuk ke klub malam. Apalagi setelah kematian Aadil. Selain bekerja, Fahad akan menghabiskan waktunya di klub malam. Minum alkohol hingga tidak sadar, pulang dengan dijemput Sahil. Begitulah, Fahad yang dulu. Setelah mengenal Nayla, ia pun mulai menjauh dan tidak lagi masuk ke sebuah klub ataupun meminum minuman haram tersebut.
“Aku sudah bersumpah nggak akan masuk ke tempat seperti itu lagi.” Fahad bergumam lirih, namun sialnya ... Yasmin bisa mendengar suaranya.
__ADS_1
“Apa?! Kakak, pernah masuk ke klub malam?” kedua mata Yasmin membulat dengan sempurna, ia sedikit memiringkan duduknya untuk melihat wajah sang kakak. “Berarti, Kakak, pernah minum alkohol? Wah! Kalau Ammi tau, tamat sudah semuanya.” Yasmin melebih-lebihkan setelah melihat wajah panik dari Fahad.
Berdecak kesal. Melirik Yasmin dengan malas. “Itu dulu, Yasmin. Sekarang nggak pernah.”
“Kalau kakak ipar tau, kira-kira bagaimana nasib, Kakak, nanti?” tangannya berada di dagu, menatap langit-langit rumah. Nada suaranya terdengar mengancam.
“Dia sudah tau.” Cetus Fahad.
Yasmin kembali dibuat terkejut. Kakak iparnya sudah tau semuanya. Yang menjadi pertanyaan Yasmin adalah, kenapa kakak iparnya masih bisa menerima suami yang punya riwayat meminum minuman beralkohol. Melihat sifat dan karakter Nayla yang sangat menjunjung segala batasan, membuat ia berpikir keras dengan apa yang dipikirkan kakak iparnya tersebut.
“Yasmin, kakak ipar kamu itu berbeda. Dia bukan tipe pendendam, dia selalu mencoba ikhlas dan berdamai dengan masa lalu.” Fahad menjelaskan dengan lembut, bayangan senyuman Nayla melintas di matanya. “Tapi, dia bilang ... kalau sekali lagi kakak menyentuh minuman itu, dia mau pergi dan nggak kembali.” Senyuman Fahad pudar. Ia takut, jika itu terjadi, entah apa yang akan terjadi dengan hidupnya.
“Kalau itu terjadi, aku dukung kakak ipar 1000%!” tangan Yasmin mengepal, menunjukkan amarahnya di hadapan wajah Fahad.
“Kamu! Berani sama kakak? Hah?!” Fahad mengacak-acak rambut adiknya. Teriakan protes dari Yasmin tidak membuat Fahad berhenti menjahilinya.
“Kakak, sudah ...” Suara Yasmin mengiba, ia hendak menangis karena kesal. Menyisir rambutnya dengan jari-jemari lentiknya, merapikannya ke belakang telinga. “Jadi, Kakak, datang nggak?”
Fahad menghela napas lelah. “Mungkin.”
***
Andi tengah mengantar Nayla untuk berbelanja bulanan. Andi mengikuti kemana Shazia berjalan mengelilingi supermarket tersebut, sementara Nayla memilih beberapa kebutuhan dan memasukkannya ke dalam troli. “Mbak, belum selesai?” Andi menggending Shazia, menghampiri kakaknya yang berada di rak bagian susu.
Nayla menoleh sejenak. “Kenapa? Kamu bosan? Pulang saja nggak apa, nanti mbak bisa naik taksi.”
Nayla tertawa. Memang benar ucapkan adiknya, ia terlalu banyak bicara. “Ini sudah selesai, kok. Kamu kamu pergi?” Nayla berjalan mendorong trolinya menuju meja kasir, Andi mensejajarkan hubungan di samping Nayla.
“Iya,” mengangguk. “Aku ada janji sama teman SMA dulu.”
“Yakin?” Nayla menggoda. “Cuma teman?”
Andi berdecak kesal, ia tidak pernah bisa membohongi kakaknya ini. “Teman, Mbak.” Jawabnya dengan malas. Dulu.
Andi membawa kantung belanjaan dan memasukkannya ke dalam bagasi. “Belanja banyak banget, kayak mau ada acara aja.” Andi bergumam.
Nayla masuk ke mobil, duduk di samping kemudi lalu memasang self belt-nya. Andi mulai melajukan mobilnya, ia ingin segera mengantar kakaknya ini pulang dan pergi menemui kekasihnya. “Mbak, habis ini aku langsung pergi, ya? Mbak, nggak apa kan dirumah? Aku jam sembilan pulang kok, kalau telat, ya, paling jam sepuluhan. Nggak apa kan, Mbak?” Andi meminta izin.
“Iya, kamu hati-hati. Jangan ngerusak kepercayaan, loh.” Nayla memperingatkan.
