Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 88


__ADS_3

Hari berganti hari, hujan salju sudah berhenti. Matahari memancarkan sinarnya, Nayla ingin sekali berjalan-jalan, semua yang ia dapatkan dari Ammi dan Bibi Farida membuat ia merasa tertekan. Untuk bergerak pun rasanya ia canggung. Ada sebuah istilah, dan itulah yang sedang alami sekarang.


Di rumah mertua, anak perempuan seperti orang asing. Di rumah sendiri, anak perempuan seperti seorang tamu.


Nayla tertawa getir mengingatnya. Ia sudah berusaha membaur dengan baik, namun Bibi Farida dan Ammi tetap saja bersikap dingin kepadanya. Apapun itu, Nayla tetap bersyukur. Ada Yumna, Hannah dan juga Ibu Fatimah yang selalu menghabiskan waktu bersamanya. Setidaknya, ia merasa tidak terlalu asing di rumah besar tersebut.


***


Sudah seminggu, namun belum ada kabar tentang kapan suaminya itu akan menyusulnya di Srinagar, Kashmir. Selama itu pula Nayla menyembunyikan semuanya dari Fahad. Ia juga meminta Yumna dan juga Hannah untuk tidak mengatakan apapun kepada suaminya. Fahad sudah cukup dipusingkan dengan pekerjaannya, ia tidak ingin menambah beban di pundak suaminya. Sebisa mungkin, ia akan mengatasi semuanya. Nayla tetap yakin, semua akan indah pada waktunya. Hanya cukup berpasrah diri, ia yakin ... semuanya akan baik-baik saja.


Nayla yang hendak tidur itu terpaksa harus turun ke dapur, ia ingin mengambil air minum. Tak lupa, ia menutupi kepalanya dengan hijab segi empat sederhana. Menuruni anak tangga dengan perlahan, Nayla tidak ingin membangunkan siapapun. Pintu kamar Ammi sedikit terbuka, pun dengan lampu kamar yang masih menyala. Nayla berjalan mendekat, ia ingin melihat ibu mertuanya terlebih dahulu. Namun, suara Bibi Farida menghentikan niatnya yang ingin mengetuk pintu kamar Ammi.


“Yang ini aja, Kak, namanya Sadiya. Dia putri dari pengacara ternama di Mumbai. Atau Benazir saja, keponakan kita yang juga di New Delhi.”


“Tapi, apa Fahad mau menikah lagi?” tanya Ammi.


Nayla hampir terjatuh, kakinya terasa lemas. Pertanyaan Ammi kepada Bibi Farida membuatnya sangat terkejut. Beruntung ia berhasil menahan botol minum yang hampir saja terkepas dari tangannya.


“Fahad harus mau, Kak, apa yang mau diharapkan dari wanita asing itu? Dia nggak ngerti kehidupan dan budaya kita.” Bibi Farida berujar yakin.


“Fahad pasti nggak mau menceraikan Nayla, Fahad cinta sama dia.”


Kali ini suara Ammi yang terdengar. Menceraikan? Apa yang baru saja ibu mertuanya itu katakan? Bulir bening siap meluncur dari sudut mata Nayla. Hatinya terasa sangat sakit, bagaimana mungkin dengan mudahnya Ammi mengatakan tentang perceraian.


“Fahad nggak perlu cerai, Kak, kita pulangkan Nayla ke negaranya aja, biar istri kedua Fahad yang ada di sini.”

__ADS_1


Lagi. Nayla harus mendengar hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa, semua pemikiran itu muncul di benak mereka. Tidak menceraikan, tapi memulangkannya ke Indonesia. Kenapa, Ammi? Apa salah Nayla? air matanya sudah tak mampu ia bendung, tumpah sudah semua rasa sakit disetiap tetes bulir bening tersebut. Sudah cukup. Nayla tidak ingin mendengar apapun lagi, ia meninggalkan botol minumnya di meja kaca yang terdapat di pojokan, ia kembali ke kamar dengan perasaan hancur.


Nayla melepas hijabnya, melemparnya ke sembarang arah. Ia ambruk di tempat tidur, menangis ... jari jemarinya meremas sprei, menunjukkan betapa hancur perasaanya. “Kenapa, Ammi? Kenapa, Bibi? Kenapa kalian mau Fahad nikah lagi? Kenapa?” suara Nayla tertahan, tidak mungkin ia berteriak untuk melepaskan rasa sakitnya.


Nayla mengambil foto orangtuanya yang terbingkai indah di meja nakas, ia memandang wajah dua orang yang sangat dan sudah pasti menyayanginya. Memandang foto tersebut, air mata masih mengalir deras membasahi pipinya.


“Pak, Bu, apa salah Nayla? Kenapa Nayla harus mendengar semua itu? Kenapa? Nayla nggak sanggup, Pak, Nayla nggak sanggup.”


Tangis Nayla semakin pecah, ia ingin sekali menelpon Fahad. Namun, tidak mungkin ia bisa melakukannya. Hanya akan ada kesalahpahaman yang lebih dari Ammi dan juga Bibi Farida kepadanya jika ia mengatakan semuanya kepada Fahad. Nayla sangat bingung, apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan semua rencana Ammi dan Bibi Farida.


