
Seminggu sudah Fahad di Kashmir. Lelaki itu kini sudah berada didalam taksi yang akan membawanya pulang ke apartemen. Fahad tidak memberitahu Nayla tentang kedatangannya, ia mengatakan akan pulang dua hari lagi. Sudah pasti Nayla kecewa, Fahad bisa mendengar suara istrinya yang mengatakan, iya, nggak apa, kok ... suara kecewa, suara sedih, serta suara sedikit isakan dibalik layar benda pipih itu.
Mengambil kunci pintu apartemen di saku celananya, Fahad memutarnya dengan perlahan. Membuka pintu, Fahad mengedarkan pandangannya menyapu seisi ruang tamu. Tidak ada siapapun di sana. Langkah kakinya mengajaknya ke arah dapur. Tepat. Istrinya ada di sana.
“Makan es krim terus!” Fahad berujar, membuat istrinya itu terkejut. Berjalan mendekat, ia mengambil paksa satu cup es krim di tangan Nayla.
“Katanya dua hari lagi?” tanya Nayla. Hidungnya sudah memerah, air matanya sudah siap untuk meluncur.
Mendekap tubuh Nayla, Fahad mencium puncak kepala sang istri lama. Menikmati aroma wangi dan lembut dari rambut yang terurai sebahu itu. “Maaf, aku cuma bercanda. Ini aku pulang.”
Aroma itu. Aroma tubuh yang ia rindukan. Nayla menenggelamkan wajahnya di dada bidang Fahad. Pelukan itu sangat nyaman, seketika airmata yang Nayla tahan sedari tadi itupun tumpah dengan sendirinya. Nayla sangat merindukan Fahad, ia dekap tubuh tegap itu untuk waktu yang cukup lama. Hingga sebuah pergerakan dari bayi yang masih di dalam perutnya itu memaksa suaminya untuk mengakhiri pelukan.
Fahad mensejajarkan kepalanya dengan perut Nayla, tangannya menyentuh lembut dan ia pun mulai berbicara, “kamu senang, ya, kalau papa lagi di Kashmir, bisa makan es krim terus.”
Nayla memukul pelan bahu suaminya. “Kamu gitu, ih!” merajuk. Ia mengambil cup es krim di meja dapur yang sempat di ambil oleh Fahad tadi. Nayla menghabiskan es krim yang tinggal separuh itu dengan cepat. “Aku makan es krim juga jarang, aku makan kalau udaranya lagi—”
“Lagi panas,” tukas Fahad yang sudah berdiri tegap. Tangannya mencubit kedua sisi pipi Nayla dengan gemas. “Cari alasan lain, aku bosan dengar alasan itu.”
“Fahad ...” Nayla memrotes.
“Iya-iya.”
***
Ada yang tidak dimengerti oleh Nayla. Sudah dua bulan terakhir, suaminya itu sangat sibuk. Selalu pulang larut malam, juga sangat jarang memberi kabar ... sedang apa dan ada di mana. Nayla tau, Fahad sudah pasti ada di kantor. Hanya saja, Fahad tidak pernah mengiriminya pesan sekedar mengatakan akan makan siang atau salat dhuhur.
Hanya kesibukan Fahad saja yang membuat Nayla sedikit bertanya-tanya, selebihnya ... tentang sikap dan perlakuan Fahad kepadanya, semua sama. Tidak ada yang berubah. Fahad tetap memberi perhatian kepadanya, selalu bersikap mesra di manapun berada—di dalam apartemen. Karena Fahad jarang sekali mengajaknya keluar jika sedang tidak berbelanja bulanan. Juga saat Nayla memaksa ingin bertemu Mahira atau Sanju, barulah suaminya itu memberi izin.
__ADS_1
Bulan sudah berganti, Fahad harus pergi ke Kashmir lagi. Sama seperti biasanya, kesibukan memaksa Fahad harus menunda keberangkatannya ke Kashmir. Ada rasa bahagia di sudut hati Nayla, ia bisa bersama suaminya untuk waktu yang lebih lama lagi. Lagi dan lagi. Akan tetapi, rasa sedih dan takut ikut berbaur menjadi satu. Takut jika Ammi merasa kecewa kepadanya, merasa sedih jika Ammi semakin berpikir bahwa ia menjauhkan Fahad—putranya—dari keluarga.
Bel pintu berbunyi, Fahad dan Nayla saling memandang. Sama-sama tidak mempunyai janji temu dengan siapapun, keduanya dibuat heran pada tamu yang datang pagi-pagi sekali. Nayla sedang tidak memakai hijab, jadilah Fahad yang beranjak untuk membuka pintu.
“Yumna, kamu datang?” terkejut Fahad.
Menerobos masuk tanpa menyapa kakaknya, Yumna berteriak memanggil kakak iparnya. Mendengar sahutan Nayla, Yumna segera pergi ke arah dapur. Kakak iparnya sedang menikmati sarapan. Pelukan dan ciuman di pipi ia berikan untuk Nayla. Yumna sangat merindukan wanita yang menjadi kakak ipar namun terasa seperti seorang kakak kandung.
“Kok, nggak kasih kabar kalau mau ke sini? Kan, kakak bisa jemput kamu.” Fahad datang. Ia duduk di kursi dan kembali menyantap sarapannya.
Nayla menatap Fahad dan Yumna bergantian. Tidak ada jawaban apapun dari adik iparnya tersebut. Yumna justru berpamitan masuk ke kamar. “Kamu sama Yumna kenapa? Dia dingin banget sama kamu.” Nayla bertanya kepada Fahad.
