
Fahad sudah memindahkan tubuh Nayla yang kelelahan setelah olahraga malam itu ke atas tempat tidur. Ia pun ikut berbaring di sampingnya. Bantal lengan dari Fahad membuat Nayla semakin nyaman, aroma tubuh yang sangat ia rindukan itu menyeruak masuk ke indera penciumannya. Sungguh, Nayla sangat merindukan suaminya.
“Fahad ...” Nayla bersuara tanpa melihat wajah suaminya. Jari jemarinya masih sibuk bermain di atas dada lelaki yang mendekapnya itu.
“Hemm?” Fahad menyahut.
“Aku mau kembali ke India, secepatnya. Atau kalau perlu, besok kita kembali.”
Fahad menurunkan pandangannya pada Nayla. Dia meraih dagu sang istri, mendongakkan wajah Nayla agar pandangan mereka lebih leluasa. “Sayang ... aku baru tiga hari di sini, baru tadi sore selesai pemotretan juga. Kenapa kamu mau kembali ke India secepat ini? karena lelaki itu?” tanyanya yang tidak mendapat jawaban dari Nayla. “Istriku ini wanita yang pemberani. Wanita yang bisa menjaga diri, dulu maupun sekarang. Jangan karena lelaki itu, kamu pergi menghindari negara kamu sendiri. Aku tau, kamu takut sama rasa cinta dia ke kamu, tapi sekarang aku sudah di sini ... Andi juga menjaga kamu selama aku nggak ada.”
Bukan hanya itu. Ada hal lain yang lebih menakutkan, bagi Nayla. Dia takut, jika suaminya tidak lagi memberinya kepercayaan saat berada di Indonesia. Terlebih, sekarang ada butik yang juga harus diurusnya. Memang, ada Andi dan juga Tia yang akan mengurus butik dengan baik ... tapi Nayla juga tidak bisa berpangku tangan begitu saja, bukan? Keluarga. Nayla juga tidak ingin waktunya bersama keluarga menjadi berkurang.
“Aku percaya sama kamu. Mau kamu di Indonesia sebulan, dua bulan, atau berapa bulan pun ... aku nggak masalah, Sayang, aku masih bisa ke sini. Kalau perlu, seminggu sekali aku ke Indonesia.” Fahad mencoba menghibur Nayla. Walaupun hatinya juga merasa sakit saat melihat mata sang istri yang terlihat ketakutan saat membahas lelaki itu.
Bohong jika Fahad tidak merasa kesal dan cemburu. Tapi, ini semua bukan salah istrinya. Bagi Fahad, Ryan adalah satu-satunya alasan dari kemarahannya. Sudah pasti, darahnya seakan mendidih saat mengetahui Ryan menyentuh istrinya. Cinta ... Fahad tau bagaimana rasanya mencintai. Mendapatkan Nayla juga tidak mudah. Justru karena hal itu, membuat Fahad merasa lebih tertantang dan yakin bahwa Nayla bukanlah pilihan yang salah. Mungkin ... itu juga salah satu alasan Ryan mencintai dan tidak mudah untuk melupakan Nayla.
Nada pesan masuk dari ponsel Nayla. Tangannya mengambil ponsel yang terdapat di meja nakas. Matanya berbinar bahagia saat membaca pesan dari Tia.
Mbak, alhamdulillah ... baru dua jam diposting, pesanan baju couple sudah ada 30 pesanan. Besok pagi semuanya sudah siap dikirim. Benar, kan, Mbak? Wajah Pak Fahad itu menjual sekali. Kalian memang terbaik. Sebuah emoticon jempol melengkapi pesan dari Tia.
Fahad mengintip isi pesan tersebut, sebuah senyuman terukir manis dari bibirnya. “Kan, wajahku ini memang mempunyai daya tarik tersendiri.”
Tangan Nayla mencubit lengan Fahad. “Iya, punya daya tarik. Daya tarik buat dicubit seperti ini!” cubitan gemas Nayla daratkan di kedua pipi suaminya.
