
Fahad dan Nayla sudah berada di Kashmir, mereka membantu menyiapkan pertunangan Yasmin dan Adnan. Sejak makan malam di rumah Delhi waktu itu, hubungan Yasmin dan Adnan semakin dekat. Mereka saling mengenal dengan baik. Sudah ada ketertarikan dari keduanya, terutama ketertarikan yang ditunjukan Adnan pada Yasmin.
Semua keluarga sudah berkumpul, acara pertunangan akan dilangsungkan besok pukul satu siang. Fahad dan Nayla sudah berada di Kashmir sejak tiga hari yang lalu. Dan selama itu pula, Nayla harus dibuat mengelus dada setiap kali bertemu dengan Bibi Farida.
Ya, sepertinya Bibi Farida tetap tidak menyukainya. Meskipun kini sudah ada Shazia, nyatanya tidak bisa membuatnya menyayangi putrinya tersebut. Berulang kali Fahad ingin mengajak Bibi Farida untuk berbicara atas sikapnya yang tidak baik pada Nayla, namun Nayla selalu melarangnya dengan alasan bahwa bagaimanapun Bibi Farida bersikap, dia tetaplah orang tua mereka juga.
Nayla yakin, suatu saat Bibi Farida pasti bisa menerimanya menjadi bagian di salah satu hatinya. Sama seperti Ammi yang sudah kembali menyayanginya.
“Fahad kamu mau kopi apa teh?” tanya Nayla pada sang suami yang sibuk pada komputer lipatnya.
Fahad yang duduk di sofa kamarnya itupun menoleh, “Teh saja, Sayang, aku mau lanjutin kerjaan dulu. Sudah ditunggu sama Alina.”
Nayla mengiyakan perintah Fahad, dia keluar kamar menuruni anak tangga menuju ke dapur. Semua orang sedang sibuk menyiapkan persiapan pertunangan Yasmin. “Ammi, apa Ammi mau teh? Aku mau buatin Fahad teh juga,” tanya Nayla pada Ammi yang duduk di kursi meja makan.
“Tidak, Nak ... Ammi sudah minum teh buatan Hannah tadi,” jawabnya. Nayla pun masuk ke dapur, menuang air ke dalam panci beserta susu dan rempah lainnya. Nayla melihat Bibi Farida menghampiri Ammi, ia ikut duduk di sebelahnya.
“Bibi, apa bibi mau teh?” tanya Nayla.
“Tidak!” jawabnya ketus dengan lirikan mata tajam.
Nayla yang dipandang oleh Hannah itupun hanya tersenyum sembari menaikkan kedua bahunya.
“Sepertinya Bibi Farida sedang datang bulan, makanya marah-marah,” celetuk Hannah lirih.
Nayla tertawa kecil mendengarnya.
“Mama.” Shazia menangis dalam gendongan Yumna, kedua tangannya dia ulurkan ke depan, meminta gendong pada mamanya.
“Kenapa, Jaanu?” Nayla meraihnya. Mengusap air mata sang putri.
“Tante Yumna, nakal! Tante Yasmin, juga!” seru Zia sembari menunjuk Yumna yang tertawa.
“Dia bilang aku nakal, kan, Kak?” tanya Yumna yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.
“Baiklah, aku hanya mengerti kalau dia memanggilku tante dan kata nakal saja,” kata Yumna.
“Tante, you so ugly!” seru Shazi lagi. Yumna membulatkan bibir dan matanya, ia mencubit kedua pipi gembul keponakannya tersebut dengan gemas
__ADS_1
“Hannah, tolong tuangkan tehnya,” perintah Nayla, Hannah pun segera melakukannya.
“Tante pretty, Jaanu, not ugly. Kamu kenapa bisa tau kata ugly, sih?” Nayla sedikit memrotes.
“Dia meminta coklat, Kak, aku dan Kak Yasmin melarangnya dan menyembunyikan coklat itu. Dia menangis,” ucap Yumna.
“Iya, aku tahu dia pasti menangis gara-gara coklat, dia selalu seperti itu.” Nayla merapikan anak rambut putrinya yang sudah berhenti menangis itu.
“Biar aku yang membawanya, Hannah, lanjutkan pekerjaanmu.” Nayla mengambil nampan yang terdapat secangkir teh di atasnya, dia berjalan menuju kamar dengan Shazia yang tetap berada pada gendongannya.
“Punya anak itu diajarin bahasa papanya juga, masa anak nggak bisa bahasa Hindi atau Kashmiri!” sindir bibi Farida. Nayla berhenti, satu kakinya sudah menapaki satu anak tangga, ia, Ammi dan Yumna sontak menoleh pada bibi Farida.
“Aku juga mengajarinya bahasa Hindi, Bi, Fajad juga berniat mengajarinya bahasa Kashmiri. Tapi dia masih kecil, suatu saat dia pasti bisa bahasa negara Papanya,” tutur Nayla lembut.
“Pintar sekali kamu melawan ucapan orang tua!” seru Bibi Farida.
“Aku tidak melawan ucapan orang tua, Bi,” Yumna mengambil Shazia lalu membawanya ke kamar Yasmin yang berada di lantai dua.
“Aku cuma jelasin ke, Bibi, kalau aku dan Fahad juga ngajarin dia bahasa Hindi, aku nggak mau Bibi salah paham sama aku dan Fahad.”
