
Nayla menjawab, “kamu udah seharian kerja, kaki ini melangkah keluar buat jemput rejeki. Aku cuma ngelepas sepatu kamu, nggak sebanding sama lelahnya kamu kerja tiap hari.”
Mendengar jawaban istrinya, Fahad pun tersenyum simpul dengan rasa bahagia yang memenuhi seluruh ruang di hatinya. Ia bersyukur mendapat istri seperti Nayla, semakin yakin ... bahwa Nayla memanglah yang terbaik.
“Kenapa kamu nanya gitu?” Nayla bertanya.
“Cuma nanya aja. Dulu, aku nggak pernah dapat perhatian kayak gini, apa-apa aku lakuin sendiri.”
Menepuk punggung tangan suaminya, Nayla mengingatkan agar tidak mengungkit masa lalu, apalagi membandingkan dirinya dengan istri pertama suaminya dulu. “Bukan aku cemburu, Fahad, tapi itu memang nggak baik. Yang dulu biar berlalu.”
Menarik tubuh Nayla, Fahad membenamkan wajah istrinya ke dalam dada, mencium puncak kepalanya. “Astaghfirullah, aku nggak sadar, Sayang. Seharusnya aku nggak membandingkan. Aku tau itu dosa. Maaf, Sayang, dan terima kasih karena udah selalu ngingetin kalau aku salah.”
Nayla mengangguk, ia tersenyum, “sekarang kamu mandi aja dulu, habis itu kita baru pergi.”
***
Yasmin mengangguk, ia mengerti ketika Fahad berpesan kepadanya agar ia tetap di apartemen. Mengunci pintu dan selalu berhati-hati. Seperti itulah jika kakaknya akan pergi meninggalkannya seorang diri. Beruntungnya, Fahad berbicara dengan Yasmin tidak dibarengi dengan kemarahan seperti sebelum-sebelumnya.
Selalu bergandengan tangan, Fahad tidak pernah melepas genggaman tangannya dengan Nayla. Itulah salah satu cara agar istrinya itu tidak merasa sendirian di negeri orang. Ia akan tetap berada di sisinya.
Seusai makan siang di restaurant chinnes, kini Fahad dan Nayla sudah berada di butik yang menjadi tujuan keduanya untuk membuat baju sesuai keinginan. Fahad mengatakan kepada desainer, bahwa ia menginginkan dress yang tidak terlalu menunjukkan lekuk tubuh namun tetap dengan sentuhan India. Tidak mungkin Nayla memakai saree atau dress yang terbuka di bagian punggung.
“Bagian bawah dress-nya lebar, ya? Kan, nggak nunjukin lekuk tubuh.” Desainer yang bernama Simran tersebut bertanya.
“Iya.” Fahad menjawab.
Nayla hanya diam, Fahad sama sekali tidak menanyakan pendapatnya. Terus kenapa aku diajak kesini? Kalau dia udah punya desain sendiri. Nayla membatin.
“Untuk warna dress-nya, mau warna apa?”
“Merah saja.” Fahad menjawab.
Simran, desainer tersebut tersenyum. Ia meletakkan bolpoin yang ia gunakan menggambar di meja. “Tuan Fahad, saya bertanya kepada Nyonya Nayla.”
Fahad tertawa kecil, “maaf, saya lupa.” Menarik pergelangan Nayla agar mendekat kepadanya, ia bertanya warna apa yang diinginkan istrinya tersebut.
“Hampir benar-benar jadi patung aku, menyebalkan!” menggerutu dengan bahasa Indonesia sembari mirik tajam ke arah suaminya.
“Sayang, jangan pakai bahasa Indonesia!” protes Fahad.
“Suka-sukalah.” Nayla kembali berkata dengan bahasa Indonesia.
Fahad tau, Nayla sedang marah. Bahasa Indonesia sudah keluar dari bibir mungil istrinya, ya ... begitulah jika Nayla sedang marah.
Nayla menginginkan warna merah muda untuk dressnya, dan untuk dress satu lagi ... sebenarnya ia menginginkan warna navy, namun Fahad tetap memaksa untuk memilih warna merah. Ya, sudah,Nayla pun mengangguk setuju dengan warna merah.
__ADS_1
Desainer tersebut mengangguk paham, ia menunjukkan hasil gambaran dressnya kepada Nayla dan Fahad. Sementara untuk Fahad, ia akan mengenakan jas pink pilihan istrinya untuk dipasangkan dengan dress yang berwarna pink Nayla.
“Sayang, mau nonton nggak? Ada film baru, loh.” Fahad bertanya, mereka berdua kini sudah di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
Menggeleng samar, “kita pulang aja, Fahad. Aku pusing.”
“Kamu sakit?” Fahad menyentuh kening Nayla dengan telapak tangannya. “Kita ke dokter sekalian, ya?”
Nayla kembali menolak, ia pusing bukan karena sakit. Namun, karena mendengar suara klakson di sepanjang perjalanan. “Kamu jangan tekan klakson, ya? Aku udah cukup pusing sama suara klakson orang lain.”
Mendengar penuturan Nayla, Fahad pun tertawa. Ia menjelaskan, memang seperti inilah jalanan kota New Delhi. Klakson saling sahut menyahut, tak peduli seberapa sering mereka menekannya.
“Juga ini, jangan ngebut, Fahad. Aku rasanya mau muntah.” Nayla berujar.
“Sayang, kali aku nggak ngebut, bisa tengah malam kita sampai apartemen.”
Berdecak kesal, Nayla mengatakan untuk berhenti dan ia akan turun saja. “Kok, turun? Kamu tau jalan pulang?” Fahad bertanya, tetap melajukan mobilnya.
