Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 9 S2


__ADS_3

Nayla dan Shazia sudah berada di private room, seorang pelayan membawakan Nayla minuman dan beberapa camilan. Tak lupa, juga ada biskuit dan mainan untuk Shazia. Seakan mereka tau bahwa ada balita yang hadir. “Yan?” Nayla tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


“Gimana, Nay? Ada yang kurang?” tanya Ryan yang duduk di sebelah Nayla.


Nayla menggeleng. “Enggak, aku cuma mau tanya."


Ryan menatap wajah Nayla. “Tanya apa?” Ryan menurunkan Shazia agar si pipi gembul itu bisa bermain di lantai yang sudah dialasi dengan karpet.


“Kamu kenapa bohong soal cafe ini? Kata kamu ini cuma acara syukuran, tapi di depan banyak karangan bunga tentang grand opening cafe ini.”


Ryan menyodorkan segelas jus alpukat untuk Nayla. Dia masih ingat betul jus kesukaan Wanita itu. “Minum dulu, Nay. Biar nggak kering tenggorokan kamu,” ucap Ryan.


Nayla tersenyum malu. “Aku banyak ngomong, ya? Maaf, Yan.”


Ryan memang sengaja memberitahu Nayla bahwa undangannya hanyalah syukuran biasa. Dia halal betul, Nayla tidak akan datang jika undangannya adalah tentang grand opening. Bukan hanya Nayla, namun Ryan juga memberitahu Doni dan juga yang lain perihal undangannya. Ya, hanya undangan syukuran biasa. Senyuman Nayla membuat hati Ryan bergetar kembali. Sudah berkali-kali dia mencoba membunuh rasa cinta itu, tapi senyuman Nayla justru membuat rasa itu kembali hidup.


Kehangatan menjalar di semua ruang hatinya. Untuk sesaat, Ryan lupa tentang siapa Nayla sekarang ini. Perempuan dihadapannya ini bukan lagi Nayla yang dulu. Ada nama Fahad yang menjadi bayangan disetiap langkah kaki Nayla. Bahkan, kini ada Shazia, yang tidak mungkin ia merusak senyuman manis dari balita cantik itu.


Pintu private room terbuka, terlihat Doni, Sari dan Nita masuk ke ruangan tersebut. “Wah, udah nyolong start si Nayla,” celetuk Doni sembari mendudukan tubuhnya di kursi samping Ryan, disusul Sari dan Nita. Meja berbentuk bulat dengan lima kursi itu sudah penuh dengan kehadiran teman-teman Nayla.


“Ini private room cafe apa kamar pribadi, sih? Nyaman banget, ada mainan buat anak kecil juga.” Mata Sari menjelajahi setiap sudut ruangan tersebut. Ruangan itu memang cukup luas. Sangat nyaman berada di ruangan tersebut.


“Lihat deh, anaknya Nayla aja nyaman banget disini,” timpal Nita. “Shazia ...,” sapa Nita sembari melambaikan tangannya. Si pipi gembul itu menoleh sebentar lalu melemparkan senyumnya. “Benar-benar mirip kamu, Nay. Manis banget senyumnya. Pantesan, Ryan nggak bisa—”


“Nggah usah rese, Ta.” Ryan menukas.


Seketika Nita menutup mulutnya rapat-rapat, ia menahan tawanya melihat wajah Ryan dan Nayla bergantian. Nayla yang menunduk malu, sementara Ryan berusaha menunjukkan baik-baik saja dibalik rasa gugupnya.


“Suami kamu mana, Nay?” Sari bertanya.


Nayla mendongakkan wajahnya, menatap Sari. “Sudah balik.”


Mereka berlima mengobrol santai seputar kenangan mereka bekerja di restauran yang sama. Setelah Nayla mengundurkan diri, satu-persatu karyawan di restaurant tersebut juga ikut mengundurkan diri. Ada rasa tidak nyaman setelah restaurant tersebut dibawah pimpinan adik dari Pak Tony.


“Suasananya tuh, gimana ya?” Sari menjeda ucapannya. “Kayak kerja paksa gitu, Nay. Nggak ada kata libur, mau kasbon juga susah. Kalaupun duitnya turun, pasti diomelin dulu.”

__ADS_1


Berbeda dengan Pak Tony, lelaki itu selalu menganggap semua karyawan seperti adiknya sendiri. Rasa kekeluargaan sangat terasa. Meski begitu, Pak Tony tidak pernah memanfaatkan rasa kekeluargaan itu untuk memeras tenaga karyawannya. Semua dilakukan sesuai peraturan restaurant. Selalu mengedepankan sebuah kedisiplinan.


“Terus, Pak Tony kemana?” tanya Nayla.


“Kita nggak tau, Nay. Tiba-tiba di grup Pak Tony pamitan. Pas kita mau tanya, beliau sudah keluar dari grup.” Ryan menjawab.


“Mungkin ada masalah keluarga, Nay. Nggak lama setelah itu, kita dapat kabar ibunya Pak Tony meninggal.” Bukan hanya Nita, semua orang ikut merasa sedih atas apa yang terjadi kepada Pak Tony. Kebaikan lelaki itu meninggalkan kesan terdalam di hati semua karyawan.


“Mama ...” Shazia berjalan menghampiri Nayla.


