
Suara ketukan pintu serta Yumna yang memanggilnya saling bersahutan. Nayla membuka pintu, adik iparnya mengajak untuk makan malam bersama. Ingin menolak, namun Nayla merasa tak punya kuasa untuk mengatakan tidak. Ia berjalan beriringan bersama Yumna, menuruni anak tangga dengan perlahan. Senyuman Ammi dan pandangan mata tajam dari Bibi Farida menyambutnya. Ia hembuskan napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan agar ia tidak merasakan sakit hati yang lebih tajam lagi.
“Sudah seperti nyonya besar saja, membuat semua orang menuggu!”
Suara Bibi Farida memenuhi telinganya, Nayla tidak menanggapi, ia membantu Hannah melayani semua orang yang berada di meja makan. Seusai makan malam, Fahad tetap belum kembali. Nayla merasa gelisah, suaminya itu tidak mengirim pesan apapun kepadanya. Diambilnya hijab yang menggantung di lemari pakaian, Nayla hendak menyusul Fahad dengan meminta tolong kepada Paman Abdul untuk mengantarnya ke tempat produksi. Tak lupa, ia memakai mantel hangat sebab salju kembali turun.
“Ammi, boleh Nayla masuk?” gayanya setelah mengetuk pintu.
“Masuklah, Nak.” Ammi menjawab. ia melontarkan pertanyaan saat melihat menantunya memakai mantel dan topi hangat.
“Ammi, Fahad belum pulang. Nayla khawatir. Apa Nayla boleh menyusul Fahad? Paman Abdul yang antar.” Nayla meminta izin. Melihat wajah menantunya yang memang telihat sangat khawatir, Ammi pun mengizinkan Nayla untuk menyusul suaminya. Belum sampai Nayla keluar kamar Ammi, Fahad sudah lebih dulu masuk sembari menekankan senyuman kepada dua wanita berharga yang berada di hadapannya ini.
“Kamu kemana aja? Kenapa nggak kasih kabar?” cerca Nayla yang lupa akan kehadiran Ammi.
Fahad masih tersenyum, “lihat, Ammi, menantumu ini selalu mengkhawatirkan suaminya. Nggak kelihatan sebentar aja langsung dicariin.”
Ammi tertawa mendengarnya, ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya tatkala melihat kemesraan Fahad dan Nayla. Namun, rasa bahagia itu juga dibarengi dengan rasa takut jika Nayla benar-benar menjauhkan dirinya dengan putra satu-satunya yang ia miliki. Senyumnya itu perlahan pudar, digantikan dengan tatapan mata penuh kekecewaan.
Melihat perubahan wajah Ammi, Fahad segera memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan erat. Ia daratkan ciuman di puncak kepala Ammi. “Sudah malam, Ammi istirahat, ya?” ucap Fahad yang dijawab nggukan kepala oleh Ammi.
Kembali ke kamar, Nayla membantu Fahad melepas mantel dan juga topi hangat yang melekat di tubuh suaminya. “Kok, lama?” Nayla bertanya.
“Iya, aku lagi periksa semua laporan bulanan di tahun ini, makanya lama.” Fahad berbohong. Ia mengurus suatu hal tentang kehidupannya di New Delhi kedepannya bersama Sahil. Ia ingin membuat kejutan untuk Nayla. Semua ia rancang sedemikian rapi agar nanti istrinya merasa tidak kekurangan satu apapun dari negara tercintanya, Indonesia.
***
__ADS_1
Sejak di Kashmir, Fahad belum pernah sekalipun mengajak Nayla untuk keluar rumah, berkeliling menikmati keindahan Srinagar di musim dingin. Di rumah hanya ada pembicaraan tebang pernikahan keduanya bersama Benazir. Hari ini, Fahad memutuskan untuk mengajak Nayla ke Gulmarg. Kawasan yang .asih berada di wilayah Kashmir itu terkenal dengan wisata gondola. Banyak turis dalam maupun luar negeri yang datang untuk menikmati keindahan Kashmir dari atas gondola.
Sedikit sulit meminta ijin Ammi untuk keluar rumah, Bibi Farida tak henti mengomel dengan berbagai pikiran sempitnya. Namun, itu semua tak lantas membuat Fahad putus asa. Ia memaksa, agar Ammi mengijinkannya keluar bersama Nayla. Setelah mendapat ijin, Fahad menghampiri istrinya yang berada di kamar bersama Yumna. “Sayang, ayo ikut aku,” ajak Fahad sembari menutupi pintu kamar.
Nayla dan Yumna yang duduk di tempat tidur itupun kompak menoleh. “Ke mana?” tanya Yumna.
“Ke gulmarg.” Fahad sudah berdiri di depan istri dan adiknya.
Yumna heboh, “aku i—”
“Enggak!” tangan Fahad membungkam bibir Yumna. “Kamu di rumah, bantuin Hannah bersih-bersih.”
Nayla melayangkan protes, ia menurunkan tangan suaminya dari wajah Yumna. “Biar aja dia—”
“Sayang, Yumna udah sering pergi ke sana. Lagipula, kalau dia ikut, kamu nanti pasti dibuat sibuk sama dia.” Fahad menarik sebagian rambut Yumna dengan gemas.
