Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 110


__ADS_3

Tiga potong dada ayam berukuran sedang itu selesai dimarinasi dengan garam, minyak zaitun, serta merica bubuk. Nayla memasukkan ayam tersebut ke teflon dengan panas sedang. Aroma sedap itu menyeruak memenuhi dapur, menelisik syaraf-syaraf penciuman Nayla. Minyak sudah panas, Nayla memasukkan potongan kentang panjang-panjang itu ke wajan. Nayla memasukkan brokoli dan asparagus ke teflon yang berisi ayam tadi. Makanan kesukaan Andi dan Fahad. Hanya makanan itu yang bisa ia masak dengan cepat—menyalakan dua kompor sekaligus.


Nayla ke kamar, ia mengantarkan makanan kepada Fahad terlebih dahulu. Namun suaminya itu justru memerintahkan dirinya untuk pergi mengantarkan makanan Andi dan menemaninya. “Aku makan nanti saja, Sayang, temui Andi dulu. Dia benar-benar butuh kamu.” Fahad berujar.


Bukan Nayla tidak peduli kepada Andi, ia mendahulukan Fahad karena memang kewajibannya sebagai istri untuk mendahulukan suami. Mendengar perintah Fahad untuk pergi mengantar makanan sekaligus menemani adiknya makan, Nayla tersenyum lega. Suaminya sangat mengerti apa yang ia inginkan. Sebagai seorang kakak, Nayla tentu merasa harus bersama sang adik. Andi sedang hancur, sama seperti dirinya. Tapi, berbeda. Andi lebih kecewa dan hancur, melihat orang yang paling ia sayangi harus menerima ketidakadilan dari ibu mertuanya.


“Andi, makan dulu, ya.” Nayla duduk di tepi tempat tidur. Ia memaksa adiknya untuk duduk.


“Andi nggak lapar, Mbak, bawa keluar saja.”


Andi hendak kembali tidur, ia benar-benar tidak ingin makan. Perutnya terasa penuh akan kemarahan yang belum bisa tersalurkan semuanya. “Andi, kita makan sama-sama, ya Fahad juga belum mau makan, kalau kamu belum makan.” Nayla menusuk daging ayam, lalu mengirisnya perlahan.


“Dia mau makan apa enggak, aku nggak peduli. Kalau perlu biarin dia mati saja!” sungut Andi.


“Ya Allah, galak banget kamu. Sini buka mulut kamu.” Nayla mendekatkan garpu yang terdapat tusukan daging ayam dan kentang itu ke mulut adiknya. “Andi.”


“Mbak belum makan?” tanya Andi dengan suara terendahnya. Nayla menggeleng. Andi mengambil alih garpu itu, kamu mendekatkannya ke mulut Nayla. “Mbak, nggak boleh gitu. Mbak, harus makan, kasihan jagoanku kelaparan.”


Nayla membuka mulutnya, menerima suapan sang adik. Namun, sebuah pukulan juga ia layangkan ke lengan Andi, membuat pria itu memrotes kesal. “Dia cewek, Andi. Mana ada jagoan!” seru Nayla.


“Ya, sama saja. Dia jagoanku. Nanti kalau besar, aku mau ajarin dia balapan.” Andi dan Nayla tertawa. Berusaha menghibur satu sama lain.


Pintu kamar Andi tidak tertutup sempurna, Fahad mempunyai kesempatan melihat canda tawa kakak dan adik tersebut. Senyumnya mengembang melihat Nayla dan Andi saling menyuapi, berbagi canda tawa—bahkan mungkin, berbagi luka dan rasa kecewa. Nayla dan Andi tidak bisa, jika tidak bersama. Mereka saling membutuhkan untuk hidup. Jika satu dari mereka terluka, pasti luka itu akan menular pula. Seolah rasa sakit itu menjalar, menggerogoti setiap hati mereka.


