
Menyeruput teh, Fahad menarik pergelangan tangan Nayla untuk ikut duduk di sampingnya. Ia selipkan rambut Nayla ke belakang telinga lalu tersenyum. “Iya, kamu nanti pasti bakal kesepian, jadi ... nonton film saja, ya? Biar nggak terlalu kesepian.”
“Keluar nggak boleh?”
“Eh?!” kedua alis Fahad saling bertaut, “aku nggak kasih ijin. Bahaya kalau kamu keluar sendiri.”
Nayla tertawa kecil, ia hanya bergurau. Tentu ia tidak akan keluar karena belum hapal betul jalanan di sekitar apartemen.
“Nanti siang aku pulang, kita makan di luar.” Fahad berpesan sebelum ia berangkat. “Hati-hati, ya. Jangan buka pintu buat orang sembarangan.” Memeluk tubuh Nayla lalu mencium keningnya.
Kembali menutup pintu setelah Fahad menghilang di balik pintu lift. Nayla membereskan piring dan gelas kotor bekas mereka sarapan. Tidak ada lagi yang ia lakukan kecuali membersihkan apartemen.
Hari pertamanya memang tidak ada yang spesial, namun bisa kembali berdampingan dengan suami saja sudah lebih dari cukup. Berharap ia bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan baru.
***
Dengan mengendarai mobil, Fahad sudah sampai di kantor. Semua karyawan menunduk seraya menyapa pemilik Fahad Industries tersebut.
“Pak Fahad sudah kerja? Kenapa nggak ada yang ngasih tau kalau dia udah masuk?” gumam salah satu karyawan setelah melihat Fahad masuk ke ruangannya.
“Kenapa kalian yang repot? Dia yang jadi bosnya aja nggak repot. Suka-suka dialah mau masuk kerja kapan.” Yang kain ikut menyahuti.
Memang sudah sebulan Fahad tidak masuk bekerja. Mereka hanya tahu jika bos mereka ada urusan di Kashmir. Mereka bahkan tidak tahu jika bos mereka sudah menikah, yang mereka tau, Fahad adalah duda tampan dan kaya yang tidak pernah terlihat menggandeng wanita lain kecuali adiknya, Yasmin.
“Ada apa ini? Kenapa kalian mengobrol disini?” suara Sahil mengejutkan semua karyawan yang masih sibuk membicarakan bos mereka.
“Itu, Pak Fahad sudah datang,” jawab salah satu karyawan yang terkejut melihat Sahil.
“Fahad? Kapan dia datang?” tanya Sahil yang memang tidak tahu jika bos sekaligus sahabatnya tersebut sudah kembali dari Indonesia.
“Baru saja, Pak.”
“Hmm, lalu kenapa kalian masih berdiri di sini? Lanjutkan pekerjaan kalian.” Tegas Sahil.
Dengan cepat Sahil berjalan menuju ruangan Fahad, ia ingin memarahinya karena tidak memberitahu jika sudah kembali ke India.
“Fahad,” panggil Sahil.
“Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu? Apa Sanju memarahimu lagi?” cerca Fahad yang melihat wajah Sahil dengan tatapan serius kepadanya.
__ADS_1
“Heh, Pak Bos! Kenapa nggak kasih kalau kamu sudah kembali?” seru Sahil seraya duduk di kursi depan meja kerja Fahad.
“Kenapa aku harus memberitahumu? Apa kamu ibuku?” Fahad tertawa kecil. Ia mengambil telepon lalu meminta sekretarisnya untuk membawa beberapa berkas yang ia butuhkan.
“Setidaknya aku bisa menjemputmu di bandara, Fahad.”
“Aku bisa pulang sendiri,” jawab Fahad tanpa menatap Sahil.
“Iya, iya, terserah. Lalu bagaimana dengan istrimu?”
Sontak Fahad mengangkat wajahnya, “Kenapa kamu tanya soal istriku?” sungutnya.
Sahil tertawa nyaring, “aku hanya bertanya kabarnya saja. Kamu cemburu?”
Untuk sesaat keduanya saling bertukar kabar. Fahad mengatakan bahwa istrinya sudah baik-baik saja. Ia juga mengatakan, Nayla keguguran dalam kecelakaan tersebut. Bahkan sebelum mengetahui istrinya hamil, Fahad justru harus menelan kabar buruk tentang anak pertama mereka.
Mendengarnya, Sahil dapat merasakan kesedihan yang dirasakan Fahad. Masih teringat jelas bagaimana hancurnya Fahad ketika Aadil pergi. Dan kini terjadi lagi.
“Bukan aku, Sahil, Nayla yang lebih merasa sedih. Dia berencana memberitahuku setelah aku sampai di Indonesia, tapi Allah berkata lain. Dia masih merasa bersalah.” Fahad berujar.
“Itu sudah pasti, dia pasti kecewa dengan dirinya sendiri. Tapi, kamu tidak memarahinya, kan?” tanya Sahil.
Sahil terkekeh, “tapi, dulu istri pertamamu kamu marahi habis-habisan.”