Selesai mengganti baju, Nayla yang sedang memakai hijab itupun menanyakan hal yang sama setelah Yumna pergi dari kamarnya. Nayla ingin memastikan, bahwa Ammi benar-benar memberi ijin putranya untuk keluar rumah—bersama dengannya. Berkali-kali pula Fahad meyakinkan istrinya bahwa Ammi benar-benar memberinya ijin. Fahad tau, ada rasa takut di hati Nayla. Takut jika Ammi kecewa dan merasa sedih, istrinya sudah dituduh menjauhkan ia dari sang ibu. Fahad berani bersumpah, itu semua tidak benar. Justru istrinya yang selama ini mengingatkan tentang kesehatan Ammi, tentang dirinya yang jangan melewatkan seharipun tanpa bertukar suara dengan Ammi.
“Dingin?” Fahad menggenggam erat kedua tangan Nayla ketika mereka keluar dari mobil. Nayla menggeleng, tangannya sudah cukup hangat sebab ia memakai sarung tangan. Fahad merapikan topi hangat Nayla, ia mencubit pipi istrinya itu dengan gemas. “Pipi kamu merah, kayak buah delima.” Fahad berujar, membuat Nayla tertawa. “Mau naik gondola sekarang?”
“Nanti aja, aku pengin jalan-jalan dulu.”
Fahad mengiyani, ia menggandeng Nayla menyusuri jalanan yang sejauh mereka memandang ... hanya ada salju yang terlihat. Senyuman Nayla seolah menular kepada Fahad, istrinya itu tak henti menebar senyum melihat keindahan Gulmarg. Hari itu, tidak terlalu banyak wisatawan luar negeri yang datang untuk merasakan sensasi menaiki gondola. Sehingga Nayla dan Fahad bisa menghabiskan waktu dengan sedikit santai.
“Foto, yuk?” Fahad mengeluarkan ponsel dari sakunya.
__ADS_1
“Aku nggak mau foto.”
“Kenapa?” tanya Fahad yang kembali memasukkan ponselnya.
Nayla berhenti, ia menatap wajah suaminya. “Aku nggak mau punya kenangan di sini, aku bisa rindu kalau ada lihat foto yang berhubungan sama Kashmir.”
Fahad menyentuh pipi Nayla, ia tau apa yang dimaksud oleh istrinya tersebut. Istrinya kembali murung, Fahad menyesali ajakannya untuk mengambil foto bersama. “Ya, udah, ayo jalan lagi.” Menggandeng tangan Nayla, Fahad mengajak istrinya menaiki gondola.
Biasanya, gondola akan diisi oleh enam sampai tujuh orang. Namun, karena hari ini tidak terlalu ramai ... gondola yang dinaiki Fahad dan Nayla hanya terisi empat orang. “MasyaAllah, cantik.” Nayla bergumam. Matanya berbinar melihat keindahan Gulmarg yang ditutupi oleh salju. “Kamu udah berapa kali ke sini?” Nayla bertanya.
Fahad diam sejenak, ia masih mencerna ucapan Nayla yang menggunakan bahasa Indonesia. “Oh ... baru sekali.” Fahad menjawab menggunakan bahasa Inggris.
“Masa? Bohong, ah!” lagi, Nayla menggunakan bahasa Indonesia.
Fahad tertawa kecil, ia menarik hidung mungil Nayla. Tak peduli ada dua orang pria yang sejak daritadi memperhatikan mereka. “Baru sekali ini sama kamu. Dulu waktu masih kuliah, sama teman-teman. Kalau cewek, sama Yasmin dan Yumna.” Fahad menjelaskan.
“Masa?” Nayla tidak percaya begitu saja.
“Sayang.” Fahad berbisik. “Jangan bikin gemas, ya! Kalau nggak mau aku cium didepan dua orang ini.”
“Eh!” Nayla sedikit menjauh, ia menatap dua pria yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit ia cerna.
Fahad yang menyadari dua pria di hadapannya ini sedang menatap istrinya, dengan cepat ia memeluk tubuh Nayla dari samping. “Istriku, gondolanya udah sampai.” Fahad berucap penuh penekanan agar dua pria itu tau apa kedudukannya bagi wanita berhijab di sampingnya ini.
Nayla kembali dibuat terpesona dengan keindahan Gulmarg dari atas. Ia melepas gandengan tangannya dari Fahad. Matanya memandang takjub, memang sangat tepat ... julukan Kashmir adalah Jannat-e Kashmir—surga Kashmir. Fahad berhenti, ia memberi waktu kepada Nayla untuk hanyut dalam dunianya sendiri. Sejak di Kashmir, Nayla dikungkung dengan semua rasa kecewa. Fahad tau, istrinya sangat sulit bernapas di dalam rumah besarnya.
__ADS_1
Tidak. Fahad tidak akan membiarkan Nayla pergi dari hidupnya. Bagaimana ia menjalani hari-harinya jika tidak ada Nayla di sampingnya? Istrinya berhasil membuatnya kembali jatuh cinta, merasakan indahnya kebersamaan dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Fahad menghampiri Nayla, ia dekap tubuh wanita itu dari belakang. “Diam sebentar, aku mau seperti ini.”
***