Dalam sekejap, ketakutan serta kekhawatiran Nayla sirna begitu membaca pesan dari Tia. Memang, wajah suaminya cukup menjual—maksudnya, menjual baju yang sudah dia desain. Yang terpenting, Nayla masih mendapatkan kepercayaan dari suaminya. Itu sudah lebih dari cukup.
“Besok mau ke mall, nggak?” Fahad bertanya.
“Boleh. Tapi, ke butik dulu, ya?”
Fahad mengangguk. Dia berencana untuk tinggal lebih lama di Indonesia. Fahad merindukan suasana di Indonesia. Akan tetapi, ammi terus saja mengatakan agar segera membawa anak dan juga istrinya untuk ke Kashmir. Ammi sangat merindukan menantu dan cucunya. Lagi, waktu Nayla dan Shazia bersamanya akan kembali berkurang. Fahad mengatakan rencananya kepada Nayla. Setelah kembali ke India, mereka akan menghabiskan waktu bersama di New Delhi hanya dua minggu saja. Setelah itu, Fahad akan membawa mereka ke Kashmir, mengunjungi ammi dan Yumna. Nayla mengiyani, karena dia juga merindukan ibu dan kedua adik iparnya yang manis.
***
__ADS_1
Pukul enam pagi, Andi berpamitan berangkat bekerja lebih awal. Lelaki itu mengatakan kepada Nayla bahwa hari ini ada janji temu dengan klien dari luar kota—melihat lokasi pemotretan untuk foto pre-wedding. Andi dan Reza harus berangkat pagi-pagi sekali agar tidak terlambat di tempat yang sudah mereka sepakati.
“Pulang malam?” tanyanya kepada Andi.
“Enggak, mungkin sore sudah sampai rumah.” Andi menyalakan mesin motor, melambaikan tangan kepada Shazia yang berada di dalam gendongan papanya. “Bye, gembul!”
Pekerjaan rumah Nayla pagi itu belum selesai. Sementara Nayla menyiapkan sarapan, Fahad memilih membantu dengan memandikan Shazia. Bagi Fahad, memandikan sang putri adalah salah satu momen yang tidak ingin dia lewatkan. Pasalnya, hanya di Indonesia saja dia bisa membantu mengurus Shazia. Seperti memandikan, memakaikan baju, serta menghabiskan waktu seharian penuh hanya untuk anak dan istrinya.
Di India, sebelum berangkat bekerja, Fahad mendapati putrinya sudah selesai dimandikan oleh Nayla. Atau bahkan Shazia masih tidur. Begitupun saat pulang bekerja. Waktu bermain dengan Shazia pun tidak sebanyak saat di Indonesia. Fahad tidak ingin melewatkan momen-momen penting dalam tumbuh kembang putrinya. Tidak seperti dulu, kini ada alasan lain saat kakinya melangkah keluar rumah untuk menjemput rejeki. Semangatnya dua kali lipat, rasa bahagianya pun berkali-kali lipat.
“Kamu lagi chattingan sama siapa?” Fahad mengejutkan Nayla dari belakang.
“Masya Allah, anak mama sudah cantik. Mandi sama papa, ya?” tangan Nayla mengambil alih Shazia dari gendongan Fahad, memangku lalu memberinya satu potong kecil brokoli kukus.
“Lagi chattingan sama siapa?” Fahad kembali bertanya.
Fahad tersenyum, dia mengusap lembut bagian belakang kepala Nayla. Sang istri masih menjalankan kebiasaannya di setiap hari jum'at. Bukan hanya di India, sekarang Nayla juga melakukan kebiasaan hari jum'at itu di Indonesia. Dengan dibantu kakak iparnya, Mbak Indah.
“Akruti ngomong apa saja?”
Nayla menyuguhkan secangkir teh saffron kepada Fahad. “Katanya, ada dua anak baru. Mereka bukan anak yang sama seperti anak-anak lain. Kata Akruti, mereka mau dapat pelajaran tambahan sekaligus bermain saja. Alhamdulillahnya, orangtua mereka mendukung dan mau ikut berbagi tiap hari jum'at.”