Fahad sama sekali tidak marah ataupun dendam kepada adik iparnya tersebut. Semua adik, atau kakak, pasti akan melakukan hal yang sama jika suadara perempuan mereka disakiti. Sakit yang dibubuhkan Andi di seluruh wajah dan tubuhnya, tidak sebanding dengan rasa sakit yang harus ditanggung Nayla. Jika saja Andi melenyapkannya, Fahad merasa tidak berhak untuk menolak. Ia siap menerima semua itu.


***


Dua hari, Fahad dan Andi tidak bertegur sapa. Fahad mencoba mendekatkan diri lagi kepada Andi, namun adik iparnya itu sesuai menghindar darinya. Nayla sudah mencoba membantu agar Andi dan Fahad bisa akrab seperti dulu. Akan tetapi, ia tidak berhak memaksa Andi. Adiknya punya prinsip sendiri, biarlah waktu yang menjawab semuanya—yang akan mendekatkan mereka kembali.

__ADS_1


Menikmati minggu pagi bersama di living room. Fahad dan Andi sama-sama sibuk dengan laptop yang berada di pangkuan mereka. Nayla datang, mengajak suami dan adiknya untuk keluar berjalan-jalan. Sekalian berbelanja keperluan untuk bayi mereka.


“Aku nggak mau, Mbak.” Andi menolak ajakan Nayla. Ia tidak ingin berada di dekat Fahad. Sekarang saja, ia duduk di sofa dengan terpaksa sebab kakaknya itu yang menyuruh. Andi berusaha tidak membuat Nayla sedih, sebentar lagi kakaknya akan melahirkan. Meskipun tidak tau pasti seperti apa saat-saat menegangkan itu, Andi berusaha menjaga hati dan emosi Nayla agar tetap stabil. Ia ingin Nayla tetap sehat, agar nanti setelah melahirkan ... ia bisa memboyong kakak dan keponakannya itu ke Indonesia dengan segera.


“Kamu mau ke mana?” tanya Fahad.


“Ke taman sebentar, habis itu baru belanja ke mall.”


Fahad mengiyani, ia menyuruh Nayla segera bersiap. “Kamu nggak mau ikut keluar sekalian?” Fahad bertanya kepada Andi.


“Jangan—” Andi melihat pintu kamar Nayla, “aku masih berbaik hati kasih kamu waktu berduaan sama Mbak Nayla, karena aku tau dia masih menghormatimu sebagai suami. Kalau setelah ini Mbak Nayla nangis, aku pasti bikin perhitungan sama kamu.” Andi mengancam. Jari telunjuknya mengarah tepat di wajah Fahad.


Bergandengan tangan seperti biasanya, Fahad tidak memberi kesempatan istrinya untuk mengelun perihal pegangan tangannya yang terlepas. Menikmati suasana taman yang ramai—Nayla tersenyum simpul melihat beberapa anak yang tengah bernuansa bersama orang tua mereka. Nanti, ia sendiri juga akan begitu. Bermain bersama putri kecilnya, berlari-lari di taman, mengusap peluh yang bercucuran dari pelipis sang putri. Ah, pasti sangat menyenangkan.


Cuaca semakin panas, Fahad memutuskan mengajak Nayla untuk pergi ke mall. Membeli keperluan bayi. Sebelum tangannya berhasil membukakan pintu mobil untuk Nayla, Fahad lebih dulu dikejutkan dengan panggilan dari seorang gadis. “****!” mengumpat dalam hati. Ada Benazir. Ya, gadis itu yang memanggil namanya.


“Kak Fahad, kenapa nggak jawab teleponku?” tanya gadis itu.


“Sudah berapa kali aku harus mengatakannya, Benazir? Kamu itu adikku, mana bisa aku menikahimu?!” Fahad mulai jengah. Sikap Benazir benar-benar membuatnya kesal. “Pulanglah, aku akan memesankan tiket untukmu.”


“Aku nggak mau, Kak, aku mau di sini. Kita harus sama-sama ke Kashmir, sebentar lagi hari pernikahan kita.”