“Pasti, Mbak.” Andi mengacungkan jempolnya.
Nayla tidak ingin adiknya terjerumus dalam dunia yang tidak baik. Selama ini Andi memang tidak pernah berbuat sesuatu yang membuatnya kecewa. Andi juga selalu berusaha untuk tidak membuat Nayla dan kakaknya yang lain kehilangan kepercayaan pada dirinya. Sebagai kakak, Nayla tidak pernah bosan menasehati Andi. Ia juga memposisikan dirinya sebagai teman, agar Andi bisa nyaman berkeluh kesah padanya.
Andi mengeluarkan belanjaan Nayla lalu meletakkannya di meja dapur. “Loh, nggak bawa mobil kamu?”tanya Nayla yang melihat Andi justeru mengeluarkan motor matic lamanya.
__ADS_1
“Enggak, Mbak, pake ini aja,” jawab Andi.
“Enggak yang itu?”Nayla menunjuk motor sport.
Andi menggeleng.
“Jangan lupa kunci pintu, Mbak. Bye gembul.” Andi menjawil pipi gembul Shazia.
***
Andi menghampiri seorang wanita manis dengan rambut sebahu serta polesan make up tipis yang duduk di salah satu kursi, di sudut cafe.
“Dewi, maaf aku telat.” Andi duduk di kursi.
Dewi melihat Andi dengan tatapan kesalnya. “Aku udah setengah jam nungguin kamu di sini.”
“Maaf, tadi aku nganter mbak Nayla belanja dulu.”
Tanpa basa-basi lagi, Dewi mengutarakan apa yang ingin ia bicarakan dengan Andi. Perihal pertemuan mereka kali ini. Menikah. Dewi ingin segera menikah. Mata Andi membulat sempurna. Sangat mendadak. Oh, bukan. Menikah memang sudah pernah mereka rencanakan. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini. Andi sangat serius, ia memang berniat menikahi perempuan di hadapannya ini. Mengenalnya sejak SMK, masih berteman baik hingga ia mengungkapkan cintanya beberapa bulan yang lali. Andi merasa sudah cukup mengenal Dewi dengan baik.
“Kamu nggak mau?” tanya Dewi saat melihat Andi tidak berbicara sepatah katapun.
Andi menggeleng. “De, kenapa mendadak seperti ini? Aku sudah pernah bilang sama kamu, kan ... kalau pekerjaanku sudah lebih baik, aku pasti nikahin kamu.”
Kedua manik mata Dewi mulai berair. Ada kebingungan yang membalut hatinya. “Aku tau, tapi ...”
Andi menunggu, tapi Dewi justeru menunduk, menyembunyikan air matanya. “Dewi—”
“Orangtuaku nyuruh kita cepat menikah,” tukas Dewi dengan air mata yang membasahi pipinya.
Terkejut. Rasanya, seperti ada sesuatu yang menghujam jantungnya. Iya-iya. Andi memang mempunyai rencana segera menemui orang tua Dewi, akan tetapi ... ia belum siap. Apalagi membahas pernikahan. Andi merasa ingin menghilang saja. Air mata Dewi membuat hatinya teriris. Dia cukup tau, Dewi menerima tekanan dari orang tuanya.
“Dewi, kamu mau hidup sama aku? Hidup dengan semua kesederhanaanku?”
Dewi mengangguk cepat. Selain karena memang mencintai Andi, Dewi memang tidak pernah memandang seseorang dari segi sosialnya. Apapun pekerjaannya, dia tidak mempunyai masalah dengan hal itu. Baginya, rasa tanggungjawab dan saling menghormati adalah yang terpenting dalam diri seorang lelaki. Dan, semua itu ada pada diri Andi. Dewi mengenalnya dengan sangat baik.
“Oke, aku bicarakan dulu sama keluargaku, kapan aku ke rumahmu ... nanti aku kasih kabar lagi.” Andi berucap yakin. Jika ini memang saatnya untuk menikah, ia tidak akan menunda dan mencari alasan lain. Sudah waktunya ia mengambil tanggungjawab sebagai seorang suami. Menikah muda, tak masalah. Dia sudah menyusun semuanya dengan baik saat melihat Nayla menikah.
“Tapi, orangtuaku minta syarat.” Dewi ragu. Tapi, dia harus tetap mengatakannya.
“Apa?”
“Ayahku minta kamu kasih mas kawin mobil sama rumah.”
Oh! Apalagi ini? Permintaan yang tidak masuk akal, baginya. Andi menunduk, jari-jari tangan kanannya memijat kening. Hening sesaat. Andi mengangkat wajahnya, menatap kedua manik mata sang kekasih yang masih memerah. Mata itu seolah meminta pertolongan akan semua tekanan dari orangtua. Wajah sendu Dewi menambah sesak di dadanya.
__ADS_1
***