Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 52


__ADS_3

Seminggu sesudahnya Nayla keluar dari rumah sakit, ia semakin membaik—juga berhenti bekerja sejak kecelakaan hari itu. Selain karena perintah Fahad, ia juga ingin lebih fokus pada suami dan kesehatannya—agar ia bisa segera hamil lagi.


Seperti biasa, sebelum berangkat kuliah ... Andi lebih dulu membersihkan rumah. Ia melakukan semua itu sejak Nayla keluar dari rumah sakit. Kondisi kakaknya belum pulih betul, dan ia tidak ingin kesehatan Nayla memburuk jika harus mengurus pekerjaan rumah yang sangat melelahkan.


“Andi, biarin aja disitu, nanti Mbak cuci bajunya,” kata Nayla sembari meletakkan cangkir teh ke dalam sink bowl.


“Ini, kan, baju Andi. Lagian belum waktunya berangkat kuliah,” sahutnya seraya menekan tombol pengatur mesin cuci.


“Yakin belum waktunya berangkat kuliah?” Nayla memberi peringatan. “Coba lihat aja, jam berapa sekarang.”


Mengambil ponselnya yang tergeletak di meja makan, mata Andi membulat sempurna sebab terkejut. “Mbak! Aku ada kuliah jam delapan, ini udah setengah delapan lagi.” Andi bergegas masuk ke kamar, mengambil tas, mengambil kunci motornya lalu keluar rumah ... memakai sepatunya di teras.


“Nggak mandi dulu kamu?” tanya Nayla yang sudah berdiri di pintu masuk.


“Udah, Mbak. Tadi sebelum salat subuh udah mandi.” Andi menjawab dengan tangan yang sibuk memakai kaos kaki dan sepatu.


“Nggak sarapan dulu?” Nayla kembali bertanya.


“Nanti aja di kampus. Cucian aku biarin aja, Mbak, nanti pulang aku lanjut.”


Menyalakan mesin motor, Andi melajukan motor setelah sebelumnya ia berpamitan kepada Nayla serta mengucap salam.


Nayla kembali masuk, ia duduk di kursi meja makan menunggu mesin cuci berhenti berputar. Pandangan matanya kosong, menerawang jauh entah kemana. Mengambil napas panjang lalu mengembuskannya dengan perlahan ... tersenyum untuk menyemangati diri sendiri.


Sejak hari kecelakaan itu, kini Nayla berusaha bangkit, bersama Fahad tentunya—saling memberi semangat untuk kekuatan hati setelah apa yang membuat mereka merasakan kehilangan dan kesedihan.


“Shona?” panggil Fahad seraya mendudukkan tubuhnya di kursi samping Nayla.


“Iya? Ada apa?”


“Jalan-jalan, yuk? Ke mall,” ajak Fahad.


Nayla mengangguk, tersenyum lebar—menerima ajakan suaminya. Ya, ia juga butuh refreshing.


Mesin nyuci berbunyi, menandakan cucian sudah siap untuk dijemur. Fahad tidak melarang istrinya melakukan aktifitas, ia tahu ... hanya Nayla sendiri yang tahu bagaimana kondisi tubuh dan kesehatannya.


Sudah waktunya makan siang. Nayla mengajak Fahad untuk masuk ke restaurant Korea karena ia memang menginginkan makanan dari negeri ginseng tersebut.


Menunggu pesanan makanan datang, Nayla bertanya sebab apa yang membuat wajah suaminya itu terlihat kesal sejak mereka masuk ke restaurant.


Fahad menjawab bahwa ia merasa kesal karena pengunjung lain memperhatikan mereka—terutama Nayla.


“Mereka punya mata, Fahad. Biarin aja,” acuh Nayla.


Berdecak kesal, Fahad beranjak pindah tempat duduk. Membelakangi beberapa pria yang sejak tadi memandangi istrinya. “Kamu ngapain?” tanya Nayla.

__ADS_1


“Aku mau nutupin kamu, biar mereka nggak bisa lihat.”


Nayla tersenyum, menepuk punggung tangan suaminya di atas meja. “Jangan berlebihan. Mereka cuma lihatin, nggak ngambil.”


