
“Memang, ya! Kamu pasti suka sama wanita sexy yang dada dan punggungnya yang terbuka lebar. Aku tau, Fahad, aku ini nggak cantik, aku nggak sexy, tapi setidaknya kamu jangan buat aku kehilangan rasa cinta aku ke kamu. Bilang kalau kamu mau sudah—”
Fahad membungkam bibir Nayla dengan sebuah ciuman lembut.
Nayla diam, dia tak kuasa untuk menolak sebab tubuh Fahad mendekapnya sangat erat. Beberapa saat kemudian Fahad melepasnya, menyentuh lembut bibir Nayla dengan ibu jarinya. “Istriku, dengerin aku dulu,” lembut Fahad. Dengan posisi tubuh tetap memeluk Nayla, dia memberikan penjelasan. “Alina harus ikut suaminya ke locknow. Itu cuma dua bulan. Alina nggak berhenti kerja, aku nggak kasih ijin dia resign. Nggak ada yang bisa aku percaya selain Alina sama Sahil di perusahaan ini. Dari awal Alina sudah jadi sekertaris aku dan dia bisa meng-handle semuanya bersama Sahil kalau aku misal lagi pergi ke Indonesia. Alina bakal balik kerja dua bulan lagi. Untuk sementara, Priya yang menggantikan. Itu juga Alina yang carikan ganti. Bukan aku.”
Fahad menjelaskan dengan nada suara terendahnya. Sejak awal, Fahad sudah menolak sekertaris pengganti yang disarankan Alina. Tapi, nyatanya pekerjaan memang mengharuskan agar posisi sekretaris tidak kosong. Fahad juga sadar, Alina sedang mencoba mencarikan sekretaris untuk menggantikan dirinya suatu saat nanti. Dan inilah, niat terselubung Alina. Membawa Priya sebagai sekretaris penggantinya untuk sementara waktu.
Nayla masih memandang kedua manik mata suaminya, dia dapat melihat kejujuran di sana. Namun, apa yang dia lihat, tentu saja masih menganggu pikirannya. Wanita cantik, dengan saree sexy serta rambut yang digerai itu sungguh mempesona. Tidak mungkin ada kucing yang menolak ikan segar seperti itu.
Nayla bertanya. “Tapi kenapa Alina harus ikut suaminya ke locknow? Kenapa suaminya nggak sendiri saja.”
Fahad tertawa kecil lalu mencubit hidung mungil Nayla. “Sekarang aku tanya kamu, kalau misal aku pergi ke luar kota selama itu, apa kamu nggak mau ikut? Kamu biarin aku sendirian di kota orang?”
Nayla menggeleng cepat. “Ya, enggaklah. Enak di kamu dong kalau aku nggak ikut.” Lagi-lagi Fahad di buat tertawa oleh sikap istrinya ini.
Sungguh menggemaskan!
“Enak dimananya? Dua bulan, loh. Aku nggak sama kamu. Mana bisa tahan aku jauh dari kamu sama Zia.”
“Bukannya pria itu senang kalau jauh dari istrinya?” tanya Nayla.
“Itu pria orang lain, aku enggak. Pria kamu ini pasti bisa gila kalau jauh dari istri dan anaknya,” ujar Fahad penuh penekanan.
“Terus, tadi ngapain dia bungkuk-bungkuk di samping kamu seperti itu?. Kan, kamu jadi bisa lihat—”
“Lihat apa, hah!” tukas Fahad sembari membungkam bibir Nayla dengan satu tangannya. Nayla memukul tangan Fahad. Istri Fahad Malik Khan itu mengerucutkan bibirnya, merasa kesal pada sang suami. “Kamu apa-apaan, sih!” serunya.
“Kamu tuh yang apa-apaan. Pikiran kamu itu.” Fahad menyentil kening Nayla dengan satu jarinya.
Dan, hal itu semakin membuat Nayla kesal. “Fahad!”
“Aku nggak butuh lihat punya orang lain!” tegas Fahad. “Sudah, ah. Jangan bahas itu lagi,” sambungnya.