Fahad mengangguk paham. “Sayang, kamu bahagia sama semua aktifitas ini?” tanyanya dengan lembut.
Nayla tersenyum lebar. Matanya berbinar. “Tentu, aku bahagia. Terlebih, kamu selalu mendukung apapun yang aku lakukan.”
Fahad mencium pipi Nayla. “Pasti, dong. Apa yang dilakukan istriku ini, kan, baik. Kamu menyampaikan rejeki mereka yang Allah titipkan ke kita.”
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Nayla dan Fahad sudah berada di perjalanan menuju ke butik. Tia mengirim sebuah pesan kepada Nayla. Mengatakan bahwa mereka harus mengemas 50 pack baju gamis serta 30 pack baju couple yang harus segera dikirim hari ini juga.
Alhamdulillah. Nayla sangat bersyukur, brand baju miliknya bisa diterima di pasaran. Berkat dukungan dari suami dan juga keluarga, Nayla bisa berdiri melebarkan sayap yang selama ini tidak pernah dia rentangkan.
__ADS_1
Selagi membantu mengemas barang, Nayla sesekali menengok ke ruang istirahat pribadinya. Shazia asik bermain dengan boneka kuda terbangnya dan Fahad sibuk dengan komputer lipat yang berada di hadapannya.
“Don't bite the doll, Jaanu!” Fahad mengambil boneka tersebut dengan perlahan lalu memberikan sepotong biskuit sebagai gantinya, agar Shazia tidak menangis.
Nayla kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mengecek satu persatu nama serta alamat yang tertera, apakah sudah sesuai dengan catatan. “Tia, apa masih ada yang harus dikemas?” tanyanya.
Tia menggelengkan kepalanya. “Semuanya sudah selesai dikemas, Mbak,” jawabnya sembari melihat layar komputer lipat, membaca isi akun penjualan dan memanh belum ada pesanan baru lagi. “Oh, iya, Mbak. Kemarin pas kita mau tutup butik, ada orang yang nanya, apa kita bisa menerima pesanan gaun pengantin yang syar'i.”
Nayla diam sejenak. “Bahan gaun pengantin dan bahan pakaian yang kita jual berbeda banget, Tia, aku juga belum punya ilmu soal gaun-gaun seperti itu. Tolak saja, karena kita nggak jual gaun pengantin. Kita cuma jual baju sehari-hari dan baju busana muslim couple.”
Tia mengiyani ucapan Nayla.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan. Nayla menghampiri suami dan juga putrinya. Terlihat Shazia sudah tertidur di samping papanya yang masih sibuk dengan pekerjaan dari laptop.
“Sudah selesai?” Fahad bertanya.
“Maaf, Fahad, kamu jadi nunggu lama.” Nayla duduk di samping sang suami.
“Kamu itu kebiasaan,” tangan kiri Fahad masuk ke sela-sela jari Nayla. “Aku tanya, malah kamu minta maaf. Itu bukan jawaban, Sayang.” Meskipun begitu, mata Fahad tetap tertuju pada layar komputer lipat.
Nayla tersenyum. “Iya, sudah selesai. Kamu belum selesai?”
Pertanyaan Nayla hanya dijawab gelengan kepala oleh Fahad. Beberapa saat lalu, lelaki itu harus menunda pekerjaan karena Shazia sudah merasa mengantuk. Putri kecilnya itu merengek, meminta digendong. “Setiap Zia ngantuk, dia minta digendong terus?” Fahad menoleh, menatap kedua manik mata sang istri.
“Kadang-kadang.”
Menurunkan laptop dari pangkuannya, Fahad menghadap Nayla lalu menyentuh lembut satu sisi wajahnya. “Zia badannya gede banget, kamu pasti capek kalau dia minta gendong.”
“Enggak, kok. Kan, kadang-kadang doang. Andi juga bantuin gendong Zia.”
“Kalau Zia digendong Andi, aku gendong kamu saja.” Fahad mendekatkan wajahnya kepada Nayla hingga hanya tersisa beberapa centi saja. Bibir tipis Nayla menariknya untuk lebih mendekat lagi, dan lagi.
***
__ADS_1