“Hotel banyak, atau kalau perlu aku ke bandara aja.” Nayla berujar.
Fahad pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tau, istrinya tidak serius dengan kata ‘bandara’, tetapi ... untuk saat ini memang lebih baik menuruti ucapan sang istri.
Sampai di apartemen, Nayla langsung masuk ke kamar. Ia mengganti baju dan segera berbaring. Kepalanya benar-benar pusing. Suara klakson, serta mobil dan motor yang tidak mau mengalah—saling melaju dengan kecepatan tinggi, bisa dibilang ... itu adalah salah satu culture shock Nayla berada di India.
“Sayang.” Fahad naik ke atas tempat tidur, membelai lembut puncak kepala Nayla.
Nayla membuka mata, “kamu nggak balik ke kantor?”
Fahad menggeleng, ia menyandarkan separuh tubuhnya di kepala tempat tidur. “Enggak, kamu lagi sakit gini masa aku ke kantor."
“Aku nggak sakit, cuma pusing dikit. Ada Yasmin juga di rumah. Kamu ke kantor aja.”
“Enggak, ah. Udah jam empat ini, bentar lagi juga jam pulang karyawan. Aku bisa lanjutin pekerjaan di rumah.” Fahad menjawab. Ia ikut berbaring di samping Nayla, memeluknya dengan erat.
“Ini bukan pusing karena sakit, Fahad, dibuat tidur mungkin udah nggak pusing lagi.”
“Diam.” Fahad mencubit gemas pipi Nayla hingga membuat istrinya itu meringis kesakitan. “Tutup mata kamu, tidur. Nanti makan malam, aku yang masak.”
Menghirup aroma tubuh suaminya, Nayla membenamkan tubuhnya lebih dalam lagi. Ia merindukan suaminya, sangat rindu. “Fahad,” panggilnya dengan suara manja.
“hemm?”
“Aku udah.”
“Udah apa?” tanya Fahad.
__ADS_1
“Ini ... udah ini.”
“Apa?” Fahad yang tadinya menutup mata kini pun membuka lebar-lebar, menyentuh dagu Nayla agar pandangan mereka saling bertemu. “Udah apa?”
“Aku udah selesai.”
“Selesai?” Fahad berpikir keras, tak lama kemudian, ia mulai mengerti apa maksud dari kata ‘selesai’. “Beneran udah selesai?” tanyanya dengan antusias yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.
Mereka hampir menyatu, saling memberi dan menuntut. Namun, suara ketukan pintu dan panggilan berkali-kali dari Yasmin ... membuyarkan acara inti mereka.
Mendesah kesal, Fahad memakai celananya lalu membuka pintu. “Ada apa, Yasmin?” gertaknya dengan mata yang penuh akan amarah.
“Kok, marah, sih? Kan, aku—”
“Ada apa, Yasmin?” Nayla sudah memakai bajunya lagi, ia keluar sebab sudah pasti Fahad akan memarahi Yasmin tanpa alasan yang jelas.
“Kakak ipar, aku kesepian menonton tv sendirian. Ayo kita—”
“Nggak boleh!” seru Fahad. “Kamu udah biasa nonton tv sendiri, kan? Kenapa sekarang minta ditemenin? Jangan manja.”
Yasmin mengerucutkan bibirnya, matanya menyorot tajam menatap wajah kakaknya, Fahad. “Aku belum selesai ngomong, Kak!”
Nayla kebingungan sendiri melihat pertengkaran Fahad dan Yasmin. Ia bisa mengerti, sebab apa sehingga suaminya bisa marah seperti ini. Sudah jelas, bukan? Karena hasrat yang sudah lama terpendam akan segera tercapai beberapa saat lalu, namun karena sebuah ketukan pintu ... semuanya gagal.
Sementara Yasmin, adik iparnya itu mengatakan ingin memasak makan malam bersama. Atau jika tidak, makan malam di luar saja.
“Kak Fahad, kenapa marah-marah?! Aku lapar, Kak! Aku lapar! Aku cuma mau ngajak kakak ipar masak bareng. Kenapa jadi marah nggak jelas gini, sih?!”
“Yasmin.” Nayla menggandeng tangan adik iparnya menuju dapur. Meninggalkan Fahad bersama amarahnya. “Fahad lagi banyak pikiran aja, jangan dimasukin hati, ya?” Mengambilkan segelas air putih lalu memberikannya kepada Yasmin.
“Tapi Kak Fahad berlebihan, Kak, dia marah-marah nggak jelas. Aku belum ngomong, dia udah nyembur duluan.”
Bukan marah nggak jelas, tapi karena ada sebabnya, Yasmin. Masa aku harus kasih tau kamu, apa sebabnya. Yang ada bikin malu.
“Kak, ayo kita keluar, aku males kalau Kak Fahad marah-marah gitu,” ajak Yasmin.
Belum menjawab, kedatangan Fahad membuat kedua wanita itu menoleh ke arahnya. “Aku aja yang keluar, kalian tunggu di apartemen.” Fahad berujar. Menerima segelas air putih yang diberikan istrinya, Fahad meneguknya sampai habis tak bersisa.
“Nggak usah, aku bisa keluar sendiri.” Yasmin beranjak pergi. “Cuma perkara makanan aja ngajakin berantem. Kenapa kumat lagi, sih?!” gerutunya.
“Yasmin ....” Fahad mendengarnya. Meraup kasar wajahnya dengan satu tangan. “Dia selalu bikin emosi,” sambungnya sembari melihat tubuh Yasmin yang hilang dari balik pintu kamar
“Eh!” heran Nayla.
***
__ADS_1