Nayla sudah menyerah lebih dulu. Mustahil menghentikan rencana Ammi. Fahad sepertinya juga tidak mungkin menolak permintaan Ammi, suaminya itu tidak pernah menolak apapun yang Ammi perintahkan. Nayla masih saja bertanya kepada dirinya sendiri. Kesalahan apa yang sudah ia lakukan sehingga Ammi ingin Fahad menikah lagi.


“Fahad.” Nayla kembali ambruk, ia mencengkeram kuat foto suaminya. “Aku harus apa, Fahad? Apa aku harus biarin kamu nikah lagi? Aku harus apa? Aku harus apa?!” Menyentuh dadanya yang terasa sangat sakit, Nayla berusaha membuat dirinya tenang. Namun, semakin ia mencoba melupakan—berpura-pura tidak mendengar apapun, hatinya justru semakin sakit. Air matanya tidak berhenti menetes. Ingin marah, namun Nayla merasa tidak mempunyai hak untuk marah di rumah itu.


“Ya Allah, tambahkan rasa ikhlas dan kuat dalam hatiku, jangan biarkan aku lemah, tambahkan rasa sabarku.”


***


“Mau kamu bawa kemana teh itu, Hannah?” tanya Bibi Farida yang mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, di susul Ammi.


“Ke kamar Nona Nayla, dia belum turun, mungkin saja dia sakit.” Hannah menjelaskan.


Yumna turun, ia tidak mendapati kakak iparnya di sana. Menanyakannya kepada Hannah, namun justru Bibi Farida yang menjawabnya. “Kakak ipar kesayanganmu itu sedang berusaha menjadi nyonya rumah ini, makanya dia minta minuman dan makanan yang diantar ke kamar.”


Yumna merasa jengah, namun ia mengingat pesan Nayla untuk tidak melawan ucapan orang tua. Ia kembali bertanya kepada Hannah, dan asisten rumah tangganya itu menjawab seadanya. Dimana ia yang khawatir karena Nayla tak kunjung turun, “saya takut Nona Nayla sakit,” kata Hannah.

__ADS_1


“Dia nggak sakit, dia manja. Pengin diperhatiin kayak nyonya rumah.”


Lagi. Bibi Farida berujar tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Oh, tidak, Bibi Farida tau apa yang membuat Nayla menangis, hanya saja ... ia tidak tau bahwa menantu kakaknya itu sudah mendengar semua rencana pernikahan Fahad yang kedua.


“Hannah, bawa teh itu ke kamarnya. Periksa dia, kalau Nayla sakit, panggil dokter kita.”


Hannah mengangguk, mengiyani perintah nyonya besar rumah tersebut. Hannah mengetuk pintu cukup lama, hingga akhirnya Nayla membukakan pintu dengan keadaan yang buruk. Matanya sembab, wajahnya pucat, sangat berantakan.


“Nona Nayla, kenapa? Kenapa pucat begini?” panik Hannah. Ia menerobos masuk, “tunggu sebentar, Nona, saya panggilkan dokter.”


Nayla mencegahnya, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Nayla menyuruh Hannah membawa kembali teh tersebut, ia sedang tidak ingin minum ataupun makan. “Nanti aku turun sendiri, Hannah, jangan khawatir.”


Tentu, Hannah tidak percaya begitu saja. Mengatakan baik-baik saja, namun apa yang ia lihat ... sudah cukup menjelaskan bahwa nona mudanya ini sedang tidak baik-baik saja. Hannah tidak bisa terlalu ikut campur, meskipun ia ingin sekali bertanya apa sebab yang membuat mata Nayla sembab, serta wajah yang terlihat sangat pucat.


“Aku cuma sedikit pusing, Hannah, nanti juga baikan.” Nayla kembali menekankan, ia tidak butuh apa-apa. Juga, ia meminta jangan mengatakan kepada siapapun tentang kondisinya. Nayla belum siap bertemu Ammi dan juga Bibi Farida. Apa yang sudah ia dengar semalam, Nayla berusaha melupakannya. Berharap apa yang ia dengar hanyalah mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata.


Hannah kembali turun dengan nampan yang maish terdapat cangkir teh diatasnya. “Maaf, Nyonya, Nona Nayla hanya sedikit pusing.”


“Kakak ipar sakit?” tanya Yumna. Ia beranjak berdiri, ingin melihat kondisi Nayla. Namun Bibi Farida menahannya. Dengan ucapan yang sudah pasti akan menyakiti hati Nayla. “Bibi, kakak iparku benar-benar sakit. Aku pengen lihat dia.”


“Sekarang kamu pintar melawan ucapan orang tua, Yumna. Ternyata kakak iparmu itu benar-benar bisa mengambil alih kuasa di rumah ini.”


“Bibi—”


“Yumna, habiskan sarapanmu dulu.” Ammi bersuara.

__ADS_1


***


__ADS_2