“Ya, justru itu. Dari lihatin, terus naksir, terus ngambil. Kan, bahaya.” Fahad berujar. “Kamu tahu nggak, sih? Kalau aku lagi cemburu,” sambungnya.


“Tahu, aku tahu.” Nayla mengangguk, “tapi nggak gini juga, Fahad. Aku nggak pantas dicemburui sama kamu.”


Obrolan mereka terhenti tatkala makanan pesanan sudah datang. Menyantap jjajangmyeon, tteokbokki, serta bulgogi—semua itu adalah pesanan Nayla, dan Fahad hanya pasrah menerima apapun yang istrinya pesankan.


“Apa aku bisa pesan makanan India di sini?” tanya Fahad yang menatap aneh pada makanan dihadapannya.


“Ini restaurant Korea, jangan aneh-aneh, ah.” Nayla tertawa kecil. “Meskipun kamu di Indonesia, tapi kamu hampir tiap hari makan makanan India.”


“Nggak juga. Aku sering makan makanan lain.”


“Coba dulu, Fahad.” Nayla menyuapi jjajangmyeon kepada suaminya. “Ini enak. Kamu pasti suka.”


“Nanti malam aku masakin kamu sesuatu, sekarang makan ini dulu,” sambung Nayla.


Memakan makanan dengan mata yang memandang ke lain arah, Fahad tidak menyadari bahwa Nayla memperhatikannya sejak tadi. Mengikuti ke mana arah mata suaminya, Nayla mendapati seorang gadis yang cukup cantik—juga sedang menikmati makan siang.


“Lihat apa kamu?” tanya Nayla.


Fahad memutus pandangannya pada gadis tersebut, ia beralih menatap Nayla lalu menggelengkan kepalanya. Namun tak lama pandangannya kembali tertuju pada gadis itu.


Nayla mendengar, namun itu tahu kata itu tidak ditujukan Fahad kepadanya. Ia tetap menunduk menikmati makan siangnya—meskipun sebenarnya lidahnya terasa sangat kelu untuk menelannya.


“Shona,” panggil Fahad namun Nayla sama sekali gak mengindahkannya. “Kamu nggak cemburu?” tanyanya.


Pertanyaan itu hanya dijawab gelengan kepala oleh Nayla. “Aku ke toilet sebentar.” Beranjak berdiri tanpa menatap suaminya, Nayla berusaha menutupi rasa cemburu yang hampir ia ledakkan dihadapan Fahad.


***


Mendekati seorang gadis dengan pakaian yang cukup minim—sexy—duduk dan saling berbicara layaknya seorang pria lajang, Fahad berbicara dengan tutur kata yang sopan.


Gadis tersebut pun sama, ia berbicara dengan cukup terbuka meskipun itu adalah kali pertama mereka bertemu. Ia memanfaatkan seorang pria tampan yang datang dan menawarkan pertemanan kepadanya.


“Fahad?” gumam Nayla yang seketika mematung melihat suaminya sedang bersama wanita lain.


Nayla tersadar ketika Fahad menepiskan senyum kepadanya—ya, suaminya itu ingin ia merasa cemburu. Baiklah, Nayla pun berjalan lalu duduk di meja kursi yang cukup dekat dengan suaminya dan juga gadis tersebut.


Beberapa pengunjung memperhatikan mereka—Nayla dan Fahad. Meskipun tidak tahu hubungan apa antara pria dan wanita yang makan bersama sejak tadi—entah sepasang kekasih, atau justru sepasang suami istri. Yang mereka tahu, Fahad dan Nayla datang bersama.


Nayla berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Meskipun begitu, telinganya bisa mendengar apapun yang Fahad dan gadis itu bicarakan. Vera.Ya, Nayla mendengar bahwa nama gadis itu adalah Vera.

__ADS_1


Nayla terlihat sangat gusar, tangannya tak berhenti bergerak. Entah membetulkan; baju, hijab, atau apapun yang ada pada dirinya. Wanita bisa menyembunyikan perasaannya, tapi tidak untuk rasa cemburu. Sudah cukup! Nayla tak tahan lagi.