“Mereka kompak diemin aku.”
“Maksudnya?” kening Nayla berkerut dalam.
“Suamiku.” Nayla menggenggam satu tangan Fahad. Ia tersenyum, “kamu nggak jahat. Nggak ada kakak yang sehebat kamu.” Mencoba menyemangati, Nayla tau ... suaminya merasa tertekan. Dihadapkan oleh pilihan yang sulit. Menyangkut hati dan Ammi. Ditambah lagi dengan sikap Yasmin dan Yumna, yang kompak mogok bicara dengan Fahad. Dua gadis itu tidak bersalah, Fahad pun tidak bersalah. Tetapi, memang seperti inilah yang harus dihadapi Fahad dan semua keluarga. Entah sampai kapan ini semua akan berakhir, Nayla tidak tau.
Aku bukan yang terbaik, Sayang. Aku gagal menjadi anak, suami, kakak, dan sebentar lagi aku menjadi papa. Rasanya aku tidak bisa menjadi yang terbaik untuk siapapun.
Fahad menyembunyikan rasa sedihnya dibalik senyuman. Sama seperti istrinya, yang selalu bisa mengubur semua air matanya dibalik senyuman. Yumna tak kunjung keluar kamar, Fahad pun memutuskan segera berangkat bekerja. Berpesan kepada istrinya agar menegur Yumna jika adiknya itu terlalu merepotkan dengan segala tingkah kekanakannya.
“Enggak, dia nggak pernah ngerepotin aku. Aku malah senang Yumna ada di sini, jadi nanti aku sama dia bisa—”
“Nggak boleh keluar!” tukas Fahad, membuat istrinya seketika terdiam. “Perut kamu semakin besar, Sayang. Sabtu depan kamu ada jadwal periksa, kan? Nah, sekalian kita keluar jalan-jalan. Ya?”
Nayla mengangguk. Ada rasa bahagia di sudut hati kecilnya, Fahad sangat memperhatikannya, sangat peduli dengan kandungannya. Suaminya itu memang sering melarang keluar, tentu Nayla merasa sedikit kesal, tetapi semua itu Fahad lakukan juga demi kebaikannya. Nayla tidak mempermasalahkan itu.
__ADS_1
***
Mengetuk pintu kamar Yumna, Nayla membawakan sarapan untuk adik iparnya tersebut. Sejak datang tadi, Yumna belum makan ataupun minum sesuatu. Di nampan, ada sepiring sandwich dan segelas susu hangat. Ya, itu juga menu sarapannya tadi bersama Fahad.
“Kakak ipar,” sambut Yumna. Ia mempersilakan Nayla masuk.
“Sarapan dulu, ya. Habis itu kamu bisa istirahat.” Menaruh nampan di nakas, Nayla mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur bersama Yumna. “Mau kakak masakin yang lain?” tanyanya.
Yumna menggeleng, ia mengatakan kepada Nayla bahwa pagi tadi ia sudah sarapan di hotel. Yumna mengatakan, ia sudah datang sejak kemarin. Hanya saja, ia lebih memilih menginap di hotel terlebih dahulu. Rencananya, ia akan ke apartemen setelah kakaknya, Fahad, berangkat bekerja. Lebih tepatnya, Yumna tidak ingin bertemu dengan Fahad. Namun, perkiraannya salah, ia datang terlalu pagi sehingga mau tidak mau ... tetap bertemu dengan kakaknya.
“Kamu!” Nayla mencubit pipi Yumna, ia kesal sebab adik iparnya itu dengan berani sudah menginap di hotel seorang diri. “Kalau Fahad tau kamu menginap di hotel, pasti kamu dimarahin. Anak gadis tidur di hotel, sendirian lagi!”
Yumna meringis kesakitan, “rencananya aku mau ajak teman cowok, biar nggak sendirian.”
“Yumna!” Nayla berseru. “Jangan gitu, kasihan Ammi sama Fahad, mereka pasti khawatir sama kamu.”
“Iya, Kak, aku cuma bercanda.” Memeluk tubuh kakak iparnya dari samping.
Nayla tidak bisa lagi menahan diri, ia menanyakan perihal sikap Yumna yang mendiamkan Fahad. Dengan menggebu-gebu, Yumna memrotes sikap kakaknya yang diam saja saat Ammi menyuruhnya untuk menikah lagi. Terlepas dari status kakaknya yang sudah beristri, Yumna memang tidak mau jika Benazir menjadi kakak iparnya. “Dia nenek sihir, lihat aja matanya, minta dicolok!”
“Eh, hustt!” Nayla memukul lengan Yumna. “Jangan ngomong gitu, ah. Nggak baik.”
“Memang kenyataanya begitu, Kak, dia nenek sihir, jahat! Mau-maunya nikah sama Kak Fahad. Kak Fahad juga, kenapa masih diam sampai sekarang?! Aku mau dia itu berontak sama Ammi, jangan mau disuruh nikah lagi. Nggak masuk akal banget, Kak. Kak Fahad egois!”
Sorot mata Yumna benar-benar menunjukkan kemarahannya. Bagaikan seekor singa yang siap menerkam mangsanya. ”Jangan melawan orangtua, Yumna, jangan salahkan Fahad juga. Kamu tau sendiri, kan? Kakak kamu itu nggak pernah menolak apapun yang Ammi perintahkan. Kemarin, hari ini, besok, lusa ... dan sampai kapanpun, Fahad nggak akan pernah melawan Ammi. Dia pasti menuruti semua yang Ammi katakan. Jadi, sekarang biarin aja. Nggak apa, kok.”
***
__ADS_1