Nayla masih bersikeras. Dia masih tidak terima Fahad berdekatan dengan wanita lain. “Kenapa? Kamu mau mengalihkan pembicaraan? Ya, nggak bisa gitu dong! Enak di kamu, nggak enak di aku.”
Fahad mendesah kasar. Entah bagaimana lagi dia menjelaskan kepada istrinya ini bahwa dia sama sekali tidak tergoda dengan pakaian sexy yang dipakai Priya.
__ADS_1
“Kenapa harus dua bulan? Kenapa juga Alina ngasih sekretaris pengganti ke kamu yang sexy gitu?” cerca Nayla penuh emosi.
“Sayang, kamu mau aku serang di sini? Ya sudah, ayo!” Fahad bersiap melepas jasnya. Namun dengan sekali gerakan, Nayla memeluk tubuh tegap sang suami.
“Aku takut,” keluh Nayla.
Fahad membalas pelukan Nayla. Mencium puncak kepala wanita yang amat sangat dia cintai dan berharga di dalam hidupnya. “Jangan takut, aku nggak bakal ke lain hati. Aku cuma milik kamu, selamanya akan seperti itu,” ucapnya sembari mengelus lembut punggung wanita berhijab itu.
Nayla semakin mengeratkan pelukannya. Hingga aroma tubuh suaminya menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. “Fahad, tapi dia pakaiannya sexy. Lama-lama kamu bisa tergoda sama dia. Kalian kan bertemu setiap hari. Dua bulan kan lama.”
“Ya Allah.”
Fahad semakin dan semakin mengeratkan pelukannya.
“Mulai besok, aku bikin peraturan baru, aku suruh dia pakai celana panjang dan dadanya harus tertutup,” ucap Fahad.
Nayla mendongakkan wajahnya agar pandangannya bisa menjangkau wajah sang suami. “Benar?” tanyanya.
Fahad mengangguk, tersenyum simpul sembari menyentuh lembut pipi Nayla. “Iya. Se-sexy apapun wanita lain, aku nggak tertarik sama mereka sama sekali. Aku sudah punya kamu, aku nggak butuh yang lain lagi. Aku egois banget kalau sampai tergoda sama wanita lain. Padahal kamu selalu ada di sampingku, apapun keadaanku kamu selalu ada. Aku sudah banyak bikin kamu nangis, tapi kamu nggak pernah sedikitpun berpikir buat ninggalin aku. Terima kasih buat kesabaran kamu selama ini, aku cinta sama kalian berdua.” Fahad mencium setiap inci wajah sang istri dengan lembut.
“Tapi—”
“Tapi, kamu jangan sampai tergoda sama dia! Aku nggak bakal terima, aku bisa aja ngelabrak kamu sama dia. Aku nggak peduli, biarpun nanti aku harus sendirian di negeri orang, yang penting aku sudah ngelabrak kalian. Kalau perlu, aku jambak-jambak rambutnya terus aku tarik tuh saree sexy-nya dia!” geram Nayla. Tanpa sadar ia meremas lengan sang suami dengan kerasnya.
Fahad meringis kesakitan. “Ya Allah, istriku ini bisa jadi wanita bar-bar ternyata.”
“Kan lagi kesel!” seru Nayla dan Fahadkembali memeluk tubuh sang istri, mencium puncak kepalanya berkali-kali.
Nayla pun mengatakan apa maksud kedatangannya yang mendadak ke kantor. Fahad sendiri lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Kesibukan membuat dia melupakan hari kelahirannya. “Nggak apa, kok. Kalau kamu lupa hari ulang tahun kamu. Yang penting kamu nggak lupa kalau sudah punya anak istri,” ujar Nayla.
“Enggaklah! Lihat, cincin ini jadi bukti kalau aku sudah nikah. Aku nggak pernah nyopot ini, biar semua orang tahu kalau aku sudah menikah. Kamu juga, jangan dicopot cincinnya.” Fahad menunjuk jari manis Nayla.
“Ah, kamu nggak ada bedanya. Pakai cincin atau enggak, orang tetep ngira kalau kamu belum nikah. Di kira masih gadis,” sambung Fahad dengan raut wajah sedihnya.