Ia beranjak berdiri, menghampiri Fahad dengan raut wajah kesalnya. “Fahad!” ia berseru, tak peduli semua orang memperhatikan mereka. “Udah, ya! Kamu udah berhasil, jadi stop! Ayo kita—”


“Maaf, Mbak ini siapa?” sela Vera. Tak mendapat jawaban, kini Vera beralih menatap Fahad yang duduk dihadapannya. “Dia pacar kamu?” tanyanya.


“Hah?” Fahad berpura-pura bingung. “Bukan, bukan pacar. Aku nggak punya pacar.”


Eh? Gitu doang? Nggak diperjelas? Nayla membatin kesal. Memang benar, bukan pacar ... tapi ia adalah seorang istri, istri dari Fahad. Nayla ingin kata ‘istri’ itu yang diucapkan suaminya.


“Maaf, lebih baik, Mbak, pergi saja.” Vera berucap lembut, lebih tepatnya mengusir secara halus.


“Fahad!” sungut Nayla. Ia sungguh merasa diabaikan. Bukankah sudah jelas jika ia memang merasakan cemburu? Lalu kenapa suaminya itu belum mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Entahlah, Nayla sangat bingung.


Vera muak, sebab Nayla tetap tak meninggalkan mereka. Ia berdiri dan mendorong pelan bahu Nayla—dengan mimik wajahnya terlihat sangat garang. “Mbak, jangan cari masalah, ya! Jangan ganggu kita!” ucapnya berapi-api.


“Heh! Dasar genit!” Nayla tak terima. Ia juga mendorong bahu Vera, bahkan dorongannya lebih kuat dari Vera. “Kamu aja yang pergi, sana!” bentak Nayla.


Ya ampun, istriku berubah mode galak. Tapi nggak apa, aku suka.


Fahad hanya diam, menikmati live drama dihadapannya. Ia ingin melihat kecemburuan istrinya, lebih dan lebih lagi.


“Itu kenapa si cowok diam aja? Menikmati banget direbutin dua cewe,” celetuk salah satu pengunjung. Suara tawa terdengar samar dari mereka yang merasa lucu melihat dua orang yang tengah beradu argumen tersebut.


“Kamu yang genit! Lenjeh!” sungut Vera.


“Dasar nggak tahu malu! Harusnya jadi cewek jangan gampang diajak kenalan sama cowok, Mbak. Lihat cowok cakep dikit langsung ngebuka pintu. Hati-hati, bisa jadi yang masuk itu komodo, bukan buaya lagi.” Nayla berujar.


Memang seharusnya seperti itu, bukan? Tidak asal menerima tamu yang mengetuk pintu. Cari tahu lebih dulu; siapa, darimana, ada kepentingan dan niat apa. Bukan justru menerima siapapun hanya dengan sekali bertemu. Karena tidak semua pertemuan pertama meninggalkan kesan baik dan penuh keindahan.


“Kamu itu siapa? Datang-datang malah marah nggak jelas kayak gini. Kamu, tuh, yang nggak tahu malu. Sok cantik!” Vera tak mau kalah.


Nayla menatap Fahad dengan tajam, tangannya mengepal seakan bersiap memberi sebuah pukulan kepada suaminya yang sejak tadi tetap pada posisinya—duduk santai dan tidak mempedulikan apa yang terjadi di hadapannya kini.


“Pergi atau saya panggil security?!” gertak Vera.


“Eh?!” terkejut Nayla. “Dibiarin malah ngelunjak, ya?! Saya ini—”


“Maaf, Mbak.” Manager restaurant tersebut datang bersama seorang security. “Saya mohon jangan membuat keributan di sini. Tolong—”


“Dia yang bikin ribut,” tukas Vera sembari menunjuk ke arah Nayla. “Usir dia aja,” imbuhnya.


Mata Nayla membulat sempurna, ia hendak menyahuti ucapan Vera ... namun lengannya sudah dipegang oleh security. Amarahnya semakin memuncak, kedua bola matanya membulat dengan sempurna.


Fahad, awas aja kamu!

__ADS_1


***


__ADS_2