Fahad meraup wajahnya, merasa bingung harus bagaimana lagi membuat Benazir pergi dan melupakan pernikahan itu. “Dengar. Sampai kapan—” Fahad dibuat terkejut, kedua matanya membulat penuh. Nayla. Istrinya menampar Benazir.


“Fahad sudah memintamu untuk pergi, jadi kenapa kamu masih di sini?!” sungut Nayla. “Pergi sekarang!” usirnya.


Benazir menatap tajam, satu tangannya masih di pipi kirinya. Panas pipinya tidak sebanding dengan rasa panas di hatinya. “Kamu—”


“Aku bilang pergi!” tukas Nayla.

__ADS_1


Benazir menatap Fahad. Ia mengiba, berharap Fahad membelanya. Namun tidak, calon suaminya itu hanya mengedikkan bahu serta menahan tawa. Terlihat sangat jelas.


“Kamu pergi sendiri atau kamu mau diseret dari sini, hah?!” Nayla berseru. Ia muak dengan sikap manja Benazir.


Setelah Benazir pergi, Nayla dan Fahad segera masuk ke mobil. Nayla memasang sabuk pengaman, bibirnya tak henti mengomel. Ia sangat kesal. “Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu?!” Nayla bertanya.


Menyalakan mesin mobil, Fahad merasa senang melihat istrinya yang sedikit galak. “Aku mau, besok-besok kamu kayak gini terus, ya. Jangan diam saja. Aku lebih suka lihat kamu bar-bar.” Tawa itu pun pecah, Fahad tak mampu menahannya lagi.


“Ya, kamu. Nyuruh dia pergi gitu saja masa nggak bisa. Kamu suka digelayuti dia kayak gitu? Menikmati banget kamu!”


Fahad menyentuh puncak kepala istrinya, namun Nayla menepisnya dengan kasar. “Masih mode galak.” Fahad bergumam.


***


Tiga hari lagi, pernikahan Fahad akan diselenggarakan. Dering ponsel tak pernah Fahad hiraukan. Ia mengabaikan Ammi. Lebih memusatkan dirinya dengan pekerjaan dan hari perkiraan lahiran Nayla yang tinggal menunggu waktu—sore, malam, atau pagi. Fahad tidak pernah terlambat pulang, ia tidak ingin berlama-lama jauh dari sang istri. Biarpun ada Andi, ia tetap tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


“Fahad, ini baju kamu sudah aku masukin di tas. Besok kamu kalau ke Kashmir tinggal bawa saja.” Nayla menunjukan tas ransel yang biasa dibawa Fahad saat pergi ke Kashmir.


Fahad berdecak kesal. Istrinya itu tidak pernah lelah menyuruhnya untuk pergi ke Kashmir. “Aku nggak pergi ke manapun, Nayla!” marah. Fahad tak bisa menahan diri jika Nayla terus saja menyuruhnya pergi. “Sekali lagi kamu nyuruh aku ke Kashmir, aku—”


“Fahad, pernikahan kamu itu tiga hari lagi. Kamu harus pergi ke Kashmir.” Nayla masih mencoba membujuk Fahad.


“Kamu suka aku marahin?! Nggak kapok juga?!” kening Fahad berkerut dalam. Istrinya itu benar-benar tidak pernah menyerah.


“Fahad, tapi—”


Fahad membungkam bibir Nayla dengan sebuah ciuman lembut. Ia benamkan bibirnya sedalam mungkin. Tidak ada kesempatan untuk Nayla melanjutkan kalimatnya. Fahad merasa sakit saat Nayla memintanya untuk pergi ke Kashmir. Bagaimana mungkin ia pergi, menikah lagi dengan wanita lain. Gila. Sangat tidak masuk akal.


Memperhatikan wajah wanita yang tadi ia marahi, selalu ada rasa penyesalan di sudut hati Fahad. Wanita itu, yang selalu bisa membuatnya tersenyum, selalu mengingatkan agar tidak membuat hati Ammi sedih—hati dari ibu mertua, yang jelas-jelas sangat menyakiti hati istrinya.

__ADS_1


***


__ADS_2