“Bilang aja kamu mau kuasai Zia sendiri, kamu nggak mau ngenalin budaya negara ini sama dia!” suara Bibi Farida semakin kencang, membahana di lantai satu rumah itu.
“Farida, kamu ini bicara apa? Sudah diamlah, jangan mencari masalah.” Ammi mencoba menghentikan kemarahan adiknya itu, ia tahu adiknya itu bisa semakin berkata kasar pada Nayla.
“Bibi, aku tidak punya niat seperti itu. Aku tahu, Zia lahir dari orang tua yang berbeda negara dengan adat dan budaya yang juga berbeda, tapi dia masih kecil, Bi, dia belum bisa mengerti apapun.” Nayla sudah mulai terpancing, nada bicaranya sudah naik setengah oktaf.
“Tapi, kenapa kamu tidak berbicara pada dia dengan bahasa Hindi saja, kenapa bahasa Indonesia? Dia memanggil Yasmin dan Yumna dengan panggilan Tante, bukan chachi ji!” teriak Bibi Farida.
Ammi menunduk sembari memijat keningnya, adik serta menantunya ini tidak pernah bisa berdamai. Ia bingung harus bagaimana.
“Bibi.” Nayla mengembuskan napasnya dengan kasar. “Aku juga sedikit berbicara bahasa Hindi dengan Zia, tapi dia masih ke—”
“Justru karena dia masih kecil, kamu harus mengajaknya berbicara dengan Bahasa Hindi terus. Bahasa Hindi kamu kan bagus, jadi nggak akan sulit buat ngajarin dia Bahasa Hindi,” tukas Bibi Farida.
“Bibi, mengertilah, Zia masih kecil, suatu saat dia pasti bisa bicara Bahasa Hindi, kami tinggal di India, Bi, dia pasti bisa bahasa Hindi nantinya!” seru Nayla. Biarlah dia dianggap tidak sopan, Nayla sudah jengah pada sikap Bibi Farida yang selalu menyalahkannya dalam segala hal dan melihat apapun yang dilakukannya selalu salah.
“Lihatlah, Kak.” Bibi Farida menoleh pada Ammi. “Menantumu itu tidak punya sopan santun! Dia menaikkan suaranya pada orang tua!”
__ADS_1
“Ya Allah, Bi, aku nggak bermaksud kayak gitu, aku—” ucapan Nayla kembali di potong oleh Bibi Farida.
“Jadi maksud kamu apa, hah!” seru Bibi Farida.
Nayla memijat keningnya merasa pusing akan situasi yang semakin memanas. Dia tidak bermaksud melawan pada ucapan Bibi Farida, hanya saja Nayla n sudah tak tahan akan semua tuduhannya, yang selalu berpikiran buruk padanya. Nayla sendiri tidak menyangka kenapa bisa berucap dengan nada tinggi seperti itu. Mungkin benar kata orang, sabar itu ada batasnya.
“Maafkan Nayla, Bi,” Nayla mengambil nampan tehnya, dia berlalu meninggalkan Ammi dan Bibi Farida. Menaiki anak tangga dengan langkah gontai, membuka pintu kamar dengan wajah kusutnya.
“Ini tehnya.” Nayla memberikan secangkir teh pada Fahad.
“Ada apa? Bibi lagi?" Tanya Fahad sembari menerima cangkir tehnya.
Nayla mengangguk lemah, percuma juga dia menyembunyikan hal yang sudah biasa terjadi antara dirinya dan Bibi Farida.
“Dia ngomong apa lagi?” tanya Fahad sesudah menyeruput tehnya.
“Nggak ngomong apa-apa.” Nayla mengambil cangkir teh dari tangan Fahad lalu menaruhnya di meja.
“Aku denger, kok, aku tadi keluar kamar lihat kalian dari atas,” ucap Fahad. Mematikan laptop, menaruhnya di meja lalu menggenggam jari jemari istrinya.
“Kalau kamu sudah denger, terus ngapain nanya?” Nayla menoleh pada sang suami.
“Cuma pengin dengar dari mulut kamu sendiri, masa aku harus tahu dari orang lain terus, kalau enggak, aku pasti denger sendiri. Kamu nggak pernah mau ngomong sama aku.”
“Nggak ada yang perlu diomongin juga, Fahad,” wajah Nayla terlihat sendu, menahan rasa kesal dan kecewanya.
“Sini.” Fahad memeluk Nayla, menenggelamkan wajah sang istri ke dalam dadanya.
“Aku tahu kamu nggak nyaman sama bibi, kamu boleh kalau mau balik ke Delhi, daripada di sini kamu diajak ribut terus sama bibi,” sambung Fahad kemudian.
“Kamu ngusir aku?” Nayla melepas pelukan Fahad, memandang wajah sang suami dengan tatapan marahnya.
“Enggak, Sayang, kok kamu mikirnya gitu? Istri aku tuh nggak pernah mikir aneh-aneh gini, istri aku selalu positif thinking. Maaf, kalau ucapan aku nyinggung kamu.”
***
Hai sayang-sayangku....
__ADS_1
Terima kasih kalian masih terus baca cerita ini, makasih buat yang udah kasih like, ninggalin comment, kasih rate, kasih poin juga. Yang belum, di tunggu yah. Jangan cuma baca doang, tapi kasih support juga, biar aku semangat buat nulis.
Sekali lagi terima kasih ❤️