Kelima orang disana kompak menoleh pada gadis mungil yang berjalan dengan perlahan itu. “Iua, Jaanu?” Nayla mengangkat tubuh Shazia lalu memangkunya. “Ma, Zia mau minum susu.” Si pipi gembul berambut lurus itu mengucek matanya, ia mulai mengantuk—karena memang ini waktunya untuk tidur siang.


Nayla beranjak, ia mengambil botol susu di dalam tas lalu menuang air panas dari termos kecil yang ia bawa. “Lincah banget, Nay,” celetuk Sari. Nayla menatap Sari, menepiskan senyum kepada temannya itu.


“Masya Allah ... jangan senyum, Nay, jangan senyum.” Sahut Doni sembari menggelengkan kepalanya.


“Iya, Nay. Jangan senyum.” Sari ikut menimpali sembari menatap Ryan yang sibuk dengan ponselnya.


Hening.


“Enggak!” menggeleng kompak.


Dalam sekejap, Shazia sudah tertidur di pangkuan Nayla setelah menghabiskan susunya. Nayla membaringkan Shazia di sofa double yang berada di pojok ruangan agar putrinya itu lebih nyaman untuk tidur.


 ***


Sayang, sudah pulang? ~ Fahad.


Belum, lagi nunggu Andi. Nayla membalas.


Gimana acaranya? Lancar?


Lancar, semuanya datang. Jadi rame gitu, seru.


Ya, sudah, nanti malam aku telpon. ~ Fahad.

__ADS_1


Iya, Fahad.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, teman Nayla yang lain sudah pulang sejak. Nayla masih mencoba menghubungi Andi. Pesannya sama sekali tidak dibaca oleh Andi. Panggilan pun tidak diterima. Nayla mulai khawatir. Mengingat semalam adiknya itu dalam keadaan yang tidak baik. Terutama hatinya.


Shazia sibuk bermain, kini hanya ada mereka berdua di ruang private room tersebut—lebih tepatnya, itu adalah ruangan khusus untuk Ryan jika ingin menghabiskan waktu seorang diri. Ryan sengaja menempatkan teman-temannya di ruangan tersebut agar bisa berbicara lebih santai. Benar, mereka berlima, ditambah Shazia ... bisa dengan leluasa saking berbagi kabar serta mengenang masa-masa kerja di restauran.


“Nayla?” panggil Ryan yang melihat Nayla keluar ruangan.


“Iya?”


“Andi sudah datang?” tanyanya yang dijawab gelengan kepala oleh Nayla. Jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tiga sore. Melihat Nayla yang kerepotan bersama Shazia, Ryan pun menawarkan diri untuk mengantar pulang perempuan tersebut. Akan memakan waktu sedikit lama jika menunggu pesanan taksi.


Ryan berjalan mendahului Nayla tanpa menunggu jawaban dari perempuan itu. “Aku nggak ada niat apapun, Nay, aku cuma kasihan sama Shazia kalau harus nunggu taksi.”


Nayla mengekor. Memang benar, kasihan Shazia jika harus menunggu taksi. “Om Iyan!” seru Shazia dengan riang.


Ryan berhenti, memutar tubuhnya untuk melihat Shazia. Tangannya mencubit gemas pipi balita itu. “Cantik banget sih, pengen om gigit pipi kamu.”


Tawa renyah terdengar dari Shazia. Balita itu sangat menyukai Ryan. Senyuman Nayla kembali merebut perhatian Ryan. Tatapan mata itu penuh arti. Ryan menyentuh dadanya, berusaha mengontrol rasa yang seakan ingin meledak dari dalam sana. “Ayo.” Ajaknya untuk mengalihkan suasana canggung yang tercipta di hatinya sendiri.


Mobil berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Nayla juga merasa bahagia melihat Ryan yang sekarang ini. LaRyan cafe sudah berdiri, lelaki itu bisa memenuhi impiannya sendiri.


Shazia merengek, ia ingin duduk dipangkuan Ryan. Lelaki itu sudah mempersilahkan, namun Nayla tidak bisa membiarkan putrinya duduk dipangkuan Ryan yang tengah fokus dengan kemudinya.


“Om Iyan ...” Shazia mulai menangis. Kedua tangannya mengarah, meminta pertolongan Ryan.


“Sini, Nayla, anak kamu nangis.” Ryan meminta.


“Bahaya, Ryan, habis ini dia berhenti nangis, kok.”


Ryan tak mengindahkan ucapan Nayla. Menepi, ia menghentikan mobilnya lalu mengambil Shazia dari pangkuan Nayla. “Sini, Zia, kamu mau nyetir, ya?” membuat balita itu duduk di pangkuannya dengan nyaman. “Tuh, dia nggak nangis lagi. Ini juga sudah dekat sama rumah kamu, kan. Aku bisa, nyetir sambil mangku dia.”


Mobil kembali melaju. Shazia sangat bahagia bisa duduk di belakang kemudi. Seperti sebuah keluarga bahagia, ada bunga yang tiba-tiba tumbuh mekar di hati Ryan. Tak bisa dipungkiri, Ryan merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Nayla dan juga Shazia. Dia kembali melupakan siapa Nayla dan juga Shazia. Yang dia tau, untuk saat ini ... hanya ada mereka bertiga yang sudah seperti sebuah keluarga.

__ADS_1


***


__ADS_2