Berdecak kesal, Fahad ingin memaki Sahil, namun suara ketukan pintu dari sekretarisnya membuat ia mengurungkan makiannya. Menerima berkas tersebut, Fahad membuka lembaran dan membacanya dengan seksama.
“Fahad?” panggil Sahil.
“Hemm,” sahut Fahad tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang ia pegang. “Jangan mengingatkanku soal dia lagi, aku sudah bahagia menikah dengan Nayla,” sambungnya.
“Maaf, Fahad, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku cuma—”
“Mereka berbeda, Sahil.” Fahad menutup map, menatap wajah pria yang duduk di depannya tersebut. “Situasi saat itu juga sangat berbeda. Aku tau, kamu pasti mengerti apa maksudku.”
Sahil mengangguk. Ia tidak bermaksud mengungkit masa lalu atau membedakan Nayla dengan istri pertama Fahad, Sahil sangat mengenal sifat Fahad yang mudah tersulut emosi, oleh sebab itu ia merasa sedikit khawatir jika Fahad akan memarahi Nayla. Apalagi jika itu menyangkut anak, Fahad bisa berubah menjadi seseorang yang tak mengenal apa itu hubungan.
“Nayla ada di India, datanglah ke apartemen bersama Sanju. Aku akan mengenalkan kalian.” Fahad berucap.
“Dasar penipu. Aku nggak bakal kena tipuanmu lagi.”
__ADS_1
Fahad tertawa, ia meyakinkan Sahil bahwa Nayla memang benar-benar ada di India. Ia bahkan menelpon Nayla, menanyakan di mana keberadaannya agar Sahil tau bahwa ia tidak berbohong.
“Oke, nanti malam aku sama Sanju ke apartemen kamu.”
“Besok malam saja, aku masih ingin menikmati waktu berdua sama Nayla.” Fahad tertawa setelah mendapat lemparan tempat tisu dari Sahil yang merasa dipermainkan. Fahad sendiri yang mengundang, tapi ketika ia mengatakan akan datang nanti malam, Fahad jugalah yang menolaknya.
***
Matahari semakin terik, kesibukannya akan banyaknya pekerjaan yang tertunda membuat Fahad tidak bisa menepati janjinya untuk makan siang bersama Nayla. Sebagai gantinya, ia berjanji tidak akan pulang terlambat.
Tidak ada yang bisa Nayla katakan selain, iya tidak apa-apa. Ia mengerti, sudah pasti waktunya bersama Fahad akan sedikit terbatas jika menyangkut masalah pekerjaan. Tidak mengapa. Asal, suaminya masih ingat statusnya yang bukan lagi seorang duda. Masih ingat jika sekarang ada istri yang menunggunya di apartemen.
Membaca buku novel yang ia bawa dari Indonesia, Nayla membaca setiap lembaran buku yang bergenre romantis tersebut dengan seksama. Nayla tidak terlalu suka membaca. Ia lebih suka pergi ke taman, menikmati waktu sendirian dengan sebotol minuman dingin sembari memandangi anak-anak yang bermain bersama orang tua mereka.
Nayla merasa bahagia jika bisa duduk seorang diri seperti itu. Tak peduli ada banyak pasangan kekasih di sekelilingnya, ia tetap menikmati waktunya seorang diri. Hingga Andi menelpon, memarahinya karena tak kunjung pulang—barulah ia bergegas untuk pulang sebelum Andi menjemputnya.
Waktu menunjukkan pukul dua siang. Untuk mengisi kejenuhannya, Nayla berniat membuat kue. Ia berjalan ke arah dapur, ia ingat ... ada tepung dan telur. Tapi, bahan yang ia butuhkan ternyata tidak lengkap.
Nayla menelpon Fahad, meminta ijin untuk keluar apartemen sebentar. Tentu saja Fahad tidak mengijinkannya. Nayla tak menyerah, ia terus saja membujuk suaminya itu agar mengizinkannya.
“Aku beli di dekat sini, Fahad, habis beli aku langsung pulang, kok. Paling juga sepuluh menitan.”
Fahad mendesah kesal, sama seperti dirinya, istrinya itu juga keras kepala. Entah berapa kali ia melarangnya, namun Nayla masih saja meminta izin darinya.
Sayang, nanti beli bahan kue kalau aku sudah pulang. Kita buat sama-sama, ya?
“Hemm, iya.” Nayla pasrah.
Mendengar ucapan sang istri, Fahad pun berubah pikiran. Hanya membeli bahan kue, dan tidak jauh dari apartemen, juga ... istrinya itu pasti merasa sangat bosan.
Kamu boleh keluar, tapi jangan ngobrol sama orang asing, ya? Jangan kasih tau kita tinggal di lantai berapa.
“Aku boleh keluar?” Nayla bertanya, nada bicaranya pun terdengar bersemangat. Tidak seperti tadi.
Iya. Langsung pulang, ya, hati-hati. Fahad berpesan.
Nayla mengiyani, ia pun bergegas mengganti baju dan memakai hijabnya setelah mengakhiri panggilannya bersama Fahad.
***
__ADS_1