Nayla mencium pipi sang suami, “aku inget kok kalau sudah punya anak dan suami. Bangga banget malah, jadi istri Tuan Fahad Malik Khan yang mirip Atif Aslam ini,” ucap Nayla.
“Cakep mana, aku sama Atif?” Fahad bertanya.
__ADS_1
“Kamu dong!” jawab Nayla yakin.
Keduanya tertawa bahagia. Tak lama, Fahad beranjak berdiri. Keluar ruang kerjanya untuk memanggil Shazia kembali.
Nayla mengeluarkan kue tart yang dia buat serta meletakkan kado yang dia dan putrinya bawa di samping kue tersebut. Nayla memasang lilin angka tiga puluh lalu menyalakan apinya.
“Mama!” teriak Shazia. Gadis bermata bulat bening itu segera berlari mendekat kepada mamanya seraya menggandeng tangan papanya. “Happy Birthday, Papa. I love you!” Dia memberikan kado untuk papanya.
Fahad berjongkok, menerima kado dari sang putri lalu merengkuh tubuh mungil menggemaskan itu ke dalam pelukannya. “Thank you, Jaanu. I love you too.” Fahad memejamkan matanya, berdoa di dalam hati serta tak henti bersyukur atas apa yang dia miliki sekarang. Keluarga yang amat sangat dicintai dan mencintainya ada di sampingnya setiap saat. Tidak ada lagi yang dia inginkan selain melihat senyuman dari anak dan istrinya, Ammi, serta kedua adiknya setiap hari.
Bulir bening itu keluar dari ujung mata Fahad. Rasa haru menyelimuti relung hatinya. “Sini,” satu tangannya mengulur kepada sang istri yang sejak tadi berdiri menatapnya dengan senyum yang selalu mengembang di wajah cantiknya. Nayla menyambutnya, ia ikut masuk ke dalam pelukan Fahad.
Mereka bertiga saling berpelukan penuh rasa haru. “Aku mencintaimu.” Fahad mencium kening Nayla dan Shazia bergantian.
SEKIAN
***
Hai semuanya....
Season dua sudah tamat, ya. Sebenarnya saya bingung sendiri, antara tamat atau lanjut. Masih terlalu cinta saya, sama Fahad dan Nayla 🥺
Entah suatu saat saya akan lanjut atau tidak, saya juga belum tahu. Terkadang ada rasa pengin balik ke lapak Fahad dan Nayla ini. Kadang juga merasa sudah capek.
CINTA DARI FACEBOOK ini adalah karya pertama saya, benar-benar karya pertama saya! Jadi mohon maaf jika tulisan dan bahasa saya yang sangat berantakan.
Saat saya tahu aplikasi ini dari Facebook, awalnya saya cuma jadi pembaca yang budiman saja. Tapi suatu hari ada ketertarikan untuk menulis cerita receh ini. Tanpa tahu dan peduli berapa benefit yang diterima, saya tetap menulis, menulis dan menulis. Ada kepuasan tersendiri saat saya menulis dan merasa bahagia jika ada pembaca yang meninggalkan komentar di setiap babnya, entah itu kritik atau apapun. Konsep cerita ini juga ide pertama saya, jadi maaf sekali jika ada alur yang mungkin tidak sesuai keinginan kalian. Semuanya tidak terkonsep, alurnya mengalir begitu saja.
Sekali lagi terima kasih, untuk tetap setia dan mencintai Fahad Malik Khan serta Nayla Fahad Khan. Setiap komentar kalian pasti saya baca, mohon maaf tidak bisa membalasnya satu persatu dan terima kasih kepada kalian yang sudi untuk membalas jika ada pertanyaan dari pembaca lain.
Kalau kalian merindukan Fahad dan Nayla, kalian bisa baca lagi dari episode satu :)
Baca karya saya yang lain juga, judulnya PELAMINAN.
Kalian juga akan jatuh cinta sama Kevin dan Regina.
Terima kasih ❤️ dan mohon maaf 🙏
__ADS_1
@ummy_wachida_